FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

cermin diri

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

cermin diri

Post by keroncong on Sun Dec 18, 2011 3:54 pm

KH Rahmat Abdullah (Ketua MPP Partai
Keadilan)



Orang-orang bijak pernah berpesan "Ma halaka
‘amru-un arafa Qadra nafsihi" (Tak akan celaka orang yang kenal harkat dirinya).
Telah banyak orang binasa karena terlalu tinggi memasang harga diatas realita
dirinya. Banyak yang lenyap dari peredaran karena terlalu murah menghargai
dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau perasaan tidak mampu dan tidak punya
apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang berjalan dalam tidur atau tidur
sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah bisa menyadari dimana
posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang mengancam
ummatnya.



Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau
pemerintahan kerap terjebak dalam wa-ham-waham kekuasaan ; berbahasa dan
bertindak dengan pendekatan kekuasaan. Mereka yang ‘berkuasa’ merasa percaya
diri, hanya karena secara de jure punya otoritas atas wilayah territorial,
wilayah problematika dan wilayah sumber daya manusia. Bahwa wilayah ruhaniyah
dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan begitu saja oleh senjata, uang dan
kedudukan, kerap luput dari renungan. Entah karena inikah ketika ALLAH
mengaitkan keselamatan dunia dengan keberadaan Ulu Baqiyah (orang-orang yang
potensial dipertahankan keberadaannya) dan mengemban misi ‘mencegah kerusakan di
muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang (berbakat) zalim terus saja
mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan karenanya mereka menjadi durhaka (Qs.
10;116).



Ghurur Hal terberat yang kau hadapi bukan
keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sekeras apapun
hati mereka, kekuatan Hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran
da’wahmu, dengan idzin-Nya. Bila itu pun tidak, engkau tak akan dipersalahkan,
karena tataranmu dakwah dan tataran-Nya hidayah. Cobaan berat, justru pada
percaya diri yang tidak proporsional. Engkau nikmati benar sanjungan orang
terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu.
Malang nasibmu wahai orang yang percaya kepada kejahilan orang yang
menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu.
Mentalitas Qarun tersimpul dalam satu kalimat "Hadza Li" (Semua ini karyaku,
karena aku, milikku).



Ketika arogansi mendominasi hubungan ‘yang adi
daya’ dengan ‘yang tak berdaya’, maka yang pertama harus membayar ongkos yang
sangat mahal ; dari antipati sampai kutukan mereka yang tak berdaya. Berat
menyadarkan orang yang otaknya berjelaga, egois dan hanya melihat apa yang
mereka anggap hak, tanpa kesadaran seimbang akan kewajiban. Kepada mereka Imam
Syafii menegaskan :



Bila engkau mendekatiku, mendekat pula cintaku
Jika engkau menjauh, aku kan lebih jauh darimu Dalam hidup masing-masing kita
Tak bergantung dengan saudara Dan kita lebih tidak bergantung lagi bila tamat
usia



Orang yang mentah fikiran selalu mengandalkan
sanjungan kosong, tak berbasis pada prestasi, atau mungkin mereka berprestasi,
namun menganggap itu sebagai hal besar yang memungkinkan mereka memonopoli
kebajikan. "Mereka membangkit-bangkit keislaman mereka (sebagai jasa) kepadamu.
Katakan : ‘Janganlah kalian bangkit-bangkitkan kepadaku keislamanmu, akan tetapi
ALLAH lah yang telah memberi karunia besar dengan membimbing kalian kepada
Iman…" (Qs. 49:17)



Sebelum bubarnya Uni Sovyet, ada dua spesies
yang sangat dibenci rakyat ; 1. Partai Komunis, 2. etnik Rus. Yang pertama
dibenci karena selalu ingin campur dalam segala urusan orang. Dari urusan
menteri, tentara, pegawai negeri, isteri pegawai, anak pegawai sampai
mimpi-mimpi rakyat. Yang kedua tak tahu diri sebagai mayoritas, bagaikan truk
besar yang berlari kencang, anginnya mementalkan kendaraan-kendaraan kecil di
tepi jalan.



Cermati bagaimana karakter kekuasaan itu
tumbuh. Banyak orang yang berkuasa mengabaikan pengenalan wilayah-wilayah
kekuasaan dengan segala karakternya. Pemerintah yang mempunyai otoritas
memulainya dengan 3 wilayah : 1. Wilayah ardliyah (teritorial), 2. Wilayah
insaniyah (kemanusiaan, SDM, rakyat), 3. Wilayah masailiyah (problematika).
Dengan ketiga otoritas ini mereka dapat menggusur tanah rakyat, membagi HPH,
menaikkan pajak, tarif, UMR, memainkan money politik, mencetak uang untuk
kepentingan partai, membunuh karakter lawan politik dan memenjarakan mereka.
Berapa lama mereka dapat berkuasa dengan tiga pilar ini ? Entahlah, yang jelas
telah bertumbangan begitu banyak rezim dengan begitu banyak dana, senjata dan
tentara. Mereka melupakan 2 wilayah yang sebenarnya pagi-pagi harus sudah
dikuasai, bahkan sebelum mereka menguasai wilayah-wilayah lainnya. Jauh sebelum
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam hijrah ke Madinah, rumah-rumah disana
sudah menaungi begitu banyak muslim.



Pada penghujung era Makkiyah, baiah Aqabah II
telah menyuratkan pesan yang begitu kuat. "Kami siap melindungi Rasulu’Llah
Shallallahu’alaihi wasallam , sebagaimana kami melindungi anak-anak dan
isteri-isteri kami". Madinah telah dikukuhkan menjadi bumi Islam sebelum para
Muhajir berangkat kesana. Rasulullah sudah ditunggu dengan segala kerinduan,
sebelum mereka melihat wajahnya. Da’wah Qur-an telah mengakar dalam wilayah
ruhaniyah dan wilayah fikriyah mereka, dua wilayah yang pada saatnya melahirkan
energi besar, mengalahkan semua penguasa yang hanya berpuas diri dengan tiga
wilayah yang serba refleks, fenomenal dan efektif untuk waktu
singkat.



Wahan Tak kalah beratnya beban mental orang
yang sama sekali tak mampu memberikan kontribusi. Ia sendiri tak mampu membantu
dirinya sendiri, bahkan dengan sekedar percaya dan menyadari bahwa dirinya dapat
berperan. Paradigma "La syai-a indi" (Saya tak punya apa-apa), telah banyak
merugikan ummat. Dari sini orang berbuat, dari kontra produktif sampai amoral.
Ia tak merasa ada kaitan sepak-terjangnya dengan lingkungannya. Ia mampu
melumuri citranya – sama seperti mereka yang over pede – tanpa cemas hal itu
akan berdampak luas, bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Mereka banyak
memubadzirkan umur dan hidup tanpa program. Rendah diri dan karenanya tak jarang
merawat hasad, dengki dan khianat.



Mereka dapat tampil dalam figur seorang alim,
publik figur dan apa saja yang ‘mulia’, namun mengabaikan berkah amal jama’i,
karena merasa ‘tak sebodoh’ komunitasnya atau lupa bahwa dirinya (dapat menjadi)
besar di tengah mereka. Terkadang batas antara orang yang berlebihan percaya
diri dengan yang sangat tak percaya diri, begitu sulit dibedakan. Kritik pedas
bisa datang dari mereka yang gagal melaksanakan apa yang dikritiknya. Atau yang
tak cukup punya keberanian berargumentasi karena kurang pedenya.



Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan
yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya
menopang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang ALLAH amanahkan. Banyak
orang bingung mencari lahan kerja dan lahan kerja Da’wah tak pernah
tutup.



Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan
akan keberatan bila kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini
dengan benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus, sehingga
berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon keadilan, buah kemakmuran,
bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu
menciptakan iri. Ada yang begitu geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar
dari setiap gang dan kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang
cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang dibangun
dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang bukan hanya sisi ini,
namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek ini. Intinya ;
Perubahan.



Dan hari ini puncak gunung es itu telah
memperlihatkan dinamika besar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid
adalah sistem konstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada tempat,
peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu yang tak pernah
padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah
medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus
berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta
bebatuan. Yang tak bergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute
yang jelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar dan
sabar.



Dari semua setting ini, tentukanlah dimana
posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau
pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau
penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan
keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelom-bang dan di seberang ada pantai
harapan.[]



[pks.or.id]
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik