FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Halaman 5 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by cain on Wed Nov 20, 2013 8:58 am

First topic message reminder :



Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah

Itsna Asyariyah ?



Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur'an mereka juga berbeda dengan Al-Qur'an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur'annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).



1.     Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a)      Syahadatain

b)      As-Sholah

c)      As-Shoum

d)      Az-Zakah

e)      Al-Haj

Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a)      As-Sholah

b)      As-Shoum

c)      Az-Zakah

d)      Al-Haj

e)      Al wilayah



2.      Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a)      Iman kepada Allah

b)      Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c)      Iman kepada Kitab-kitab Nya

d)      Iman kepada Rasul Nya

e)      Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f)       Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a)      At-Tauhid

b)      An Nubuwwah

c)      Al Imamah

d)      Al Adlu

e)      Al Ma’ad



3.     Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat

Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.



4.     Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah                     :  Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.



5.     Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a)      Abu Bakar

b)      Umar

c)      Utsman

d)      Ali Radhiallahu anhum

Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai'at dan mengakui kekhalifahan mereka).

 6.     Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'’hum, seperti para Nabi.



7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.



8.      Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.



9.      Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a)      Bukhari

b)      Muslim

c)      Abu Daud

d)      Turmudzi

e)      Ibnu Majah

f)       An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :

a)      Al Kaafi

b)      Al Istibshor

c)      Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih

d)      Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).



10.  Ahlussunnah         : Al-Qur'an tetap orisinil

Syiah                     : Al-Qur'an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).



11. Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.



12.  Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.[/left]

13.  Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.



14.
 Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.

Syiah                     : Khamer/ arak suci.



15.  Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.



16.  Ahlussunnah         :  Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).



17.  Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).



18.  Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.



19.  Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).



Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

http://www.albayyinat.net/jwb5tc.html
avatar
cain
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1408
Kepercayaan : Lain-lain
Location : Indonesia
Join date : 13.10.13
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down


Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 2:07 pm

@thulabul ilmi wrote:subhanallah..ketika hujjah disampaikan, dia malah membahas yang lain, berputar-putar demi membela kerusakan agama syi'ah rafidhah..
apakah kita disini sedang membahas ustadz firanda nya ataukah syi'ah nya ?
apakah hilang akal & tertutup mata hati anda dengan apa yang disampaikan oleh ustadz firanda ?habis hujjah anda untuk membantah nya sehingga anda serang pribadi nya ?
mana bantahan ilmiah nya ??


Bantahan terhadap poin-poin kritis sebenarnya sudah saya sampaikan pada posting-posting awal diatas. Seperti :
- Pengkafiran Sahabat dan istri Nabi sudah dibantah fatwa Khumeini atas pengharaman mengkafirkan Sahabat dan Istri Nabi.
- Beragamnya Syiah tidak bisa dijadikan alasan bahwa semua ajaran Syiah menyimpang.
- Menekankan bahwa jikalau ada keraguan terhadap hadits2 standar sunni (mis.Bukhari-Muslim), hal ini dipandang sebagai perebedaan penyaringan hadits shahih. Hadits dimana Syiah menyaringnya dengan kriteria yang berbeda dengan kriteria penyaringan hadits yang dilakukan ulama Sunni.
- Menekankan bahwa tidak ada perbedaan pada AlQur'an, Syahadat dan Mesjid syiah dan sunni.
.

dari 10 Poin yang dibawakan oleh ust. Firanda selebihnya hanya pengulangan dari poin yang lain.

Kalau sdr @thulabul ilmi mau membahas satu persatu, silahkan kritisi poin2 diatas.

Atau @thulabul ilmi lebih suka saya menjawab copasan anda dari firanda.com saja?saya lebih suka jika anda punya pendapat sendiri, bukan hasil copasan.

Tapi jika @thulabul ilmi lebih suka saya menjawab copasan dari firanda.com, akan saya berikan juga nanti..


avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by Moderator 3 on Wed Dec 04, 2013 2:19 pm

Peringatan ;
Pembahasan Sunni dan Syiah harus menepiskan emosional.Thread ini akan dilocked bila dipandang suasana memanas.

Wassalam
avatar
Moderator 3
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Posts : 99
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 17.12.12
Reputation : 1

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 2:31 pm

@panda1 wrote:
@thulabul ilmi wrote:subhanallah..ketika hujjah disampaikan, dia malah membahas yang lain, berputar-putar demi membela kerusakan agama syi'ah rafidhah..
apakah kita disini sedang membahas ustadz firanda nya ataukah syi'ah nya ?
apakah hilang akal & tertutup mata hati anda dengan apa yang disampaikan oleh ustadz firanda ?habis hujjah anda untuk membantah nya sehingga anda serang pribadi nya ?
mana bantahan ilmiah nya ??


Bantahan terhadap poin-poin kritis sebenarnya sudah saya sampaikan pada posting-posting awal diatas. Seperti :
- Pengkafiran Sahabat dan istri Nabi sudah dibantah fatwa Khumeini atas pengharaman mengkafirkan Sahabat dan Istri Nabi.
- Beragamnya Syiah tidak bisa dijadikan alasan bahwa semua ajaran Syiah menyimpang.
- Menekankan bahwa jikalau ada keraguan terhadap hadits2 standar sunni (mis.Bukhari-Muslim), hal ini dipandang sebagai perebedaan penyaringan hadits shahih.  Hadits dimana Syiah menyaringnya dengan kriteria yang berbeda dengan kriteria penyaringan hadits yang dilakukan ulama Sunni.
- Menekankan bahwa tidak ada perbedaan pada AlQur'an, Syahadat  dan Mesjid  syiah dan sunni.
.

dari 10 Poin yang dibawakan oleh ust. Firanda selebihnya hanya pengulangan dari poin yang lain.

Kalau sdr @thulabul ilmi mau membahas satu persatu, silahkan kritisi poin2 diatas.

Atau @thulabul ilmi lebih suka saya menjawab copasan anda dari firanda.com saja?saya lebih suka jika anda punya pendapat sendiri, bukan hasil copasan.

Tapi jika @thulabul ilmi lebih suka saya menjawab copasan dari firanda.com, akan saya berikan juga nanti..


satu dulu...buktikan apa yang anda katakan, tidak hanya claim sudah berfatwa begini dan begitu dengan modal prasangka baik dan menafikan realita
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 2:32 pm

@thulabul ilmi wrote:

padahal anda tidak mengetahui apa permasalahan yang terjadi di kalangan mereka.. ataukah perlu saya bawakan juga apa yang dipahami oleh ustadz-ustadz yang berselisih dengan ustadz firanda ?
ataukah perlu saya bawakan juga dari ustadz-ustadz ikhwanul muslimin ?muhammadiyah ? fpi ?

kalau manusia sudah beragama tanpa merujuk ulama, memahami semuanya sendiri, merasa diri nya mampu berijtihad tanpa menguasai ilmu-ilmu alat untuk berhujjah.. maka kebatilan pun akan dianggap nya baik meski hujjah didepan mata..jangan kalian beragama hanya bermodalkan akal-akalan ya ikhwan, bermodal hanya pendapat-pendapat pribadi yang padahal anda bukan lah seorang ulama yang mampu menilai sesuatu itu baik atau tidak. siapakah rujukan  anda ?
Tentang pertanyaan terakhir saya jawab pertama : Rujukkan saya adalah AlQur'an dan Rasulullah.

..


Jika anda mau bawa copasan dari situs2 lain juga silahkan...saya hanya menekankan bahwa saya lebih menikmati dialog jika anda punya pendapat sendiri..bukan ambil-mentah-mentah-dari-the-so-called-ulama.

Itulah bahayanya taqlid.

Para ulama yang memiliki pendapat itu tidak pernah mengatakan: "Ini ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya," bahkan mereka berkata: "Kami telah berijtihad dengan pendapat kami, maka barangsiapa berkehendak bisa mengambil pendapat kami dan boleh tidak mengambilnya."

Imam Abu Hanifah berkata: "Ini pendapatku, barangsiapa membawa sesuatu yang lebih baik dari hal ini, niscaya kami akan menerimanya."

Seperti ini pula keadaan Imam Syafi'i yang melarang kepada para pengikutnya untuk bersikap taqlid terhadap beliau dan memberikan wasiat kepada mereka agar meninggalkan pendapatnya bila datang hadits shahih yang menyalahinya.

Juga keadaan Imam Ahmad yang pernah mengingkari orang yang telah menulis semua fatwa-fatwanya dan membukukannya seraya berkata: "Jangan kalian taqlid kepadaku dan tidak pula kepada si fulan dan si fulan. Akan tetapi ambillah dari mana mereka telah mengambil."

Imam Malik berkata:
"Saya ini hanyalah manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah dan yang tidak sesuai tinggalkanlah"

Demikianlah ada banyak perbedaan pendapat dalam Islam dan kita sendiri, yang punya akal sehat dan memilah informasi, dapat membedakan perkataan ulama-ulama tersebut..bukan hanya karena beliau berdiri didepan mimbar dan fasih berbahasa Arab

..saya pribadi tidak mempermasalahkan kalau hanya sekedar beragam selama masih dalam bingkai AlQur'an dan Rasulullah.. namun yang menyedihkan adalah ketika salah satu pihak sudah mengkafirkan lainnya.
avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by drunken master on Wed Dec 04, 2013 2:49 pm

TI wrote:'Aaamir bin Syarahbil As-Sya'bi rahimahullah (salah seorang imam dari para tabi'in yang bertemu dengan sekitar 500 sahabat, dan beliau wafat tahun 103 H
103 H yang berarti sekitar 80 tahun setelah Rasulullah wafat dan sekitar 60 tahun setalah Imam Ali ra wafat ( wafat 21 Ramadan 40 Hijriah).
Well,Umar bin Abdul Aziz menghentikan saling cerca diantara Sunni dan Syiah.Mencerca sahabat memang menjadi salah satu isu sensitif di antara kelompok Sunni dan Syiah. Sejarah mencatat ada kebiasaan buruk di kalangan Bani Umayyah untuk mencerca Imam Ali di mimbar-mimbar Jumat, sampai akhirnya dihentikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Atas kebiasaan tersebut, ada di kalangan Syiah yang bereaksi keras, di antaranya dengan balik mencerca para Sahabat yang dimuliakan oleh Sunni.
Dan perlikau itu kemungkinan terjadi di masa 'Aaamir bin Syarahbil As-Sya'bi sehingga keluarlah pernyataan tajam dari beliau.Itu harus dipelajari latar belakang pernyataan 'Aamir Syaharabil.

TI wrote:PERTAMA : Melazimkan timbulnya keraguan terhadap Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena para sahabatlah yang telah meriwayatkan kepada kita Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Jika ternyata para perawinya adalah orang-orang fasik, terlaknat, bahkan murtad maka tentunya sangat diragukan kebenaran apa yang mereka riwayatkan, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karenanya mereka berkeyakinan bahwa telah terjadi penyimpangan dalam Al-Qur'an, diselewengkan oleh para sahabat !!!
Saya persilahkan Anda untuk melakukan sebuah ulasan dan bukti bahwa Syiah telah menyebarkan keraguan terhadap Kitab Sucinya sendiri.


drunken master
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Posts : 52
Kepercayaan : Islam
Location : yupiter 2a + x - y
Join date : 04.07.13
Reputation : 2

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 2:51 pm

@panda1 wrote:
@thulabul ilmi wrote:

padahal anda tidak mengetahui apa permasalahan yang terjadi di kalangan mereka.. ataukah perlu saya bawakan juga apa yang dipahami oleh ustadz-ustadz yang berselisih dengan ustadz firanda ?
ataukah perlu saya bawakan juga dari ustadz-ustadz ikhwanul muslimin ?muhammadiyah ? fpi ?

kalau manusia sudah beragama tanpa merujuk ulama, memahami semuanya sendiri, merasa diri nya mampu berijtihad tanpa menguasai ilmu-ilmu alat untuk berhujjah.. maka kebatilan pun akan dianggap nya baik meski hujjah didepan mata..jangan kalian beragama hanya bermodalkan akal-akalan ya ikhwan, bermodal hanya pendapat-pendapat pribadi yang padahal anda bukan lah seorang ulama yang mampu menilai sesuatu itu baik atau tidak. siapakah rujukan  anda ?
Tentang pertanyaan terakhir saya jawab pertama : Rujukkan saya adalah AlQur'an dan Rasulullah.

..


Jika anda mau bawa copasan dari situs2 lain juga silahkan...saya hanya menekankan bahwa saya lebih menikmati dialog jika anda punya pendapat sendiri..bukan ambil-mentah-mentah-dari-the-so-called-ulama.

Itulah bahayanya taqlid.

Para ulama yang memiliki pendapat itu tidak pernah mengatakan: "Ini ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya," bahkan mereka berkata: "Kami telah berijtihad dengan pendapat kami, maka barangsiapa berkehendak bisa mengambil pendapat kami dan boleh tidak mengambilnya."

Imam Abu Hanifah berkata: "Ini pendapatku, barangsiapa membawa sesuatu yang lebih baik dari hal ini, niscaya kami akan menerimanya."

Seperti ini pula keadaan Imam Syafi'i yang melarang kepada para pengikutnya untuk bersikap taqlid terhadap beliau dan memberikan wasiat kepada mereka agar meninggalkan pendapatnya bila datang hadits shahih yang menyalahinya.

Juga keadaan Imam Ahmad yang pernah mengingkari orang yang telah menulis semua fatwa-fatwanya dan membukukannya seraya berkata: "Jangan kalian taqlid kepadaku dan tidak pula kepada si fulan dan si fulan. Akan tetapi ambillah dari mana mereka telah mengambil."

Imam Malik berkata:
"Saya ini hanyalah manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah dan yang tidak sesuai tinggalkanlah"

Demikianlah ada banyak perbedaan pendapat dalam Islam dan kita sendiri, yang punya akal sehat dan memilah informasi, dapat membedakan perkataan ulama-ulama tersebut..bukan hanya karena beliau berdiri didepan mimbar dan fasih berbahasa Arab

..saya pribadi tidak mempermasalahkan kalau hanya sekedar beragam selama masih dalam bingkai AlQur'an dan Rasulullah.. namun yang menyedihkan adalah ketika salah satu pihak sudah mengkafirkan lainnya.
ya memang menyedihkan ketika syiah rafidhah telah mengkafirkan mayoritas shahabat dan kaum muslimin yang merujuk kepada mereka,
tidak ada yang memerintahkan anda bertaqlid, tidak ada
akan tetapi merujuk ulama/ahli ilmu adalah kewajiban untuk setiap muslim yang awam.
karna jika tidak, bagaimana anda tahu sesuatu benar dan salah disaat anda belajar?
apakah anda langsung menimbang semuanya dengan al qur'an dan sunnah ?
anda buka qur'an, lalu tiba-tiba bisa membacanya dengan tartil lalu menafsirkan tiap-tiap ayatnya?
dan anda langsung menilai hadits-hadits bukhari dan muslim, dan menilai ini hadits shahih, ini palsu, ini lemah tanpa belajar dulu sebelumnya ??
atau anda akan menilai nya melalui mimpi/perasaan/akal saja ?

kalau pendapat seorang ulama dalam suatu hal telah bertentangan dengan qur'an dan sunnah maka kita tinggalkan..selesai
siapa yang mengatakan anda harus bertaqlid ?
tentu saja sikap yang baik adalah sikap yang tengah-tengah.
sekarang mana hujjah anda yang membantah perkataan-perkataan ulama yang mengatakan syi'ah rafidhah sesat?
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 2:55 pm

Pada hari-hari ini, kita melihat bahwa kaum Syi’ah sibuk menyebarkan lembaran-lembaran dari beberapa tokoh yang berisi beberapa pernyataan bahwa agama Syi’ah tidak sesat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syi’ah, pada negeri tempat mereka menganggap diri-diri mereka sebagai kaum minoritas, untuk menyerukan pendekatan atau persatuan antara Sunni dan Syi’ah serta yang semisalnya. Seluruh hal tersebut adalah upaya untuk mengaburkan sikap ulama Islam terhadap agama Syi’ah.

Berikut beberapa ucapan ulama kaum muslimin tentang agama Syi’ah agar umat Islam mengetahui bagaimana sikap ulama Islam yang sesungguhnya terhadap agama Syi’ah.
1. Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahulllâh (W. 62 H)
Beliau berkata,
لقد غلت هذه الشيعة في علي رضي الله عنه كما غلت النصارى في عيسى بن مريم
“Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

2. Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H)
Beliau bertutur,
ما رأيت قوماً أحمق من الشيعة
“Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syi’ah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 7/1461]
Beliau juga bertutur,
نظرت في هذه الأهواء وكلمت أهلها فلم أر قوماً أقل عقولاً من الخشبية
“Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan Saya telah berbicara dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

3. Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H)
Beliau berkata,
الرافضة لا تنكح نساؤهم، ولا تؤكل ذبائحهم، لأنهم أهل ردة
“(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya karena mereka adalah kaum murtad.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

4. Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
Beliau berucap,
الجماعة أن تفضل أبا بكر وعمر وعلياً وعثمان ولا تنتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ustman, serta janganlah engkau mencela seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

5. Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W. 155 H)
Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis’ar berkata,
تنح عني فإنك شيطان
“Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaithan.” [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah 8/1457]


Terakhir diubah oleh thulabul ilmi tanggal Wed Dec 04, 2013 3:01 pm, total 1 kali diubah
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 2:58 pm

6. Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H)
Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab,

كافر بالله العظيم

“(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”
Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?”
(Sufyân) menjawab,

لا، ولا كرامة

“Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya?”
Beliau menjawab,

لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه في قبره

“Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
[Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

7. Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H)
Beliau bertutur,

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، ليس لهم سهم، أوقال نصيب في الإسلام

“Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bagian apapun dalam keislaman.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah maka Imam Malik menjawab,
لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون
“Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

8. Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H)
Beliau berkata,

لا أصلي خلف جهمي، ولا رافضي، ولا قدري

“Saya tidak mengerjakan shalat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary (penganut paham Qadariyah).”
[Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 4/733]

9. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H)
Beliau berucap,

هما ملتان: الجهمية، والرافضة

“Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.), yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

10. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H)
Beliau berkata,

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 3:04 pm

11. Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H)
Beliau berkata,
يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون
“Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering berdusta.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

12. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H)
Beliau berkata,
ما أرى الرافضة والجهمية إلا زنادقة
“Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq.”
[Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

13. Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H)
Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,
فلم نؤمر إلا بالاستغفار لهم، فمن يسبهم، أو ينتقصهم أو أحداً منهم، فليس على السنة، وليس له في الفئ حق
“Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam fâ`i.”
[Ushûl As-Sunnah hal.43]

14. Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H)
Beliau berkata,
عاشرت الناس، وكلمت أهل الكلام، وكذا، فما رأيت أوسخ وسخاً، ولا أقذر قذراً، ولا أضعف حجة، ولا أحمق من الرافضة …
“Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah berbicara dengan ahli kalam dan … demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….”
[Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/499]

15. Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H)
Beliau berkata,
إنا لا نأكل ذبيحة رجل رافضي، فإنه عندي مرتد
“Sesungguhnya kami tidaklah memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia, menurut Saya, adalah murtad.”
[Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/459]
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 3:07 pm

jadi kesimpulan nya adalah...
bahwa mayoritas ulama ahlussunnah telah sesat ?
ataukah
mayoritas ulama syiah yang sesat ?

atau
kedua-duanya sesat, lalu anda berdiri sendiri diatas madzhab baru yang mengetahui kebenaran yang selama ini tidak pernah diketahui para ulama..

sesuai Al Qur'an dan Rasulullah...
lalu dari siapa anda mengambil qur'an ?apakah qur'an yang berada di tangan ahlussunnah ataukah qur'an syi'ah yang belum lengkap?
dari siapa anda mengambil ajaran(sunnah) rasulullah ?apakah dari ulama-ulama ahlussunnah ataukah pencela shahabat (syi'ah) ? atau suka-suka anda ? yang mana yang menurut pribadi saya saat itu baik maka itu yang akan saya ambil..


Saya sudah bilang di postingan saya sebelumnya bahwa, Syiah dan Sunni , kedua-duanya tidak sesat dan tidak dibenarkan saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

Risalah Amman  http://www.ammanmessage.com yang menyerukan kerukunan antar ummat Islam (Sunni dan Syi’ah) serta melarang mengkafirkan satu sama lain ditandatangani 200 ulama dari 50 negara pada tahun 2006 di antaranya oleh Yusuf Qaradhawi, Din Syamsuddin, KH Hasyim Muzadi, Syeikh Al Buthi, dsb.
avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 3:14 pm

Rasulullah SAW bersabda “Apabila salah seorang berkata pada saudaranya “hai kafir”, maka tetaplah hal itu bagi salah seorangnya. (Shahih Bukhari Juz 4 hal 47).

Artinya jika yang dikatakan kafir itu adalah seorang muslim maka perkataan kafir akan berbalik ke dirinya sendiri. Singkatnya Mengkafirkan Muslim adalah Kafir.
avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 3:24 pm

@thulabul ilmi
Saya pribadi mengambil hal-hal yang saya anggap benar sejauh pengetahuan dan akal sehat saya, dari mahzab-mahzab tersebut. Baik Sunni maupun Syiah.
Tentu akan saya telaah dulu suatu masalah baik-baik secara ilmiah..dari segi ilmu hadits maupun sejarah. Ini, kan yang saya ajak sejak awal...

Apakah itu salah??



Saya tidak mengatakan jika suatu hal itu kurang sesuai dengan pandangan saya berarti hal itu adalah sesat.

Anda tidak sesuai dengan saya,..selama anda masih mengimani AlQur'an dan Rasulullah, anda tidak akan saya anggap sesat.

Semoga saja siapapun yang belum mengenal Syiah tidak termakan dengan Fatwa-fatwa yang mengkafirkan syiah. Jika tidak tahu cukuplah diam dan lebih baik berprasangka baik.
Ingatlah Semua orang bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya.



Anyway..selamat menjalankan sholat Ashar.sholat yuk 
avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 3:31 pm

16. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H)
Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah:
Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
ما أراه على الإسلام
“Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.”
[Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau ditanya pula tentang orang yang bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab.
لا، وإذا سلم عليه لا يرد عليه
“Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut.”
[Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/494]

17. Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H)
Beliau berkata,
ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي، أم صليت خلف اليهود والنصارى، ولا يسلم عليهم، ولا يعادون، ولا يناكحون، ولا يشهدون، ولا تؤكل ذبائحهم
“Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun Saya mengerjakan shalat di belakang orang-orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk mereka.”
[Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

18. Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini dan hadits-hadits adalah para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq.”
[Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-Kifâyah hal. 49]

19. Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman.
[Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

20. Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
Beliau berkata,
واعلم أن الأهواء كلها ردية، تدعوا إلى السيف، وأردؤها وأكفرها الرافضة، والمعتزلة، والجهمية، فإنهم يريدون الناس على التعطيل والزندقة
“Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl dan kezindiqan.”
[Syarh As-Sunnah hal. 54]
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 3:35 pm

21. Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W. 385 H)
Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka berkhianat, serta mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid’ah berupa Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu’tazilah.”
[Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah hal. 251-252]

22. Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.”
[Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

23. Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nûniyah-nya,
إن الروافضَ شرُّمن وطيءَ الحَصَى … من كلِّ إنسٍ ناطقٍ أو جانِ
مدحوا النّبيَ وخونوا أصحابه … ورموُهمُ بالظلمِ والعدوانِ
حبّوا قرابتهَ وسبَّوا صحبه … جدلان عند الله منتقضانِ
Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan
Dari seluruh manusia yang berbicara dan seluruh jin
Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya berkhianat
Dan mereka menuduh para shahabat dengan kezhaliman dan permusuhan
Mereka (mengaku) mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para shahabat beliau
Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah

[Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

24. Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan kudeta dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka.”
[Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

25. Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh (W. 543 H)
Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.”
[Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

26. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H)
Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah) tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (kaum Rafidhah) itu.” [Minhâj As-Sunnah 1/160]
Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At-Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara.”
[Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]

*Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-Dhâl hal. 90-110
dzulqarnain.net
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 3:37 pm

silahkan kalian pilih, pendapat ulama ataukah pendapat panda1 yang lebih benar ? sholat yuk 
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 3:54 pm

Sudah Sholat Asharnya?

Sebagai khazanah, ini saya copy-kan Introduksi Diskursus Sejarah Lahirnya Syiah dan Sunni yang cukup menarik, khusus bahasan tentang syiah yang saya sadur dari sini :

http://satuislam.wordpress.com/ahlussunnah-wal-jamaah/



Secara etimologis, Syiah berarti pengikut. Dalam pengertian histories lainnya, istilah ini dapat juga diartikan sebagai pecinta dan penolong, sementara dalam aspek terminologis sejarah konsep ini ditujukan untuk menyebut sekelompok umat Islam yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan dan otoritas (imamah / wilayah) Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Rasul Allah termulia SAW yang agung dan suci. Menurut sejarawan Sunni termasyhur Muhammad bin Jarir at-Thabari dan Ibn’ Hisyam, Syiah pada awalnya adalah terminology yang sering digunakan untuk menyebut sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan Ali bin Abi Thalib seperti Abudzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yassir, Abdullah bin Abbas, Bara’ bin Azzib, Ubay bin Kaab, Saad bin Ubadah, Uways al-Qarani, Khuzaimah, Jabir bin Abdillah al-Anshori, Abu Musa al-Anshori, dan lain-lainnya. Karena alasan inilah banyak tokoh dan sejarawan Ahlussunah menyebut mereka ini sebagai generasi Syiah awal.(berbeda kontras dengan ulama dan sejarawan Sunni kontemporer semisal Syekh Ibn’ Taimiyah dan Rasyid Ridha –murid Muhammad Abduh- yang berpendapat kaum Syiah muncul karena elaborasi dan kredo-kredo teologis yang didiskursuskan seorang Yahudi Yaman bernama Abdullah ibn’ Saba’ berdasar riwayat tunggal yang dinisbahkan pada Saif bin Umar dan inilah pandangan umum kaum salafi-wahabi dalam memahami mazhab Syi’ah)
Dalam sejumlah fakta histories yang memiliki kredibilitas dan obyektif, kita mendapati banyak kenyataan factual dari peran sejarah generasi Syiah awal ini. Dalam kasus-kasus spesifik namun berimplikasi global seperti pembaiatan Abu Bakar bin Abu Quhafah sebagai khalifah dalam satu pertemuan yang melibatkan Umar bin al-Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Basyir bin Saad, Hubab bin Munzhir dan sejumlah orang suku Khazraj di saqifah bani Saidah, topic pertikaian tentang wilayah Ali bin Abi Thalib (Imam Syiah pertama) yang mendiferensiasi para sahabat menjadi dua polar keagamaan, social dan politik, sengketa tanah Fadak antara Khalifah Abu Bakar dengan Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW, wafatnya Khalifah Usman bin Affan, perang Jamal-Shiffin-Nahrawan, syahidnya Ali bin Abi Thalib di Kufah, syahidnya Hasan bin Ali karena diracun, hingga peristiwa tragis dan memilukan yang menimpa Husain bin Ali, keluarga dan pengikutnya di gurun Karbala pada 10 Muharram 61 H, hingga syahid terbunuhnya para Imam Syiah berikutnya secara beruntun dari Ali bin Husain Zayn al-Abidin as-Sajjad sampai Abu Hujjah Hasan bin Ali al-Askari (imam kesebelas), para Syiah ini memainkan kontribusi sejarah yang secara massif memberikan pola dan definisi pemahaman bagi public dan masyarakat non-Syiah terhadap kaum Syiah. Pembahasan detail mengenai kronologi dan berbagai aspek dari sejumlah peristiwa di atas tentu berada di luar kompetensi artikel ini.

Prinsip-prinsip teologis kaum Syiah berdasar pada ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran suci dan hadis-sunah Rasulullah SAW melalui jalur Ahlulbait (keluarga dan imam-imam keturunan Nabi SAW dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra –menurut konsepsi dan akidah kaum Syiah). Ada lima prinsip yang mendasari ushuluddin Syiah, yaitu Tauhid, al-Adalah (keadilan Ilahi), Nubuwah, Imamah dan Ma’ad. Artikel ini juga tidak akan membahas lima subyek tersebut dikarenakan keterbatasan ruang dan menghindari pembahasan yang berat dan melelahkan. Yang ingin penulis garis-bawahi adalah, sebagaimana dalam aspek ini Sunni memiliki kaidah-kaidah teologis al-Asy’ariyah dan sejumlah pembaruan oleh kaum Wahabiyah (gerakan pembaruan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang merevitalisasi ide-ide Ibn’ Taimiyah dan bermula di Nejd pada abad 11-12 H), Syiah juga memiliki struktur ushuluddin yang komprehensif dan bersumber dari penjelasan para imam Ahlulbait yang mereka yakini berasal dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Dengan demikian Syiah dapat diartikan sebagai sekelompok umat Islam yang secara keagamaan, social, politik dan cultural mendasarkan pandangan-pandangan hidupnya, standar nilai afektif dan system perilaku dan perikehidupannya pada risalah kerasulan (Nubuwah) Nabi suci Muhammad SAW melalui jalur 12 imam Ahlulbait Nabi SAW. Berbeda dengan gagasan Ahlussunah yang menerima teks-teks keagamaan dari seluruh sahabat Rasulullah SAW, Syiah dalam topic yang sama hanya menerima dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW dan sejumlah kecil sahabat Nabi SAW yang mereka (kaum Syiah) yakini integrasi personal dan otoritasnya.
Penulis juga merasa perlu mengemukakan terminology Ahlulbait. Sunni dan Syiah berbeda pandangan tentang siapa yang dimaksud Ahlulbait. Perbedaan ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat konsepsi ini disebut-sebut Al-Quran suci dan hadis-hadis mulia Rasulullah SAW. Sebagian ulama Sunni berpendapat Ahlulbait adalah isteri-isteri Nabi SAW, sementara sebagian lainnya mengatakan istilah ini menunjuk pada keluarga besar Nabi SAW termasuk isteri, anak, cucu, keponakan dan artikulasi kekerabatan lainnya. Penulis sendiri menggunakan terminology Ahlulbait berdasar definisi kaum Syiah untuk menghindari polemik dan kontroversi peristilahan berdasar sejumlah factor: Pertama, dalam Syiah Imamiyah Itsna’ Asyariyah (Syiah 12 imam) terdapat konsistensi pemaknaan terhadap terminology Ahlulbait. Di mana dalam ilmu logika, bila kita dihadapkan pada kenyataan adanya satu realitas yang harus dipahami dalam sejumlah makna yang berbeda, yang mana ada yang konsisten dan inkonsisten, maka kita pilih makna yang konsisten berdasarkan prinsip-prinsip akal dan algoritma berpikir yang benar. Kedua, penggunaan yang umum dan dominant tentang terminology ini dalam mazhab Syiah. Sebaliknya, meski kalangan Ahlussunah juga memberikan pengertian yang khusus tentang terminology Ahlulbait, namun penggunaannya tidaklah umum dan dominant sebagaimana ia digunakan berikut maknanya secara spesifik dalam tradisi Syiah. Ketiga, para peneliti agama dan kalangan akademik secara umum menerima penggunaan terminology Ahlulbait (berikut maknanya dalam Syiah) diartikulasikan dengan struktur dan konsepsi keagamaan kaum Syiah. Dengan 3 alasan inilah penulis menggunakan istilah Ahlulbait dalam pembahasan artikel dengan makna sebagaimana ia didefinisikan oleh Syiah.

Sebagian ulama yang terpengaruh oleh propaganda musuh-musuh Ahlulbait Nabi SAW dan juga para Nawasib (orang-orang yang membenci keluarga Nabi suci SAW berdasar berbagai motivasi ideologis, orientasi politik, visi sectarian dan ide-ide profanisme semata) menyebut kaum Syiah sebagai kaum Rafidhah. Dalam konteks ini, Rafidhah dimaknai sebagai kaum pembangkang atau kelompok pengingkar. Kaum Syiah disebut sebagai pembangkang atau pengingkar karena mereka menolak mengakui otoritas dan aspek legalitas para khalifah di luar Ahlulbait Nabi SAW. Syiah meyakini imamah (kepemimpinan) agama Islam setelah wafatnya Rasul Allah SAW adalah hak eksklusif dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Rasulullah SAW, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada al-Hujjah bin Hasan al-Askari, dan karenanya mereka secara teoritik dan praksis menolak legalitas seluruh khalifah selainnya. Tentu menjadi sesuatu yang logis jika kemudian mereka menolak mengikuti khilafah di luar Ahlulbait Nabi SAW dan merasa tidak terikat dalam keputusan hukum apapun yang berhubungan dengan kekhalifahan itu. Lantaran inilah sebagian orang menyebut kaum Syiah sebagai pembangkang atau pengingkar.

Maksudnya, menurut orang-orang yang memusuhi Syiah (nawasib), mereka membangkang –kecuali pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib- terhadap para khalifah mulai dari Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah, Marwan bin Hakam, bani Marwaniyin dan Umayyah, sampai bani Abbasiyin.
Bagaimanakah sebenarnya substansi dan hakikat sesungguhnya topic permasalahan imamah ini, penulis berharap para pembaca untuk mengkajinya secara detail dan mendalam berdasar literature Sunni dan Syiah secara ilmiah dan obyektif, demi mendapatkan kesimpulan yang paling benar dan logis tentangnya. Komprehensivitas struktur dan konsep keagamaan kaum Syiah yang berporos pada Imamah Ahlulbait Nabi SAW berimplikasi secara logis pada keseluruhan aspek dan hipostasi keagamaan mereka, termasuk syariat dan fiqh. Lantaran fiqh merupakan derivasi dari akidah, maka tak syak lagi kaum Syiah mengambil metodologi yurisprudensi dan hukum-hukum praksis mereka dari nas-nas suci Al-Quran dan sunah-sunah Nabi SAW melalui jalur 12 Imam Ahlulbait Nabi SAW. Sebagian besar hadis-hadis Nubuwah (kenabian) Rasulullah yang suci SAW yang menjadi rujukan teks keagamaan (nas) tertulis dalam kompilasi hadis Syiah seperti al-Kafi, Bihar al-Anwar, Tuhaf al-Uqul, as-Wasail as-Syiah, dan seterusnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Dalam kontribusi histories sehubungan dengan kompilasi hadis-hadis dari jalur Ahlulbait Nabi SAW ini, peran sejarah yang yang dominant ditunjukkan Imam Syiah keenam, yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq, yang banyak mengajarkan nas-nas suci Al-Quran dan hadis Rasul Allah SAW pada para ulama dan pengikutnya (syiahnya). Tidak mengherankan bila fiqh kaum Syiah juga dikenal oleh masyarakat non-Syiah dengan sebutan Fiqh Jakfari, yang diambil dari nama Imam Syiah keenam yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq. Penggunaan sebutan ini tidaklah berarti bahwa hukum-hukum praktis (fiqh) Syiah bersumber dari Imam Jakfar al-Shadiq, namun artikulasi terminologis ini hanyalah lantaran pada zaman imamah Jakfar bin Muhammad al-Shadiq inilah Imam Syiah dapat leluasa mengajarkan agama pada umat Islam. Imam Jakfar al-Shadiq mendapat sedikit keleluasaan untuk mengajarkan agama karena pada saat itu dinasti Marwaniyin (penguasa terakhir dari bani Umayyah yang menguasai kekhalifahan) sedang disibukkan oleh pemberontakan dan separatisme, antara lain pemberontakan kelompok Zaidiyah, gerakan Yahya bin Zaid, Abdullah bin Muawiyah, sampai pemberontakan klan-klan Abbasiyah semacam Abu Muslim al-Khurasani. Karena fakta sejarah bahwa Imam Jakfar-lah yang banyak mengajarkan Islam pada masyarakat saat itu, maka masyarakat non-Syiah (di luar Syiah) juga mengenal mazhab Syiah sebagai mazhab Jakfari.
Imam-imam Syiah sebelum Beliau selalu mendapatkan tekanan opresif dari rezim penguasa, kalau tidak dipenjara dapat dipastikan mereka dikenai tahanan rumah. Penulis tidak akan membahas fakta-fakta politis-represif yang dialami para Imam Syiah karena pembahasan detail semacam itu berada di luar jangkauan artikel ini, silakan pembaca mempelajarinya dari kitab-kitab sejarah Sunni maupun Syiah. Kiranya sudah jelas penulis mengeksposisikan definisi Sunni dan Syiah berdasar etimologi, afiliasi keagamaan, dan orientasi social-politiknya. Para pembaca yang berminat dapat meneruskan kajiannya secara detail dan mendalam terhadap berbagai kitab, manuskrip dan literature kedua mazhab tersebut.


Yang saya Bold ditengah, membahas latar belakang perkataan para imam yang dibawakan @thulabul ilmi sebelumnya..

semoga menambah wawasan.
avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 3:58 pm

fimadani.com wrote:Semua Syi’ah Tersebut Sesat

Habib Rizieq pun menyampaikan bahwa pembagian Syiah tersebut bukan untuk dibenarkan, bahkan ia mempertegas semua Syiah adalah sesat meski Syiah Mu’tadilah sekalipun.

“Intinya FPI bukan Syiah dan FPI tetap anti Syiah. Syiah yang manapun apakah itu Ghulat, Rafidhah atau Mu’tadilah semua pendapatnya tidak kami terima, hanya kami membedakan mereka di dalam perlakuan bukan untuk dibenarkan. Nah ini yang perlu saya klarifikasi, jadi jangan ada yang menganggap jika FPI membagi Syiah menjadi tiga lalu yang ketiga dibenarkan, terus yang ketiga ini dibela oleh FPI. FPI bukan pembela Syiah!” tegasnya.

Ia juga sepakat bahwa penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia harus dihalangi, sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.

“Kita sepakat bahwa penyebaran Syiah di Indonesia harus diantisipasi, harus kita halangi, tidak boleh yang manapun kelompoknya, termasuk yang mu’tadil sekalipun tidak boleh mereka sebarluaskan aqidah mereka di Negara Republik Indonesia yang notabene adalah negara bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tandasnya.
selengkapnya...
http://news.fimadani.com/read/2013/06/18/syiah-di-indonesia-adalah-rafidhah-bukan-mutadilah/

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/06/17/25292/habib-rizieq-fpi-anti-syiah-penyebarannya-di-indonesia-harus-dicegah/
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 4:16 pm

@thulabul ilmi wrote:
fimadani.com wrote:Semua Syi’ah Tersebut Sesat

Habib Rizieq pun menyampaikan bahwa pembagian Syiah tersebut bukan untuk dibenarkan, bahkan ia mempertegas semua Syiah adalah sesat meski Syiah Mu’tadilah sekalipun.

“Intinya FPI bukan Syiah dan FPI tetap anti Syiah. Syiah yang manapun apakah itu Ghulat, Rafidhah atau Mu’tadilah semua pendapatnya tidak kami terima, hanya kami membedakan mereka di dalam perlakuan bukan untuk dibenarkan. Nah ini yang perlu saya klarifikasi, jadi jangan ada yang menganggap jika FPI membagi Syiah menjadi tiga lalu yang ketiga dibenarkan, terus yang ketiga ini dibela oleh FPI. FPI bukan pembela Syiah!” tegasnya.

Ia juga sepakat bahwa penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia harus dihalangi, sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.

“Kita sepakat bahwa penyebaran Syiah di Indonesia harus diantisipasi, harus kita halangi, tidak boleh yang manapun kelompoknya, termasuk yang mu’tadil sekalipun tidak boleh mereka sebarluaskan aqidah mereka di Negara Republik Indonesia yang notabene adalah negara bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tandasnya.
selengkapnya...
http://news.fimadani.com/read/2013/06/18/syiah-di-indonesia-adalah-rafidhah-bukan-mutadilah/

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/06/17/25292/habib-rizieq-fpi-anti-syiah-penyebarannya-di-indonesia-harus-dicegah/
Tentang arrahmah.com dan voa-islam.com, dari http://kabarislam.wordpress.com/..

Buat para penggemar berita arrahmah.com dan voa-islam.com Kalau saya bilang website di atas garbage/sampah tentu anda tidak terima.

Tapi ada baiknya anda coba google dari Media lain seperti Republika.co.id, Mirajnews, Radio Silaturrahim, dsb. Kira2 ada tidak berita “bombastis” seperti dari situs tsb? Kalau tidak ada jangan percaya begitu saja. Khawatirnya cuma fitnah dan hasutan belaka untuk membuat kita marah dan menzalimi satu kaum… Mengadu-domba sesama Muslim.
Asbabun Nuzul dari Al Hujuraat 6 meminta kita mewaspadai berita dari orang2 fasiq. Orang fasiq di situ, Walid bin Uqbah, itu bukan orang kafir. Tapi justru mukmin kepercayaan Nabi. Dia dipercaya Nabi memungut zakat satu kaum yg nilainya milyaran rupiah. Tak mungkin tugas memungut uang banyak diserahkan kepada orang yg tak dipercaya bukan?
Nah ternyata orang yang kita percaya Mukmin terpercaya itulah Orang Fasiqnya.
Sementara Harits dan kaumnya yang difitnah itu justru orang2 yang kafir dan baru masuk Islam. Sehingga banyak orang Islam, termasuk Walid mengira mereka masih kafir dan ingin membunuhnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/10/04/mewaspadai-berita-di-media-massa/
Contoh berita yang aneh dari Media Wahabi di atas misalnya ini:

Di satu berita katanya Assad mengaku sebagai Tuhan seperti Fir’aun. Memaksa orang menyembah Assad dan berkata: “Laa ilaaha illa Assad”. Tidak ada Tuhan selain Assad:
http://www.voa-islam.com/news/world-world/2012/02/26/17918/bagai-firaun-rezim-syiah-suriah-paksa-tahanan-sujud-pada-foto-presiden/
Anehnya di Media yang sama dimuat berita dan Foto Bashar Assad sedang sholat Ied di Masjid Sunni dgn cara Sunni. Di sampingnya adalah Ulama Sunni, Syekh Ahmad Hassoun yang puteranya tewas dibunuh pemberontak Suriah:
http://www.voa-islam.com/news/analysis/2012/08/19/20298/bashar-alassad-kami-terus-berperang-sampai-darah-penghabisan/
Di Media lain juga diberitakan Bashar Assad sedang sholat:

Presiden Assad Shalat Ied di Damascus
http://indonesiarayanews.com/news/internasional/08-20-2012-10-51/presiden-assad-shalat-ied-di-damascus

http://kabarislam.wordpress.com/2013/04/08/assad-mengaku-tuhan-seperti-firaun/
Kira-kira masuk akal tidak jika Assad mengaku Tuhan dan memaksa rakyatnya untuk berkata “Laa ilaaha illa Assad”? Apa rakyatnya tidak akan berontak? Apa para Ulama Aswaja seperti Syekh Al Buthi dan Syekh Ahmad Hassoun tidak akan marah padanya?
Jika Assad mengaku sebagai Tuhan, kenapa dia masih sholat?
Orang yang berpikiran sehat dan memiliki keadilan tentu akan paham bahwa berita itu tidak benar.
Salah satu dari 2 berita di Voa Islam itu pasti ada yang salah.
Fitnah satu lagi adalah bahwa Khaddafi mengaku sebagai Tuhan seperti FIr’aun. Fitnah yang klise!
Mengungkap rahasia kelam sosok Qaddafi : Fir’aun, Toghut, dan Musailamah al-Kadzab dari Libya
http://arrahmah.com/read/2011/10/24/15936-serial-mengungkap-rahasia-kelam-sosok-qaddafi-firaun-toghut-dan-musailamah-al-kadzab-dari-libya-1.html
Padahal Khaddafi ini Muslim Sunni (Maliki) dan masih sholat. Bahkan sebagai Imam!

K. H. Muhammad Arifin Ilham Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.

FB Arifin Ilham Qaddafi
https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham/posts/10150425776404739
http://kabarislam.wordpress.com/2011/10/21/muammar-khadafi-pemberontak-libya-dan-kafir-harbi-as-dan-nato/
http://kabarislam.wordpress.com/2012/09/13/media-wahabi-antara-berita-dan-fitnah/
Dari contoh berita di atas, di mana kedua Media tsb tidak melakukan Tabayyun thd Assad dan Khaddafi yang mereka fitnah, kita tahu apakah mereka media yang adil atau tidak.
Dalam surat Al Hujuraat ayat 6 kita harus tabayyun thd orang yang kita tuduh, dalam hal ini Assad dan Khaddafi. Bukan mempercayai fitnah begitu saja.
Media Massa yang baik juga meliput dari semua pihak yang terlibat. Cover both sides of the story. Bukan cuma dari 1 sisi atau 1 kelompok saja.
Walhasil, Qaddafi jatuh dan diganti dengan pemerintah Boneka AS yang bersalaman dengan Hillary Clinton. Minyak Libya diambil perusahaan minyak AS dan Inggris:
Hillary dan Abdurrahim Al Kaib

Hillary Clinton dan dan PM Libya Abdurrahim Al Kaib
http://kabarislam.wordpress.com/2013/03/27/khilafah-berdiri-di-libya
Ada pun Suriah, pemerintah Boneka dengan Ghassan Hitto (Warga Negara AS) sbg Perdana Menteri sudah siap mengganti Assad yang anti AS dan Israel seperti Qaddafi: Ghassan Hitto has been chosen as the prime minister of an interim government by Syria's opposition
http://kabarislam.wordpress.com/2013/04/12/mujahidin-wahabi-bughot-untuk-zionis-yahudi
Pada akhirnya Wahabi menguntungkan AS dan Israel. Yahudi dan Nasrani!
Kenapa demikian?
Coba kita lihat skema di bawah:
Israel > AS > Arab Saudi > Wahabi
Israel (Lobby Yahudi) menguasai pemerintah AS. Pemerintah AS menguasai Raja Arab Saudi. Ada pun Raja Arab Saudi menggaji Ulama2 Wahabi sbg Mufti/Imam Masjid. Skema ini harusnya cukup jelas dgn gambar di bawah:

Yang orang belum sadar/paham adalah:
Arab Saudi > Wahabi > Ormas dan Media Massa “Islam” di Indonesia
Tidak semua ormas/media Islam yang mendapat dana dari Arab Saudi / Qatar otomatis jadi antek Arab Saudi>AS>Israel. Bisa jadi ada sebagian yang terpaksa karena tiada dana.
Tapi ada juga yang “bersemangat” membela kepentingan donaturnya Arab Saudi = Kepentingan AS dan Israel dan akhirnya menghantam musuh AS dan Israel.
Para Petinggi/Syekh/Qiyadah paham kerjasama ini. Tapi orang-orang di bawah / grass root yang bekerja di ormas/media “Islam” yang didanai Wahabi itu mengira mereka bekerja demi Allah. Demi Islam. Padahal tak jarang akhirnya mereka mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim.
Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’”


Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)
http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/16/najd-tempat-khawarijfitnah-di-najd-atau-di-iraq
Di Hadist di atas disebut bahwa Sumber Fitnah ada di Najd (di antaranya kota Riyadh, Saudi Arabia). Meski Dajjal tak bisa masuk Mekkah dan Madinah, ternyata pengikutnya seperti orang2 kafir dan munafik bisa. Contohnya Abu Jahal, Hilton, Sheraton, bersama para copet bisa tinggal di Mekkah. Begitu pula tokoh munafik Abdullah bin Ubay, Hilton, beserta para copet juga bisa tinggal di Madinah.
Kalau pun ada kelompok yang kelihatannya berseteru dengan Arab Saudi, pada kasus Bughot di Libya dan Suriah mereka sejalan dgn agenda AS dan Israel. Skema jadi:
Israel > AS > Wahabi

Wajarkah foto di bawah ini?

Reagan Meets Taliban at Whitehouse
Presiden AS Ronald Reagan Bertemu dengan Mujahidin Afghanistan di Gedung Putih tahun 1985


http://kabarislam.wordpress.com/2013/05/21/as-dan-mujahidin-al-qaida/
Jika anda masih kurang yakin, coba lihat foto2 dan video para “Mujahidin” Suriah dgn Senator AS, John McCain yang membantu mereka dengan dana dan senjata:

John McCain dengan Pemberontak Suriah
http://kabarislam.wordpress.com/2013/06/15/teka-teki-pemberontak-suriah-mujahidin-atau-munafiqin/
Ini seperti fenomena Dajjal. Apa yg dikira air, ternyata api. Dan apa yg dikira api, ternyata air. Dajjal (Yahudi) mengaku sbg Allah. Padahal bukan. Para pejuang “Islam” yg ternyata bekerja untuk Israel (Yahudi) mengira berjuang untuk Allah. Padahal untuk Dajjal. Mengkafirkan dan membunuh ummat Islam. Na’udzu billah min dzalik!
Saat AS berseteru dengan Qaddafi (Libya), Qaddafi yang Sunni dgn Mazhab Maliki dgn mudah dihantam Media Wahabi sbg Thoghut Fir’aun musuh Allah.
Saat Suriah dan Iran yang Syi’ah berseteru dengan AS dan Israel, segera disetel agar kebencian terhadap Syi’ah melebihi kebencian thd AS dan Israel. Suriah dihancurkan. Israel aman.
Syi’ah Kafir, Jahat, Kejam, begitu tulis mereka. Para pembaca jadi ingin menggorok orang2 Syi’ah. Parahnya, ulama Sunni Aswaja seperti Syekh Al Buthi Al-Buti dibunuh karena difitnah sebagai Syi’ah. Ulama Sunni lainnya Syaikh Hassan Saifuddin (80 tahun) secara brutal dipenggal kepalanya di bagian utara Kota Aleppo oleh sekelompok militan yang dibekingi pihak asing dan menyeret tubuhnya di jalanan. Kepalanya ditanam di menara sebuah masjid yang biasa digunakan untuk berkhotbah. Banyak Ulama Sunni yang difitnah sebagai Syi’ah seperti Al Buthi, Habib Rizieq Syihab, KH Said Agil Siradj, Prof Dr. Quraisy Shihab, dsb.
Pemberontak Wahabi Suriah
Akibat Membaca Media Wahabi yg Penuh Fitnah, Kebencian, dan Adu Domba / Namimah
Jadi Syi’ah itu kafir dan harus dibunuh menurut mereka. Celakanya banyak juga Sunni difitnah sbg Syi’ah dan harus dibunuh. Yahudi malah aman!
http://kabarislam.wordpress.com/2013/08/11/kekejaman-pemberontak-wahabi-suriah/
Padahal 200 Ulama dari 50 negara2 Islam sudah sepakat bahwa Sunni dan Syi’ah adalah bagian dari Islam dan menyeru agar hidup rukun dan damai:
http://ammanmessage.com
Risalah Amman yang ditanda-tangani 200 Ulama, sekarang didukung 500 Ulama dari berbagai Dunia seperti Shaykh Al-Azhar Mohammed Sayyid Tantawi, Ayatollah Sistani, Sheikh Yusuf Qaradawi, Mufti Mesir Ali Goma, KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Tuti Alawiyah, Mufti Besar Suriah Syekh Ahmad Hasoun Syekh Al Buti, Raja Yordania, Raja Arab Saudi, Raja Bahrain, beserta 200 Tokoh Islam lainnya. Selain itu ada pula tokoh Syi’ah seperti Imam Syi’ah Ayatollah Ali Khamenei, Ahmadinejad, dan Ayatollah Ali Sistani dari Iraq:
http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31
Iran pun diterima jadi anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan orang2 Syi’ah Iran dari dulu naik haji ke tanah suci. Kalau Jumhur Ulama di atas tidak ditaati, siapa lagi? Ulama Wahabi?
Kalau Sunni diadu-domba dengan Syi’ah, yang mati itu keduanya. Bukan cuma Syi’ah. Perang Iran-Iraq tahun 1980-1988 menewaskan 1 juta orang (Sunni dan Syi’ah). Perang di Suriah menewaskan 70 ribu orang. Sekitar 15 ribu dari pihak pemerintah, 14 ribu dari pemberontak, 41 ribu dari warga sipil. Di Libya 50 ribu orang yang tewas. Dari tahun 1980 hingga sekarang, 2,6 juta Muslim lebih tewas akibat ulah adu-domba Khawarij Wahabi.
Islam sejak konflik antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyyah terbagi 3: Sunni (Pendukung Mu’awiyyah dan yg netral), Syi’ah (dari kata Syi’ah Ali – Pendukung Ali), dan Khawarij. Nah Khawarij inilah yang sesat karena mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim. Jadi kita harus hati-hati terhadap paham Khawarij Modern yang mengkafirkan dan membunuh Muslim. Bukannya Bidadari Surga yang ditemui usai “Bom Syahid” di Masjid, malah Malaikat Zabaniyyah yg menyeret ubun-ubunnya di neraka!
Tidak pantas juga Media Islam Wahabi menuding para Ulama dari Ketua MUI, Ketua NU, Ketua Muhammadiyyah, dsb sebagai “PEMBELA ALIRAN SESAT”:
Rupanya, ada banyak tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam yang membela paham sesat Syiah. Mulai dari Ketua MUI Umar Syihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ahmad Syafi’ie Ma’arif, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan sebagainya. Berikut Voa-Islam tampilkan pendapat mereka mengenai ajaran Syiah:
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/inilah-tokoh-para-pembela-paham-sesat-syiah/
Ulama itu adalah Pewaris Nabi. Bagaimana mungkin Ulama dari MUI, NU, dan Muhammadiyyah disebut sebagai PEMBELA ALIRAN SESAT? Itu sama dengan menganggap Ulama tidak adil. MUI (Majelis Ulama Indonesia) adalah perwakilan Ulama dari seluruh ormas Islam terbesar di Indonesia (NU, Muhammadiyyah, DDII, Persis, dsb). NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyyah adalah ormas Islam terbesar ke2 di Indonesia. Bagaimana mungkin mereka meragukan keadilan PARA ULAMA tersebut?
Kepada siapa lagi kita bertanya kalau bukan kepada Ulama?
“..Bertanyalah kepada Ulama (Ahli Zikir) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]
Khawarij pertama meragukan keadilan Nabi. Khawarij berikutnya menganggap Khalifah Ali tidak benar dan membunuhnya. Khawarij sekarang juga menuduh jumhur Ulama tidak adil bahkan ada yang membunuhnya juga seperti Syekh Al Buthi dan beberapa Ulama Aswaja lain di Suriah:
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/
Berita tendensius dari Voa-Islam.com:

PBNU: Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa & Hafal Quran
KH Said Aqil Siradj tentang Khawarij
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/05/12/24510/said-aqil-cikal-bakal-teroris-rajin-shalat-malam-puasa-hafal-quran/
Harus Tabayyun ke KH Said Agil Siradj. Tak mungkin Said melarang orang hafal Al QUr’an. Yg disinggung mungkin kelompok Khawarij yg gemar menyebut AL Qur’an dan Hadits, tapi tidak diamalkan. Ibadahnya bagus luar biasa, tapi membunuh sesama Muslim. Itu memang ciri Khawarij yg digambarkan Nabi.
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)
Saat ini kan banyak teroris yang atas nama Islam membom di berbagai negara Islam dan membunuh banyak Muslim. Sementara Yahudi di Israel justru aman dari serangan bom mereka. Itulah Khawarij yang dimaksud KH Said Aqil Siradj.
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/
Yang lucu Berita “ANEH” DARI MEDIA WAHABI ARRAHMAH.COM:
“MUJAHIDIN” KAMIS MENYERANG, RABU SUDAH MENANG?
Pakai Mesin Waktu apa Dusta?
Pada Kamis pagi, Mujahidin kembali melancarkan serangan balik terhadap musuh di seluruh kota.Pada Rabu sore, 90% Qusayr sudah kembali berada di bawah kendali Mujahidin.
http://www.arrahmah.com/news/2013/06/07/allahu-akbar-situasi-berubah-total-qusayr-kembali-dikuasai-mujahidin.html
Berita Arrahmah

Belum menyerang (Rabu) kok sudah menang? Anehnya banyak pembaca Arrahmah yang jahil tidak mengetahui keanehan tsb sambil berucap Subhanallahu, Allohu Akbar, dsb… Ini berbagai berita dari Media lain yang justru bertolak-belakang dari Berita Arrahmah yang aneh itu. Di media2 ini, justru Pemberontak Suriahlah yang dikalahkan di kota Qusair. Silahkan baca:
Pasukan Suriah Masuki Kota Qusair yang Dikuasai Pemberontak
http://www.voaindonesia.com/content/pasukan-suriah-masuki-kota-qusair/1664183.html
Qusair telah dikuasai kembali oleh pasukan pemerintah pekan lalu dengan bantuan pejuang dari gerakan Islam Syiah Lebanon, Hisbullah.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/06/130613_suriah_syiah.shtml
Pekan lalu, rezim Assad merebut kota strategis Qusair
http://entertainment.kompas.com/read/2013/06/14/14200292/AS.Akan.Mempersenjatai.Pemberontak.Suriah
Langkah Arab dan Eropa itu dilakukan, setelah menyaksikan pasukan Pemerintah Suriah merebut kota strategis Qusair dari pemberontak pekan lalu.
http://international.sindonews.com/read/2013/06/13/42/749431/arab-eropa-ingin-segera-persenjatai-pemberontak-suriah
“Berita” Arrahmah memang beda. Pantas pembaca fanatiknya menyukainya…
Silahkan lihat selengkapnya di sini:
http://kabarislam.wordpress.com/2013/06/07/berita-aneh-arrahmah-kamis-menyerang-rabu-sudah-menang/
Yang aneh adalah wawancara dengan Farid Okbah:
FO: Kaum muslimin ahlu sunnah yang ada di Indonesia ini tidak boleh berpangkutangan dan wajib memberikan solidaritasnya, apakah dengan turun langsung ke Syria mendukung perjuangan kaum muslimin dengan membawa bantuan dan semacamnya atau dengan cara mengumpulkan dana untuk membantu perjuangan kaum muslimin Syria.
Karena memang derita yang luar biasa terjadi di sana. Jumlah pengungsi yang mencapai lebih dari 45 Juta orang yang berada di perbatasan Turki, Lebanon, Yordan, Irak dan sebagainya. Di situlah pentingnya dibutuhkan solidaritas kita.
http://www.arrahmah.com/news/2013/08/04/benang-merah-antara-jihad-suriah-muktamar-ulama-ahlu-sunnah-hingga-kudeta-militer-di-mesir.html
Bagaimana mungkin Farid Okbah menyatakan jumlah pengungsi Suriah mencapai lebih dari 45 juta orang sementara penduduk Suriah kurang dari 22 juta orang?
https://www.facebook.com/SahabatLaaTahzan/posts/622280364458806
http://id.wikipedia.org/wiki/Suriah
Anehnya baik yang diwawancara dan yang mewawancarai serta redaksi ArRahmah tidak menyadari kekeliruan fatal tersebut. Begitu pula para pembacanya.
Menurut UNHCR (Lembaga Pengungsi PBB) jumlah pengungsi Suriah mencapai 1,6 juta:
UNHCR: Jumlah Pengungsi Suriah Capai 1,6 Juta
http://www.dakwatuna.com/2013/06/06/34598/unhcr-jumlah-pengungsi-suriah-capai-16-juta
Silahkan baca juga:
http://kabarislam.wordpress.com/2013/06/20/foto-foto-palsu-pembantaian-di-suriah-oleh-assad/
Nasehat terutama buat saya sendiri yang faqir ini:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Maa-idah:8]
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2009/11/25/cara-islam-menegakkan-hukum-dan-keadilan/
Nabi selalu berlaku adil. Saat ada yang dituduh, Nabi tak percaya begitu saja pada pelapor. Tapi tabayyun terhadap yang dituduh. Saat menjadi hakim, Nabi menanyakan masalah ke semua pihak yang bertikai secara adil. Mendengar dari saksi yang ADIL. Ada pun orang pembohong/pendusta, tidak boleh jadi saksi.
Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)
Hendaknya kita senantiasa menjadi orang yang senang membuat perdamaian. Karena ISLAM itu seakar dengan kata SALAM / DAMAI.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114)
Jangan mengadu-domba manusia agar saling bunuh dengan berita (baca: Fitnah) yang kita buat. Takutlah pada api neraka untuk orang yang gemar membuat fitnah dan mengadu domba:
“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)
Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/04/24/nabi-senang-mendamaikan-bukan-mengadu-domba-dan-menghindari-peperangan/
Allah mengutuk orang yang banyak berbohong:
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” [QS Adz Dzaariyaat:10]
Siksa yang pedih di neraka disediakan bagi para pendusta:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al Baqarah:10]
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” [Al Jaatsiyah:7]
Jika sering berdusta, maka itu akan menyeretnya ke neraka:
“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)
Dusta adalah satu ciri orang Munafik:
Nabi Muhammad SAW: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)
“Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)


avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 4:20 pm

@panda1 wrote:Sudah Sholat Asharnya?

Sebagai khazanah, ini saya copy-kan Introduksi Diskursus Sejarah Lahirnya Syiah dan Sunni yang cukup menarik, khusus bahasan tentang syiah yang saya sadur dari sini :

http://satuislam.wordpress.com/ahlussunnah-wal-jamaah/



Secara etimologis, Syiah berarti pengikut. Dalam pengertian histories lainnya, istilah ini dapat juga diartikan sebagai pecinta dan penolong, sementara dalam aspek terminologis sejarah konsep ini ditujukan untuk menyebut sekelompok umat Islam yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan dan otoritas (imamah / wilayah) Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Rasul Allah termulia SAW yang agung dan suci. Menurut sejarawan Sunni termasyhur Muhammad bin Jarir at-Thabari dan Ibn’ Hisyam, Syiah pada awalnya adalah terminology yang sering digunakan untuk menyebut sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan Ali bin Abi Thalib seperti Abudzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yassir, Abdullah bin Abbas, Bara’ bin Azzib, Ubay bin Kaab, Saad bin Ubadah, Uways al-Qarani, Khuzaimah, Jabir bin Abdillah al-Anshori, Abu Musa al-Anshori, dan lain-lainnya. Karena alasan inilah banyak tokoh dan sejarawan Ahlussunah menyebut mereka ini sebagai generasi Syiah awal.(berbeda kontras dengan ulama dan sejarawan Sunni kontemporer semisal Syekh Ibn’ Taimiyah dan Rasyid Ridha –murid Muhammad Abduh- yang berpendapat kaum Syiah muncul karena elaborasi dan kredo-kredo teologis yang didiskursuskan seorang Yahudi Yaman bernama Abdullah ibn’ Saba’ berdasar riwayat tunggal yang dinisbahkan pada Saif bin Umar dan inilah pandangan umum kaum salafi-wahabi dalam memahami mazhab Syi’ah)
Dalam sejumlah fakta histories yang memiliki kredibilitas dan obyektif, kita mendapati banyak kenyataan factual dari peran sejarah generasi Syiah awal ini. Dalam kasus-kasus spesifik namun berimplikasi global seperti pembaiatan Abu Bakar bin Abu Quhafah sebagai khalifah dalam satu pertemuan yang melibatkan Umar bin al-Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Basyir bin Saad, Hubab bin Munzhir dan sejumlah orang suku Khazraj di saqifah bani Saidah, topic pertikaian tentang wilayah Ali bin Abi Thalib (Imam Syiah pertama) yang mendiferensiasi para sahabat menjadi dua polar keagamaan, social dan politik, sengketa tanah Fadak antara Khalifah Abu Bakar dengan Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW, wafatnya Khalifah Usman bin Affan, perang Jamal-Shiffin-Nahrawan, syahidnya Ali bin Abi Thalib di Kufah, syahidnya Hasan bin Ali karena diracun, hingga peristiwa tragis dan memilukan yang menimpa Husain bin Ali, keluarga dan pengikutnya di gurun Karbala pada 10 Muharram 61 H, hingga syahid terbunuhnya para Imam Syiah berikutnya secara beruntun dari Ali bin Husain Zayn al-Abidin as-Sajjad sampai Abu Hujjah Hasan bin Ali al-Askari (imam kesebelas), para Syiah ini memainkan kontribusi sejarah yang secara massif memberikan pola dan definisi pemahaman bagi public dan masyarakat non-Syiah terhadap kaum Syiah. Pembahasan detail mengenai kronologi dan berbagai aspek dari sejumlah peristiwa di atas tentu berada di luar kompetensi artikel ini.

Prinsip-prinsip teologis kaum Syiah berdasar pada ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran suci dan hadis-sunah Rasulullah SAW melalui jalur Ahlulbait (keluarga dan imam-imam keturunan Nabi SAW dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra –menurut konsepsi dan akidah kaum Syiah). Ada lima prinsip yang mendasari ushuluddin Syiah, yaitu Tauhid, al-Adalah (keadilan Ilahi), Nubuwah, Imamah dan Ma’ad. Artikel ini juga tidak akan membahas lima subyek tersebut dikarenakan keterbatasan ruang dan menghindari pembahasan yang berat dan melelahkan. Yang ingin penulis garis-bawahi adalah, sebagaimana dalam aspek ini Sunni memiliki kaidah-kaidah teologis al-Asy’ariyah dan sejumlah pembaruan oleh kaum Wahabiyah (gerakan pembaruan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang merevitalisasi ide-ide Ibn’ Taimiyah dan bermula di Nejd pada abad 11-12 H), Syiah juga memiliki struktur ushuluddin yang komprehensif dan bersumber dari penjelasan para imam Ahlulbait yang mereka yakini berasal dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Dengan demikian Syiah dapat diartikan sebagai sekelompok umat Islam yang secara keagamaan, social, politik dan cultural mendasarkan pandangan-pandangan hidupnya, standar nilai afektif dan system perilaku dan perikehidupannya pada risalah kerasulan (Nubuwah) Nabi suci Muhammad SAW melalui jalur 12 imam Ahlulbait Nabi SAW. Berbeda dengan gagasan Ahlussunah yang menerima teks-teks keagamaan dari seluruh sahabat Rasulullah SAW, Syiah dalam topic yang sama hanya menerima dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW dan sejumlah kecil sahabat Nabi SAW yang mereka (kaum Syiah) yakini integrasi personal dan otoritasnya.
Penulis juga merasa perlu mengemukakan terminology Ahlulbait. Sunni dan Syiah berbeda pandangan tentang siapa yang dimaksud Ahlulbait. Perbedaan ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat konsepsi ini disebut-sebut Al-Quran suci dan hadis-hadis mulia Rasulullah SAW. Sebagian ulama Sunni berpendapat Ahlulbait adalah isteri-isteri Nabi SAW, sementara sebagian lainnya mengatakan istilah ini menunjuk pada keluarga besar Nabi SAW termasuk isteri, anak, cucu, keponakan dan artikulasi kekerabatan lainnya. Penulis sendiri menggunakan terminology Ahlulbait berdasar definisi kaum Syiah untuk menghindari polemik dan kontroversi peristilahan berdasar sejumlah factor: Pertama, dalam Syiah Imamiyah Itsna’ Asyariyah (Syiah 12 imam) terdapat konsistensi pemaknaan terhadap terminology Ahlulbait. Di mana dalam ilmu logika, bila kita dihadapkan pada kenyataan adanya satu realitas yang harus dipahami dalam sejumlah makna yang berbeda, yang mana ada yang konsisten dan inkonsisten, maka kita pilih makna yang konsisten berdasarkan prinsip-prinsip akal dan algoritma berpikir yang benar. Kedua, penggunaan yang umum dan dominant tentang terminology ini dalam mazhab Syiah. Sebaliknya, meski kalangan Ahlussunah juga memberikan pengertian yang khusus tentang terminology Ahlulbait, namun penggunaannya tidaklah umum dan dominant sebagaimana ia digunakan berikut maknanya secara spesifik dalam tradisi Syiah. Ketiga, para peneliti agama dan kalangan akademik secara umum menerima penggunaan terminology Ahlulbait (berikut maknanya dalam Syiah) diartikulasikan dengan struktur dan konsepsi keagamaan kaum Syiah. Dengan 3 alasan inilah penulis menggunakan istilah Ahlulbait dalam pembahasan artikel dengan makna sebagaimana ia didefinisikan oleh Syiah.

Sebagian ulama yang terpengaruh oleh propaganda musuh-musuh Ahlulbait Nabi SAW dan juga para Nawasib (orang-orang yang membenci keluarga Nabi suci SAW berdasar berbagai motivasi ideologis, orientasi politik, visi sectarian dan ide-ide profanisme semata) menyebut kaum Syiah sebagai kaum Rafidhah. Dalam konteks ini, Rafidhah dimaknai sebagai kaum pembangkang atau kelompok pengingkar. Kaum Syiah disebut sebagai pembangkang atau pengingkar karena mereka menolak mengakui otoritas dan aspek legalitas para khalifah di luar Ahlulbait Nabi SAW. Syiah meyakini imamah (kepemimpinan) agama Islam setelah wafatnya Rasul Allah SAW adalah hak eksklusif dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Rasulullah SAW, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada al-Hujjah bin Hasan al-Askari, dan karenanya mereka secara teoritik dan praksis menolak legalitas seluruh khalifah selainnya. Tentu menjadi sesuatu yang logis jika kemudian mereka menolak mengikuti khilafah di luar Ahlulbait Nabi SAW dan merasa tidak terikat dalam keputusan hukum apapun yang berhubungan dengan kekhalifahan itu. Lantaran inilah sebagian orang menyebut kaum Syiah sebagai pembangkang atau pengingkar.

Maksudnya, menurut orang-orang yang memusuhi Syiah (nawasib), mereka membangkang –kecuali pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib- terhadap para khalifah mulai dari Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah, Marwan bin Hakam, bani Marwaniyin dan Umayyah, sampai bani Abbasiyin.
Bagaimanakah sebenarnya substansi dan hakikat sesungguhnya topic permasalahan imamah ini, penulis berharap para pembaca untuk mengkajinya secara detail dan mendalam berdasar literature Sunni dan Syiah secara ilmiah dan obyektif, demi mendapatkan kesimpulan yang paling benar dan logis tentangnya. Komprehensivitas struktur dan konsep keagamaan kaum Syiah yang berporos pada Imamah Ahlulbait Nabi SAW berimplikasi secara logis pada keseluruhan aspek dan hipostasi keagamaan mereka, termasuk syariat dan fiqh. Lantaran fiqh merupakan derivasi dari akidah, maka tak syak lagi kaum Syiah mengambil metodologi yurisprudensi dan hukum-hukum praksis mereka dari nas-nas suci Al-Quran dan sunah-sunah Nabi SAW melalui jalur 12 Imam Ahlulbait Nabi SAW. Sebagian besar hadis-hadis Nubuwah (kenabian) Rasulullah yang suci SAW yang menjadi rujukan teks keagamaan (nas) tertulis dalam kompilasi hadis Syiah seperti al-Kafi, Bihar al-Anwar, Tuhaf al-Uqul, as-Wasail as-Syiah, dan seterusnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Dalam kontribusi histories sehubungan dengan kompilasi hadis-hadis dari jalur Ahlulbait Nabi SAW ini, peran sejarah yang yang dominant ditunjukkan Imam Syiah keenam, yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq, yang banyak mengajarkan nas-nas suci Al-Quran dan hadis Rasul Allah SAW pada para ulama dan pengikutnya (syiahnya). Tidak mengherankan bila fiqh kaum Syiah juga dikenal oleh masyarakat non-Syiah dengan sebutan Fiqh Jakfari, yang diambil dari nama Imam Syiah keenam yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq. Penggunaan sebutan ini tidaklah berarti bahwa hukum-hukum praktis (fiqh) Syiah bersumber dari Imam Jakfar al-Shadiq, namun artikulasi terminologis ini hanyalah lantaran pada zaman imamah Jakfar bin Muhammad al-Shadiq inilah Imam Syiah dapat leluasa mengajarkan agama pada umat Islam. Imam Jakfar al-Shadiq mendapat sedikit keleluasaan untuk mengajarkan agama karena pada saat itu dinasti Marwaniyin (penguasa terakhir dari bani Umayyah yang menguasai kekhalifahan) sedang disibukkan oleh pemberontakan dan separatisme, antara lain pemberontakan kelompok Zaidiyah, gerakan Yahya bin Zaid, Abdullah bin Muawiyah, sampai pemberontakan klan-klan Abbasiyah semacam Abu Muslim al-Khurasani. Karena fakta sejarah bahwa Imam Jakfar-lah yang banyak mengajarkan Islam pada masyarakat saat itu, maka masyarakat non-Syiah (di luar Syiah) juga mengenal mazhab Syiah sebagai mazhab Jakfari.
Imam-imam Syiah sebelum Beliau selalu mendapatkan tekanan opresif dari rezim penguasa, kalau tidak dipenjara dapat dipastikan mereka dikenai tahanan rumah. Penulis tidak akan membahas fakta-fakta politis-represif yang dialami para Imam Syiah karena pembahasan detail semacam itu berada di luar jangkauan artikel ini, silakan pembaca mempelajarinya dari kitab-kitab sejarah Sunni maupun Syiah. Kiranya sudah jelas penulis mengeksposisikan definisi Sunni dan Syiah berdasar etimologi, afiliasi keagamaan, dan orientasi social-politiknya. Para pembaca yang berminat dapat meneruskan kajiannya secara detail dan mendalam terhadap berbagai kitab, manuskrip dan literature kedua mazhab tersebut.


Yang saya Bold ditengah, membahas latar belakang perkataan para imam yang dibawakan @thulabul ilmi sebelumnya..

semoga menambah wawasan.
ya terlihat bukan ?bahwa mereka rafidhah memang kelompok pembangkang, pemecah belah umat.
mereka tinggalkan khalifah terpilih, dan menyebabkan kekacauan di tubuh umat islam,
lalu dengan mudah nya mereka mengaku pengikut ahlul bait. boong 
bahkan entah disadari atau tidak mereka cela juga ahlul bait rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam..
"KESEMBILAN : Jika Mu'aawiyah adalah kafir (bahkan termasuk manusia yang paling kafir menurut syi'ah) maka sikap Al-Hasan yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Mu'aawiyah yang kafir merupakan bentuk pengkhianatan terbesar dalam sejarah terhadap Islam dan kaum muslimin. Maka ini jelas pencelaan yang besar kepada Al-Hasan bin Ali radhiallahu 'anhumaa.

sudahlah mengaku saja kalau anda bagian dari syi'ah atau sedang ingin bergabung dengan syi'ah ehmm  
karna anda tolak dan abaikan semua perkataan-perkataan ulama ahlussunnah..wallahu a'lam
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by thulabul ilmi on Wed Dec 04, 2013 4:32 pm

tidak ada bukti yang anda bawa hanya perkataan-perkataan kosong dan copasan dari link cenderung syi'ah atau memang syi'ah, dan yang seperti itu anda katakan "link netral" boong 
kita bahas syi'ah anda bahas wahabi,
kita bahas syi'ah anda bahas ustadz nya,
kita bahas syi'ah anda bawakan copasan dari pembela syi'ah sambil anda katakan link netral
kita bahas syi'ah dan kerusakannya anda nafikan dengan mengatakan berprasangka baik, jangan mengkafirkan, padahal jelas syi'ah lah yang mengkafirkan ?
dibawakan perkataan ulama tentang syi'ah anda tolak dengan membawa sejarah versi cenderung syi'ah
seperti orang yang sudah kehabisan akal, maka berputar-putar panik 

saya rasa tidak ada gunanya melanjutkan nya lagi, malah menyimpang jauh dari pembahasan awal
avatar
thulabul ilmi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 122
Kepercayaan : Islam
Location : bumi Allah
Join date : 29.10.11
Reputation : 2

http://muslim.or.id/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by panda1 on Wed Dec 04, 2013 4:52 pm

@thulabul ilmi wrote:tidak ada bukti yang anda bawa hanya perkataan-perkataan kosong dan copasan dari link cenderung syi'ah atau memang syi'ah, dan yang seperti itu anda katakan "link netral" boong 
kita bahas syi'ah anda bahas wahabi,
kita bahas syi'ah anda bahas ustadz nya,
kita bahas syi'ah anda bawakan copasan dari pembela syi'ah sambil anda katakan link netral
kita bahas syi'ah dan kerusakannya anda nafikan dengan mengatakan berprasangka baik, jangan mengkafirkan, padahal jelas syi'ah lah yang mengkafirkan ?
dibawakan perkataan ulama tentang syi'ah anda tolak dengan membawa sejarah versi cenderung syi'ah
seperti orang yang sudah kehabisan akal, maka berputar-putar panik 

saya rasa tidak ada gunanya melanjutkan nya lagi, malah menyimpang jauh dari pembahasan awal


1. Anda bahas syiah dari situs wahabi maka saya bahasa Wahabi.
2. Anda bahas syiah dari perkataan ustadz yang tidak netral, maka saya bahas ustadz-nya.
3. Saya bahas syiah dari copasan pembela syi'ah YANG BUKAN syi'ah dan netral.
4. Saya bahas syiah dari fatwa Imam syiah (Khumeni-nya sendiri) yang tidak mencela dan mengkafirkan, anda tetap ngotot bahwa syiah mengkafirkan.
5. Sejarah versi cenderung syiah?? silahkan anda berikan bahasan sejarah yang netral menurut anda..

avatar
panda1
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 181
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 24.11.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by musicman on Wed Dec 04, 2013 5:02 pm

Saya baca bolak balik, masih gk ketemu-ketemu kok yah, kecuali kutipan si A, si B si C..atau ulama-ulama yg namanya "seram"2 berbau Arab bilang Shiah itu sesat.

Kalau memang itu ..udah sering saya liat..pendapat Shiah itu sesat, kafir, dsb.

Yg bikin saya penasaran..saya ngga ketemu2 tuh..alasan masuk akal sehingga mereka pantas disebut sesat, yah kecuali pendapat si A,B C

Menurut bung TI, apa alasan yg paling bisa dibenarkan untuk mengatakan Shiah itu sesat?


avatar
musicman
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2226
Kepercayaan : Islam
Join date : 07.10.11
Reputation : 123

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by musicman on Wed Dec 04, 2013 5:08 pm

@thulabul ilmi wrote:silahkan kalian pilih, pendapat ulama ataukah pendapat panda1 yang lebih benar ? sholat yuk 
...saya ngga doyan main telan pendapat. Ulama, Ustadz..Sheikh..apapun gelar seram lainnya..kecuali saya telaah terlebih dahulu
avatar
musicman
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2226
Kepercayaan : Islam
Join date : 07.10.11
Reputation : 123

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by cain on Wed Dec 04, 2013 6:14 pm

Kalau menurut loe gimana mus?? binar

Jadi mus....gimana menurut loe yang bener?? binar 


Terakhir diubah oleh cain tanggal Thu Dec 05, 2013 5:46 pm, total 1 kali diubah
avatar
cain
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1408
Kepercayaan : Lain-lain
Location : Indonesia
Join date : 13.10.13
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by isaku on Wed Dec 04, 2013 6:40 pm

luar biasa penjelasan Pak Panda1, cukup membuka wawasan :)

Tapi begini pak Panda, alasan syiah dianggap sesat adalah beda akidah,

Ketidakterimaan syiah awal terhadap ketiga khalifah yg pak Panda akui sendiri jstru bersebrangan dengan pandangan Ali RA, menyebabkan ketidakterimaan jg terhadap periwayatan hadits dari sahabat yg ditolak, berimbas di kemudian hari perbedaan mendasar antara sunni dan syiah. Bagaimana Pak Panda menjelaskan ttg Shalat Jumat, Shalat Dhuha, pendapat bahwa 12 imam adalah ma'shum dan banyak hal lain?

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Perbedaan SUNNI dengan SYIAH

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 5 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik