FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Seputar Sukarno

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Seputar Sukarno

Post by isaku on Mon Aug 19, 2013 5:21 pm

Pemikiran Sukarno tentang Islam


A. PENDAHULUAN

Sukarno adalah tokoh yang spektakuler, berpengetahuan luas, berani dan revolusionis, setidaknya itulah yang terlihat dari pidato-pidatonya yang berapi-api dan menghipnotis. Berbicara tentang Sukarno adalah berbicara tentang berdirinya Indonesia, karena beliau adalah tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan salah satu dari The Founding Fathers. Yang menarik dari Sukarno adalah ide-ide politiknya yang brilian, yang muncul dari keluasan pengetahuannya. Sebagai seorang nasionalis sejati, beliau seperti Gajahmada, ingin menyatukan wilayah Nusantara yang beliau sebut sebagai nation staat. Untuk bisa menyatukan wilayah nusantara yang berbeda-beda kultur ini, harus bisa mengakomodir semua perbedaan, bahkan yang bertolak belakang. Agar Republik Indonesia bisa diterima oleh semua pihak, maka beliau meramu sebuah ideologi yang menampung perbedaan-perbedaan itu. Maka munculah istilah Nasionalisme Indonesia, Sosialisme Indonesia, Marhaenisme, Pancasila.

Sukarno adalah pemimpin yang multi talenta, selain mumpuni dalam urusan orasi, politik, fashion, beliau juga "jempolan" dalam bertango. Beliau mempunyai apresiasi seni yang tinggi, dan sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Di balik cerita heroiknya, Sukarno tetaplah manusia yang bisa salah. Bagaimanapun pandainya dia membuat konsep sebuah negara – dengan gagasan sosialisme demokratiknya – toh pada praktiknya tak seindah konsep yang ditawarkan. Konsep negara yang ditawarkannya adalah sebuah negara yang tidak ada orang miskin di dalamnya. Negara yang menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Tapi apa lacur, negara yang ia pimpin, hampir bangkrut total di tahun 1965, diikuti oleh berbagai demonstrasi yang berakhir dengan terlepasnya jabatan presiden.
 
Makalah ini mencoba mengupas pemikiran-pemikiran beliau dengan memulainya dari riwayat hidup Bung Karno, filsafat negara, serta pemikiran keagamaan beliau, yang sedikit atau banyak pasti mempengaruhi pandangan politik beliau. Pandangannya tentang akhirat, pasti juga mempengaruhi pandangannya tentang dunia.


B. RIWAYAT HIDUP BUNG KARNO
Ir. Sukarno dilahirkan dengan nama Koesno Sosrodihardjo di  Surabaya , namun karena sering sakit-sakitan maka namanya diubah oleh ayahnya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan Adipati Karna.  Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Sukarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Sukarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Sukarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya, Jawa Timur. Ia kemudian tinggal di rumah teman bapaknya HOS Cokroaminoto. Di Surabaya, Sukarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Cokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Tamat H.B.S. tahun 1920, Sukarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Cokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Pada bulan Juli 1932, Sukarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Sukarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini ia punya kesempatan memperdalam Islam lewat buku dan surat-suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Ia kemudian diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938 – 1942. Sukarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Sukarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Di kancah politik internasional Presiden Sukarno mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Kebenciannya pada imperialism berpuncak pada munculnya ide non-alignment movement. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.

Sifat beliau yang akomodatif dan ingin merangkul semua pihak, termasuk komunis, membuahkan hasil negatif. Setelah peristiwa GESTAPU keadaan politik Indonesia semakin tidak menentu. Ini adalah turning point dari keruntuhan Sukarno. Pidato  pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS ditolak. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Sukarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak lagi oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.

Ia akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Sukarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Sukarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
   
C. PEMIKIRAN BUNG KARNO TENTANG FILSAFAT NEGARA
1. Negara Kebangsaan
Konsep negara kebangsaan disampaikan Sukarno secara spontan pada 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan. Sukarno berusaha keras menentang gagasan didirikannya Negara Islam, sebagai gantinya beliau menawarkan Negara Kebangsaan yang didasarkan pada 5 sila. Kebangsaan yang dimaksud bukan kebangsaan dalam arti sempit, namun yang dikehendakinya adalah satu Nationale Staat.

Sebelumnya pemahaman Sukarno tentang bangsa selalu merujuk pada teori yang dikemukakan Ernest Renan atau Otto Bauer. Bahwa syarat terciptanya sebuah bangsa adalah adanya persamaan nasib dan kehendak untuk bersatu. Teori yang sama juga pernah disampaikan Prof. Supomo dalam sidang BPPK sebelumnya, namun Mr. Yamin menyebutnya “verouderd”, outdated, sudah tua. Maka pada kesempatan ini Sukarno menyampaikan pemahamannya yang baru tentang kebangsaan.

Renan dan Otto hanya berbicara tentang orang, mereka hanya mengingat karakter manusia, tapi tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi yang didiami manusia itu. Hal ini disebabkan karena pada masa mereka belum berkembang ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik. Orang dan tempat tak dapat dipisahkan. Tempat yang dimaksud adalah tanah air yang merupakan satu kesatuan. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana kesatuan-kesatuan itu. “Seorang anak kecil pun jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kepuluan”, ujarnya. Ia kemudian menambahkan, “Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan”.  Menurut beliau, Indonesia pernah merupakan negara nationale staat pada zaman Sri Wijaya dan Majapahit.

Dalam sidang ini Sukarno menawarkan pancasila dengan kebangsaan sebagai prinsip pertama,  disusul kemudian secara berurutan dengan internationalism, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan. Kenapa lima? Sukarno mengatakan Rukun Islam 5 jumlahnya, panca indera juga lima bilangannya, Pandawa Lima pun lima orangnya. Atau kalau ada yang tak suka dengan angka 5, Sukarno bersedia memerasnya menjadi 3 saja. Kebangsaan dan internationalism diperas menjadi socio-nationalisme. Mufakat dan kesejahteraan diperas menjadi satu yaitu socio-democratie. Yang satu lagi adalah ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Tapi bila ada yang tidak suka dengan trisila, Sukarno bisa memerasnya menjadi satu, yaitu “gotong royong”.

2. Negara dan agama
Dalam Majelis Konstituante pada mulanya ada 3 rancangan dasar negara yang diusulkan: Pancasila, Islam dan Sosial-Ekonomi. Sukarno mengusulkan Pancasila dan menolak Islam sebagai dasar negara. Di pihak yang berseberangan Natsir mengusulkan Islam sebagai dasar negara karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Bagi Natsir dasar negara hanya mempunyai dua pilihan, sekuler atau agamis. Corak pancasila menurutnya adalah sekuler, karena tidak mengakui wahyu sebagai sumber.  Hamka juga menginginkan Islam sebagai dasar negara. Menurutnya negara berdasar Islam adalah cita-cita sejak lama seluruh gerakan Islam di Indonesia. Ia menyebutkan beberapa nama pahlawan kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik di Tiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin dll. Osman Raliby berkomentar tentang Pancasila, bahwa tuhan dalam Pancasila ialah tuhan yang mati, yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap 4 sila lainnya. Ia tidak memberikan hukum sama sekali, malah jika Pancasila diperas, tuhan itu sendiri yang kena hukum, hilang lenyap ditelan oleh gotong –royong.

Kendatipun Natsir beranggapan Pancasila adalah sekuler, bagi Abdulgani, Islam adalah sumber Pacasila. Menurutnya, sila Ketuhanan yang Maha Esa tidak dapat disamakan dengan konsep sekuler. Natsir dan pendukungnya menurut Abdulgani telah terjebak dalam kekacauan semantik. Sementara Sutan Takdir Alisyahbana menilai pancasila hanyalah kumpulan faham-faham yang berbeda-beda untuk menenteramkan semua golongan. Sila-silanya bersifat heterogen, bahkan tak lepas dari kontradiksi dalam dirinya. Pancasila baru dapat diterima oleh umat Islam Indonesia setelah ditafsirkan oleh Hatta, seorang negarawan Muslim yang moralis.

Bagaimanakah sebenarnya Sukarno melihat agama dan negara?. Apakah ia sepaham dengan Hatta dalam menafsirkan Pancasila?. Tidak dapat dielakkan bahwa Sukarno memisahkan antara agama dan negara, sehingga dengan begitu berarti ia adalah seorang yang sekularis. Pandangan sekulernya tampaknya dipengaruhi oleh tokoh idolanya, Mustafa Kemal Attaturk, seorang nasionalis yang sekuler. Beliau mengutip kata-kata Kemal, “Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya agama Islam bukan tinggal agama memutar tasbih di dalam mesjid saja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada perjuangan”. Kemerdekaan agama dari ikatan negara maksudnya adalah memerdekakan agama dari ikatan-ikatan yang menghalanginya untuk tumbuh subur, yaitu ikatan negara, ikatan pemerintah, ikatan pemegang kekuasaan yang zalim dan sempit fikiran. Begitu juga sebaliknya negara dimerdekakan dari ikatan anggapan-anggapan agama yang jumud, hukum-hukum dan tradisi Islam yang kolot yang sebenarnya bertentangan dengan jiwa Islam sejati. “saya merdekakan Islam dari negara, agar Islam bisa kuat, dan saya merdekakan negara dari agama agar negara bisa kuat.

Apa pun alasannya, memisahkan agama dan negara adalah paham sekularisme. Tapi bukan berarti seorang yang sekularis kemudian tidak mempunyai semangat membela agamanya. Meskipun agama dipisahkan dari negara, "tapi kita akan membakar seluruh rakyat dengan apinya Islam, sampai setiap utusan dalam parlemen itu seorang Islam, dan setiap putusan parlemen diresapi oleh semangat dan jiwanya Islam", ucapnya. Ia mengharapkan parlemen terisi oleh orang-orang Islam, 60%, 70%, 80%, 90%, sehingga mampu mewarnai keputusan parlemen dengan warna Islam. Entah itu sungguh-sungguh keluar dari hatinya yang paling dalam, atau hanya ungkapan politis, sebagai penghibur umat Islam yang sudah kecewa.  Tapi yang pasti, harapan Sukarno parlemen berwarna Islam apabilanya isinya 90% Islam tak pernah terwujud sampai sekarang.


D. PEMIKIRAN KEAGAMAAN SUKARNO
Seberapa jauhkah Islam Sukarno? Beberapa ahli agama Islam mengatakan bahwa Sukarno adalah seorang yang berfaham sinkretis Jawa, dan bahwa sinkretisme adalah musuh besar agama. Namun semuanya setuju bahwa Sukarno mempunyai watak keagamaan yang mendalam.

Beliau terlahir ditengah keluarga yang tidak terlalu agamis. Ibunya adalah seorang Hindu, dan ayahnya adalah seorang Muslim yang menurut beliau sendiri Islamnya adalah Islam-islaman. Namun sejak kecil orang tuanya menekankan kepercayaan pada Tuhan. Ayahnya mengingatkan agar dia jangan lupa pada Gusti Kang Maha Suci, dan ibunya juga mengingatkan agar dia jangan lupa Sang Hyang Widi. Dari sini kita bisa menilai bahwa pengetahuan agama yang diberikan orang tuanya tidaklah terlalu mendalam. Namun Sukarno telah bersentuhan dengan tokoh-tokoh Islam yang nampaknya dari merekalah beliau banyak belajar. HOS Cokroaminoto adalah teman ayahnya yang banyak mempengaruhinya. Sukarno adalah anggota Muhammadiyah sampai ajalnya,  dan sering mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan organisasi ini. Mulai dari situ benih Islam modernis pun tertanam dalam dirinya. Beliau juga mengagumi M. Natsir, dan mereka sering berdialog tentang agama, sebelum akhirnya mereka berselisih.

Pengasingannya di Flores adalah turning point dari sikap keIslamannya. Beliau selalu berkirim surat dengan A. Hassan dan banyak belajar dari beliau. Surat-surat itu kemudian dibukukan dengan judul Surat Islam dari Endeh, yang kemudian tercakup di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Buku Amir Ali yang berjudul Spirit of Islam  sangat mempengaruhi pandangan keIslamannya. Buku-buku lain tentang tokoh-tokoh Islam reformis pun dilahapnya. Akumulasi dari semua itu adalah pemahamannya tentang Muslim sekarang yang tertinggal jauh dari barat karena sikap taqlid mereka. Dia menganalogikan dengan masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal terbang.  Bahwa hukum-hukum Islam yang sekarang hanya cocok dipakai di zaman onta, tidak lagi pada zaman kapal terbang sekarang. Bahwa umat Islam telah tertinggal 1000 tahun, maka harus mengejar 1000 tahun itu, bukannya kembali kepada kegemilangan 1000 tahun yang lalu. Bahwa umat Islam telah kehilangan roh keIslamannya, mereka hanya mendapatkan "abu" Islam, bukan "api"nya. Bahwa Islam sontoloyo adalah Islam jumud yang taqlid pada ulama-ulama kolot yang menurutnya belum tentu pikirannya cocok dengan zaman sekarang.

Sukarno menguasai sejarah dan sangat berpegang pada semangat keIslaman, tapi tidak pada furuiyah. Sayangnya, beliau memang tidak mengusai bidang fiqh, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain sehingga inilah yang yang membuatnya berbeda dengan kalangan santri. Dia menolak hukum Islam yang kolot, namun dia sendiri sebetulnya belum mengerti hukum Islam itu bagaimana. Hal ini terlihat dari diskusinya dengan A Hassan dalam Surat Islam dari Endeh. Beliau sangat berkeinginan mempelajari hadis Bukhari, namun sayang A. Hassan tidak menemukan kitab Bukhari dalam bahasa yang bisa dimengerti Sukarno. Satu hal lagi yang menurut dia Islamnya mungkin berbeda dengan orang Islam pada umumnya, bahwa dia adalah Monotheis yang pantheistis. Penjelasan tentang itu ia samapaikan dalam sebuah pidatonya yang berjudul "Tauhid adalah Jiwaku".
"….Jadi, apakah Tuhan itu adalah zat yang berada di singgasana di atas langit sana? Suatu zat di langit, apa yang disebut orang sebagai "Tuhan yang Mempribadi"? Jika ia hanya hidup di atas sana, maka ia bersifat terbatas. Bukankah demikian? …. Juga jika tuhan hanya mempunyai dua puluh sifat, maka Tuhan ini juga terbatas… Bhagavad Gita mengatakan – aku tidak peduli apakah nyanyian itu benar atau tidak – Bhagavad Gita berkata, 'Aku ada di dalam api. Aku ada di dalam panasnya api; aku ada di bulan, aku ada dalam sinarnya bulan' ya, bahkan, 'aku ada dalam senyumnya seorang gadis', 'aku ada dalam awan, aku ada dalam iring-iringannya awan yang bergerak bersama-sama. Aku ada di dalam kegelapan. Aku ada dalam cahaya. Aku tanpa awal dan tanpa akhir'. Ini sesuai dengan pendapatku. Jadi dengan demikian, di manakah Tuhan? Apakah Tuhan itu di sana, hanya, hanya, hanya di sana, hanya di langit ketujuh? …. Aku ini seorang penganut monoteisme, tetapi aku adalah seorang penganut monoteisme yang panteistis".

Dalam pidatonya tersebut nampaknya Sukarno ingin menyampaikan pemahamannya tentang Tuhan. Bahwa tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang bukan hanya bersifat transcendent, hanya menetap di 'arsy', hanya berada di atas sana, tapi juga Tuhan yang immanent, Tuhan yang juga hadir di sini, di bulan, di matahari, di bintang-bintang, di gunung, di dalam api, di semut, dan ada di mana-mana, di dalam semuanya tetapi ia satu. Satu tetapi meresapi segala sesuatu.  Memang banyak orang yang salah memahami immanentnya Tuhan dan terjerembab dalam pantheism. Bila Sukarno adalah salah satunya, maka tentunya ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu, yang bisa jadi berasal dari ibunya.  Namun, penulis menduga Sukarno bukanlah penganut pantheism seperti yang ia sebutkan, karena pantheism tidak bisa sekaligus monotheism, keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Kalau Sukarno mempercayai hanya satu Tuhan, maka tentulah yang ia maksud dengan Tuhan ada di mana-mana adalah sifat Tuhan yang immanent.

Sayangnya, untuk mengatakan beliau tidak pantheist pun ternyata bertolak belakang dengan beberapa sikapnya. Seperti pengakuannya bahwa mendatangi makam-makam dan meminta sesuatu adalah adat takhyul, namun secara jujur ia mengatakan bahwa ia melakukannya. Memohon sesuatu kepada selain Allah bukanlah sikap monotheist, kalau bukan polytheist, tentulah pantheist. Meminta sesuatu kepada roh yang sudah meninggal sudah jelas bukan tradisi tauhid, ini adalah tradisi Hindu dan Budha. Mungkin Sukarno punya alasan sendiri kenapa ia memohon di makam-makam. Atau malah ini menunjukkan bahwa beliau tidak begitu punya perhatian terhadap perilaku agamis. Yang beliau anggap penting nampaknya hanyalah spirit dan pemikiran, karena itulah yang dia anggap bisa memajukan bangsa. Dalam sebuah pidatonya di depan mahasiswa IAIN tanggal 2 Desember 1964, beliau mengatakan,
"…Bebaskanlah kamu punya pikiran dari suasana berpikir pesantren. Naiklah ke langit, seperti telah aku lakukan, dan lihatlah sekeliling! Dan jangan hanya melihat ke Saudi Arabia, ke Mekkah, ke Medinah, tetapi lihat ke Kairo, Spanyol, dan lihat ke seluruh dunia. Lihatlah sejarah, di masa lampau, sejarah masa lampau seluruh rakyat di muka bumi ini, bukan hanya sejarah rakyat Indonesia dan sejarah rakyat Arab, tetapi sejarah kemanusiaan! Hanya dengan begitulah kamu akan dapat melakukan apa yang disebut  studi perbandingan, dalam hal kalian, studi perbandingan agama, untuk membandingkan, membanding yang satu dengan yang lain.Bebaskan dirimu dari jiwa atau suasana atau iklim pesantren. Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud menghina. Aku telah membebaskan diriku dari dunia kebendaan ini yang tidak memberiku kepuasan, tidak ada kesenangan, dan telah naik mi'raj, mi'rajnya pikiran…"dunia pikiran". Artinya ialah aku biasa membaca buku-buku yang ditulis oleh orang di seluruh dunia… Di situlah aku bertemu dengan para pemikir, para pemikir seluruh bangsa."
   
Menurut Dahm, sebelum tahun 1934, Sukarno tidaklah demikian yakin menganut agama Islam. Meskipun ia mempunyai simpati yang mendasar terhadap agama, tetapi pengetahuan agamanya hanya sekedar yang dibutuhkan saja, yang terutama diangkatnya dari buku Lothrop Stoddard, "Dunia Baru Islam". Dan ia lebih terangsang dengan "dunia baru" itu daripada dengan "Islam" itu sendiri.


E. PENUTUP
Setelah menyelami pemikiran Sukarno tentang bangsa, bentuk negara, dasar negara, dan pemahamannya terhadap agama, kita bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa beliau memang seorang negarawan tulen, politikus ulung, singa podium, seniman, nasionalis sejati, yang mempunyai wawasan pengetahuan yang luas dalam banyak hal, karena kesukaannya dalam membaca dan "membaca". Kemampuan seninya ia abadikan dalam bentuk monumen-monumen yang berdiri di berbagai lokasi di Ibu Kota, termasuk Master Piecenya, Monumen Nasional yang menjadi lambang Jakarta. Beliau adalah lambang perlawanan terhadap penjajahan, pembela wong cilik, pembela kaum tertindas, pembela kaum proletar.

Meski dalam sejarah kepemimpinannya beliau dianggap sebagai presiden yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya, namun dia sudah memberikan kontribusi yang tak ternilai harganya bagi berdirinya sebuah negara yang diakui oleh masyarakat dunia. Nixon pernah menulis: "Sukarno adalah contoh terbaik yang saya kenal tentang seorang pemimpin revolusioner yang dengan ahlinya mampu menghancurkan suatu sistem, tetapi tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk membangunya kembali". Menurut Nixon, program Sukarno hanya dinilai positif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kekuasaan kolonial. Lebih dari ini, "kekuasaannya adalah malapetaka bagi rakyat Indonesia". Pendapat Nixon tak sepenuhnya benar, bukan hanya dalam merobek sistem kolonial, tapi dalam membangun kesatuan Indonesia, beliau punya andil yang sangat besar.  Tentu saja Sukarno bukan malaikat yang tidak mempunyai sisi buruk. Sikap keras dan tau mau komprominya tentu tidak disukai banyak orang, kecenderungannya untuk otoriter dan mendikte orang lain juga adalah keburukan manusiawi yang sering muncul dalam pribadi seorang pemimpin.

Kesukaannya terhadap wanita dan sifat cassanova yang menempel padanya adalah hal negatif lain yang mendapat cibiran dari tidak hanya orang Indonesia tapi juga dunia. Media asing menyebutnya sebagai presiden yang tak tahan melihat rok wanita. Namun, menurut pengakuan istri-istri beliau, Sukarno adalah pecinta keindahan, termasuk keindahan yang ada dalam wanita. Mereka tidak menyukai sifat Sukarno ini, tapi mereka menghargai Sukarno sebagai orang yang berani menentang badai demi cintanya. Fatmawati mengatakan, meski Sukarno menyukai banyak wanita, namun dia bukanlah seorang hipokrit. Hartini mengatakan, meski Sukarno adalah pecinta wanita, namun cinta sejatinya sebetulnya hanya pada bangsanya, bukan wanita.

Mencermati kata-kata Hartini di atas, dalam konteks memahami pemikiran dan ideologi campur aduknya yang mengakomodir perbedaan, sebenarnya dapat ditarik benang merah dari semua itu yaitu cintanya terhadap bangsa, kebenciannya terhadap kolonialisme yang menyengsarakan bangsanya, akhirnya menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan untuk bersatu melawan imperialism dan kapitalisme. Inilah semangat yang mendasari seluruh pemikiran Sukarno, termasuk pemahamannya terhadap agama.


DAFTAR PUSTAKA

Abdulgani,Roeslan. Perkembangan Tjita-tjita Sosialisme di Indonesia, (Malang: penerbitan Jajasan Perguruan Tinggi Malang, 1960)
Adams,Cindy. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (.Jakarta: Gunung Agung, 1984),
Aji, Achmad Wisnu Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan?. (Garasi House of Book, 2010)
Boland, B. J. Pergumulan Islam di Indonesia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: PT Grafiti Pers, 1985)
Dake, Antonie C. A. The Sukarno File 1965-1967, (Leiden – Boston: Brill, 2006)
Feith, Herbert dan Lance Castles. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1995)
Feith, Herbert. The decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (London: Cornell University Press, 1973)
http://kafeilmu.com
http://news.okezone.com
http://www.berdikarionline.com
http://www.nam.gov.za
http://www.trianda.herisonsurbakti.com
http://www.tribunnews.com, http://m.tempo.co
Kasenda,  Peter. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010)
Ma'arif, Ahmad Syafi'I. Islam dan Masalah Kenegaraan, (Jakarta: LP3ES, 1985)
Natsir,  Mohammad. Islam Sebagai Dasar Negara, (Bandung: Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957)
Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi, Jilid Pertama, (Jakarta: Panitya Penerbit, 1963)
Suseno,Franz Magnis. Berfilsafat dari Konteks, (Gramedia Pustaka Utama, 1992)
__________________. Etika Sosial, (Jakarta: Gramedia, 1975)
Wolf Jr., Charles. The Indonesian Story( The Birth, Growth And Structure Of The Indonesian Republic),( New York: The John Day Company, 1948)


http://msibki3.blogspot.com/2013/04/pemikiran-sukarno-tentang-islam_18.html

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3584
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Seputar Sukarno

Post by isaku on Mon Aug 19, 2013 5:24 pm

Persetan Dengan PBB


Suatu hal yang lumrah apabila kita melihat seseorang berkorban demi apa yang dicintainya, demikian juga Bung Karno. Demi Indonesia Bung Karno mengabaikan penyakit yang menggerogoti dirinya. Bung Karno selalu tampil prima dihadapan publik, walau pada hakekatnya dia dalam keadaan lemah. Hal tersebut dilakukan demi menjaga rasa percaya diri seluruh rakyat Indonesia.

Berulang-kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin para di akhir tahun 60-an. “Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers.” Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, “Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?”

Berteriak adalah “hobi” Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung. Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a’lam.

Namun demikian semua harus menyadari bahwa Soekarno hanya bagian kecil dari sebuah lakon cerita yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.

http://penasoekarno.wordpress.com/tag/presiden-soekarno/page/3/


isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3584
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Seputar Sukarno

Post by isaku on Mon Aug 19, 2013 5:26 pm

Aku Bukan Santri, Tapi Aku Muslim Sejati

Bagian: 1

Bila seorang muslim adalah orang yang selalu memakai sarung, maka Bung Karno bukan seorang muslim.

Bila seorang muslim adalah mereka yang selalu menggunakan surban, jelas Bung Karno bukan seorang muslim.

Tapi apabila anda berpendapat bahwa seorang muslim adalah mereka yang menjalankan perintah Allah Swt serta menjauhi larangannya, maka dapat saya katakan bahwa Bung Karno seorang muslim yang taat beragama.

Bung Karno bukan sosok seorang Islam santri. Itulah saebabnya ia tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam. Bung Karno tak kalah banyaknya menulis tentang Islam, bahkan ia lebih banyak menulis dan berpidato mengenai Islam, yang mengeluarkan pemikiran-pemikiran keislaman, katimbang Dr. Sukiman yang justru lebih banyak berbicara mengenai nasionalisme Indonesia. Karena itu dari sudut sejarah perlu dipertambangkan kembali kedudukan Bung Karno sebagai, paling tidak, seorang pemikir Muslim, yang turut menyumbang, secara cukup berarti, dalam wacana keislaman. Bahkan Bung Karno boleh di bidang telah berjasa sangat besar dalam da’wah Islam.

Tidak banyak yang tahu, bahwa Bung Karno, adalah orang kunci dalam berdirinya Masjid Salman di kampus ITB. Pada suatu waktu, panitia pendirian masjid Salman pada tahun 1960-an, telah gagal menempatkan pembangunan masjid tersebut di dalam kampus. Tapi tiba-tiba Bung Karno menanyakan status rencana pembangunan tersebut dan menanyakan pula gambarnya dan memanggil panitia pembangunan. Setelah berdiskusi dan memberi komentar, maka ia menulis dalam rancana itu aku namakan masjid ini Masjid Salman, dengan inisial Soek.

Itu berarti Bung Karno selaku Presiden RI, telah menyetui pendirian sebuah masjid di kampus. Padahal, pihak rektorat telah menolaknya yang meminta agar masjid tersebut dibangun di luar kampus. Dengan demikian, maka Salman adalah masjid kampus di universitas negeri yang pertama di Indonesia, yang baru kemudian diikuti dengan berdirinya masjid Arief Rahman Hakim, di kampus UI, Salemba, masjid Salahuddin, di kampus UGM atau masjid Raden Patah, di kampus Universitas Brawijaya. Selanjutnya pendirian masjid kampus itu diikuti oleh hampir semua universitas yang memiliki kampus. Masjid model Salman ini mengikuti visi masjid modern yang tidak saja merupakan pusat ibadah (tempat sholat saja), tetepi juga pusat kebudayaan dan kegiatan da’wah di ka langan terpelajar, khususnya mahasiswa.

Pemberian nama Salman tidak pula sembarangan. Ini mencerminkan pengetahuan Bung Karno mengenai Islam. Dalam sejarah Islam, sahabat Salman dari Parsi, dianggap sebagai seorang arsitek, yang mengusulkan dan memimpin pembangunan benteng berupa parit dalam Perang Chandaq (Perang Parit). Interpretrasi historis terhadap tokoh Salman ini diterima oleh kalangan cendekiawan maupun ulama dan menjadi interpretrasi populer yang diucapkan dalam ceramah-ceramah dan khutbah-khutbah jum’at dalam wacana da’wah. Sejak munculnya nama Salman sebagai arsitek sahabat Nabi, maka profesi arsitek Muslim diakui dan menjadi populer. Pola arsi-tektur masjid modern, juga berkembang, walaupun juga berkat kreativitas Ir. Noekman, yang sangat dikenal sebagai arsitek Muslim dari Masjid Salman ITB. Dalam kaitan ini, tidak bisa dilupakan, bahkan Bung Karno sen diri adalah seorang arsitek.

Tapi jasa Bung Karno sebagai pemikir budaya tidak sampai di situ. Ia menerima pula ide Haji Agus Salim, yang dijulukinya The Grand Old Man,julukan itu juga diterima dan menjadi populer dalam wacana gerakan Islam di Indonesia , walaupun Haji Agus Salim pernah memberikan kritik tajam terhadap gagasan nasionalisme Bung Karno, untuk membangun Masjid Baitul Rahim, sebuah masjid di halaman istana negara dengan arsitektur yang indah, yang seringkali dibandingkan dengan gereja. Visi Bung Karno tentang masjid mencapai puncaknya dengan pendirian masjid Istiqlal, yang merupakan pengakuan terhadap jasa umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, karena Istiqlal artinya adalah kemerdekaan, yang arsteknya adalah seorang Nasrani, Ir. Silaban. Itu semua mencerminkan pandangan keagamaan Bung Karno yang luas dan terbuka. Sulit menemukan pandangan seorang pemikir Muslim yang se liberal Bung Karno.

Namun demikian, Bung Karno tetap saja tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam atau pemimpin umat Islam dan juga tidak diakui sebagai seorang pemikir Islam. Atau dalam rumusan yang lebih kena, seperti kata Bambang Noorsena, para pengritiknya dari kalangan politisi Islam, meragukan kemurnian keislaman Bung Karno. Syed Husein Alatas, seorang sosiolog Malaysia, yang lama mengajar di Universitas Singapore, pernah menulis buku tentang Islam dan Kita, dan dalam buku itu ia menampilkan empat tokoh nasional Indonesia dan kaitannya dengan Islam. Di situ ia menyebut Bung Karno sebagai seorang pemimpin Muslim namun tidak memiliki komitmen perjuangan Islam dan bahkan secara politis menantang Islam. Tokoh yang disebutnya pemimpin Islam yang ideal adalah Syafruddin Prawiranegara, seorang terpelajar yang mempunyai pemikiran tentang Islam dan memiliki komitmen pula terhadap gerakan dan politik Islam. Ada dua orang tokoh lagi yang ia bahas, yaitu Sutan Syahrir dan Tan Malaka. Syahrir adalah seorang yang lahir dari keluarga Muslim di Minangkabau, tempat kelahiran banyak pemimpin Islam, antara lain Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir, tetapi ia ketika telah menjadi pemimpin telah tercerabut (uprooted) dari lingkungan masyarakatnya dan menjadi tak acuh (indefferent) ter-hadap Islam. Sedang Tan Malaka adalah seorang yang masih mengaku Muslim, mempunyai pengetahuan dan pemi-kiran menganai Islam, tetapi pada dasarnya ia adalah seorang komunis yang ingin memperalat Islam dan kaum Muslim untuk mencapai tujuan perjuangan komunisme di Indonesia.

Bung Karno, sebagai seorang Muslim adalah kebalikan dari Syahrir. Ia memang berasal dari keluarga abangan dan baru pada umur 18 tahun berkenalan dengan Islam. Namun kemudian ia berkembang menjadi seorang Muslim, walaupun belum bisa atau mungkin juga tidak mau disebut santri. Walupun begitu, orang seperti A. Hassan atau Mohammad Natsir, tidak meragukann keyakinannya terhadap Islam. Barangkali ia tepat disebut sebagai seorang muslim marginal.

Ada beberapa faktor yang membentuk persepsi orang terhadap Bung Karno. Pertama ia dianggap memiliki latar belakang dan masih dipengaruhi agama Hindu dan Buddha, atau mungkin masih dipengaruhi oleh apa yang disebut oleh antropolog Clifford Geertz, agama Jawa. Ajaran pewayangan masdih nampak mempengaruhinya, walaupun ia adalah seorang yang mendapatkan pendidikan modern Barat. Kedua, ia sering menyatakan dirinya sebagai penganut Marxisme atau paling tidak mempergunakan (sebagian) teori Marxis dalam analisis-analisis nya Dalam suatu rekaman wawancara yang diberi judul Tabir adalah lambang Perbudan (Panji Islam, 1939), ia pernah berkata dengan bangga:
Saya adalah murid dari Historische School van Marx. Pernyataan ini sangat berani, karena pengakuannya itu dikeluarkan justru ketika ia sedang berebicara mengenai Islam , khususnya pandangan Islam mengenai perempuan.

Satu hal yang tidak bias kita abaikan adalah Bung Karno mendapatkan gelar doktor honoris causa di bidang tauhid, oleh sebuah lembaga pendidikan agama yang prestisius, IAIN Syarif Hidayatullah, bahkan juga mendapat gelar honoris causa di bidang filsafat oleh Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Gelar itu tidak mungkin diberikan oleh sebuah universitas Islam seperti Al Azhar, jika lembaga itu meragukan iman Bung Karno dalam ketauhidan.

Pada waktu muda, Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat islam dan Partai Sarekat Islam. Memang ia kemudian keluar dari partai itu dan mendirikan sendiri PNI bersama-sama dengan kawan-kawan nasionalis yang sepaham yang menganut aliran nasionalis sekuler. Tapi ia tetap mempertahankan citranya sebagai seorang Muslim, antara lain dengan bergabung dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berfaham tauhid keras (hard tauhid). Ia bahkan aktif sebagai anggota pengurus lokal, ketika berada dalam pembuangannya di Berkulu. Sebagai anggota dan aktivis Muhyammadiyah, Bung Karno pernah mengeluarkan semboyan yang kemudian menjadi sangat populer dan menjadi semboyan semua anggota Muhammadiyah, yaitu Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Konon ia pernah berwasiat, jika meninggal dunia, ia diusung dalam keranda yang di-tutup dengan bendera Muhammadiyah. Soekarno muda memang banyak berkenalan dan dipengaruhi oleh Islam aliran Persatuan Islam yang diasuh oleh A. Hassan, dimana seorang pemimpin Islam terkemuka, Mohammad Natsir dididik. Ia pernah pula mengaku tertarik dan belajar banyak dari pemikiran Ahmadiyah. Tapi pilihan ter-akhirnya adalah Muhammadiyah yang beraliran sebersih-bersih tauhid.

Bung Karno mulai belajar Islam secara serius, ketika ia meringkuk di penjara sukamiskin, Bandung, dari mana ia membaca terbitan-terbitan Persatuan Islam, yang kini mungkin disebut sebagai aliran fundamentalisme Islam, sebagaimana Al Islam, Solo, dimana M. Amien Rais pernah lama belajar. Kegiatan belajarnya makin intensif ketika ia berdiam di Endeh, Flores. Di situ dan pada waktu itulah ia berkorespondensi dengan A. Hassan, pemimpin lembaga pendidikan Persatuan Islam yang mula-mula berpusat di Bandung tapi kemudian berpindah ke Bangil, Jawa Timur hingga sekarang ini yang dikenal sebagai penerbit majalah Al Mu-slimun.

Tapi, sebelum masa Surat-surat dari Endeh itu, Soekarno muda sudah memiliki persepsi tentang Islam, yang agaknya ia peroleh dari guru dan sekaligus mertuanya, H.O.S. Tjokroaminoto. Persepsinya mengenai Islam adalah, bahwa Islam adalah sebuah agama yang sederhana, rasional dan mengandung gagasan kemajuan (idea of pro-gress) dan egaliter.

Di balik perhatiannya terhadap islam sebagai ajaran, Soekarno muda sebenarnya menaruh perhatian terhadap masyarakat Islam atau kondisi umat Islam, dalam konteks kolonialisme dan imperialisme. Di samping ingin memperdalam ajaran-ajaran Islam, baik dari segi ibadah maupun siyasah (politik) dan mu’amalah (sosial-ekonomi), Soekarno menaruh perhatian terhadap aspek masyarakat dan paham-paham keagamaannya. Dalam melihat segi-segi kemasyarakatan, Soekarno yang terlibat dan memimpin pergerakan nasional dan mempelajari ilmu-ilmu sosial dan sejarah, termasuk membaca karya-karya Karl Marx, merasa kecewa dan tidak menyetujui paham-paham Islam tradisional. Soekarno muda, walaupun masih dan ingin belajar tentang Islam, namun sudah berani menyatakan pendapat-pendapatnya yang kritis.

Soekarno muda yang sangat energetik itu, menyerang doktrin taklid dan sikap menutup pintu ijtihad. Ia menantang kekolotan, ketakhayulan, bid’ah dan anti-rasionalisme yang dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia. Ia berpendapat, bahwa Islam telah disalah-tafsirkan, karena umat Islam dan para ulamanya lebih percaya dan berpedoman kepada hadist-hadist dan pendapat ulama, dari pada berpedoman kepada al Qur’an. Ia pernah meminta kiriman buku kunpulan hadist Bukhari, karena ia mencurigai beredarnya hadist-hadist palsu yang bertentangan dengan al Qur’an. Di sini Soekarno muda sudah memasuki pemikiran kritik hadist, yang hanya baru-baru ini saja menjadi perhatian studi akademis. Pandangan Soekarno itu memang tidak baru, karena tema-tema itulah yang telah dibawa oleh gerakan Muhammadiyah yang beraliran moderbis. Karena itu, maka Soekarno muda sebenar-nya adalah penganut paham Islam modernis.

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3584
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Seputar Sukarno

Post by isaku on Mon Aug 19, 2013 5:27 pm

Aku Bukan Santri, Tapi Aku Muslim Sejati


Bagian: 2



Dalam mempelajari Islam, Bung Karno meminta bahan-bahan dari Persatuan Islam Bandung, ia ingin mencocokkan dengan pandangannya sendiri. Ia ingin membaca buku The Spirit of Islam yang terkenal karya Syed Ameer Ali umpamanya, untuk dibandingkan dengan pandangannya sendiri. Karena ia telah memiliki persepsi dan asumsi mengenai ajaran Islam, maka ia ingin menampilkan pandangannya sendiri tentang Islam. Ia berfikir, hendaknya dilakukan kritik terhadap paham-paham Islam yang tradisional, untuk kemudian dikembalikan kepada sumber ajaran Islam yang paling autentik, yaitu al Qur’an. Anehnya, Soekarno yang bersemangat itu, menganjurkan dipakainya ilmu pengetahuan modern (modern science), seperti ilmu-ilmu sosial, biologi, astronomi atau elek-tronika untuk memahami al Qur’an.

Dalam perkataannya sendiri:
Bukan sahaja kembali kepada al Qur’an dan Hadist, tetapi kembali kepada al Qur’an dan Hadist dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum. Ia bersikap kritis terhadap kitab-kitab tafsir, seperti ka-rangan Al-Baghawi, Al-Baidhawi dan Al Mazhari, karena tafsir-tafsir itu belum memakai ilmu pengatahuan modern.

Pandangan jauhnya terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:
Bagaimana orang bisa betul-betul mengerti firman Tuhan bahwa segala sesuatu itu dibikin oleh Nya ‘berjodoh-jodohan’, kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif,tak me-ngetahui aksi dan reaksi?. Bagaimana orang bisa mengatahui firmanNya, bahwa kamu melihat dan menyangka gu-nung-gunung itu barang keras, padahal semuanya itu berjalan selaku awan, dan sesungguhnya langit-langit itu asal-muasalnya serupa zat yang berlaku, lalu kami pecah-pecah dan dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air, kalau tidak mengerti sedikit astronomy? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayat kan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengerti sedikit history dan archeology?

Pendekatan inilah yang kelak diikuti oleh scientist Muslim seperti Sahirul Alim, Ahmad Baiquni atau M. Immaduddin Abdurrahim.

Ia menganjurkan agar umat Islam itu tidak menengok ke belakang, termasuk hanya mengagumi dan mengaung-agung kan zaman kejayaan Islam (Islamic Glory), melainkan melihat jauh kemuka. Kuncinya adalah membuang jauh sikap anti-Barat secara priori. Ia juga mengecam sikap tradisional yang disebutnya sebagai semangat kurma dan semangat sorban. Saran lain yang dikemukakannya adalah tidak terpaku pada yang halal dan haram saja, tetapi juga kepada hal-hal yang mubah dan jaiz, dimana umat Islam mempunyai kemerdekaan berfikir, sesuai dengan hadist nabi “Engkau lebih tahu mengenai masalah duniamu (antum a’lamu bi umuri duniakum).”

Tidak saja di lapangan pemikiran, Soekarno banyak menganjurkan perhatian, tetapi juga di bidang da’wah. Ia mengagumi kegiatan misi Katholik di Flores dan menganjurkan agar hal yang sama bisa dilakukan oleh da’wah Islam.

Kritik Soekarno muda memang blak-blakan dan keras, sehingga ia sendiri merasa bisa disalah-pahami sebagai anti-Islam. Walaupun menyadari risiko itu, ia tidak berhenti mengkritik paham-paham Islam yang kolot. Tapi lebih tepatnya, di bidang da’wah ia lebih bersimpati kepada muballig-muballig yang modern-scientific dan mengecam muballig-mubalig ala kyai bersorban dan ala hadramaut. Ia sangat menghargai umpamanya, muballig seperti Mohammat Natsir yang menulis Islam dalam bahasa Belanda untuk kaum terpelajar.

Ia agaknya menginginkan, agar umat Islam mengembangkan segi keduniaanya yang nabi Muhammad saw telah me-mberikan kebebasan berfikir. Dalam rumusannya sendiri ia berkata:

Kita tidak ingat bahwa Nabi saw sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau tidak makruh. Kita royal sekali dengan perkataan kafir , kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir. Pengetahuan Barat-kafir, radio dan kedokteran – kafir pantalon dan dasi dan topi-kafir, sendok dan garpu dan kursi-kafir, tulisan Latin – kafir, ya pergaulan dengan bangsa yang bukan Islampun – kafir ! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan Roch Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi …. dupa dan korma dan jubah dan celak mata !

Kritik-kritik terhadap Islam tradisional yang kolot, memang terasa tajam. Tetepi espresi itu sebanarnya jus tru menunjukkan sikap jujurnya. Ia tidak takut dicap anti-Islam. Namun sikap yang sangat menghendaki kemaju an itu agaknya pernah menimbulkan kejengkelan A. Hassan, sehingga Soekarno mudah dituduhnya telah kebablasan , sehingga cenderung menghalalkan apa yang dalam fiqih disebut haram. Soekarno memang banyak mengkritik pemikiran dan cara berfikir fiqih dan cara berfikir taqlid terhadap ulama terdahulu. Ia menginginkan ber-fikir dan melakukan reinterpretasi langsung kepada al Qur’an dan Hadist yang sahih, sebab ia percaya bahwa Hadist yang sahih tidak bertentangan dengan rasionalisme dan kemoderanan.

Memang kritik-kritik Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir, ada kalanya cukup telak, misalnya dalam mengoreksi paham cinta tanah air yang bisa menjerumuskan kita ke dalam memberhalakan tanah air, bangsa dan ras.

Soekarno juga tidak merasa dendam terhadap para pengeritiknya, bahkan ia sangat menghargai pemikiran semacam dari Haji Agus Salim dan Natsir. Ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI, ia bahkan mengangkat Natsir sebagai sekretarisnya yang sangat ia percaya. Banyak yang menyayangkan bahwa hubungan Natsir-Soekarno itu retak. Kalangan Islam sendiri banyak menyayangkan sikap Natsir umpamanya, mengapa ia tidak memelihara hubungan dengan Soekarno, malahan lebih dekat dan dalam politik bahkan mengikut kepada Syahrir

Kritik-kritiknya terhadap paham Islam tradisional, betapapun tajam dan kerasnya. Kritiknya yang jelas terpampang dalam tulisannya yang berjudul: Tabir adalah lambang Perbudakan, Tabir tidak diperintahkan oleh Islam.

Tapi di sini, nampak prasangka baik Bung Karno terhadap Islam. Ia tidak menantang ajaran Islam itu sendiri, melainkan mengatakan bahwa tabir itu tidak diperintahkan Islam. Ia tidak percaya bahwa mensekat kelompok laki-laki dan perempuan itu adalah perintah Islam. Pandangan Bung Karno itu ternyata dibenarkan oleh Haji Agus Salim. Tapi sikap Bung Karno sendiri tegas dan uncompromising. Ia bahkan pernah protes dengan meninggalkan suatu pertemuan Muhammadiyah, karena pertemuan itu membuat tabir, padahal ia melihat tabir adalah lambang perbudakan perempuan.

Soekarno muda sendiri tertarik kepada Islam karena wacana Sheikh Mohammad Abduh dan syed Jamaluddin Al afghani yang dikenal sebagai pelopor faham Islam modernis yang dikiuti oleh Masyumi dan Muhammadiyah.

Soekarno muda mengakui adanya apa yang disebut Islamisme yang merupakan sebuah ideologi, seperti Marxisme dan Nasionalisme.
Tapi konsep Islamisme itu sendiri tidak lagi berkembang, selain beberapa tulisan Mohammad natsir tentang konsep negara dalam Islam atau islam sebagai dasar negara yang masih bersifat sangat umum. Hal ini menunjukkan betapa telah majunya pemikiran Bung Karno mengenai kemungkinan dikembangkannya sebuah ideologi Islamisme. Disini kita tidak melihat bahwa Bung Karno itu anti Islam-politik.

Masih tentang Islam Bung Karno pernah menjelaskan:
Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula! Sebab meer warde sepanjang Marxisme, dalamn hakekatnya tidak lainlah daripada riba sepanjang faham Islam. Meer warde, ialah teori: memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberi bahagian keuntungan yang seharusnya menjadi bahagian kaum buruh yang bekarja mengeluarkan untung itu, –teori meerwarde itu disusun oleh Karl Marx dan Frederich Engels yang menarangkan asal-asalnya kapitalisme terjadi. Meerwarde inilah yang menjadi nyawa segala peraturan yang bersifat kapitalistis; dengan memerangi meerwarde inilah kaum Marxisme meme-rangi kapitalisme sampai pada aker-akarnya !

Pandangannya yang menyeluruh dan terbuka menganai islam digambarkan dalam karangannya dalam Panji Islam (1940) tentang Me `muda’ kan Pengertian Islam. Dalam karangannya itu ia antara lain mengemukakan preporisi tentang flkesibilitas hukum Islam. Ternyata pandangannya ini dikecam secara tajam dan sinis oleh A. Hassan. Padahal, Soekarno hanyalah mengutip pandangan Sayid Ameer Ali dalam bukunya The Spirit of Islam. Cuma Soekarno mempergunakan istilah yang kurang tepat, yaitu mengumpamakan fleksibilitas itu dengan karet, sehingga ditangkap oleh A. Hassan, bahwa Soekarno menganggap hukum Islam itu seperti hukum karet:
hukum yang jempol haruslah seperti karet, katanya,
dan kekaretan ini adalah teristimewa sekali pada hukum-hukum Islam.
Padahal menurut citranya, hukum itu haruslah tegas untuk men jamin apa yang disebut kepastian hukum.

Dalam tulisannya mengenai memudakan pengertian Islam itu Bung Karno sebenarnya ingin memajukan Islam dan masyarakat Islam. Ia ingin agar Islam yang telah dimudakan itu mampu membawa dan menjadi motor per-ubahan kemasyarakatan. Hanya saja di dalam kehidupan politik, Bung Karno tidak menyetujui penggunaan simbol Islam. Ia ingin Islam masuk ke dalam paham kebangsaan. Ia juga mengecap sistem ketata-negaraan Islam menyetujui sistem demokrasi parlementer yang dianggapnya sebagai demokrasi borjuis itu. Agaknya ia berharap Islam mempunyai konsep sendiri mengenai demokrasi yang mengarah kepada gagasan demokrasi terpimpin , yang kira-kira demokrasi yang berdasarkan permusyawaratan daripada berdasarkan kebebasan yang memberi peluang bagi tumbuhnya kapitalisme itu.

Di dalam spektrum kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno menduduki posisi yang unik. Ia menyumbang kan pemikiran-pemikiran Islam dengan analisis ilmu-ilmu sosial modern yang tidak dilakukan oleh pemimpin Islam manapun. Jika seandainya tidak ada orang seperti Bung Karno di kalangan umat Islam, seorang Bung Karno perlu ditemukan, separti kata-kata Paul Samualton terhadap Milton Friedman, bahwa seorang seperti dia should be invented. Karena itu diskusi ini sebenarnya dimaksudkan untuk melakukan rediscovery mengenai Bung Karno sebagai pemikir Islam yang orisinal. Dan bukannya kontroversial. Upaya ini merupakan argumen bahwa Bung Karno bukanlah seorang sikretis, melainkan seorang penganut agama tauhid yang murni, sebagai-mana ia mengidentifikasikan dirinya sebagai Muhammadiyah.

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3584
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Seputar Sukarno

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik