FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

kematian di sekitar kita adalah peringatan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

kematian di sekitar kita adalah peringatan

Post by keroncong on Thu Dec 15, 2011 7:38 am

Makna Kehidupan

Banyak manusia yang tidak memahami arti kehidupan. Mereka hanya berlomba-lomba
untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka
adalah memuaskan hawa nafsunya, “Yang Penting Puas”. Prinsip dan misi mereka
adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh
dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan,
perhitungan dan hisab.

Milik siapakah mereka? Apakah mereka tercipta begitu saja? Ataukah mereka yang
menciptakan diri mereka sendiri?

أَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْئٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ؟]الطور: 35[

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan? (ath-Thuur:
35)



Allah menciptakan kita, memberikan kepada kita kehidupan adalah untuk suatu
tujuan dan tidak sia-sia:

أَيَحْسَبُ اْلإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى.]القيامة: 36[

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia? (al-Qiyamah: 36)

Berkata Imam Syafi’i (ketika menafsirkan ayat ini): “Makna sia-sia adalah tanpa
ada perintah, tanpa ada larangan.” (Tafsirul Quranul Karim, Ibnu Katsir, jilid
4, cet. Maktabah Darus Salam, 1413 H hal. 478)

Jadi manusia hidup tidak sia-sia, mereka memiliki aturan, hukum-hukum, syariat,
perintah dan larangan, tidak bebas begitu saja apa yang dia suka dia lakukan,
apa yang dia tidak suka dia tinggalkan.



Hidup dan Mati Adalah Ujian

Setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian. Allah Y menjadikan kehidupan
dan kematian sebagai ujian. Siapa di antara manusia yang terbaik amalannya?

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلَُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلاً. ]الملك: 1[

(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh berkata: “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas
dan yang paling sesuai dengan sunnah”. (Iqadhul Himam al-muntaqa min Jami’il
Ulum wal Hikam, Syaikh Salim ‘Ied al-Hilali, hal. 35)

Kita hidup di dunia adalah untuk diuji, siapa yang paling ikhlas amalannya
hanya murni untuk Allah semata dan siapa yang paling sesuai dengan sunnah
rasulullah r.

Oleh karena itu kita perlu memperhatikan apa makna kehidupan dan apa makna
kematian?



Saudaraku-saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya Allah menciptakan kita adalah
untuk satu tugas yang mulia yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah turunkan
kitab-kitabnya, Allah mengutus rasul-rasul –Nya adalah untuk misi ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ.]الذاريات: 56[

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
(adz-Dzariyat: 56)

Sehingga hidup kita ini tidaklah sia-sia, melainkan kehidupan sementara yang
sarat akan makna dan kelak akan ditanya tentang apa yang kita perbuat di dunia
ini.



Kehidupan di dunia hanya sementara

Ingatlah, kehidupan ini hanya sebentar. Pada saatnya nanti kita akan memasuki
alam kubur (alam barzakh) sampai datangnya hari kebangkitan. Lalu kita akan
dikumpulkan di padang
mahsyar, setelah itu kita menghadapi hari perhitungan (hisab). Dan kita akan
menerima keputusan dari Allah, apakah kita akan bahagia dalam surga ataukah
akan sengsara dalam neraka.



Kehidupan setelah mati ini merupakan kehidupan panjang yang tidak terhingga.
Kehidupan ini disebutkan dalam al-Qur’an dengan istilah خالدين فيها (kekal di
dalamnya) atau dengan أبدا (selama-lamanya) atau dengan istilah لا ينقطع (tidak
akan terputus).



Sehari dalam kehidupan akhirat adalah lima
puluh ribu tahun kehidupan di dunia. Maka kita bisa lihat betapa pendeknya
kehidupan manusia yang tidak ada sepersekian puluh ribu dari hari kehidupan
akhirat. Berapa umur manusia yang terpanjang dan berapa yang sudah kita jalani?
Itu pun kalau kita anggap umur yang terpanjang, sedangkan ajal kita tidak tahu,
mungkin esok atau lusa.



Oleh karena itu seorang yang berakal sehat akan lebih mementingkan kehidupan
yang panjang ini. Seorang yang cerdas akan menjadikan kehidupan dunia sebagai
kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi.

وَابْتَغِ فِيْمَآ ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ
مِنَ الدُّنْيَا... ]القصص: 77[

Dan carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi….
(al-Qashash: 77)



Namun kebanyakan manusia lalai dari peringatan Allah di atas. Mereka lebih
mementingkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan lupa terhadap kehidupan
akhirat yang kekal.

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَاْلأَخرَاةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى.
]الأعلى: 16-17[

Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat adalah lebih
baik dan lebih kekal. (al-A’laa: 16-17)

Allah hanya meminta kepada kita dalam kehidupan yang pendek ini untuk beribadah
kepada-Nya semata dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Hanya itu.
Kemudian Allah akan berikan kepada kita kebaikan yang besar di kehidupan yang
panjang yaitu kehidupan akhirat



Kematian adalah pasti

Alangkah bodohnya kalau kita lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan
melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang
membuang kesempatan kehidupannya di dunia hingga kematian menjemputnya. Padahal
Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan
datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimajukan dan
dimundurkan. Allah U berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً
وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ. ]الأعراف: 34[

Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya,
mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula
memajukannya. (al-A’raaf: 34)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أَجُوْرَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
وَمَا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ. ]ال عمران: 185[

Tiap-tiap yang mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran:
185)

Untuk itu Allah dan rasul-Nya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai
mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. ]ال عمران: 102[

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan
sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati
dalam keadaan Islam. (Ali Imran: 102)

Dengan demikian berarti kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan
kita, sehingga ketika datang kematian kita dalam keadaan Islam.

Ibnu Katsir berkata: “Beribadah kepada Allah adalah dengan taat menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah agama Islam karena makna Islam
adalah pasrah dan menyerah diri kepada Allah... yang tentunya mengandung
setinggi-tingginya keterikatan, perendahan diri dan ketundukan”. (lihat Fathul
Majid, Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaih hal 14) Yakni kita diperintahkan untuk
pasrah dan menyerah kepada Allah. Diri kita dan seluruh anggota badan kita
adalah milik Allah, maka serahkanlah kepada-Nya.

“Ya Allah kami hamba-Mu, milik-Mu, Engkau yang menciptakan kami dan memberikan
segala kebutuhan kami. Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu, kami pasrah dan
menyerah untuk diatur, dihukumi, diperintah dan dilarang. Kami taat, tunduk,
patuh karena kami adalah milikmu.”



Inilah makna Islam sebagaimana terkandung secara makna dalam sayyidul
istighfar:

أََللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا
عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا سْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ
شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي
فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Ya Allah Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah (yang patut disembah) kecuali
Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku di atas janjiku
kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku
perbuat. Aku mengakui untuk-Mu dengan kenikmatan-Mu atasku. Dan aku mengakui
dosa-dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang
mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, juz 7/150)



Tidaklah seseorang meminta ampun kepada Allah dengan doa ini kecuali akan
diampuni.

Dengan ikrar dan pernyataan kita tersebut, kita sadar bahwa semua anggota badan
kita adalah milik Allah. Untuk itu harus digunakan sesuai dengan kehendak
pemiliknya. Kita harus menggunakan tangan kita sesuai dengan kehendak Allah.
Kita harus menggunakan kaki kita untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah.
Mata, lisan dan telinga kita harus dipakai pada apa yang dibolehkan oleh Allah
karena pada hakekatnya semua itu milik Allah.



Siapakah yang lebih jahat dari orang yang menggunakan sesuatu milik Allah untuk
menentang Allah?

Sungguh semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan akan
ditanyakan langsung pada anggota badan tersebut. Mereka (anggota badan
tersebut) akan menjawab dengan jujur di hadapan Allah untuk apa mereka
digunakan.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ
وَاْلأَفْئِدَةَ كَلٌّ أُولَئِكَ كَانَ مَسْئُوْلاً. ]الإسراء: 36[

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan
dimintai pertanggungjawabannya. (al-Isra’: 36)



Kematian sebagai peringatan

Ayat-ayat dalam alQur'an yang menceritakan tentang kematian terlalu banyak. Dan
tidak ada seorang pun yang mengingkari akan terjadinya kematian ini. Namun
mengapa kebanyakan mereka tidak menjadikan kematian sebagai peringatan agar
bersiap-siap menuju kehidupan abadi dengan kebahagiaan di dalam surga.
Sesungguhnya manusia yang paling bodoh adalah manusia yang tidak dapat
menjadikan kematian sebagai peringatan. Dikatakan dalam sebuah nasehat:

مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ

Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.

Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.

Saat ini wahai kaum muslimi, kita masih mempunyai peluang dan kesempatan, maka
sekarang juga kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada
rabb kita. Waktu ini bagaikan pedang, jika kita tidak mengisinya maka ia akan
menikam kita. Sebagaimana dikatakan oleh para salaf:

اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تُقَطِّعْهُ قَطَّعْكَ.

Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak memutusnya (mengisinya) maka dia
yang akan memutusmu (menghilangkan kesempatanmu).

Jika ia tidak cepat dimanfaatkan dia akan membunuh kesempatan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌُ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ
وَالْفَرَاغُ. (رواه البخاري)

Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan
nikmat kesempatan. (HR. Bukhari)

Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia.
Namun sayang, kebanyakan manusia lalai daripadanya dan tidak menggunakan
kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, hingga kesempatan itu hilang
dengan datangnya kematian.



Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan
nikmat kesempatan. (HR. Bukhari)



Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia.
Namun sayang, kebanyakan manusia lalai daripadanya dan tidak menggunakan
kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, hingga kesempatan itu hilang
dengan datangnya kematian.



avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik