FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA

Halaman 2 dari 2 Previous  1, 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA

Post by putramentari on Wed Apr 16, 2014 8:24 pm

First topic message reminder :

MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA


وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

QS 4:69. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Sebab turunnya ayat ini menurut riwayat At Tabari dan Ibnu Mardawaih dari ‘Aisyah ra. “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah sesungguhnya saya lebih mencintaimu dari diri saya dan anak saya. Apabila saya berada di rumah, saya selalu teringat padamu: sehingga saya tidak sabar dan terus datang untuk melihatmu. Dan apabila saya teringat tentang kematian saya dan kematianmu, maka tahulah (sadarlah) saya. bahwa engkau apabila masuk surga berada di tempat yang tinggi bersama-sama para Nabi, sedang saya apabila masuk surga, saya takut tidak akan melihatmu lagi. Mendengar itu Rasulullah diam tidak menjawab, dan kemudian turunlah ayat ini”.
Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dengan menjanjikan secara pasti. akan membalas ketaatan dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, yaitu Nabi-nabi, para siddiqin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang yang saleh.
Berdasarkan ayat ini para ahli tafsir secara garis besarnya membagi orang-orang yang memperoleh anugerah Allah yang paling besar di dalam surga kepada empat macam yaitu:

1. Para Rasul dan Nabi-nabi, yaitu mereka yang menerima wahyu dari Allah SWT.
2. Para siddiqin, yaitu orang-orang yang teguh keimanannya kepada kebenaran Nabi dan Rasul.
3. Para syuhada dibagi pula urutannya sebagai berikut:

a. Orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dan mati terbunuh di dalam peperangan melawan orang-orang kafir

b. Orang-orang yang menghabiskan usianya berjuang di jalan Allah dengan harta; dan dengan segala macam jalan yang dapat dilaksanakannya.

c. Orang-orang beriman yang mati ditimpa musibah yang mendadak atau teraniaya, seperti mati bersalin, tenggelam di lautan, terbunuh dengan aniaya. Bagian (a) disebut syahid dunia dan akhirat yang lebih tinggi pahalanya dari bagian (b) dan (c) yang keduanya hanya dinamakan syahid akhirat. Dan ada satu bagian lagi yang disebut namanya syahid dunia, yaitu orang-orang yang mati berperang melawan kafir, hanya untuk mencari keuntungan duniawi, seperti untuk mendapatkan harta rampasan, untuk mencari nama dan sebagainya. Syahid yang serupa ini tidak dimasukkan pembagian syahid di atas, karena syahid dunia tersebut tidak termaksud sama sekali dalam kedua ayat ini.

4. Orang-orang saleh, yaitu orang-orang yang selalu berbuat amal baik yang bermanfaat untuk umum, termasuk dirinya dan keluarganya baik untuk kebahagiaan hidup duniawi maupun untuk kebahagiaan hidup ukhrawi yang sesuai dengan ajaran Allah.
Orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang tersebut dalam ayat ini akan dapat masuk surga dan ditempatkan bersama-sama dengan semua golongan yang empat itu.

Thabrani dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan dengan sanad yang tak ada jeleknya dari Aisyah, katanya, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya, ‘Wahai Rasulullah! Anda lebih saya cintai dari diri saya, dan lebih saya kasihi dari anak saya. Mungkin suatu saat saya sedang berada di rumah, lalu teringat kepada Anda, maka hati saya tak sabar hingga saya datang dan sempat melihat wajah Anda. Dan jika saya ingat akan kematian saya dan kematian Anda, saya pun maklum bahwa tempat Anda ditinggikan bersama para nabi, saya khawatir jika saya masuk surga tidak akan sempat melihat Anda lagi.’ Nabi saw. tidak menjawab sedikit pun hingga turunlah Jibril membawa ayat ini, ‘Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan kepada rasul…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 69) Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Masruq, bahwa para sahabat Nabi saw. mengatakan, “Wahai Rasulullah! Tidak sepatutnya kami berpisah dengan Anda, karena sekiranya Anda wafat, maka Anda akan dinaikkan di atas kami hingga kami tidak sempat melihat Anda lagi. Maka Allah pun menurunkan, ‘Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 69) Dan diriwayatkan dari Ikrimah, katanya, “Seorang anak muda datang kepada Nabi saw. lalu katanya, ‘Wahai Nabi Allah! Di dunia ini sesekali kami dapat juga melihat Anda, tetapi di hari kiamat kami tak dapat melihat Anda lagi karena Anda berada dalam surga pada tingkat yang tinggi.’ Maka Allah pun menurunkan ayat ini. Lalu sabda Rasulullah saw. kepadanya, ‘Kamu insya Allah berada bersama saya di dalam surga.’” Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang sama dengan itu dari mursal Said bin Jubair, Masruq, Rabi’, Qatadah dan As-Saddiy.

Anggapan yg salah:
Ada yg beranggapan bahwa ayat ini adalah dalil yang menunjukan adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan anggapan mereka jika ayat ini tidak menunjukkan adanya nabi berarti tidak ada kesempatan pula untuk kaum muhammad akan menjadi syuhada, sidiq, syahid, shaleh.

BANTAHAN:
Pertama :
Bagaimana mereka mereka mengartikan ayat-ayat dibawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

QS 2:153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.


إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

QS 16:128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.


وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

QS 8:46. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.



Apakah itu mau kita pahami “Allah” itu menjadi orang-orang yang bertaqwa?

Apakah itu mau kita pahami “Allah” itu termasuk orang-orang yang bertaqwa?

Apakah itu mau kita pahami “Orang-orang yang sabar” itu menjadiAllah?

Apakah itu mau kita pahami “Orang-orang yang sabar” itu termasuk Allah?

Coba kita pikirkan dengan seksama, “bersama-sama” tentulah tidak bisa diartikan berarti “menjadi” atau “termasuk”.
Apakah mau anda pahami bahwa jika saya (laki-laki) sedang “bersama-sama” dengan ibu-ibu apakah mau dipahami “saya (laki-laki)” itu berubah menjadi “ibu-ibu”? atau “termasuk ibu-ibu”? tentulah tidak demikian adanya.

Maha Suci Allah, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya.

Kedua:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

QS 57:18. Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.


وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ وَالشُّهَدَاءُ عِندَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

QS 57:19. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien[1458] dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.



Juga dalam firman Allah,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

QS 29:9. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.


Dalam ayat itu Allah tidak menyebutkan “para nabi” karena kenabian adalah sesuatu yang tidak bisa diusahakan atau diupayakan. Jika tidak, maka tidak hanya Ghulam Ahmad saja yang menjadi nabi, tetapi masing-masing orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya akan menjadi nabi tanpa pengkhususan.

Apabila setiap orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi/termasuk seorang nabi, tentunya para sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang akan menjadi nabi karena belum dan tidak akan ada seorang lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang mulia dari mereka. Urutan setelah mereka dalam ketinggian ketaatan adalah para Tabi’in lalu para pengikut mereka. Namun demikian tak seorangpun dari mereka yang mengklaim bahwa diri mereka adalah telah menjadi Nabi. Sebagaimana tak seorangpun dari para imam bahwa mereka telah menjadi nabi. Dengan demikian Allah menyebutkan orang-orang mukmin yang hakiki dengan gelar ash-shiddiqin, Asy-syuhada dan Ash-shalihin dalam firmannya.

Ketiga:

“Seorang pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada” (At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ad-Daruquthni dan At-Tibrizi)

Apakah arti hadits ini pedagang yang jujur dan terpercaya menjadi nabi? Berapa banyak orang dari kalangan para pedagang yang telah menjadi nabi dengan cara jujur dan amanah?

Keempat :

Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS.4:69)

Siapakah yang dimaksud “teman yang sebaik-baiknya”, jika “Ma’a” itu diartikan “Menjadi” & “Termasuk”? Mungkinkah yang dimaksud “teman yang sebaik-baiknya” itu adalah Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh jika kata “Ma’a” diartikan “Menjadi” atau “Termasuk”?

Jelas tidak mungkin!

Bisakah anda yang berkeyakinan adanya nabi baru berdasarkan ayat ini bisa menjawabnya?


MARI KITA BERANTAS ALIRAN SESAT YANG HANYA BERMODALKAN GOTAK GATUK TERJEMAHAN TANPA DISERTAI PEMAHAMAN ILMU ALAT info


Terakhir diubah oleh putramentari tanggal Thu Apr 17, 2014 9:39 pm, total 1 kali diubah
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down


Re: MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA

Post by ngayarana on Thu Jun 19, 2014 1:28 pm

@Kedunghalang wrote: BERIKUT ADALAH TAFSIR QUR'AN BIL QUR'AN DAN KAMUS / LEXICAL (SHOROF).

Kata depan ma’a menunjukkan adanya dua orang atau lebih bersama pada suatu tempat atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Menurut Shaikh Abu'l Qasim Husain ibn Muhammad ar-Raghib dalam bukunya Al-Mufradat fi Ghara'ib-ul-Qur'an, kata ma'a mengandung arti "bantuan" seperti tercantum dalam kalimat innallaaha ma'a naa (At-Taubah 9:39/40).
Yang ini sudah bener....

Kenapa yang ini malah menggok..?
@Kedunghalang wrote: Kata ma'a juga dipergunakan pada beberapa ayat dalam Alquran yang bermakna fi yang artinya “pada" atau "di dalam" atau "termasuk di antara”:


wa tawaffanaa ma'al abraar = dan wafatkanlah kami "pada" atau "termasuk di antara" orang-orang yang baik.  (Ali Imran 3:193/194)

fa ulaaika ma'al mu'miniin = dan mereka itu "termasuk di antara" atau "di dalam" golongan orang-orang yang beriman (An-Nisa 4:146/147).
Jadi terjemahan di atas berdasarkan Kamus apa ya.....??? pusing 
@Kedunghalang wrote: Jika kata ma'a dalam kedua ayat di atas diartikan "beserta" atau "bersama", maka akan terasa ANEH.
Yang ANEH yang maksain kali ya... lol
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA

Post by Kedunghalang on Fri Jun 27, 2014 9:50 pm

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote: BERIKUT ADALAH TAFSIR QUR'AN BIL QUR'AN DAN KAMUS / LEXICAL (SHOROF).

Kata depan ma’a menunjukkan adanya dua orang atau lebih bersama pada suatu tempat atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Menurut Shaikh Abu'l Qasim Husain ibn Muhammad ar-Raghib dalam bukunya Al-Mufradat fi Ghara'ib-ul-Qur'an, kata ma'a mengandung arti "bantuan" seperti tercantum dalam kalimat innallaaha ma'a naa (At-Taubah 9:39/40).
Yang ini sudah bener....

Kenapa yang ini malah menggok..?
@Kedunghalang wrote: Kata ma'a juga dipergunakan pada beberapa ayat dalam Alquran yang bermakna fi yang artinya “pada" atau "di dalam" atau "termasuk di antara”:


wa tawaffanaa ma'al abraar = dan wafatkanlah kami "pada" atau "termasuk di antara" orang-orang yang baik.  (Ali Imran 3:193/194)

fa ulaaika ma'al mu'miniin = dan mereka itu "termasuk di antara" atau "di dalam" golongan orang-orang yang beriman (An-Nisa 4:146/147).
Jadi terjemahan di atas berdasarkan Kamus apa ya.....??? pusing 
@Kedunghalang wrote: Jika kata ma'a dalam kedua ayat di atas diartikan "beserta" atau "bersama", maka akan terasa ANEH.
Yang ANEH yang maksain kali ya... lol

Anehnya jika orang-orang yang taat kepada Allah dan Nabi Muhammad saw tidak bisa menjadi nabi, maka tidak juga bisa menjadi shiddiq, tidak juga bisa menjadi syahid dan tidak juga bisa menjadi orang shaleh. ANEH BUKAN? Padahal umat Islam senantiasa berdoa: "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk di antara orang-orang yang shaleh."

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: MELURUSKAN TAFSIR QS 4:69 VERSI GHULAM AHMAD DARI INDIA

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 2 dari 2 Previous  1, 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik