FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Tafsir Alquran Modern

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Fri Oct 17, 2014 8:31 pm

MUSLIMIN DAN ISLAM


Bahwa agama pada sisi Allah ialah Islam. Maka siapa yang mencari agama selain Islam, tidaklah akan diterima daripadaNYA dan dia di Akhirat termasuk orang yang merugi. Insyaflah pada Allah dengan keinsyafan yang logis, dan janganlah mati kecuali jadi orang-orang Islam (Muslimin). Tidaklah DIA jadikan suatu halangan atasmu dalam agama itu selaku doktrin bapakmu, Ibrahim. Dialah yang menamakan kamu Muslimin dulunya dan dalam Alquran ini agar Rasul itu jadi pembukti atasmu dan agar kamu jadi pembukti-pembukti atas manusia ramai.


    Semua yang kita sampaikan ini adalah maksud firman suci yang tercantum dalam Alquran pada ayat 3/19, 3/85, 3/102 dan 22/78.
Dari keterangan ayat-ayat suci demikian didapatlah kesimpulan bahwa Islam adalah nama agama yang satu-satunya diredhai Allah. Dia tidak akan menerima amal orang yang di luar hukum agama itu. Maka orang-orang yang menganut agama Islam dinamakan dengan "Muslimun" atau boleh juga dirobah dengan "orang-orang Islam". Dan istilah "Muslimun" ini juga adalah suatu nama yang tidak boleh dirobah dengan istilah-istilah lain. Sebagaimana nama-nama terhormat lainnya yang juga tidak boleh dirobah begitu pula keadaan "Islam" dan "Muslimin''.  Seterusnya demikian pula "Kristen, Yahudi, Hindu, Budha" dan lain-lainnya.

     Islam sebagai suatu agama diberi nama oleh Allah sendiri, tercantum pada ayat 3/19, dan orang-orang Islam sebagai penganut agama itu dinamakan dengan "Muslimun" oleh Ibrahim, dinyatakan pada ayat 22/78.

     Walaupun bagaimana kedua istilah itu tentunya mempunyai asal kata yaitu  "aslama" sebagai  fiil  atau  verb yang artinya "menyerahkan diri", terangnya, menyerahkan diri kepada hukum Allah. Namun orang-orang Islam itu telah memiliki nama khas yaitu Muslimun dan nama ini tidak boleh ditukar dengan  "orang-orang yang menyerah diri" dikembalikan kepada verb asalnya.

     Jika Muslimun yang tertulis dalam Alquran diartikan dengan kata-kata lain,  maka perbuatan itu, nyata tidak baik dan mungkin meragukan persoalan. Orang tidak boleh menyebut Muslimun dengan "orang-orang yang menyerah diri", sebagaimana Christian tidak disebut atau diartikan "orang-orang bersalib". Demikian pula Inspektur Polisi dan Khatib agama tidak boleh disebut dengan "Polisi yang memeriksa" dan orang yang menerangkan agama".

1. Istilah  "muslim" sebenarnya adalah Proper Noun suatu nama dari golongan masyarakat manusia beragama Islam yang mengabdi langsung kepada hukum Allah. Sebagai Proper Noun bersamaan dengan Yahudi dan Nasrani, maka "muslim" haruslah ditulis dengan huruf besar pada awalnya, baik sewaktu berada di tengah kalimat maupun pada permulaan susunan kata, dan apalagi dalam kitab terjemahan Alquran yang jadi sanjungan utama dalam masyarakat Islam.

2. Jika orang melihat kepada ayat 15/2 sebagaimana yang dikutipkan di bawah ini maka terjemahannya secara wajar adalah :

رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ لَوۡ كَانُواْ مُسۡلِمِينَ
15/2. "Terkadang-kadang orang-orang kafir itu mengharapkan
kiranya mereka menjadi orang-orang Islam".


Memang Islam suatu agama yang mengandung ketentuan hukum hidup praktis logis sesuai dengan naluri manusia, karenanya banyak di antara orang kafir mengharapkan kesempatan untuk menganut agama itu. Tetapi disebabkan oleh kebiasaan hidup tradisionil dan dorongan setan untuk berbuat  sekehendak  nafsu,  mereka  masih juga berada dalam  kekafiran mungkin sampai pada waktu maut datang menyudahi hidupnya.


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِى ٱلسِّلۡمِ ڪَآفَّةً۬ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٲتِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ*ۚ إِنَّهُ ۥ لَڪُمۡ عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬
2/208.  Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam hukum Islam secara keseluruhan dan
janganlah mengikuti kesalahan-kesalahan setan, bahwa dia adalah musuh nyata bagimu.


Pada terjemahan ayat 2/208 ini, kita digugah oleh dua persoalan yang harus dicarikan jawabnya:

3  a. Tatabahasa yang dipakai.  Menurut tatabahasa Arab, Inggeris dan Indonesia, pokok atau subyek dalam kalimat menyuruh dan melarang harus ditiadakan.
     Pokok tersebut adalah "engkau" dan "kamu". Maka terjemahan tadi haruslah berbunyi "masukilah Islam semuanya", atau boleh juga berupa "masukiah ke dalam Islam semuanya".

   b. Susunan kata yang kurang baik. Jika melihat kalimat seperti "Masukiah Islam kamu semuanya", kita tentunya berpendapat bahwa kalimat itu tidak tersusun dengan baik. Kata-kata dalam kalimat tersebut ada yang harus dibuang, ada yang harus dirobah atau yang ditambahkan.




وَأَنَّا لَمَّا سَمِعۡنَا ٱلۡهُدَىٰٓ ءَامَنَّا بِهِۦ*ۖ فَمَن يُؤۡمِنۢ بِرَبِّهِۦ فَلَا يَخَافُ بَخۡسً۬ا وَلَا رَهَقً۬ا
72/13  "Bahwa kami ketika mendengar pertunjuk, kami beriman padaNYA maka siapa-siapa yang
beriman pada Tuhannya, tidaklah dia akan kekurangan dan tidak pula sesuatu yang menimpa".


Sedangkan yang dimaksud Alquran ialah bahwa orang yang mendengar pertunjuk langsung beriman pada-NYA.

Ayat suci ini menerangkan betapa kejadian pada bangsa jin dulunya sewaktu Alquran disampaikan oleh Muhammad. Ada segolongan jin yang beriman dan segolongan lainnya engkar dengan berbagai alasan. Ditinjau dari terjemahan lain ternyata Muhammad yang menyampaikan Alquran itu (sajalah) yang beriman,  sedangkan para jin hanya mempercayai yang Muhammad itu telah beriman. Terjemahan ini terang telah berobah dari maksud sebenarnya, namun kita tidak dapat memperkirakan apakah dilakukan dalam kealpaan ataukah dengan maksud tertentu.


وَأَنَّا مِنَّا ٱلۡمُسۡلِمُونَ وَمِنَّا ٱلۡقَـٰسِطُونَ*ۖ فَمَنۡ أَسۡلَمَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ تَحَرَّوۡاْ رَشَدً۬ا
72/14  "Bahwa dari kami ada yang Islam dan dari kami juga ada yang mengada-ada,
maka siapa-siapa yang Islam, itulah orang-orang yang merdeka dengan kesadaran.





 Istilah "Muslimun" lainnya, dapat dilihat dalam ayat-ayat :

2/133, 2/136, 3/52, 3/64, 3/67, 2/84, 5/111, 6/163, 10/72, 10/84, 10/90, 11/14, 12/101, 12/108, 27/31, 27/38, 27/42, 27/81, 27/91, 28/53, 29/46, 30/53, 41/33, 43/69, 46/15 dan 66/5.

     Pada kebanyakan ayat suci di atas tercantum perintah ataupun pengakuan yang sifatnya umum pada manusia ramai untuk mematuhi hukum Allah sebagai Muslimun atau orang-orang Islam. Sementara itu ayat 10/72 menyangkut dengan Nabi Nuah sebagai Muslimun, ayat 2/133, 3/67, dan 6/163 menyangkut dengan Nabi Ibrahim, dan ayat 12/101 sehubungan dengan Nabi Yusuf yang menyatakan dirinya orang Islam. Seterusnya mengenai Nabi Musa dan Nabi Isa dinyatakan pada ayat 10/84, 10/90 dan ayat 3/52, 3/84, 5/111.

Menurut ketentuan Alquran dan dari sejarah yang dapat dipelajari ternyata semua Nabi Allah dan para Rasul-NYA memang beragama Islam dan menyuruh pengikut-pengikutnya menganut agama itu, karena mereka seluruhnya sama-sama mendapat perintah dari Tuhan yang Satu untuk menjalankan bukum hidup yang bersamaan. Hanya kelompok-kelompok manusia kemudiannya juga yang merobah agama itu menjadi berbagai nama. Hal ini dinyatakan pada ayat :


شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا
وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ
وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ*ۖ
أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ*ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِ
كِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ*ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

42/13.  DIA mensyari'atkan bagimu dari agama itu apa-apa yang DIA wasiatKan pada Nuah,
begitupun yang Kami wahyukan kepadamu serta apa-apa yang Kami wahyukan pada Ibrahim
dan Musa dan Isa, agar kamu mendirikan agama itu. Dan janganlah berpecah-pecah padanya.
Sangat besar artinya atas orang-orang musyrik apa-apa yang kamu seru mereka kepadanya.
Allah memilih orang yang DIA kehendaki kepada Agama itu dan memberi pertunjuk
kepadaNYA siapa-siapa yang kembali.


فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّہَوَٲتِ*ۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا
19/59.  Lalu menggantikan, sesudah mereka, angkatan (generasi) yang meninggalkan Shalat
serta mengikuti syahawat maka pastilah mereka akan sampai pada kekeliruan.


Akhirnya selaku penganut agama Islam, orang hendaklah tidak merasa malu dan ragu untuk mengatakan semua Nabi Allah dulunya menganut agama Islam, dan mereka dinamakan Muslimun. Jika istilah "yang menyerahkan diri" dipakaikan pada mereka, maka timbul dua kemungkinan :

- Keraguan  para  pembaca  tentang menyerah  kepada  siapa,  sedangkan "Muslimun" adalah khas diberikan sebagai nama orang-orang Islam.

- Anggapan para pembaca bahwa agama para Nabi dulunya berlainan dari agama Islam yang disampaikan Muhammad.
avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Fri Oct 17, 2014 8:53 pm

SALAH PENGERTIAN


ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ*ۛ فِيهِ*ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ
2/2 .   Itulah Kitab yang tiada keraguan, padanya, pertunjuk bagi orang-orang yang taqwa.


NABI ADAM

a. "Sujud kepada Adam" mestinya "sujud bagi Adam" dengan pengertian bahwa bersujud pada Allah buat menghormati Adam. Siapapun juga dilarang bersujud kecuali pada Allah semata. Sebagai manusia biasa, orang diperintah sujud pada Allah dengan mematuhi hukum yang diturunkanNYA dalam Alquran dan menjuruskan kiblat Shalat ke arah Ka'bah di Makkah.

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ
ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ

2/34. Dan ketika Kami katakan pada malekat, "sujudlah bagi Adam",
lalu mereka bersujud kecuali Iblis, dia menolak dan menyombong
dan adalah dia termasuk orang-orang kafir.


وَقُلۡنَا يَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا
مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

2/35. Dan Kami katakan, "wahai Adam, tinggallah bersama isterimu dalam kebun itu dan makanlah daripadanya sepuas apa saja yang kamu kehendaki dan janganlah mendekati pertumbuhan ini, maka tentunya kamu termasuk orang-orang zalim.


b. Istilah "syajarah" dalam ayat 2/35, begitupun dalam ayat 7/19, 7/22, 14/24, 17/60, 20/120, 23/20, 24/35, 28/30, 31/27, 37/62, 37/64, 37/146, 48/18 dan 56/72 semuanya harus diterjemahkan dengan "pertumbuhan" berasal dari "syajara" yang artinya "bertumbuh" sebagai yang tercantum pada ayat 4/65.


Maka yang dilarangkan kepada Adam ialah mendekati pertumbuhan kelahiran keturunan melalui hubungan sexuil dengan isterinya. Hal ini disebabkan Adam ditentukan untuk berketurunan di Bumi sedangkan waktu itu dia masih berada di Muntaha.

Yang berartikan "pohon" adalah istilah "syajaru" sebagai yang tercantum pada ayat 16/10, 16/68, 27/60, 36/80, 55/6. Semua hukum dan ketentuan Allah itu praktis logis dan tiada satupun yang hanya berupa lambang-lambangan.



Menurut terjemahan lain, ada ayat Alquran yang dibatalkan Allah atau yang manusia dijadikan lupa padanya, lalu Allah mengganti dengan yang lain. Padahal semua ayat Alquran senantiasa permanent semenjak diturunkan sampai nanti ke akhir zaman. Tuhan tak pernah alpa dan tak pernah salah menurunkan firmanNYA. Semua itu adalah sunnah Allah semenjak dulunya, dan tiadalah perobahan dalam susunan tersebut, dinyatakan pada ayat 48/23.

مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا
نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ*ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ

2/106. Tidaklah Kami hapuskan, suatu pertanda atau melupakannya,
malah Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang seumpamanya.
Apa tidakkah engkau ketahui bahwa Allah menentukan atas tiap sesuatu ?


سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلُ*ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلاً۬
48/23. Selaku ketentuan ALLAH yang sungguh telah berlalu dulu,
dan tidaklah akan kamu dapati perubahan bagi ketentuan ALLAH.


Maka yang dimaksud "ayat" di atas tadi ialah pertanda kebesaran Allah yang terdapat di Bumi, di semesta raya, ataupun pada manusia dan yang bertumbuh dalam peradaban manusia. Yang dihapuskan atau yang dilupakan adalah hal-hal kolot seperti dulunya "pendapat manusia yang menyatakan Bumi datar", "pemakaian lampu damar dan minyak" lalu dirobah dengan pengetahuan bahwa Bumi ini bulat, pemakaian lampu listrik dan sebagainya dalam peningkatan peradaban manusia yang ditentukan Allah.

Ayat dengan arti pertanda banyak sekali seperti keadaan malam dan siang menurut ayat 17/12, keberangakatan Isa dan Maryam dari Bumi tersebut pada ayat 23/50, dan sebagainya. Nomor-nomor yang diberikan pada firman Allah dalam susunan isi Alquran juga dinamakan "ayat" di mana terkandung tanda kebesaran Allah.

Ucapan yang mengatakan bahwa ada ayat Alquran yang dibatalkan atau dijadikan manusia lupa padanya lalu diganti Allah dengan ayat lain, adalah suatu kekeliruan dan berupa pernyataan tentang kurang ilmu-NYA Allah dan kurang sempurna-NYA Allah yang Mahabesar.


Dalam terjemahan lain terdapat istilah yang salah pasang:

a. Istilah "huda" adalah Noun berarti "pertunjuk". Sementara istilah "hada" ialah Verb berarti "tunjuki" .
Petunjuk adalah nasehat bercampur perintah yang diberikan melalui lisan atau tulisan, sedangkan pengertian istilah "bimbingan" harus ditambah lagi dengan usaha dalam merawat, mengatur dan mencontohkan.

b. Istilah aslinya ialah "syahida". Kalau istilah ini diartikan dengan "menjalani" maka dua kalimat syahadah tentunya berarti "Aku menjalani bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku menjalani bahwa Muhammad Rasul Allah". Arti yang begini memang sangat asing dan tidak dapat dimengerti.
"Maka siapa yang membuktikan (dengan ilmunya) di antara kamu tentang bulan itu, maka hendaklah dia mempuasakannya".

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ
أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ
وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ
مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ وَمَن ڪَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ
سَفَرٍ۬ فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ
ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ

2/185. Bulan Ramadhan ialah yang diturunkan Alquran, padanya, pertunjuk bagi manusia
dan keterangan-keterangan tentang pertunjuk serta garis pemisah. Maka siapa yang membuktikan
(dengan ilmunya) di antara kamu tentang (awal penanggalan) bulan itu, maka hendaklah dia mempuasakannya.
Dan siapa yang sakit atau berbeban berat hitungannya (gantinya) ialah dari hari berikutnya.
Allah menginginkan kemudahan padamu dan tidaklah dia menginginkan kesulitan,
dan agar kamu menyempurnakan hitungan itu dan agar kamu membesarkan
Allah atas apa yang DIA tunjukkan padamu, dan semoga kamu bersyukur.



Perlu ditambahkan di sini bahwa usaha membuktikan awal Ramadhan harus dilakukan dengan salahsatu antara dua cara :

Pertama dengan mengetahui jumlah waktu yang dijalani Bulan ketika mengorbit keliling Bumi sejauh 345 derajat, waktu mana dijadikan satu tahun Qamariah atau yang disebut juga dengan Lunar Year. Untuk memudahkan perhitungannya hendaklah dimulai dari saat berlakunya gerhana Surya (matahari).

Kedua ialah dengan memperhatikan nisfu Sya'ban sebagai bulan yang terdiri dari 30 hari mendahului Ramadhan. Nisfu Sya'ban atau tanggal 15 bulan dibuktikan dengan kejadian bahwa Bulan terbit di timur sesudah Surya sempurna terbenam di utuk barat dipandang dari tempat tertentu. Tetapi jika Bulan terbit ketika Surya belum selesai terbenam atau masih kelihatan bahagian bulatannya di utuk barat maka penanggalan malam itu adalah 14 Sya'ban.


Cara kedua inilah dulunya yang diberikan sebagai contoh oleh Nabi karena masyarakat waktu itu masih belum dapat memahami cara pertama. Ketika telah diketahui malam Nisfu Sya'ban maka tanggal 1 Ramadhan jatuh pada malam ke 16 berikutnya.

Alhasil, nyatalah ayat 2/185 tadi mengandung pertunjuk logis untuk mengetahui awal Ramadhan, bukanlah ayat suci itu menyuruh orang melihat hilal Ramadhan dengan memandang ke ufuk barat sewaktu Surya akan atau sedang terbenam. Hal begini sangat sia-sia karena hilal bulan yang begitu tipis lemah tak mungkin dilihat terutama posisinya waktu itu sangat dekat pada Surya yang menyilaukan mata apalagi ufuk barat ketika Surya hampir terbenam biasanya berkabut ditimbulkan penguapan dari permukaan Bumi.
Namun ada lagi yang mungkin jadi halangan untuk melihat hilal bulan yaitu ijtimak atau waktu pergandingan Surya dan Bulan berlaku misalnya pada jam 19.00 setempat tentunya hilal tersebut pasti tak kelihatan sedangkan beberapa saat kemudiannya harus dicatat sebagai tanggal satu bulan baru.


c. "safaru" arti sebenarnya ialah "beban" seperti keadaan haid, hamil tua, melahirkan, kemelaratan hidup, konfrontasi di medan perang dan Sebagainya, maka orang-orang yang dalam keadaan berat begini boleh mengganti puasa yang ditinggalkannya pada hari sesudah Ramadhan.
Istilah "safaru" juga tertulis pada ayat 2/184, 4/43, 5/6, 9/42, dan 18/62.
Istilah "safarah" berarti "membawa beban" tercantum pada ayat 80/15, dan "asfara" artinya "berbeban" terdapat pada ayat 74/34, begitupun istilah "asfaaru" berarti "beban-beban" tertulis pada ayat 34/19 dan 62/5.

Kalau misalnya "safaru" diartikan dengan "perjalanan" sedangkan hukum Alquran itu berlaku untuk seluruh zaman, maka kini dan nanti, orang-orang perjalanan tidak lagi berjalan kaki atau memakai unta tetapi cukuplah duduk diam dan senang dalam pesawat yang membawanya ke tempat jauh. Jika orang-orang ini yang diutamakan dalam ayat 2/185 maka ayat suci mana lagi yang memberikan keringanan kepada orang-orang yang dalam keadaan berat. Padahal untuk orang perjalanan yang dimaksud, dalam Alquran disebut "junubu". Perhatikanlah maksud istilah itu dalam ayat 4/36, 4/43, 5/6, dan 28/11.


d. "padanya pertunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan tentang pertunjuk".
Yang dimaksud dengan pertunjuk dalam ayat suci ini ialah ayat-ayat yang mengandung hukum-hukum terang, dan keterangan-keterangan tentang pertunjuk adalah ayat-ayat Mutasyabihat atau ayat-ayat yang mengandung parables untuk hukum-hukum ilmiah yang harus dicapai dengan pengetahuan tinggi. Hal ini sehubungan dengan kandungan ayat 3/7 dan yang ditentukan dalam ayat 41/3.

Kedua ayat suci menyatakan bahwa lelaki yang menyingkir dari isterinya disebabkan oleh perbedaan pendapat suami isteri, hanya diizinkan berbuat demikian paling lama empat bulan. Jika waktu itu telah cukup maka dia maka dia harus memilih satu antara dua : kembali kepada isterinya atau memberinya thalak, hingga dengan demikian tidak berlaku penganiayaan terhadap si istri.

Artinya bukan : “bahwa orang yang bersumpah tidak akan mencampuri isterinya diwajibkan menunggu empat bulan untuk kembali atau memberi talak.” Hal ini berupa kesempitan bagi si suami dan menjadi kesusahan bagi si istri, padahal Allah memberikan hukum untuk kesempurnaan hidup manusia.

لِّلَّذِينَ يُؤۡلُونَ مِن
نِّسَآٮِٕهِمۡ تَرَبُّصُ أَرۡبَعَةِ أَشۡہُرٍ۬‌ۖ فَإِن فَآءُو فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

2/226. Bagi orang-orang yang menyingkir dari istrinya, waktu menunggu
hanya empat bulan, jika mereka kembali maka Allah pengampun penyayang.


وَإِنۡ عَزَمُواْ ٱلطَّلَـٰقَ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬
2/227. Dan jika mereka meresmikan thalak maka
Allah mendengar mengetahui.


Ayat ini menjelaskan keadaan isteri Imran yang melahirkan Maryam. Perempuan itu berdo'a pada Allah agar anaknya dilindungi. Tuhan menerima do'a tersebut dengan baik. Bukan “Tuhan menerima anak itu dengan baik”.


فَتَقَبَّلَهَا
رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ۬ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنً۬ا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا‌ۖ . . .

3/37. Maka Tuhannya memperkenankan do’a itu dengan perkenaan yang bagus dan menumbuhkannya
(Maryam itu) dengan pertumbuhan yang bagus, sedangkan Zakaria memeliharanya. . .


Ayat suci ini menjelaskan bahwa siapa yang tidak memelihara hubungannya dengan Allah dan manusia sekitarnya, akan ditimpakan kehinaan yang ditentukan Allah, bukan “orang itu dihinakan manusia”.

ضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ
ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ . . .

3/112. Ditimpakan atas mereka kehinaan di manapun mereka berada kecuali
dengan hubungan (tali) dari Allah dan hubungan dari manusia. . . .

avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by Ibnu Sabil on Fri Oct 17, 2014 8:57 pm

nice info nice info
avatar
Ibnu Sabil
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Age : 77
Posts : 1803
Kepercayaan : Islam
Location : JAYA - RAYA
Join date : 28.07.13
Reputation : 36

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Fri Oct 17, 2014 9:25 pm

Ayat suci ini sehubungan dengan kewajiban seorang suami terhadap isterinya bahwa dia harus membelanjai perempuan berketerusan, bukan “pemberian tersebut adalah mas kawin dengan ikhlas” pada terjemahan lain. Di sini berlaku salah pengertian dan penambahan "ikhlas" yang tidak tercantum dalam ayat suci aslinya.

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَـٰتِہِنَّ نِحۡلَةً۬ۚ . . .
4/4. Dan berilah perempuan-perempuan itu belanjanya berketerusan. . . .





Perempuan yang tidak suka hartanya diambil, belum tentu berlaku paksaan atasnya. Sedangkan ayat 4/19 menentukan hukum tentang pengambilan melalui paksaan.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن
تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهً۬اۖ وَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ لِتَذۡهَبُواْ بِبَعۡضِ مَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ. . .

4/19. Wahai orang-orang beriman, tidaklah halal bagimu mewarisi perempuan-perempuan
(isterimu) dengan paksaan dan janganlah halangi mereka agar kamu dapat pergi
dengan setengah yang kamu berikan pada mereka.



Syuhadaa adalah plural syahiidu berarti "pemberi bukti". Maka alangkah janggalnya maksud ayat suci 2/143 yang maksudnya : Seperti itulah Kami jadikan kamu Ummat Tengah agar kamu jadi pemberi-pemberi bukti atas manusia ramai dan Rasul itu jadi pemberi bukti atasmu.

Ya, alangkah janggalnya jika pemberi bukti dalam kalimat di atas ini ditukar dengan "mati syahid".

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ
وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم
مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ رَفِيقً۬ا

4/69. Dan siapa yang mematuhi Allah dan Rasul maka itulah mereka yang bersama orang-orang
yang Allah beri nikmat atas mereka dari Nabi-nabi dan orang-orang yang benar dan pemberi-pemberi bukti
dan orang-orang shaleh, dan sungguh baik mereka itu dalam pergaulan.


وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَـٰكُمۡ أُمَّةً۬
وَسَطً۬ا لِّتَڪُونُواْ شُہَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ
وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدً۬ا‌ۗ وَمَا جَعَلۡنَا
ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيۡہَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ
مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ‌ۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ
هَدَى ٱللَّهُ‌ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَـٰنَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬

2/143. Dan seperti itulah Kami jadikan kamu Ummat Tengah agar kamu jadi
pemberi-pemberi bukti atas manusia ramai dan Rasul itu jadi pemberi bukti atasmu.
Dan tidaklah Kami jadikan Kiblat yang engkau ada atasnya kecuali untuk Kami ketahui orang
mengikuti Rasul itu dan orang yang berputar atas dua tumitnya, dan bahwa hal itu besar
(artinya) kecuali atas orang-orang yang Allah tunjukki, dan tidaklah Allah akan
meletakkan (melengahkan) keimananmu, bahwa Allah itu
sangat penyantun dan penyayang.



Dalam terjemahan ini :

Menuliskan "membunuh perkabaran" bukan "membunuh nabi-nabi". Hal ini berlaku juga pada terjemahannya tentang ayat 2/91, 3/112, 3/181, dan 5/20. Jadi dengan terjemahan demikian menyatakan bahwa banyak Nabi Allah yang telah dibunuh orang-orang kafir. Padahal semua Nabi dan Rasul itu selalu dijamin Allah dalam kehidupannya di dunia kini dan di akhirat nanti, tersebut dalam ayat 40/51, 58/21 dan pada banyak ayat suci lainnya. Begitu pula pada semua riwayat Nabi setiap orang dapat memperhatikan, betapa Allah telah menyelamatkan para Nabi dan orang-orang yang beriman.

فَبِمَا نَقۡضِہِم مِّيثَـٰقَهُمۡ
وَكُفۡرِهِم بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَقَتۡلِهِمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقٍّ۬
وَقَوۡلِهِمۡ قُلُوبُنَا غُلۡفُۢ‌ۚ بَلۡ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَيۡہَا بِكُفۡرِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُونَ إِلَّا قَلِيلاً۬

4/155. Maka dengan sebab pengrusakan mereka pada perjanjian itu dan kekafiran mereka pada ayat-ayat Allah serta pembunuhan mereka pada perkabaran-perkabaran tanpa hal logis serta perkataan mereka, dalam hati kami ada gangguan", malah (sebenarnya) Allah telah mencap atasnya tersebab kekafiran mereka, maka tiadalah yang beriman kecuali sedikit saja.


Tetapi dapatkah memberikan bukti agak sebuah saja bahwa seorang Nabi dulunya pernah mengalami kematian dizalimi atau telah dibunuh oleh orang-orang kafir ?

Mungkin menduga bahwa istilah "ambiya" adalah jamak atau plural dari "nabi", karenanya diterjemahkan dengan "nabi-nabi". Tetapi sebenarnya, "ambiya" tersebut adalah plural dari "naba-u" yang berarti "perkabaran", sedangkan plural bagi "nabi" ialah "nabiyuun" sebagaimana yang tercantum pada ayat 2/177, 2/213, 3/21, 5/44, 4/163, 17/55, 19/58, 33/40, 33/7 dan 39/69.

Sebagai contoh ialah maksud ayat 33/40 yang dicantumkan ini :

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ۬ مِّن رِّجَالِكُمۡ
وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمً۬ا

33/40. Tidaklah Muhammad itu bapak dari seorang laki-lakimu, akan tetapi dia Rasul Allah
dan penutup Nabi-Nabi dan Allah mengetahui tiap sesuatu.



Ketentuan Allah yang menurunkan Tawrat agar para Nabi memberi hukum dengannya kepada orang Yahudi.

إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَٮٰةَ فِيہَا هُدً۬ى
وَنُورٌ۬‌ۚ يَحۡكُمُ بِہَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ
هَادُواْ وَٱلرَّبَّـٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَـٰبِ ٱللَّهِ
وَڪَانُواْ عَلَيۡهِ شُہَدَآءَ‌ۚ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ
بِـَٔايَـٰتِى ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ

5/44.   Bahwa Kami menurunkan Tawrat di dalamnya pertunjuk dan Nuur yang memberi hukum
dengannya Nabi-Nabi yang menyerah (pada Allah) untuk orang-orang Yahudi dan orang-orang bertuhan
dan pemimpin-pemimpin yang harus menjaga apa-apa dari Kitab Allah dan mereka jadi pemberi-pemberi
bukti atasnya. Maka janganlah takut pada manusia itu tetapi takutlah pada-KU, dan janganlah
menukar ayat-ayatKu dengan nilai yang sedikil. Siapa yang tidak memberi hukum dengan
apa yang Allah turunkan maka itulah orang-orang yang kafir.



Dalam terjemahan ini bahwa istilah "labusa" berarti "memakai".

وَلَوۡ جَعَلۡنَـٰهُ مَلَڪً۬ا
لَّجَعَلۡنَـٰهُ رَجُلاً۬ وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ

6/9. Dan kalau Kami jadikan dia malak (yang berkuasa), tentulah akan Kami
jadikan dia lelaki dan akan Kami pakaikan dia atas mereka (menurut)
apa-apa yang mereka pakai.



Tidak sama arti "sakratul maut" dengan "gamaratul maut".
Yang pertama memang bersangkutan pada orang yang akan mati, tercantum pada ayat 50/19. Orang yang dalam sakratul maut memang bergulat dengan maut.
Tetapi "gamaratul maut" yang tercantum pada ayat 6/93  adalah kebangkitan dari maut atau dari kubur di Akhirat nanti di mana orang-orang zalim akan disiksa dalam neraka.

. . . . وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّـٰلِمُونَ فِى
غَمَرَٲتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ
أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَڪُمُ‌ۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا
كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَـٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ

6/93.   ........ Kalau engkau lihatlah ketika orang-orang zalim itu bangun dari mati (di Akhirat)
dan malekat mengulurkan tangannya sambil berkata, "keluarkanlah dirimu dari kubur, hari ini kamu
dibalas dengan siksaan hina tentang apa yang kamu katakan atas Allah tanpa hal logis dan
kamu menyombongkan diri tentang ayat-ayat-NYA".


وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّ‌ۖ ذَٲلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ
50/19.  Dan datanglah pingsan menjelang maut (sakratul maut) dengan hal logis.
Yang demikian itu tidaklah engkau dapat menantangnya.


Padahal "anfus" itu berarti "diri-diri" plural dari "nafs".  Sebenarnya dalam ayat suci itu,  malekat mengatakan, "Keluarkanlah dirimu (dari kubur) karena hari ini kamu dibalas dengan siksaan hina (di neraka).



Istilah "darasa" yang berarti "pelajari".

وَكَذَٲلِكَ نُصَرِّفُ
ٱلۡأَيَـٰتِ وَلِيَقُولُواْ دَرَسۡتَ وَلِنُبَيِّنَهُ ۥ لِقَوۡمٍ۬ يَعۡلَمُونَ

6/105. Seperti itulah Kami jelaskan Ayat-ayat itu dan agar mereka berkata,
"telah engkau pelajari", dan agar Kami terangkan dia untuk kaum yang berilmu.


أَن تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلۡكِتَـٰبُ
عَلَىٰ طَآٮِٕفَتَيۡنِ مِن قَبۡلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِہِمۡ لَغَـٰفِلِينَ

6/156.  Bahwa kamu akan berkata, "bahwasanya telah diturunkan Kitab atas
dua bahagian (kaum) sebelum kami, dan bahwa kami adalah orang-orang yang
mengabaikan tentang mempelajari keadaan mereka".


"Ittaba'a" yang berarti "ikuti"
Istilah  "awliyaa" yang berarti  "pimpinan"
ayat-ayat suci itu menyuruh orang active "memikirkan" atau "mempertimbangkan''.

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم
مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ‌ۗ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَكَّرُونَ

7/3.  Ikutlah  apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,
dan janganlah mengikuti pimpinan selain Dia. Sangat sedikit yang kamu fikirkan.



Ayat ini artinya "Sedang di rumah" bukan "tiba-tiba malam hari", dan "sedang bercakap-cakap" bukan "sedang tidur siang hari”.

وَكَم مِّن
قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا بَيَـٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآٮِٕلُونَ

7/4.  Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan. Kekuatan Kami datang padanya
sewaktu (penduduknya) sedang di rumah atau mereka sedang bercakap-cakap.



Sebenarnya ayat suci itu mengandung keterangan betapa keadaan orang-orang kafir sewaktu bangun di Akhirat nanti, mereka keluar dari kubur masing-masing dan ketika itu malekat langsung memindahkan mereka ke neraka sebagai tempat siksaan.  Hal ini, seperlunya, telah dibicarakan terdahulu dalam membahas kandungan ayat 6/93.

Sebagai contoh bahwa "tawaffa" itu berarti "pindahkan" dapat dilihat pada ayat 3/55 di mana dinyatakan babwa Nabi Isa dipindahkan Allah dari Bumi ke suatu tempat lain dalam Tatasurya ini dan waktu itu Nabi tersebut tidak mengalami kematian atapun nyawanya tidak dicabut.

وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ ڪَفَرُ
واْ‌ۙ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَـٰرَهُمۡ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

8/50.  Kalau engkau lihatlah ketika malekat memindahkan orang-orang kafir (ke neraka di Akhirat nanti),
mereka memukul wajah dan punggung orang-orang itu (dengan mengatakan) “rasailah api nyala itu".



Yang dimaksud dalam ayat suci ini ialah supaya orang-orang kafir yang diperangi haruslah pasukanannya dimusnahkan semoga keadaan demikian dapat diperhatikan oleh orang-orang lain kemudiannya dalam usahanya menentang hukum Allah.

فَإِمَّا تَثۡقَفَنَّہُمۡ فِى
ٱلۡحَرۡبِ فَشَرِّدۡ بِهِم مَّنۡ خَلۡفَهُمۡ لَعَلَّهُمۡ يَذَّڪَّرُونَ

8/57.  Manakala engkau jumpai mereka dalam perang maka Jadikanlah mereka contoh
untuk orang-orang sesudah mereka semoga mereka memperhatikan.


Tetapi ada terjemahan lain yang susah dapat dimengerti hingga selintas kilas tampak gambaran babwa "jika ditemui orang-orang kafir dalam perang maka bersama orang-orang kafir itu dicerai beraikan orang-orang  yang di belakang."
Dengan terjemahan begitu semakin kaburlah ketentuan perang menurut hukum Islam.



Ada terjemahan lain yang menterjemahkan ayat suci dengan keterangan yang susah difahami. Bagaimana Bulan yang mengorbit keliling Bumi ditentukan rumah perhentian baginya ?
Suatu benda angkasa tak pernah memiliki rumah dan seluruhnya tiada yang pernah berhenti.

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ
ضِيَآءً۬ وَٱلۡقَمَرَ نُورً۬ا وَقَدَّرَهُ ۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ
وَٱلۡحِسَابَ‌ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٲلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ‌ۚ يُفَصِّلُ ٱلۡأَيَـٰتِ لِقَوۡمٍ۬ يَعۡلَمُونَ

10/5.  DIAlah yang menjadikan Surya selaku sumber yang menerangi, dan Bulan bersinar, dan
menentukan padanya (Bulan itu) orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.  
Tidaklah Allah ciptakan semua itu kecuali dengan hal logis. DIA terangkan
ayat-ayat itu untuk kaum yang berilmu.








Istilah "barii-u" yang sesungguhnya berarti "berlepas diri".
Berlepas diri berarti meninggalkan sesuatu atau keadaan yang tidak disukai, walaupun tidak dengan memisahkan diri dari keadaan tersebut.

وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّى عَمَلِى
وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡ‌ۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۟ بَرِىٓءٌ۬ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ

10/41.  Jika mereka mendustakan engkau maka katakanlah, "untukku amalanku
dan untukmu amalanmu.  Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan akupun
berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.



Istilah "Ganiyu" yang sesungguhnya berarti "kaya"

قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدً۬ا‌ۗ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ‌ۖ
هُوَ ٱلۡغَنِىُّ‌ۖ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى
ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ إِنۡ عِندَڪُم مِّن سُلۡطَـٰنِۭ بِہَـٰذَآ‌ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

10/68. Mereka mengatakan "Allah telah mengadakan anak". Mahasuci DIA.
DIA kaya, kepunyaanNYA apa-apa yang di planet-planet dan apa-apa yang di Bumi.
Adakah daya padamu tentang ini ? Ataukah kamu mengatakan
yang tidak kamu ketahui tentang Allah
.



Nuah bertanya kepada Allah tentang anaknya yang karam pada topan besar yang meliputi seluruh permukaan Bumi, tetapi Allah melarangnya bertanya pada hal Nuah itu adalah Nabi dan Rasul yang diutus-NYA sendiri, sedangkan dalam ayat 4/32 dan 25/59 Allah menyuruh orang menanyakan perkabaran ataupun meminta kurnia-NYA. Sebenarnya alasan yang menyebabkan Nuah tidak boleh bertanya ialah bahwa Allah mengajarnya termasuk orang-orang bodoh sebagai awal peradaban manusia dalam fase kehidupan kedua di dunia kini. Orang hendaklah mengetahui bahwa Bumi ini ditaksir telah berumur 4 milyar tahun sedang topan Nuah diperkirakan baru 10.000 tahun yang lalu. Maka manusia sebelumnya, yang sesungguhnya adalah manusia biasa, bernaluri sama dengan manusia kini, tentunya telah mencapai peradaban yang sangat tinggi dalam masa berjuta tahun. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 30/9, 40/82, 34/45 dan lain-lainnya.

قَالَ يَـٰنُوحُ إِنَّهُ ۥ
لَيۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَ‌ۖ إِنَّهُ ۥ عَمَلٌ غَيۡرُ صَـٰلِحٍ۬‌ۖ
فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَـٰهِلِينَ

11/46.  DIA berkata, "hai Nuah, bahwa dia bukanlah dan keluargamu karena dia memiliki
amal yang tidak shaleh, maka janganlah tanyakan padaKU apa yang tidak ada padamu ilmunya.  
Bahwa AKU mengajarmu untuk termasuk orang-orang yang bodoh".


Walaupun bodohnya Nuah demikian menurut ketentuan Allah namun dengan kausalita logis, bahwa dia telah kehilangan anak dan isteri yang kafir dalam bencana besar dan waktu itu dia telah berumur sangat lanjut. Jadi praktislah Nuah menjadi seorang pikun sesuai dengan rencana Allah.

avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Tue Oct 21, 2014 8:51 am

Ada terjemahan: Perkataan Yusuf yang menyatakan Allah Tuhannya, telah dirobah dengan "Sungguh, (suamimu) adalah tuanku!".

وَرَٲوَدَتۡهُ ٱلَّتِى هُوَ
فِى بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٲبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ
لَكَ‌ۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ‌ۖ إِنَّهُ ۥ رَبِّىٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَاىَ‌ۖ إِنَّهُ ۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

12/23.  Dia dibujuk oleh perempuan yang punya rumah tentang dirinya, dan
perempuan itu menutupkan pintu-pintu serta mengatakan, "bagaimana keadaanmu ?"
Yusuf berkata,  "semoga Allah melindungi DIA adalab Tuhanku, yang memperbaiki
tempat tinggalku, tidaklah akan menang orang-orang yang zalim".




Dalam terjemahan kedua ayat suci ini artinya "ummat yang tekun untuk Allah sesempurnanya" menjadi " bukandan (orang) yang taat kepada Allah".
Begitu juga "doktrin Ibrahim itu sesempurnanya" bukan "agama Ibrahim yang setia kepada Kebenaran".

إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
16/120.  Bahwa Ibrahim adalah ummat yang tekun untuk Allah sesempurnanya
dan tidaklah dia termasuk orang-orang musyrik.


ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ
أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ

16/123.  Kemudian Kami wahyukan kepadamu agar engkau mengikuti doktrin Ibrahim  itu
sesempurnanya, dan tidaklah dia termasuk orang-orang musyrik.



Kalau "millah" diartikan dengan "agama": Hal ini mungkin menimbulkan kekeliruan tentang apa agama Ibrahim sebenarnya. Hendaklah diketahui bahwa antara "millah" dan "diin" atau antara doktrin dan agama tidak terdapat persamaan :

Pertama, doktrin adalah ajaran atau teori tentang hidup, dia hanya berupa konsep yang akan diwujudkan jadi kenyataan.

Kedua, agama adalah hukum dan pengabdian di mana doktrin yang menjadi konsep dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi "millah" hanyalah ajaran yang berbentuk konsep, sedangkan "diin" ialah ajaran yang dilaksanakan.


Arti "HAQ"

Dalam terjemahan ini ada dua istilah yang harus dipersoalkan secara mendalam agar didapat pengertian yang sesungguhnya mengenai ketentuan Islam. Istilah itu ialah "haq" dan "ibnus sabiil".

وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُ ۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا
17/26.  Berikanlah pada kerabat yang logis untuknya, begitupun orang-orang miskin
dan pejuang-pejuang, dan janganlah boros dengan pemborosan.


A. "HAQ" banyak sekali tercantum dalam Alquran.  Istilah itu umumnya diartikan "kebenaran", pada ayat 17/26 di atas ini istilah tersebut tidak mungkin diartikan dengan "kebenaran”;begitu pula dituliskannya pada ayat 30/28.

  Maka arti yang sesungguhnya dari "haq" yang tercantum dalam kedua ayat suci tersebut ialah "yang logis", maka berikanlah pada kerabat, orang miskin, yang logis untuknya, dengan maksud tidak berlebihan. Apalah artinya sebuah TV bagi orang miskin yang kebetulan membutuhkan sepiring nasi. Jadi pemberian yang diserahkan kepadanya hendaklah yang berguna, logis, pada keadaannya.

Tetapi cocokkah istilah "haq" tersebut diartikan dengan "kebenaran" atau "benar" ? Alquran memakai istilah "shidqu" untuk arti "kebenaran". Jika "haq" diartikan "kebenaran" pula maka timbullah kontradiksi dalam menterjemahkan ayat suci di bawah ini :

وَأَتَيۡنَـٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ
15/64.  Dan Kami datang padamu secara logis, bahwa Kami adalah benar.

بَلۡ جَآءَ بِٱلۡحَقِّ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
37/37.  Malah dia (Rasul itu) datang dengan hal logis dan
membenarkan orang-orang yang diutus sebelumnya.


Sebagai ayat firman tersusun terjaga rapi, tidak mungkin Allah menurunkannya mengandung dua istilah yang bersamaan arti dalam satu ayat suci. Hanya penterjemah juga yang menyamakan artinya.


    Tetapi adakah bukti bahwa antara "haq" dan "shidqu" terdapat arti yang berlainan ? Jawabnya: Ada. Untuk itu marilah kita analisakan bunyi ayat-ayat suci yang dikutipkan di bawah ini :

ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَـٰهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ يَتۡلُونَهُ ۥ حَقَّ
تِلَاوَتِهِۦۤ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ‌ۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ

2/121.  Orang-orang yang Kami datangkan Kitab pada mereka, menganalisanya dengan penganalisaan logis, itulah mereka yang akan beriman padanya. Dan siapa yang kafir padanya maka itulah orang-orang yang merugi.


Dalam terjemahan ini kalau arti "haq" diterjemahkan dengan "seharusnya". Jika benarlah orang yang membaca Kitab menurut seharusnya orang lain membaca, dan orang demikian dikatakan beriman padanya, maka alangkah banyaknya manusia kafir yang membaca Kitab dengan benar tetapi tetap menantang kepada hukum  Allah: Sementara itu banyak pula yang buta-huruf dan yang tak membaca Kitab secara benar sebagaimana orang lain membaca, namun mereka beriman sepenuh hati malah sudi menyerahkan jiwa raganya untuk kepentingan hukum Allah.

    Jadi terjemahan tersebut nyata keliru, dan walaupun istilah "seharusnya" diganti dengan "benar", atau "dengan sebenarnya".

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَـٰطِلُ‌ۚ إِنَّ ٱلۡبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقً۬ا
17/81.   Dan katakanlah,  "telah datang yang logis dan telah lenyap yang batil, bahwa kebatilan itu adalah yang dilenyapkan.

قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَـٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ
34/49.  Katakanlah, "telah datang yang logis, dan tidaklah bermula kebatilan, dan tidak pula akan berulang.



Kalau istilah "haq" dalam kedua ayat suci di atas ini diartikan dengan "kebenaran" maka timbullah kontradiksi antara ketentuan Allah dengan yang kenyataan dalam sejarah.

    Dikatakan, bila kebenaran telah datang maka kebatilan jadi binasa, ketika kebenaran datang, kebatilan takkan terwujud apalagi berulang.  Tetapi, bukankah kebenaran sudah lama disampaikan oleh Muhammad. Alquran yang isinya kebenaran melulu sudah 14 abad tersebar di antara masyarakat manusia, namun kebatilan tak kunjung hilang, belum binasa malah selalu bermula dan berulang.

   Jika "haq" yang tercantum dalam kedua ayat suci tadi diartikan dengan "kebenaran" terdapatlah kesalahan antara firman Allah yang menentukan dengan kejadian yang berlaku dalam sejarah manusia,  padahal Allah telah menjamin tiada akan terdapat kontradiksi antara firman-NYA dengan segala kejadian di semesta raya.

Jadi, siapakah yang salah ? Apakah susunan ayat-ayat suci itu yang salah pasang ataukah kita yang salah menterjemahkannya ? Jawabnya ialah bahwa istilah "haq" tersebut bukanlah berarti "kebenaran" tetapi "yang logis". Bila yang logis telah datang maka yang batil pasti hilang. Yang logis itu adalah suatu yang rasionil berdasarkan perhitungan tepat dan sesuai dengan kenyataan yang berlaku. Jika dulunya Bumi ini dikatakan datar lempeng perpinggir hingga orang tidak mau merantau jauh, takut jatuh di pinggir Bumi, maka itu adalah suatu kebatilan yang waktu itu dianggap suatu kebenaran. Tetapi kemudian, setelah penyelidikan dilakukan secara rasionil dengan perhitungan begitupun bukti-bukti nyata telah ditemukan, terdapatlah hal yang logis bahwa Bumi ini bukannya datar lempeng malah bulat berputar di sumbunya. Dalam hal ini ternyata kebenaran yang dulunya dikatakan tidak mengandung kesalahan ternyata kebatilan. Jadi, sesuatu kebenaran belum dapat dikatakan logis, sebelum dia diuji secara rasionil dan dengan kenyataan. Demikian pula Bumi ini dikatakan dulunya adalah suatu yang paling besar di jagad raya tetapi kini diketahui sebagai globe kecil di antara jutaan globe raksasa di semesta raya. Dari kedua contoh ini dapatlah diketahui bahwa ketika yang logis datang maka yang batil pasti hilang. Bilamana yang haq datang yang batil jadi lenyap.

  Karena istilah "haq" yang terkandung dalam Alquran berarti "yang logis" yaitu yang cocok dengan akal sehat dan dengan kenyataan, maka kelirulah orang yang mengartikan "haq" tersebut dengan "kebenaran". Suatu kekeliruan dalam menterjemahkan ayat suci Allah berarti merusak ketentuan hukum Allah. Alhasil, menterjemahkan istilah "haq" dengan "kebenaran" sama saja dengan merusak ketentuan hukum Allah.

    Semua perkataan Allah adalah logis; Alquran mengandung ketentuan-ketentuan logis; Benda-benda angkasa diciptakan-NYA secara logis, semuanya rasionil, sesuai dengan fikiran sehat dan parallel dengan kenyataan yang berlaku. Demikian segala istilah "haq" yang tercantum dalam Alquran. Karena itu terjemahkanlah istilah itu dengan "yang logis" bukan dengan "kebenaran" seperti juga yang tercantum dalam ayat 4/122, 6/73, 15/64, 22/62, 24/25, 27/29, 37/37, 40/78, 43/29, 69/51 dan lain-lainnya.
avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Tue Oct 21, 2014 9:06 am

B. "Ibnus sabiil"  yang tercantum dalam ayat 17/26 begitupun yang ada dalam ayat 2/177, 4/36, 8/41, 9/60, 30/38, dan 59/7 harus diterjemahkan dengan  "pejuang-pejuang". Hal ini sehubungan istilah "'sabiil" dan "sabiilillah" berarti "garis hukum" dan "garis hukum Allah". Jadi "ibnus sabiil" berarti orang-orang yang memperjuangkan terlaksananya garis hukum Allah, karenanya harus diterjemahkan dengan "pejuang-pejuang" bukan dengan "orang dalam perjalanan". Kalau istilah itu diterjemahkan dengan "orang dalam perjalanan", akan terdapatlah berbagai keraguan:

a.     Bagaimana cara memberikan sesuatu yang logis untuk orang yang dalam perjalanan, apalagi dia belum dikenal apakah Mukmin atau kafir, padahal orang-orang dalam daerah tempat tinggal sendiri masih banyak yang harus dibantu.

b.     Siapakah yang sebenarnya dapat dikatakan sebagai orang dalam perjalanan; Berjalan dengan apa, dengan kendaraan apa; Betapa jarak perjalanannya minimal hingga dia harus dibantu.

c.     Biasanya orang yang dalam perjalanan itu adalah orang berkecukupan, tak membutuhkan bantuan, apalagi dalam abad modern sekarang ini. Apalagi hukum Allah itu harus berlaku di sepanjang zaman.

d.     Jika orang tersebut kebetulan miskin tentunya dia takkan meninggalkan kampungnya, namun kalau dia terpaksa juga pergi merantau maka dia tergolong orang-orang miskin yang harus dibantu sebagai tercantum pertama kali dalam ayat 17/26 yang menjadi bahan ungkapan.  



Oleb sebab itu, istilah "ibnus sabiil" yang terkandung dalam ayat-ayat suci bukanlah berarti "orang yang dalam perjalanan" karena untuk orang ini Alquran memberikan istilah tertentu yaitu "sayyarah" seperti tercantum dalam ayat 5/96, 12/10, dan 12/19, tetapi haruslah diterjemahkan dengan "pejuang-pejuang" untuk terlaksananya garis hukum Allah. Pada umumnya pejuang-pejuang ini tidak begitu menghiraukan sosial ekonominya karena dia selalu didorong oleh semangat juang yang harus dilakukan dalam menegakkan agama Allah, maka praktislah para pejuang ini diberi bantuan seperlunya, secukupnya, dan itupun melalui kordinator yang membimbingnya. Banyak yang harus dibicarakan mengenai "ibnus sabiil", tetapi sesuatu yang utama dari kesimpulan hukum diturunkan Allah ialah untuk kesempurnaan lingkungan masyarakat Muslim yang hidup di antara manusia ramai di dunia ini.



Ayat ini sehubungan pemuda-pemuda yang tinggal dalam gua selama 309 tahun karena melarikan diri dari masyarakat kafir.


. . .  فَلۡيَنظُرۡ أَيُّہَآ أَزۡكَىٰ طَعَامً۬ا
فَ
لۡيَأۡتِڪُم بِرِزۡقٍ۬ مِّنۡهُ وَلۡيَتَلَطَّفۡ وَلَا يُشۡعِرَنَّ بِڪُمۡ أَحَدًا
18/19.  ...... Maka hendaklah dia  memperhatikan yang mana
penduduknya yang lebih cerdas dalam hal makanan, maka hendaklah
dia datang kembali padamu dengan rezki dari DIA. Dan hendaklah dia
bersikap ramah tamah dan janganlah dia menimbulkan kesadaran
seorang juga tentang kamu.


قُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا
لَبِثُواْ*ۖ لَهُ ۥ غَيۡبُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ*ۖ أَبۡصِرۡ بِهِۦ
وَأَسۡمِعۡ*ۚ مَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِىٍّ۬ وَلَا يُشۡرِكُ فِى حُكۡمِهِۦۤ أَحَدً۬ا

18/26.  Katakanlah, "Allah lebih mengetahui tentang keadaan mereka tinggal (dalam gua itu)".  
Kepunyaan-NYA kegaiban planet-planet dan Bumi ini.  Perhatikanlah dengannya  (Alquran) dan
dengarlah.  Tiada bagi mereka selain DIA jadi pimpinan, dan tidaklah DIA menserikatkan
suatu juga dalam hukum-NYA.




Ayat suci ini menyangkut persoalan pemuda yang tertancum pada ayat 18/19 tadi. Dalam terjemahan lain terdapat salah pengertian tentang maksud firman Allah yang menyuruh orang memperhatikan dengan pedoman dalam Alquran. Nyata sekali tercantum nada perintah (abshir bihi wa asmi'), bukan "Betapa tajam penglihatanNya dan betapa tajam pendengaranNya".

Dalam terjemahan ayat suci ini ada yang telah merobah maksud firman dari "Dan adalah baginya buah-buahan" kepada "(Pemiliknya) kaya". Perobahan tersebut terdiri dari :

a. Susunan kata-kata dalam kalimat menjadi satu kata saja.

b. "Memiliki buah-buahan menjadi kaya", padahal pemilik buah-buahan belum tentu tergolong kaya.

    "Nafara" yang seharusnya berarti "pasukan" ditulisnya "pengikut". Sementara itu istilah "haawara" yang sebenarnya berarti "mengikuti", seperti "hawaariyuun" dalam ayat 3/52, 5/111 dan 61/14 berarti "pengikut-pengikut".

وَكَانَ لَهُ ۥ ثَمَرٌ۬ فَقَالَ
لِصَـٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ ۥۤ أَنَا۟ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالاً۬ وَأَعَزُّ نَفَرً۬ا

18/34.  Dan adalah baginya buah-buahan, lalu dia berkata pada temannya yang
selalu mengikutinya, "aku mempunyai lebih banyak harta dari pada engkau begitupun
pasukan yang lebih mulia".



Kalau "awliyaa" diterjemahkan dengan "sahabat" atau "pelindung" dan "walaayah" diartikannya dengan "pertolongan" pada hal kedua istilah itu berasal dari satu kata "waliy" yang berarti "pimpinan".


Sementara itu istilah "uqba" yang berasal dari "aqibah" berarti "akibat" dalam bahasa Indonesia.

هُنَالِكَ ٱلۡوَلَـٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّ*ۚ هُوَ خَيۡرٌ۬ ثَوَابً۬ا وَخَيۡرٌ عُقۡبً۬ا
18/44.  Ketika itu nyatalah kepemimpinan kepunyaan Allah yang logis.  
DIA memberi balasan yang baik dan akibat yang baik.



Dalam menterjemahkan ayat suci ini ada yang memberikan keterangan yang tak pernah tercantum dalam Alquran. Yaitu memberikan nama "Khidir" kepada hamba Allah yang tidak disebutkan namanya.

فَوَجَدَا عَبۡدً۬ا مِّنۡ عِبَا
دِنَآ ءَاتَيۡنَـٰهُ رَحۡمَةً۬ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمً۬ا

18/65.  Maka keduanya mendapatkan seorang hamba dari hamba-hamba Kami
yang Kami berikan padanya rahmat dari Kami dan Kami ajari dia ilmu dari Kami.





Dalam hal ini kita ingin bertanya :

a.  Kenapa hamba Allah ilu diberi nama dengan Khidir ?

b.  Kenapa tidak dinamai dengan nama lain ?

c. Apakah sumber yang memberikan keterangan tentang nama yang dipakai itu ?

d.  Tahukah menurut sesungguhnya siapa hamba Allah yang disebutkan dalam ayat 18/65 itu.

e.  Bagaimana nantinya,  jika kebetulan hamba Allah itu bukan bernama Khidir ?

f.  Apakah akan memberi nama pula kepada isteri Adam dengan Hawa yang hanya tercantum dalam Al-Kitab sedangkan dalam Alquran tidak pernah disebutkan ?

Pemberian nama Khidir demikian dicantumkannya pula dalam terjemahan ayat 18/70, 18/74 dan lain-lainnya.


ZULKARNAIN

Dalam hal ini ada beberapa istilah yang akan kita perbincangkan :

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَن ذِى ٱلۡقَرۡنَيۡنِ*ۖ قُلۡ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِڪۡرًا
18/84.  Bahwa Kami menempatkan dia (manusia itu) di Bumi dan Kami datangkan
padanya  dari tiap sesuatu berkausalita (sebab-akibat).


a.  "Zulkarnain" berasal dari istilah "Qarnu" berarti "tanduk" atau "generasi".  Yang terakhir ini tercantum dalam terjemahan pada ayat 23/31.
Jadi "zulkarnain" berarti "yang bertanduk dua" atau juga "manusia yang dua generasi" yang kita tuliskan dengan "yang dua golongan". Sekiranya pada istilah itu dipakai "yang bertanduk dua" maka itu adalah kiasan tentang sejarah manusia yang berasal dari satu diri kemudian berkembang menjadi dua golongan yang saling menentang. Halnya sama dengan dua tanduk yang tumbuh di kepala sapi.  Jika istilah itu tidak diterjemahkan dalam ayat 18/83, tidaklah menjadi soal. Itu boleh saja memakai istilah "zulkarnain" menurut aslinya sebagaimana pemakaian istilah "haq" dalam bahasa Indonesia.  Namun janganlah dikatakan bahwa "zulkarnain" tersebut nama seseorang yang dulunya pernah hidup dengan megahnya sebagai pernah ditulis orang atau yang disangkakan orang Alexander the Great. "Zulkarnain" bukanlah nama pribadi tetapi menggambarkan sifat dan sejarah manusia umumnya.




b. Istilah "taliya" banyak diterjemahkan dengan "kisahkan", dan pada ayat 2/102, 2/121, 2/151 serta banyak ayat suci lainnya diartikannya dengan  "membaca", sebenarnya adalah istilah yang dalam Alquran berarti "menganalisakan" atau "menganalisa".

Sebagai bahan untuk menterjemahkan istilah itu dengan "analisakan" dapatlah ditinjau kembali pada keterangan kita mengenai ayat 2/121.

Jika istilah itu diartikan dengan "membaca" maka ayat 2/121 mengandung pengertian bahwa orang yang membaca Kitab dengan bacaan yang benar, itulah yang akan beriman padanya, padahal banyak sekali orang yang membaca Kitab itu dengan bacaan yang benar namun mereka tidak beriman. Jadi maksud ayat suci itu ialah, siapa yang menganalisa ini Kitab dengan analisa yang logis maka itulah orang yang akan beriman dengannya. Memang penganalisaan logis akan membawa orang yang menganalisa itu kepada keyakinan hingga dia merobah sesuatu yang bertentangan menjadi hal yang sesuai menurut ketentuan Kitab tersebut.


Demikian pula istilah "taliya" yang terkandung dalam ayat 28/3 diartikan dengan "bacakan". Sebenarnya ayat suci itu berbunyi:

نَتۡلُواْ عَلَيۡكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرۡعَوۡنَ بِٱلۡحَقِّ لِقَوۡمٍ۬ يُؤۡمِنُونَ
28/3. Kami analisakan atasmu dari perkabaran Musa dan Firaun
secara logis untuk kaum yang beriman.


Cerita itu ialah mengenai Firaun yang membunuh segala bayi yang baru lahir dalam masyarakat Bani Israil. Allah menyelamatkan Musa yang masih sangat kecil dengan menyuruh ibu bayi itu menghanyutkan anaknya di sungai Nil dalam sebuah kotak. Anak itu dijumpai oleh isteri Firaun dan kemudian menjadikannya anak angkat. Setelah Musa jadi besar maka dia berobah menjadi musuh pada Firaun. Semua ini memperlihatkan rencana Allah yang dianalisakan-NYA dalam surat 28, Qashash, secara logis.


Jika orang memerlukan istilah "membaca" maka dalam Alquran tercantum "Qara-a" yang sesungguhnya berarti "membaca", banyak sekali ditemui seperti pada ayat 10/94, 16/98, 17/14, 17/45, 17/71, 17/106, 26/199, 69/19, 73/20, 75/18, 84/21, 87/6, dan 96/1.  

    Oleh hal yang demikian dapatlah diketahui "tilawat Alquran" berarti "Penganalisaan ayat-ayat Alquran" dan "Qiraat Alquran" adalah "Pembacaan ayat-ayat Alquran". Maka sangat disayangkan orang yang melakukan tilawat Alquran hanya menyanyikan bacaan ayat-ayat suci tersebut.

c.  "Zikra" yang tercantum pada ayat  18/83 bukanlah berarti "cerita" seperti yang dituliskan, bukan pula "ingatan" seperti dituliskannya pada ayat 89/23, bukan juga "menyebutkan" pada ayat 79/43, bukan juga "tegoran" pada ayat 26/209, dan bukan pula "pelajaran" pada ayat 7/2, begitupun bukan "peringatan" seperti terjemahannya pada ayat 47/18, 50/8 dan pada banyak ayat suci lainnya, tetapi adalah "pemikiran" atau bahan pemikiran sebagai yang tercantum dalam :

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُ ۥ لَحَـٰفِظُونَ
15/9.   Bahwa Kamilah yang menurunkan pemikiran (dalam Alquran)
dan bahwa Kami selalu menjaganya.


Hendaklah diketahui bahwa yang diturunkan Allah itu ialah Alquran dimana terkandung ayat-ayat Muhkamat, Mutasyabihat, Furqan, atau pertunjuk dan keterangan-keterangan tentang pertunjuk. Jadi Alquran itu berisikan berbagai pokok ilmu, sejarah dan pertunjuk hidup. Jadi jika dikatakan hanya peringatan yang terkandung dalam Alquran sebagai yang dimaksud dalam ayat 15/9 di atas tadi, tidaklah pada tempatnya. Namun kalau diartikan dengan "pemikiran" maka istilah ini mencakup semua ayat Alquran yang memang seluruhnya dijaga oleh Allah. Jika diartikan "zikra" itu dengan "peringatan" maka hanya beberapa ayat suci saja yang dijaga Allah sedangkan yang lainnya belum tentu.


d. Istilah "sababa" bukanlah berarti "jalan" tetapi sebab-akibat yang kita sebutkan "kausalita''  Manusia ditempatKan Allah untuk hidup di permuKaan Bumi dan bersamanya diberikan Allah hukum kausalita di mana tiap sesuatu timbul dari suatu sebab dan berujung dengan akibat yang juga menjadi sebab pada kejadian lain. Hal ini sehubungan dengan ketentuan Allah atas segala yang terjadi di semesta raya begitupun pada diri setiap orang sebagai yang dinyatakan-NYA dalam ayat 57/22, maka atas dasar itulah manusia yang diberi kausalita tadi menjalani  hidupnya  melalui garis-garis yang telah lebih dulu ditentukan Allah.

Semisalnya istilah "sababa" pada ayat 18/84 diartikan "jalan", maka banyak sekali kejadian di muka Bumi ini yang tidak memerlukan jalan namun kejadian itu tetap berlaku menurut kausalitanya, karenanya terjemahan tersebut nyata keliru. Istilah "sababa" juga tercantum pada ayat 18/92 diartikan dengan "jalan".


VOLCANOES

Di sini kita merasa perlu memberikan penjelasan tentang kandungan ayat suci tersebut:

a.  Sewaktu peradaban manusia telah mulai meningkat, dimulai dengan pelayaran Colombus ke barat, maka dia mendapatkan benua Amerika.




   Benua ini adalah tempat Surya terbenam jika dipandang dari Eropa. Dengan ini semakin jelas bahwa yang dimaksud dengan (manusia) yang dua golongan adalah utamanya bangsa Eropa itu sendiri dan tentang ini, sejarah cukup mempunyai bukti.


   Setelah manusia itu sampai di Amerika maka dari benua ini dilihatnya Surya terbenam di barat yaitu di daerah Kepulauan Berbahaya, sekitar Tahiti di Lautan Teduh. Di sana senantiasa berlaku aktivitas volcanoes yang mengeluarkan lahar. Bukan mata air mengandung lumpur, dan bukan pula Surya terbenam dalam lumpur sebagai yang dikatakan.





حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغۡرِبَ ٱلشَّمۡسِ
وَجَدَهَا تَغۡرُبُ فِى عَيۡنٍ حَمِئَةٍ۬ وَوَجَدَ عِندَهَا
قَوۡمً۬ا*ۗ قُلۡنَا يَـٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيہِمۡ حُسۡنً۬ا

18/86.  Hingga ketika dia sampai di tempat terbenam Surya (di Amerika) dia dapati Surya itu
terbenam pada pancaran lahar (Dangerous) Island, Pasific, dan dia dapati padanya suatu kaum.
Kami katakan, "hai" (manusia) yang dua golongan, apakah engkau akan menyiksa ataukah
akan mengadakan kebaikan pada mereka?
avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Tue Oct 21, 2014 9:16 am

Kini timbul pertanyaan: kenapa ada pancaran lahar demikian ?

    Hal ini adalah satu di antara sekian banyak pertunjuk Alquran yang mendahului ilmu pengetahuan para sarjana Bumi abad ke 20 Masehi. Orang bertanya-tanya Kenapa Kepulauan Berbahaya itu senantiasa mengeluarkan lahar; kenapa Saudi Arabia mengandung bahan mineral terbesar di muka Bumi mi: dan kenapa gugusan jalur gempa Bumi terbentang dari sekitar Lautan Teduh menjurus ke barat melalui Asia Timur dan tenus ke Asia Barat, sedangkan jurusannya ke timur melalui Amerika Tengah terus ke Lautan Teduh.



    Tentang ini Alquran memberikan pertunjuk bahwa : Kutub Utara Bumi dulunya adalah tanah Makkah dewasa ini; Rotasi dan posisi Bumi dirobah Allah melalui topan besar di zaman Nabi Nuah ditimbulkan oleh mendekatnya suatu Qomet dengan ekornya yang panjang; Kini Makkah tersebut berupa daerah kering tandus, tetapi dulunya adalah daerah yang paling subur karena waktu itu ionosfir Bumi yang menapis sinar Violet Surya masih sangat tipis hingga daerah Ekuator (daerah kepulauan Indonesia, Jepang dan Alaska seputar Bumi) sangat panas karena selalu dihantam oleb pembesaran radiasi yang datang dari Surya. Karenanya, kini praktislah Makkah dan tanah sekitarnya mengandung bahan mineral yang sangat banyak.

Tetapi kalau orang menusuk Makkah itu ke dalam Bumi 90 derajat, maka tusakan itu akan tembus di Kepulauan Berbahaya di Pasific kini. Karena  dulunya Makkah adalah Kutub Utara Bumi di mana magnet Bumi berunsur negatif, maka Kutub Selatan Bumi waktu itu ialah di Kepulauan Berbahaya di mana terdapat unsur positif magnet Bumi yang sampai kini masih aktif mengeluarkan lahar.

    Jadi bagaimana dengan jaluran gempa tadi ? Sampai kini orang belum mengetahui bagaimana suatu gempa dapat berlaku, pada hal menurut catatan seismografi setiap tahunnya terjadi lebih kurang 1.000.000 gempa Bumi besar kecil. Orang hanya menamakan Gempa Tektonik dan Gempa Volkamk tetapi tidak memahami kenapa adanya. Paling akhir disadarilah bahwa gempa tersebut sehubungan dengan pembesaran radiasi dari Surya, namun bagaimana prosesnya sampai menjadi gempa masih belum disadari.

Tetapi dengan pertunjuk Alquran didapatlah keterangan yang hak, yang logis, bahwa radiasi Surya yang sampai ke Bumi selalu menjurus kepada kutub-kutub Bumi menurut unsur yang berlawanan, terus mengalir ke dalam perut Bumi. Yang masuk di utara, lebih dulu bergerak ke arah Makkah kemudiannya menjurus ke Pasific dan keluar di Kutub Selatan untuk kembali kepada Surya. Sedangkan yang masuk di selatan, lebih dulu bergerak ke arah Kepulauan Berbahaya, kemudian menjurus ke Saudi Arabia dan akhirnya keluar di Kutub Utara untuk kembali kepada Surya, dan begitulah selanjutnya. Bilamana berlaku pembesaran radiasi dan Surya, dan inipun ditimbulkan oleh kausalita tertentu, yaitu sebab setantangnya beberapa ataupun dua planet ke arah Surya yang dalam Alquran disebut dengan "Yaumuz zullah" maka terjadilah gempa Bumi ataupun gelombang panas, gelombang pasang, tofan ataupun sebagainya pada bahagian tertentu, sedangkan magnet yang memasuki kutub-kutub tadi langsung berantukkan dalam perut Bumi yang dinamakan orang sebagai sumber gempa.



Suatu syarat untuk dapat memahami keterangan Alquran begini adalah mengakui bahwa dulunya Makkah Kutub Utara Bumi sebagai tercantum pada Ayat 3/96, dan 71/14; mengakui bahwa Kutub Utara Bumi mengeluarkan magnet negatif dan menarik magnet positif hingga kini terdapat Aurora yang dinamakan orang Sinar Utara (Nothern Light), begitupun Kutub Selatan Bumi menarik negatif dan membuang positif hingga di sana terdapat juga yang dinamakan Aurora Australis; Seterusnya orang haruslah lebih dulu memperbaiki apa yang mereka namakan Van Allen Belt. Jika hal ini dapat terlaksana, maka ada harapan bencana alam mungkin dikurangi melalui usaha praktis yaitu memakai saluran pembuang pembesaran radiasi Surya tersebut kepada daerah-daerah tertentu, atau sedikitnya mengalirkannya melalui daerah-daerah yang kurang didiami penduduk.



    Demikian keterangan selintas kilas tentang "ainun hamiah" yang terkandung dalam ayat 18/86, bahwa istilah itu bukanlah mata air berlumpur tetapi sengaja diberikan Allah sebagai pokok ilmu geofisika.  


b. Sewaktu Columbus cs.  telah menduduki benua Amerika, di sana didapatinya bangsa Indian yang kemudian ternyata menjadi rakyat jajahan. Mengenai orang inilah Allah menanyakan apakah akan disiksa ataukah akan diadakan perbaikan hidupnya.




Dalam terjemahan kedua ayat suci sebagai sambungan keadaan zulkarnain ini :

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيۡنَ ٱلسَّدَّيۡنِ
وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوۡمً۬ا لَّا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ قَوۡلاً۬

18/93.  Hingga ketika dia sampai pada antara dua aliran pikiran (theism dan atheism),
dia dapati selain keduanya itu suatu kaum yang hampir tidak memahami perkataan.


قَالُواْ يَـٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُ
ونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدًّ۬ا

18/94.  Mereka berkata, "hai (manusia) yang dua golongan, bahwa Ya'juj dan Ma'juj
adalah orang-orang yang berbuat bencana di Bumi, maka apakah akan kami jadikan untukmu
balasan atas hal yang engkau jadikan suatu aliran pikiran antara kami dan mereka ?


a.  Sewaktu zulkarnain meneruskan perjalanannya yaitu ketika manusia yang dua golongan itu menganut "dua aliran fikiran" dalam sejarah hidupnya, timbullah suatu kaum yang menganut "aliran fikiran" lain yaitu blok ketiga yang netral. Tetapi "Aliran fikiran" itu ada yang diterjemahkan dengan "gunung" pada ayat 18/93, dan "tembok penghalang" pada ayat 18/94. Arti yang berlainan dari suatu istilah yang sama tercantum dalam dua ayat suci berdekatan memberikan kecurigaan bahwa penterjemahnya bersikap meraba-raba dalam karyanya.

   Istilah "saddu" yang berarti "aliran fikiran" dituliskan "gunung" di suatu ayat suci, "tembok penghalang" pada ayat suci berikutnya, sementara itu dituliskannya "palang" dalam menterjemahkan ayat  36/9 :

وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيہِمۡ سَدًّ۬ا
وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّ۬ا فَأَغۡشَيۡنَـٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ

36/9.  Dan Kami jadikan sebelum mereka aliran fikiran dan di belakang merekapun
juga  aliran fikiran lalu Kami tutupi mereka, dan mereka tidak melihat (kebenaran lagi).


وَسَوَآءٌ عَلَيۡہِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
36/10. Dan samalah atas mereka apakah engkau peringati mereka ataukah
tidak engkau peringati, merekapun tidak akan beriman.



b. Istilah  "min duuni hima" dalam ayat  18/93, yang seharusnya berarti "selain keduanya", dituliskan "di depan mereka di sebelah sini".  

  Memang terjemahan ini tak kena mengena dengan istilah aslinya.

c. Istilah "qaulu" yang tercantum dalam ayat 18/93, yang seharusnya berarti "perkataan", dituliskan "pembicaraan", padahal orang sama mengetahui bahwa "perkataan" hanyalah kata yang diucapkan sedangkan "pembicaraan" ialah kata-kata dalam kalimat.

d. Istilah "kharja" yang tercantum dalam ayat 18/94, yang semestinya berarti "pengeluaran", untuk ini kita pakai istilah "balasan", namun dituliskan "upeti". Padahal yang dimaksud oleh kaum yang tertulis dalam ayat suci itu ialah balasan atau pengeluaran yang akan diberikan kepada zulkarnain jika dia sempat membentuk suatu aliran fikiran baru sebagai blok netral, sedangkan "upeti"  adalah pembayaran yang dipaksakan pada suatu kaum yang kalah dalam perang.


Pampasan perang (upeti)

Sebaliknya tentang istilah "upeti" yang seharusnya dipakai dalam terjemahan, ada dituliskan "rampasan perang". Hal ini tercantum dalam terjemahannya mengenai ayat 8/1.

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِ*ۖ
قُلِ ٱلۡأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ*ۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ
وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِڪُمۡ*ۖ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥۤ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

8/1.   Mereka bertanya padamu tentang pampasan perang (upeti), katakanlah,
"pampasan perang itu untuk Allah dan Rasul". Maka insyaflah padaNYA dan berbuat
shalehlah di antara sesamamu serta patuhilah Allah dan RasulNYA
jika kamu orang-orang beriman.



Sebenarnya sesuatu yang berupa rampasan perang tiada istilahnya dalam hukum Alquran. Rampasan perang demikian tak pernah berlaku semenjak Muhammad menjadi Nabi dan Rasul hingga beliau sampai meninggal dunia begitu pula tak pernah berlaku dalam sejarah perkembangan Islam yang berdasarkan hukum Alquran. Begitupun sampai saat kini, jangankan orang-orang Islam, malah bangsa-bangsa yang menganut agama lainpun tak pernah melakukan rampasan perang.

    Dalam hal ini, ada yang telah menterjemahkan ayat suci mengenai hukum perang dalam ketentuan yang bertentangan dari apa yang tercantum dalam Alquran.




Pampasan perang atau upeti ini didapatkan sebagai hasil dari menang perang menurut ketentuan ayat 9/29.

قَـٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا
يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ
وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥ وَلَا يَدِينُونَ
دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡڪِتَـٰبَ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ عَن يَدٍ۬ وَهُمۡ صَـٰغِرُونَ

9/29.  Perangilah orang-orang yang tidak percaya pada Allah dan pada Hari yang akhir
serta orang-orang yang tidak mengharamkan apa-apa yang diharamkan Allah dan Rasul-NYA.
Begitupun orang-orang yang tidak beragama dengan agama logis, yaitu orang-orang yang
didatangkan Kitab hingga mereka membayar upeti dengan tangan mereka
selaku orang-orang kecil (derajatnya).


  Dalam perang yang dilancarkan orang-orang Islam, ada empat hal yang mungkin berlaku:

Pertama : Orang-orang Islam menang perang, kaum yang diperangi mengaku kalah menyerah sementara itu mereka diwajibkan membayar upeti "jizyah" tersebut pada ayat 9/29 atau pampasan perang "anfaal" tersebut pada ayat 8/1. Dalam hal ini, kaum yang kalah itu tidak boleh dijajah apalagi dijadikan budak.

Kedua : Orang-orang Islam menang perang, kaum yang diperangi tak mau  menyerah malah meninggalkan negerinya dan segala harta yang tak mungkin dibawa pergi, melarikan diri ke negeri lain. Maka negeri serta harta yang ditinggalkan pemilik itu boleh dikuasai oleh orang-orang Islam, namun mereka yang masih tinggal akan tetap jadi pemilik syah atas harta bendanya tetapi harus membayar upeti menurut ketentuan ayat 9/29, tak boleh dijadikan budak, dan mereka mempunyai hak penuh atas negerinya tetapi dalam derajat rendah sebagai minoritas.

    Atas harta benda yang ditinggalkan kaum pelarian tadi, kekuasaan orang-orang Islam berlaku berdasarkan ketentuan.

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم
مِّن شَىۡءٍ۬ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ ۥ
وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينِ
وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ
عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِ*ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ

8/41.   Ketahuilah bahwasanya apa yang kamu peroleh tentang sesuatu (dari perang)
maka untuk Allah seperlimanya dan untuk Rasul, dan untuk kerabat, serta anak-anak yatim,
dan orang-orang miskin dan pejuang-pejuang.   Hal itu jika kamu beriman pada Allah dan
pada apa-apa yang Kami turunkan atas hamba Kami pada hari adanya garis pemisah
yaitu pada hari berhadapan dua kumpulan; Dan Allah
menentukan atas tiap sesuatu.



Perincian harta benda yang diperoleh dari yang ditinggalkan pelarian perang itu ialah : seperlima untuk usaha menegakkan agama Islam yang diredhai Allah dilaksanakan oleh Rasul yang jadi pimpinan masyarakat Islam, seperlima untuk kaum kerabat dari pejuang yang mati dalam perang, seperlima untuk orang-orang miskin, dan seperlima lagi untuk pejuang-pejuang yang kembali dari perang.

    Dalam hal ini tidak pernah ada istilah "budak" dan rampasan; Pembahagian tersebut lebih mengutamakan sosial ekonomi mereka yang kekurangan dan untuk ketinggian Islam. Dalam pembahagian harta demikian tiada gambaran yang memperlihatkan memperkaya diri dan kemegahan, tiada alasan bagi seseorang untuk mendapatkan harta yang banyak. Jika pampasan perang tersebut pada ayat 8/1, atau upeti yang tercantum dalam ayat 9/29 hanyalah untuk kepentingan usaha mempertinggi nilai Islam seperti untuk pembangunan keamanan,  pendidikan pelajaran, kesehatan dan dakwah Islamiyah, maka barulah dari harta benda yang ditinggalkan pelarian, perang pada ayat 8/41 terdapat pembahagian milik terperinci secara pribadi-pribadi.

Ketiga ; Dalam suatu peperangan mungkin orang-orang Islam mengadakan perdamaian dengan fihak lawan dengan data-data perjanjian terperinci. Sebahagian ketentuan tentang perdamaian ini tercantum dalam ayat 4/90, 4/91, 8/19 dan 8/38.

Dalam hal ini tiada yang disebut rampasan perang, pampasan perang dan sebagainya.

Keempat: Orang-orang Islam mungkin mengalami kekalahan dalam suatu peperangan maka berlakulah dua hal yang lumrah: sebahagian mereka hijrah ke negeri lain untuk menyusun rencana perjuangan selanjutnya dalam mencapai kemenangan, dan sebahagian lain terpaksa tinggal karena tak berdaya, namun juga ada yang berobah jadi munafik terpengaruh oleh alam keduniaan. Bagi mereka yang tinggal ini akan berlaku tekanan politik yang merubah pendirian mereka dari beriman menurut hukum Islam kepada sikap-sikap yang menuju perbuatan kafir.  Semua ini tercantum dalam  ayat  suci yang diberikutkan di bawah ini:

. . .  وَٱلۡفِتۡنَةُ أَڪۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِ*ۗ
وَلَا يَزَالُونَ يُقَـٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِڪُمۡ إِنِ
ٱسۡتَطَـٰعُواْ*ۚ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ ڪَافِرٌ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ
حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ*ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ*ۖ هُمۡ فِيهَا خَـٰلِدُونَ

2/217.  .......  Dan fitnah (kesusahan berupa ujian dan perkosaan) itu lebih besar daripada perang.
Dan mereka tidak akan luput dari memerangi kamu hingga mereka mengembalikan kamu keluar dari agamamu
jika mereka menyanggupi.  Dan siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya lain dia mati sedangkan
dia kafir maka amalan mereka jadi lenyap di dunia dan di Akhirat. Itulah kawanan neraka,
mereka kekal di dalamnya.


إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ
وَجَـٰهَدُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَرۡجُونَ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ*ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

2/218.  Bahwa orang-orang yang beriman serta orang-orang yang hijrah dan berjuang
pada garis hukum Allah, itulah orang-orang yang mengharapkan Rahmat Allah dan
Allah pengampun penyayang.


وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
وَهَاجَرُواْ وَجَـٰهَدُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ
وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّ۬ا*ۚ لَّهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ وَرِزۡقٌ۬ كَرِيمٌ۬

8/74.  Dan orang-orang beriman serta hijrah dan berjuang pada garis hukum Allah
begitupun orang-orang yang melindungi dan menolong mereka, itulah orang-orang Mukmin login,
untuk mereka itu keampunan dan rezki yang mulia.


وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۢ بَعۡدُ
وَهَاجَرُواْ وَجَـٰهَدُواْ مَعَكُمۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مِنكُمۡ*ۚ
وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٍ۬ فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ*ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمُۢ

8/75.  Orang-orang beriman sesudahnya dan hijrah serta berjuang bersamamu,  
maka mereka itu termasuk golongan kamu dan orang-orang yang berkasih sayang,
setengah mereka utama pada setengahnya dalama ketetapan Allah.  
Bahwa Allah mengetahui setiap sesuatu.


وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا
ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬*ۖ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأَخِرَةِ أَكۡبَرُ*ۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ

16/41.  Orang-orang yang hijrah pada hukum Allah sesudah dizalimi,
akan Kami tentukan kebaikan bagi mereka di dunia ini, dan upah di Akhirat lebih besar,
kalau mereka mengetahui.


يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِى وَٲسِعَةٌ۬ فَإِيَّـٰىَ فَٱعۡبُدُونِ
29/56.  Wahai hamba-hambaKU yang beriman, bahwa Bumi-KU ini luas maka
menyembahlah kepada AKU saja.



Ingatlah bahwa dalam berbagai keadaan perang yang dibicarakan tadi tiada istilah rampasan perang, begitupun istilah "budak" yang berlaku dalam hukum Islam. Tetapi praktis terdapat dalam peperangan demikian apa yang dinamakan "tawanan" seperti yang tercantum dalam ayat 8/67, 8/70, 2/85, dan 33/26. Dan tawanan ini akan tiada lagi bilamana perang selesai dalam bentuk damai, menang ataupun kalah.
avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by dade on Wed Oct 22, 2014 9:10 am

BUDAK

Sehubungan dengan istilah "budak" marilah kita kemukakan beberapa terjemahan ayat suci :

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ
وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ
وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ
وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةِ وَٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ
عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينَ
وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآٮِٕلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ
وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَـٰهَدُواْ*ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلۡبَأۡ
سَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِ*ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ*ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ

2/177.  Tidaklah kebaikan itu karena kamu memalingkan wajahmu ke arah timur dan barat,
akan tetapi kebaikan itu ialah bagi orang beriman pada Allah serta Hari yang akhir dan malekat dan
Kitab dan Nabi-Nabi serta memberikan harta atas kecintaannya kepada   kerabat dan anak-anak yatim
dan orang-orang miskin dan pejuang-pejuang (untuk garis hukum Allah) dan orang-orang yang
minta-minta dan pada penjagaan (negeri) serta mendirikan Shalat dan memberikan zakat
serta menunaikan janji ketika mereka berjanji dan orang-orang yang tabah dalam
kesengsaraan dan dalam keadaan bahaya dan ketika dalam keadaan kuat.
Itulah orang-orang yang benar dan itulah mereka yang insyaf.


إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ
وَٱلۡمَسَـٰكِينِ وَٱلۡعَـٰمِلِينَ عَلَيۡہَا
وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُہُمۡ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَـٰرِمِينَ
وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ*ۖ فَرِيضَةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ*ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَڪِيمٌ۬

9/60.  Bahwa sedekah-sedekah  itu adalah untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin,
dan orang-orang yang bekerja mengurus mereka, dan orang-orang yang hatinya sedang dibangun
(untuk Islam), dan pada penjagaan (negeri), dan orang-orang yang mendapat kecelakaan dan
pada garis hukum Allah dan untuk pejuang-pejuang, selaku kewajiban dari Allah.
Dan Allah mengetahui lagi bijaksana.



Istilah "garimiin" kita artikan dengan "yang mendapat kecelakaan" sehubungan dengan pernyataan dalam ayat 25/65 yang menyebutkan bahwa neraka adalah sesuatu yang mencelakakan.




    Sementara itu, mengenai istilah "riqaab" seharusnya berarti "penjagaan", sehubungan dengan istilah "raqaba" yang berarti "menjaga" dalam ayat 20/94, dengan istilah "raqabah" berarti "bujang penjaga" dalam ayat 4/92, 5/89, 58/3, 90/13; dengan istilah "raqiib" yang berarti "penjaga" atau yang menjaga pada ayat 4/1, 5/117, 11/93, 33/52, 50/18.

Jika istilah-istilah itu belum kuat untuk dijadikan alasan, maka di bawah ini kita cantumkan pula ayat suci sesungguhnya mengandung "riqaab" yang artinya tidak lain dari (penjagaan):

فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُ
واْ فَضَرۡبَ ٱلرِّقَابِ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَثۡخَنتُمُوهُمۡ
فَشُدُّواْ ٱلۡوَثَاقَ فَإِمَّا مَنَّۢا بَعۡدُ وَإِمَّا فِدَآءً حَتَّىٰ تَضَعَ
ٱلۡحَرۡبُ أَوۡزَارَهَا*ۚ ذَٲلِكَ وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَلَـٰكِن
لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَڪُم بِبَعۡضٍ۬*ۗ وَٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعۡمَـٰلَهُمۡ

47/4.   Ketika kamu menemui orang-orang kafir maka adakanlah kekuatan penjagaan hingga
ketika kamu menyerang mereka, maka teguhkanlah pengaturan, lalu apakah kemudiannya keutamaan
(kemenangan) ataukah perjanjian (tebus menebus) hingga perang itu meletakkan resikonya. Kalau
Allah menghendaki, tentulah akan DIA balas pada mereka, akan tetapi agar DIA menguji
setengah kamu pada setengahnya. Dan orang-orang yang terbunuh dalam
garis hukum Allah,  tidaklah akan DIA sesatkan amal-amal mereka.



Dalam terjemahan ayat 47/4 ini tidak mungkin mengartikan “riqaab” dengan “hamba sahaya” atau budak. Namun memakai makna “penjagaan”, akan terwujudlah pengertian yang baik bahwa sesudah diadakan penjagaan dapatlah dilakukan penyerangan, bukanlah musuh dipancung dulu; kemudian ditaklukkan dan diikat.


B.  Istilah "aimaan" yang tercantum dalam Alquran, ada diterjemahkan dengan berbagai makna, padahal artinya ketentuan hukum, ikatan hukum dan wewenang hukum yang berlaku, baik dalam perkawinan maupun dalam beragama dan kekuasaan. Semua itu dapat disingkatkan jadi "tatahukum".

   Jika dalam ayat suci tercantum "aimaan" maka artinya ialah "hukum agama" ataupun "hukum kekuasaan", tetapi bila tercantum "ma malakat aimaan" artinya ialah "yang telah jadi keluarga tersebab pernikahan yang berlaku": Karena itulah singkatannya disebut dengan "tatahukum" saja.

   Tetapi istilah itu ada yang diartikan dengan “hamba-hamba” tersebut dalam terjemahan ayat 4/36, 16/71, 24/31, 33/55, 70/30: Diartikannya dengan "budak" dalam ayat l6/92, 16/94, 24/33, 24/58, 30/28: Diartikannya "sumpah" dalam ayat 2/224, 2/225, 3/77, 5/89, 5/108, 6/109, 9/12, 58/16, 66/2:  Diartikannya  "perjanjian"  pada ayat  4/33, 68/39:  Diartikannya "hamba perempuan" pada ayat 4/3: Diartikannya "perempuan tawanan" pada ayat 23/6: Diartikannya “kanan” pada ayat 66/8, dan diartikannya  “sekuat-kuat sumpah" dalam terjemahan ayat 5/53, 16/38, 24/53, dan 35/42.

Dengan berbagai arti yang demikian dari satu-satu istilah yang sama tercantum dalam banyak ayat suci, tentullah para pembaca terjemahan tersebut menjadi pusing kepala hingga ahhirnya meragukan ketentuan hukum Allah dalam Alquran, karenanya usaha penterjemahan demikian bukannya untuk mempertinggi syiar dan keyakinan beragama malah sebaliknya akan menimbulkan anggapan bahwa ketentuan hukum dalam Kitab Suci itu tidak dapat dipedomani.

    Sebagai contoh, marilah kita kutipkan beberapa terjemahan mengenai ayat-ayat suci yang di dalamnya terkandung istilah "aimaan", kemudian kita banding dengan terjemahan yang sewajarnya dengan mana para pembaca dapat memahami maksud ayat-ayat Alquran :

وَلِڪُلٍّ۬ جَعَلۡنَا مَوَٲلِىَ مِمَّا
تَرَكَ ٱلۡوَٲلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ*ۚ وَٱلَّذِينَ عَقَدَتۡ
أَيۡمَـٰنُڪُمۡ فَـَٔاتُوهُمۡ نَصِيبَہُمۡ*ۚ إِنَّ ٱللَّهَ ڪَانَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ شَهِيدًا

33.   Dan bagi masing-masing orang

    Kami adakan pewaris atas milik

    Yang ditinggalkan orang tua

                        dan kerabat.

    Dan mereka dengan siapa kamu

                       mengiKat perjanjian

    Berikanlah kepadanya bagiannya.      

    Sungguh, Allah menjadi saksi

              atas segala sesuatu.



4/33.   Bagi setiapnya Kami jadikan pengurusan dari apa yang ditinggalkan ibu bapak
dan kerabat yang lebih dekat,  dan begitupun orang-orang yang ditentukan tata-hukummu,  
maka berikanlah pada mereka bahagian mereka. Bahwa Allah mengetahui tiap sesuatu.



Di sini dinyatakan bahwa setiap harta pusaka, baik yang ditinggalkan ibu bapak, dan kerabat, begitupun yang ditinggalkan orang yang telah terikat dalam hubungan pernikahan, ada bahagian-bahagian tertentu yang harus diberikan kepada orang-orang yang berhak. Dalam hal ini bukanlah disebutkan harus diberikan kepada orang yang dengannya telah diikat perjanjian. Jika perjanjian ini memang ada, maka dia termasuk hutang yang harus dibayar sebelum pembahagian harta pusaka sebagaimana tercantum pada ayat 2/282, 4/11, dan 4/12.



Orang-orang kafir tak diselamatkan oleh Agama mereka.

Di sini Allah mengecam orang-orang kafir bahwa pada mereka tiada suatu ketentuan hukum dalam agama yang dianutnya untuk menyelamatkan diri sampai pada hari kiamat. Apalagi ketentuan hukum yang melebihi hukum yang diturunkan Allah. Maka dalam hal ini bukanlah dimaksudkan perjanjian yang diperkuat dengan sumpah.

أَمۡ لَكُمۡ أَيۡمَـٰنٌ عَلَيۡنَا بَـٰلِغَةٌ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ*ۙ إِنَّ لَكُمۡ لَمَا تَحۡكُمُونَ
68/39.  Ataukah padamu ada tatahukum atas Kami yang menerangkan sampai Hari kiamat
bahwa padamu ada yang kamu hukumkan itu ?




Dalam hati seseorang yang dinilai


Allah  menyatakan tidak mengambil syah kata-kata yang diucapkan secara bermain-main dalam beragama, tetapi DIA memberikan penilaian pada apa yang terkandung dalam hati seseorang, yang kemudian terlaksana dalam sikap hidup sehari-hari. Makanya bukanlah yang dimaksudkan itu kekeliruan dalam  bersumpah, yang sebenarnya tak  mungkin berlaku.

لَّا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ
فِىٓ أَيۡمَـٰنِكُمۡ وَلَـٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوبُكُمۡ*ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ۬

2/225. Allah tidak menerima (menyiksa.) kamu atas obrolan dalam tatahukummu,  
akan tetapi DIA menerima kumu atas sikap hatimu, dan Allah itu pengampun penyantun.




MURTAD

Bahwa orang-orang yang mulanya telah membenarkan ketentuan hukum Allah dan mengakui beragama Islam, tetapi kemudiannya tertarik oleh  kesenangan duniawi, lalu meninggalkan  hukum-hukum Islam, maka orang-orang itu termasuk golongan kafir yang merugi pada kehidupan di Akhirat nanti.  Jadi yang dimaksud dalam ayat suci ini bukanlah orang yang menjual janji dan sumpahnya pada Allah sedangkan dia masih mematuhi ketentuan hukum lainnya dalam agama Islam.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَشۡتَرُ
ونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَأَيۡمَـٰنِہِمۡ ثَمَنً۬ا
قَلِيلاً أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَا خَلَـٰقَ لَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ وَلَا
يُڪَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيۡہِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَلَا يُزَڪِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬

3/77.   Bahwa orang-orang yang menukar ketegasan Allah dan tatahukum mereka dengan nilai sedikit,
itulah orang-orang yang tiada upaya untuk mereka di Akhirat nanti.  Allah tidak akan bicara pada mereka
dan DIA tidak memperhatikan mereka pada Hari Kiamat serta tidak akan mencerdaskan mereka dan
untuk mereka siksaan pedih.




POLIGAMI (TataHukum)

Dalam terjemahan ayat 4/3 ini, ada yang telah memberikan beberapa salah makna dan salah pengertian hingga ketentuan hukum mengenai perkawinan jadi berobah dari apa yang sebenarnya :

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِى
ٱلۡيَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ
ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ*ۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا
تَعۡدِلُواْ فَوَٲحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُكُمۡ*ۚ ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ

4/3. Dan jika kamu cemas tidak dapat berbuat effektif pada anak-anak yatim maka nikahilah
perempuan yang rasanya baik untukmu dua tiga dan empat. Jika kamu cemas tidak dapat berlaku adil,
maka hendaklah satu saja atau (isteri) yang telah dimiliki tatahuKummu saja yang demikian lebih
rendah agar kamu tidak berbuat sombong.


Pertama : Istilah "tuqsituu" dan "ta'diluu" diartikan sama saja, padahal yang satu berarti "berbuat effektif" dan yang lainnya berarti "bersikap adil".

Kedua : Ayat suci ini bukan menganjurkan agar orang menikahi anak-anak yatim perempuan, karena selaku yatim tentunya masih di bawah umur yang belum pantas dinikahi, tetapi menganjurkan agar orang menikahi ibu dari anak-anak (yatim perempuan atau lelaki) itu sendiri. Istilah "yatim" dalam Alquran tidak ditentukan untuk yang perempuan atau yang lelaki saja, tetapi keduanya, karenanya teranglah yang dinikahi dalam ayat 4/3 itu bukanlah anak-anak yatim, tetapi ibunya.

Ketiga: Dalam Islam tiada yang dikatakan dengan "budak" apalagi hukum Islam ini berlaku sampai ke akhir zaman. Di zaman Nabi pun hamba atau budak demikian tidak ada. Maka yang dimaksud dalam ayat 4/3 tersebut ialah, "kalau kamu tidak dapat bersikap adil maka hendaklah menikahi seorang perempuan saja, dan jika kebetulan telah ada isteri, satu atau lebih, maka cukup itu saja dan janganlah diceraikan mereka hingga kamu beristeri satu. "Ma malakat aimaanukum" di sini berarti "perempuan yang menurut ketentuan hukum telah syah jadi isterimu".

Ayat 4/3 ini berfungsi kesempurnaan sosial ekonomi masyarakat, bahwa adakalanya terdapat kematian lelaki yang akhirnya mengakibatkan adanya anak-anak yatim dengan kehidupan terlantar. Dalam hal ini, lelaki lain yang berkesanggupan dianjurkan agar sudi menikahi janda yang beranak yatim tadi, tetapi jika rasanya tak mungkin bersikap adil cukuplah beristeri seorang janda saja atau isteri yang selama ini telah jadi milikmu menurut hukum yang berlaku. Jadi bukanlah ayat suci ini menyuruh menikahi anak-anak yatim karena ayat suci berikutnya, ayat 4/4, menyuruh sang suami memberikan belanja kepada perempuan yang jadi isterinya, bukan anak yatim yang jadi isterinya. Hal inipun dibuktikan pula dengan maksud ayat 4/127 tentang menikahi "perempuan yang beranak yatim". Jelasnya perhatikanlah maksud ayat suci tersebut.

وَيَسۡتَفۡتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ*ۖ
قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيڪُمۡ فِيهِنَّ وَمَا يُتۡلَىٰ
عَلَيۡڪُمۡ فِى ٱلۡكِتَـٰبِ فِى يَتَـٰمَى ٱلنِّسَآءِ
ٱلَّـٰتِى لَا تُؤۡتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرۡغَبُونَ أَن
تَنكِحُوهُنَّ وَٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلۡوِلۡدَٲنِ وَأَن تَقُومُواْ
لِلۡيَتَـٰمَىٰ بِٱلۡقِسۡطِ*ۚ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمً۬ا

4/127. Mereka menanyai engkau tentang perempuan, katakanlah, "Allah memberi keterangan
kepadamu tentang mereka begitupun apa yang dianalisakan atasmu dalam Kitab tentang perempuan
yang beranak yatim yang tidak kamu berikan pada mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka
sedangkan kamu cinta menikahi mereka. Begitu juga tentang orang-orang tertindas dari sebab
anak-anak, dan agar kamu berdiri untuk anak-anak yatim dengan effektivitas.
Apa-apa yang kamu perbuat dari kebaikan maka Allah mengetahuinya.


Ayat 4/127 ini menguatkan keterangan ayat 4/3 dan 4/4, bahwa kehidupan orang-orang yang beranak yatim haruslah mendapat perhatian dari orang-orang yang mampu dan kepada mereka harus diberikan hal-hal yang effektif. Begitu pula agar orang yang mampu itu hendaklah menikahi perempuan yang beranak yatim yang kebetulan menarik hati. Pada kedua golongan ini haruslah diberikan perhatian dan ongkos hidup yang sifatnya effektif untuk kesempurnaan sosial ekonomi.




Karenanya hukum perkawinan dalam Islam membolehkan poligami terhadap lelaki yang mampu untuk menikahi perempuan yang beranak yatim dalam usaha meningkatkan kemakmuran umum, tetapi bukanlah untuk menikahi anak-anak yatim sebagai yang dikatakan ataupun untuk menikahi gadis-gadis cantik hingga lebih dari satu. Hukum perkawinan demikian tidak merendahkan derajat wanita bahkan sebaliknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya dari masyarakat sekitar. Bagaimana nantinya, bila janda-janda yang beranak yatim itu tersebab desakan ekonominya terpaksa berbuat serong yang akhirnya merusak kestabilan umum dalam masyarakat setempat. Janda-janda itu adalah perempuan-perempuan yang harus dibantu zahir batin, maka perempuan-perempuan lain pun harus prihatin terhadap nasib mereka sembari menjaga kerukunan rumah tangga sendiri.


Kekikiran orang-orang kaya dalam bersedekah
perhatikan terjemahan tentang istilah "aimaan" yang seharusnya berarti "tatahukum".

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ
بَعۡضٍ۬ فِى ٱلرِّزۡقِ*ۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّى
رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَڪَتۡ أَيۡمَـٰنُہُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌ*ۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ

16/71.  Dan Allah mengurnia setengah kamu di atas setengahnya tentang rezki,
maka tidaklah orang yang dikurnia itu mengembalikan pada-KU rezki mereka atas peraturan
tatahukum mereka, maka (kedua golongan) orang itu sama saja, apakah dengan nikmat
Allah mereka itu akan menantang ?



Ayat suci ini menyatakan kekikiran orang-orang kaya dalam bersedekah menurut hukum Islam. Keadaan mereka sama saja dengan orang-orang miskin, yang satu kikir bersedekah, sedangkan yang lainnya tidak sanggup bersedekah untuk kepentingan hukum Allah.


Jangan campurkan dengan Hukum dari Luar

Yang dimaksud dalam ayat suci ini ialah bahwa orang-orang Islam tidak boleh mencampur adukkan ketentuan hukum agamanya dengan ketentuan hukum agama lain. Kalau hal ini berlaku juga, maka terdapatlah sikap yang mengelak dari hukum Allah, berakibat siksaan besar.

وَلَا تَتَّخِذُوٓاْ أَيۡمَـٰنَكُمۡ
دَخَلاَۢ بَيۡنَڪُمۡ فَتَزِلَّ قَدَمُۢ بَعۡدَ ثُبُوتِہَا
وَتَذُوقُواْ ٱلسُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ*ۖ وَلَكُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

16/94.  Dan janganlah adakan tatahukummu memasuki (yang lainnya) di antara kamu
karena akan tersesatlah pendirian sesudah kuatnya dan kamu akan merasakan kejahatan
tersebab kamu mengelak dari garis hukum Allah, dan untukmu siksaan besar.



Di sini ada yang menterjemahkan "aimaan" dengan "sumpah", dan untuk itu ditambahnya dengan "Untuk melakukan penipuan" agar kalimat yang dituliskan jadi harmonis. Kemudian itu, kalimat yang " ..... mengelak dari garis hukum Allah" ditulisnya jadi ........ menantang orang dari jalan Allah.

Di sini terdapat perbedaan antara "mengelak dari hukum" dan "menantang orang", yaitu pengertian yang sangat berlainan.
avatar
dade
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 40
Posts : 207
Location : bEkAsi
Join date : 04.03.12
Reputation : 11

http://myquran.org

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir Alquran Modern

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik