FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

mengimani sifat-sifat Allah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

mengimani sifat-sifat Allah

Post by keroncong on Thu Dec 15, 2011 7:36 am

Diantara sifat-sifat fi’liyah
yang Allah kenalkan diri-Nya dengannya adalah:

1. Sifat Nuzul yaitu turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam dan

2. Sifat Ityan dan Maji’ yaitu datangnya Allah pada hari kiamat



Sifat Ityan dan Maji’

Ahlus sunnah wal jama’ah sejak para shahabat dan para tabi’in serta para ulama
ahlul hadits sampai hari ini meyakini tentang datangnya Allah pada hari kiamat
tanpa menyerupakan dengan datangnya mahluk-Nya. Mereka juga tidak
mempertanyakan seperti apa datangnya. Mereka menetapan sifat Ityan dan Maji’
seperti apa yang ditetapkan oleh Allah dalam al-Qur'an.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ
وَالْمَلاَئِكَةُ وَقُضِيَ اْلأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ اْلأُمُورُ.
]البقرة: 210[

Tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat
yang dinaungi awan (pada hari kiamat), dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya
kepada Allah dikembalikan segala urusan. (al-Baqarah: 210)

Berkata Ibnu Katsir: “yakni pada hari kiamat kelak datang Allah untuk
menyelesaikan seluruh urusan diantara manusia dari yang pertama sampai yang
terakhir. Membalas setiap orang yang beramal sesuai dengan amalannya. Kalau
kebaikan dibalas dengan kebaikan, dan kejelekan akan dibalas dengan kejelekan
pula. Oleh karena itu pada akhir ayat Allah mengatakan: wa qudiyal amr wa
ilallahi turja’ul umur”. (Tafsir al-Qur’anul al-‘Adhim, Ibnu Katsir, juz I,
hal. 266)



Adapun tentang masalah “naungan awan”, maka yang dimaksud adalah para
malaikat-Nya. Disebutkan bahwa ketika Allah datang, antara Allah dengan para
malaikat-Nya terpisah dengan tujuh puluh ribu lapis naungan. (Lihat sumber yang
sama)

Berkata Abul ‘Aliyah: “Malaikat datang dengan dinaungi oleh awan, dan Allah
datang sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya”. (Tafsir al-Qur’anul al-‘Adhim,
Ibnu Katsir, juz I, hal. 266)



Sedangkan tentang Maji’, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا. ]الفجر: 22[

dan datanglah Rabbmu; dan malaikat berbaris-baris. (al-Fajr: 22)

Berkata Imam as-Shabuni: “Kami (ahlus sunnah) beriman dengannya Seluruhnya,
sesuai dengan apa yang disebutkan di dalamnya, tanpa bertanya seperti apa, atau
bagaimana. Sebab kalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjelaskannya
kepada kita bagaimana turun-Nya. Maka kita berhenti pada apa yang telah
disebutkannya secara muhkamat…” (Aqidatus Salaf ashhabul Hadits, Imam
AshShabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’, hal. 192)



Sifat Nuzul

Setelah kita meyakini sifat Ityan dan Maji’nya Allah dan meyakini bahwa Allah
Allah datang kapan dikehendaki-Nya dan sebagaimana dikehendaki-Nya, maka kita
juga meyakini akan datangnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam
terakhir dalam hadits-hadits Nuzul.

Dalam riwayat yang shahih, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghabarkan bahwa
Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Oleh karena itu
ahlus sunnah pun mengimani turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir seperti
dalam hadits-hadits berikut:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا
تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى
ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ
يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ. (متفق عليه)

Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Allah tabaraka wa ta’ala
akan turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam
terakhir. Maka Ia berkata: “Barangsiapa siapa yang berdo’a
kepada-Ku akan Aku kabulkan doanya; barangsiapa yang meminta kepada-Ku, akan
Aku beri permintaanya; dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, akan Aku
ampuni dia”. (HR. Bukhari Muslim)



Dalam riwayat lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى، هَلْ مِنْ
دَاعٍ فَيُسْتَجَابَ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَيُغْفَرَ لَهُ حَتَّى
يَنْفَجِرَ الصُّبْحَ. (رواه مسلم)

Jika telah lewat setengah malam atau sepertiganya, Allah تبارك وتعالى turun ke
langit dunia dan berkata: “Bagi mereka yang meminta akan Aku beri, bagi mereka
yang berdo’a akan Aku kabulkan, dan bagi mereka yang meminta ampun akan Aku
ampuni dia” hingga masuk waktu subuh. (HR. Muslim)



Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَنْزِلُ اللهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِيْنَ يَمْضِي
ثُلُُثُ اللَّيْلِ اْلأَوَّلِ فَيَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ، مَنْ
ذَا الَّذِي يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلْنِي
فَأُعْطِيَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ فَلاَ يَزَالُ
كَذَلِكَ حَتَّى يَضِيْءَ الْفَجْرَ. (رواه مسلم)

Allah akan turun ke langit dunia setiap malam hingga lewat sepertiga malam yang
pertama seraya berkata: “Aku adalah raja, Aku adalah raja. Barangsiapa yang
berdoa kepada-Ku, akan aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, akan
aku beri. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni dia”.
Maka terus-menerus dalam keadaan demikian hingga terbitnya fajar. (HR. Muslim)



Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah ضي الله عنهما,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اللهَ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلأَوَّلِ نَزَلَ
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ، هَلْ مِنْ
تَائِبٍ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ، هَلْ مِنْ دَاعٍ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرَ. (رواه
مسلم)

Sesungguhnya Allah menunda hingga hilang sepertiga malam yang pertama. Allah
turun turun ke langit dunia seraya berkata: “Adakah orang yang meminta ampun? Adakah
orang yang bertaubat? Adakah orang yang meminta? Adakah orang yang berdo’a?”
hingga terbit fajar. (HR. Muslim)



Demikianlah kami nukilkan beberapa hadits tentang sifat Nuzul (turun) bagi
Allah ke langit dunia). Hadits-hadits tersebut telah disepakati keshahihannya,
bahkan diantaranya diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Hadits-hadits ini diriwayatkan oleh banyak shahabat. Beberapa shahabat yang
meriwayatkan hadits-hadits tentang Nuzul adalah Abu Hurairah, Abu Sa’id
al-Khudri, Nafi’ bin Jabir bin muth’im dari ayahnya, Musa bin Uqbah, Ishak bin
Yahya, Ubadah bin Shamit, Abdur Rahman bin Ka’ab bin Malik, Jabir bin Abdullah,
Ubaidillah bin Abu Rafi’, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibnu Mas’ud, Muhammad
bin Ka’ab, Fadlalah ibnu Ubaid, Abu Darda’, Abu Zubair, Sa’id bin Zubair, Ibnu
Abbas, Ummul mukminin Aisyah dan Ummu Salamah رضي الله عنهم. (Secara lengkapnya
lihat Aqidatus Salaf ashhabul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur
Rahman bin Muhammad al-Juda’, hal. 203-210)



Ucapan Para Ulama Tentang Sifat Nuzul, Ityan dan Maji’

Diriwayatkan oleh imam Ash-Shabuni dengan sanadnya sampai kepada Ishaq ibnu
Rahuyah. Dia berkata: “Bertanya kepadaku gubernur Abdullah bin Thahir: ‘Wahai
Aba Ya’qub (yakni Ibnu Rahuyah pent.) hadits yang kau riwayatkan dari
Rasulullah صلى الله عليه وسلم : “turun Rabb kita setiap malam ke langit
dunia..” bagaimana turun-Nya?’ Saya (yakni Ibnu Rahuyah pent.) jawab: “Semoga
Allah memuliakan gubernur. Tidak bisa dikatakan tentang Allah dengan kaifa
(bagaimana)”. Allah turun tanpa diterangkan kaifiyahnya’. (Aqidatus Salaf
ashhabul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad
al-Juda’. hal. 194)

Dalam riwayat lain, Ibnu Rahuyah pada suatu hari hadir di majlis Gubernur
Abdullah bin thahir. Beliau ditanya tentang hadits Nuzul , apakah hadits itu
shahih? Beliau menjawab: “Ya”. Maka berkatalah sebagian para ajudannya: “Wahai
Aba Ya’qub, apakah engkau menganggap bahwa Allah turun setiap malam? Beliau
menjawab: “Ya”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana turunnya?” Berkata Ishaq ibnu
Rahuyah: “Yakinilah dahulu bahwa Allah tinggi di atas, maka aku akan terangkan
turunnya”. Maka mereka pun menjawab: “Kami menetapkan dan meyakini bahwa Allah
di atas “. Maka berakta Ibnu Rahuyah: “Bukankah Allah berfirman:

وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا. ]الفجر: 22[

dan datanglah Rabb-mu; dan malaikat berbaris-baris. (al-Fajr: 22)

Amir bin Abdullah berkata: “Wahai Aba Ya’qub, bukankah datangnya Allah tersebut
nanti pada hari kiamat? “Maka Ishaq Ibnu Rahuyah mengatakan: “Semoga Allah
memuliakan Amir. Siapa yang berkuasa untuk datang pada hari kiamat, maka
siapakah yang dapat menghalangi-Nya untuk datang ke langit dunia setiap malam?”
(Aqidatus Salaf ashhabul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur
Rahman bin Muhammad al-Juda’. hal. 197-198)



Juga diriwayatkan oleh imam Ash-Shabuni bahwa Abdulah bin Salam pernah bertanya
kepada Abdullah bin Mubarak: Apakah benar Allah turun pada malam nisfhu
Sya’ban?. Abdullah bin Mubarak menjawab: “Wahai orang yang dlaif (lemah), Allah
turun pada setiap malam!” Seseorang yang hadir ketika itu bertanya: “Wahai Abu
Abdurrahman (Ibnul Mubarak), bagaimana turunnya, bukankan nanti t’Arsy-Nya
kosong?” Abdullah bin Mubarak menjawab: “Allah turun sebagaimana
dikehendaki-Nya!!” Dalam riwayat lain Abdullah bin Mubarak marah dan berkata:
“Jika datang kepadamu hadits dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم , maka
tunduklah!”. (Aqidatus Salaf ash habul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir
bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’, hal. 196)



Imam Ash-Shabuni berkata: “Ketika telah shahih riwayat tentang turunnya Allah
ke langit dunia dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka ahlus sunnah menerima
berita tersebut dan menetapkan sifat Nuzul sesuai dengan apa yang telah
dikakatakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka tidak menyerupakan
turunnya Allah dengan turunnya mahluk. Mereka juga tidak pernah membahas dan
mencari-cari bagaimana turunnya, karena tidak mungkin ada jalan untuk
mengetahuinya. Mereka mengetahui dengan yakin bahwa sifat-sifat Allah tidak
sama dengan sifat-sifat mahluk-Nya seba-gaimana Dzat Allah tidak sama dengan
dzat mahluk-Nya. Maha suci Allah dan Maha tinggi dari apa yang diucapkan oleh
kaum musyabbihah (yang menyerupakan) dan mu’athilah (para penolak sifat). Maha
Tinggi setinggi-tingginya, dan semoga Allah melaknat mereka dengan
sebesar-besarnya”. (idem, hal. 232)

Hammad Ibnu Abi Hanifah pernah membantah mereka (yakni para mu’athilah):
“Bagaimana pendapat kalian tentang ayat Allah: “وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ
صَفًّا صَفًّا”. Bukankah Rabb kita datang pada hari kiamat sebagaimana
dikatakan-Nya? Bukankah para malaikat juga datang berbaris-baris?” Mereka
menjawab: “Adapun para malaikat mereka datang berbaris-baris. Adapun Rabb kita
تبارك وتعالى kita tidak mengetahui apa maksud ayat tersebut dan kami tidak tahu
bagaimana datangnya”. Hammad ibnu Abi Abi Hanifah berkata: “Kami tidak
membebani kalian untuk menerangkan bagaimana datangnya, tapi kami meminta
kalian untuk beriman dengan datangnya Allah! Bagaimana pendapat kalian kalau
ada orang yang mengingkari para malaikat datang berbaris-baris? Bagaimana
hukumnya menurut kalian?” Mereka menjawab: “Kafir dan mendustakan al-Qur'an.”
Hammad berkata: “Kalau begitu demikian pula orang yang mengingkari bahwa Allah
سبحانه وتعالى datang pada hari kiamat. Maka dia adalah kafir dan mendustakan
al-Qur'an”. (idem, hal. 234-235)



Fudlail ibnu Iyyadl berkata: “Jika ada seorang dari aliran Jahmiyyah berkata:
“Aku tidak percaya kalau Rabb turun ke langit dunia”. Maka kamu katakan: “Aku
beriman kepada Rabb yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya”.”

Dari hadits-hadits shahih dan ucapan para ulama di atas di samping faedah
penetapan sifat Nuzul, kita mendapatkan faedah besar yaitu betapa berharganya
waktu sepertiga malam terakhir ketika Allah turun ke langit dunia dan
menawarkan ampunan, pemberian dan pengkabulan doa. Orang yang yakin dengan
hadits ini, tentu akan memanfaatkan waktu tersebut untuk shalat malam dan
berdoa. Adapun orang yang tidak percaya, ragu, menakwilkan dengan makna lain, maka
semangat mereka untuk bangun di waktu tersebut sangat lemah, karena tidak ada
dorongan aqidah dalam hatinya. Inilah yang menyebabkan kaum munafik terhalang
dari keutamaan waktu tersebut.

Wallahu a’lam
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik