FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

AHMADIYAH QADIAN

Halaman 17 dari 17 Previous  1 ... 10 ... 15, 16, 17

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

AHMADIYAH QADIAN

Post by mang odoy on Thu Oct 20, 2011 6:37 am

First topic message reminder :

Saya tertarik sekali untuk membahas apa dan bagaimana AHMADIYAH.....kontroversi yang berkepanjangan tanpa ada TITIK TEMU yang jelas...itu kesannya.
Sayangnya...banyak dari Umat Muslim menggannggap bahwa hanya ada satu AHMADIYAH...padahal pada kenyataannya...Ahmadiyah ini terbagi jadi 2 golongan :

1. AHMADIYAH LAHORE (GERAKAN AHMADIYAH)
2. AHMADIYAH QADIAN (JEMAAT AHMADIYAH)

Di tret ini...kita akan mencoba untuk mendiskusikan dan mungkin saya akan undang dari pihak mereka untuk hadir di tret ini...sebagai bahan pencerahan..

Sebagai referensi....silahkan buka situs Ahmadiyah QADIAN yang ini..

www.ahmadiyya.or.id

Wasalam,

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 83

Kembali Ke Atas Go down


Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 12:14 pm

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:Ha ha ha ha Pendekar Nahwu tidak terbukti sebagai Pendekar.

Bacalah Surah Al Baqarah yang ada Khatamallu ala quluubihim......
Yeeee....Main petak upet terus nih utusan ahmadi yang ngaku jago Idhafah nih...

Kalo "Khatamallahu" jelas lah kalimat Fi'I'll dong....

Hayo kata "khaatama" yang kita bahas ini Isim apa Fi'I'll....xixixixixixi tak tuntut koe pak.....

Nah, dalam Surah Al Baqarah itu, anda telah mengambil keputusan yang benar. Sekarang ambillah keputusan yang benar dalam Hukum Idhofah-nya untuk kata khatama yang di-idhofat-kan dengan kata jamak, seperti dalam kata Khaataman-Nabiyyin atau Khaatamu Min Dzahabin atau juga seperti dalam Rasulullah.
Jadi menurut anda kalimat Fi'il bisa masuk dalam kaidah Idhofah.......
Xixixixixixi......., Ternyata pak kedung yang TEREAK TEREAK KAYA ORANG KEBELET tidak tau kaidah Idhofah......
???,
Makanya pak belajar lagi Ilmu Nahwunya sama  ustad atau kiayi yang bener di Pesantren pesantren (bila perlu ke pesantren Ngruki.., xixixii) , bkn sama kelompok dari London...., anda tereak tereak kaidah idhofah ternyata anda tidak tau apa dan bagaimana definisi Idhofah...., tobat pak, tobaaat...., sebelum jadi al marhum...,

Bener kan kata saya ANDA MENEPUK AIR MUKA TERPERCIK SENDIRI.....
Seperti membimbing orang yang sedang tersesat, tetapi dia sendiri yang menuduh sesat kepada pembimbing.
Ternyata utusan kaum Ahmadi bagaikan Tong Kosong Nyaring Bunyinya........!!

Tobat...tobat..!!!
Masih ngebahas Idhofah.......?
Pertanyaan saya yang di Atas saja belum mampu menjawab....?

Lha terus pie iki...................
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Tue Oct 14, 2014 12:59 pm

Sebelum saya jawab pertanyaan anda, apakah anda bisa menjawab pertanyaan berikut ini?
Nabi Muhammad saw menyebut Khalifah Ali bin Abu Thalib ra sebagai Khaatamal Aulia, begitupula dengan Mln. Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang diberi gelar oleh para ulama Islam dengan sebutan yang sama. Jika Khaatamal Aulia diartikan Penutup Wali-Wali atau Wali Penutup, kenapa orang-orang Arab menyebut dua orang Khaatamal Aulia, atau bahkan mungkin lebih? Lagipula, kenapa setelah Khaatamal Aulia masih ada para Wali Allah yang lain? Misalnya di Nusantara ada Wali Songo.

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 1:41 pm

Gampang....., sebutin saja Hadistnya kita bahas disini.

Mengenai para ulama yang memberi gelar pada ulama ulama yang lain jangan samakan dengan perkataan Al Qur'an, karena mereka mengikuti jamannya.
Atau ada persamaan kata lain dalam Alqur'an mengenai masalah ini yang artinya berbeda.
Silahkan di Jabarkan.

Silahkan juga jawab pertanyaan saya di Post atas.
Kita bahas kaidah Idhofah, apa bener utusan Ahmadiyah ini jago Nahwu, atau Tong Kosong nyaring bunyinya saja.
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Tue Oct 14, 2014 2:16 pm

@ngayarana wrote:Gampang....., sebutin saja Hadistnya kita bahas disini.

Mengenai para ulama yang memberi gelar pada ulama ulama yang lain jangan samakan dengan perkataan Al Qur'an, karena mereka mengikuti jamannya.
Atau ada persamaan kata lain dalam Alqur'an mengenai masalah ini yang artinya berbeda.
Silahkan di Jabarkan.

Silahkan juga jawab pertanyaan saya di Post atas.
Kita bahas kaidah Idhofah, apa bener utusan Ahmadiyah ini jago Nahwu, atau Tong Kosong nyaring bunyinya saja.

Tidak usah nanya haditsnya, karena nanti anda rewel, seperti para pakar hadits, menanyakan sanad, matan dan perawinya. Lagipula tidak semuanya ada dalam hadits, melainkan dalam buku-buku berikut ini:
Khalifah Ali bin Abu Thalib ra disebut sebagai Khaatamul Aulia. (Tafseer Safi, Surah Al Ahzab)
Imam Shafe'i disebut sebagai Khaatamul Aulia. (At Tuhfatus Sunnia, hal. 45)
Shaikh Muhyiddin Ibn Arabi disebut sebagai Khaatamul Aulia. (Judul halaman pada buku Futuhatul Makkiyyah).

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by putramentari on Tue Oct 14, 2014 2:35 pm

paling juga hadis keciprat keciprut yang digondol

udah paham ane dg tabiat pengikut ghulam ahmad
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 2:36 pm

Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by putramentari on Tue Oct 14, 2014 2:57 pm

monngo di bahas idhofahnya kangmas ngarayana

ane nyimak ajah dulu, sekalian nimba ilmu binar
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 3:30 pm

@putramentari wrote:monngo di bahas idhofahnya kangmas ngarayana

ane nyimak ajah dulu, sekalian nimba ilmu binar
saya sebenarnya pengen denger dulu sih pengertian ala Ahmadiah mengenai masalah Idhofah ini, makanya saya kasih Clue:
Apakah Kalimat "Khaataman Nabiyyina" ini kalimat ismiah atau Fi'liyah, biar jelas apakah ini Idhofah, atau bukan, eeh malah di jadikan seolah olah Na'at Man'ut.

Padahal jelas sebelumnya ada kalimat "Rosuulallah"

Biar Mikir dia... lol
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Tue Oct 14, 2014 3:32 pm

@ngayarana wrote:Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.

Nabi Muhammad saw dan para ulama menyebut Khaatamal Aulia itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab berbahasa. Kemudian, pada zaman Dinasti Abbasiyah ditemukan Kaidah Nahwu Sharaf untuk memahaminya. Jika anda ingin mempelajari keshahihan haditsnya, ya silahkan saja cari. Tetapi, untuk Imam Syafe'i dan Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang juga disebut sebagai Khaatamal Aulia apakah juga diperlukan hadits? Tentu tidak perlu dong.

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 3:46 pm

@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.

Nabi Muhammad saw dan para ulama menyebut Khaatamal Aulia itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab berbahasa.
Lha...Katanya Rosulullah menyebut Sayyina Ali KW Khootamal Aulia.., berarti itu hadist, jadi perlu di perlihatkan hadistnya dong.., Pie Toh iki... awas
Kemudian, pada zaman Dinasti Abbasiyah ditemukan Kaidah Nahwu Sharaf untuk memahaminya.  Jika anda ingin mempelajari keshahihan haditsnya, ya silahkan saja cari. Tetapi, untuk Imam Syafe'i dan Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang juga disebut sebagai Khaatamal Aulia apakah juga diperlukan hadits?  Tentu tidak perlu dong.
Udah di Jawab di Bold

AYOOO...Jangan lari saya ingin tau pengertian idhofahnya Ahmadiyah.... panas


avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by putramentari on Tue Oct 14, 2014 4:06 pm

di rumah ane ada panci yang pake penutup

kemudian tutup panci tersebut hilang dan ditemukan  anak saya, dan dia berkata :

pa', saya udah nemuin PENUTUP PANCI YANG HILANG

apa arti penutup panci tersebut ????


cubit
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Tue Oct 14, 2014 4:14 pm

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.

Nabi Muhammad saw dan para ulama menyebut Khaatamal Aulia itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab berbahasa.
Lha...Katanya Rosulullah menyebut Sayyina Ali KW Khootamal Aulia.., berarti itu hadist, jadi perlu di perlihatkan hadistnya dong.., Pie Toh iki... awas

Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah Khaatamul Ambiyaa dan engkau, hai Ali, adalah Khaatamul Aulia" (Tafsir Safee, Surah Al Ahzab).

@ngayarana wrote:
Kemudian, pada zaman Dinasti Abbasiyah ditemukan Kaidah Nahwu Sharaf untuk memahaminya.  Jika anda ingin mempelajari keshahihan haditsnya, ya silahkan saja cari. Tetapi, untuk Imam Syafe'i dan Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang juga disebut sebagai Khaatamal Aulia apakah juga diperlukan hadits?  Tentu tidak perlu dong.
Udah di Jawab di Bold

AYOOO...Jangan lari saya ingin tau pengertian idhofahnya Ahmadiyah.... panas

Perkataan ulama tentu saja boleh dipertimbangkan, khususnya kebiasaan orang-orang Arab dalam berbahasa atau Lughat ul 'Arab, sering menyatakan Khaatamul Aulia yang artinya tidak hanya Wali Terakhir atau Penutup Wali-Wali, melainkan ada arti lain. Begitupula dengan kata Khaataman-Nabiyyin memiliki banyak arti, tidak hanya Penutup Nabi-Nabi atau Nabi Terakhir.

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Tue Oct 14, 2014 5:03 pm

@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.

Nabi Muhammad saw dan para ulama menyebut Khaatamal Aulia itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab berbahasa.

Lha...Katanya Rosulullah menyebut Sayyina Ali KW Khootamal Aulia.., berarti itu hadist, jadi perlu di perlihatkan hadistnya dong.., Pie Toh iki... awas


Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah Khaatamul Ambiyaa dan engkau, hai Ali, adalah Khaatamul Aulia" (Tafsir Safee, Surah Al Ahzab).

Jangan kaya anak kecil pak ah...., serius lah dikit, kalo tulisan seperti itu brapa banyak orang bisa nulis seperti itu......
Sebutkan dong perawinya, apakah tersambung dengan Rosulullah.
Gimana mau maju kalo gini. Tape Deh

@ngayarana wrote:
Kemudian, pada zaman Dinasti Abbasiyah ditemukan Kaidah Nahwu Sharaf untuk memahaminya.  Jika anda ingin mempelajari keshahihan haditsnya, ya silahkan saja cari. Tetapi, untuk Imam Syafe'i dan Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang juga disebut sebagai Khaatamal Aulia apakah juga diperlukan hadits?  Tentu tidak perlu dong.

@ngayarana wrote:
Udah di Jawab di Bold

AYOOO...Jangan lari saya ingin tau pengertian idhofahnya Ahmadiyah.... panas

Perkataan ulama tentu saja boleh dipertimbangkan, khususnya kebiasaan orang-orang Arab dalam berbahasa atau Lughat ul 'Arab, sering menyatakan Khaatamul Aulia yang artinya tidak hanya Wali Terakhir atau Penutup Wali-Wali, melainkan ada arti lain.  Begitupula dengan kata Khaataman-Nabiyyin memiliki banyak arti, tidak hanya Penutup Nabi-Nabi atau Nabi Terakhir.
Udah di Jawab di Bold.
Sekarang gimana Bicara Idhofahnya......?
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Thu Nov 06, 2014 7:19 pm

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Oh Jelas...., kami harus ceck dan kroscek kebenaran hadist itu, apakah Sahih, Hasan, Dhoif atau sampai Munkar.

Makanya Moto Forum Laskar Islam itu "Menuju Peradaban Syariah", jadi setiap dalil perlu di krosceck apakah sesuai dengan Syariah, agar Umat tidak tersesat.

mengenai para ulama yang anda sebutkan di atas, saya ulangi jangan samakan perkataan mereka dengan Al'quran, karena mereka menamakannya sesuai Zamannya.

sekarang silahkan anda jawab pertanyaan saya di atas, mengenai Idhofah, gak usah malu dan takut salah, kita belajar bersama agar terang, dan bukan ingin saling menjatuhkan, cuma disini hanya ingiin saling mengingatkan saja.

Nabi Muhammad saw dan para ulama menyebut Khaatamal Aulia itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab berbahasa.

Lha...Katanya Rosulullah menyebut Sayyina Ali KW Khootamal Aulia.., berarti itu hadist, jadi perlu di perlihatkan hadistnya dong.., Pie Toh iki... awas


Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah Khaatamul Ambiyaa dan engkau, hai Ali, adalah Khaatamul Aulia" (Tafsir Safee, Surah Al Ahzab).

Jangan kaya anak kecil pak ah...., serius lah dikit, kalo tulisan seperti itu brapa banyak orang bisa nulis seperti itu......
Sebutkan dong perawinya, apakah tersambung dengan Rosulullah.
Gimana mau maju kalo gini. Tape Deh

@ngayarana wrote:
Kemudian, pada zaman Dinasti Abbasiyah ditemukan Kaidah Nahwu Sharaf untuk memahaminya.  Jika anda ingin mempelajari keshahihan haditsnya, ya silahkan saja cari. Tetapi, untuk Imam Syafe'i dan Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi yang juga disebut sebagai Khaatamal Aulia apakah juga diperlukan hadits?  Tentu tidak perlu dong.

@ngayarana wrote:
Udah di Jawab di Bold

AYOOO...Jangan lari saya ingin tau pengertian idhofahnya Ahmadiyah.... panas

Perkataan ulama tentu saja boleh dipertimbangkan, khususnya kebiasaan orang-orang Arab dalam berbahasa atau Lughat ul 'Arab, sering menyatakan Khaatamul Aulia yang artinya tidak hanya Wali Terakhir atau Penutup Wali-Wali, melainkan ada arti lain.  Begitupula dengan kata Khaataman-Nabiyyin memiliki banyak arti, tidak hanya Penutup Nabi-Nabi atau Nabi Terakhir.

Udah di Jawab di Bold.

Sekarang gimana Bicara Idhofahnya......?

Yang sedang didiskusikan adalah kebiasan orang-orang Arab termasuk para ulama Islam dan juga Nabi Muhammad saw dalam mengartikan dua kata Bahasa Arab yang dirangkaikan/di-idhofah-kan. Nah, sekarang silahkan tanya orang-orang Arab, arti kata idhofah berikut:

1. Khaatamul Aulia
2. Khaatamul Mufassirin
3. Khatamu Dzahabin

A. Apakah orang-orang Arab yang anda tanya itu mengartikan ketiga kata idhofah tersebut, 1. Wali Terakhir, 2. Ahli Tafsir Terakhir, dan 3. Emas Terakhir?

B. Apakah arti kata "Khaataman-Nabiyyin" itu hanya "Nabi Terakhir", tidak ada arti lain?

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Sun Nov 09, 2014 11:10 am

Pak kedung......
Kata Khatamul Aulia ataupun Khatamul Mufassirin yang anda contohkan di atas bersifat gelar yang di berikan oleh Manusia ke pada manusia yang lain yang di anggap Mumpuni ataupun mempunyai ilmu agama yang sudah tuntas, sama seperti kita menyelesaikan bacaan atau mengkhatamkan alqur'an, yang artinya menuntaskan hingga selesai dari surat pertama hingga surat terahir, tapi itu semua hanya berlaku pada Zamannya saja, hingga datang kembali seorang yang mempunyai kemampuan yang hampir sama atau sebanding.

Akan tetapi kata Khatamun Nabiyyina adalah gelar yang di sematkan oleh Allah SWT melalui Al qur'an kepada Rosulullah SAW, dan hanya Beliau SAW lah yang menerima gelar tersebut, disamping ucapan beliau yang mengatakan tak akan ada lagi Nabi setelahnya, lalu apa kita hendak menyangkal dari semua itu, hanya untuk ke egoan kita.

Mengenai kata Khatamu Dzahabin, benar itu adalah kalimat idhofah yang menyimpan Min, yang artinya Cincin itu terbuat dari Emas, mengenai kata Khatam yang sebagian di artikan sebagai cincinpun memang tidak salah, sesuai kebiasaan orang arab yang mengikuti peristiwa ketika Rosulullah SAW membuat cincin dari perak yang di bumbuhi tulisan "Muhammad rosulullah" sebagai alat mematerai atau mencap surat, dan sejak itu cincin di sebut Khotam, bukan karena arti sebenarnya, tetapi untuk tujuannya.

Akan tetapi bila kalimat Khatamun Nabiyyina anda anggap sebagai Idhofah, lalu kita artikan apa....?, apakah akan kita artikan Cincin yang berbahan Nabi...?
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Mon Nov 10, 2014 7:12 am

@ngayarana wrote:Pak kedung......
Kata Khatamul Aulia ataupun Khatamul Mufassirin yang anda contohkan di atas bersifat gelar yang di berikan oleh Manusia ke pada manusia yang lain yang di anggap Mumpuni ataupun mempunyai ilmu agama yang sudah tuntas, sama seperti kita menyelesaikan bacaan atau mengkhatamkan alqur'an, yang artinya menuntaskan hingga selesai dari surat pertama hingga surat terahir, tapi itu semua hanya berlaku pada Zamannya saja, hingga datang kembali seorang yang mempunyai kemampuan yang hampir sama atau sebanding.

Akan tetapi kata Khatamun Nabiyyina adalah gelar yang di sematkan oleh Allah SWT melalui Al qur'an kepada Rosulullah SAW, dan hanya Beliau SAW lah yang menerima gelar tersebut, disamping ucapan beliau yang mengatakan tak akan ada lagi Nabi setelahnya, lalu apa kita hendak menyangkal dari semua itu, hanya untuk ke egoan kita.

Bahasa Arab yang digunakan Al Qur'an khususnya yang memiliki kaidah Idhofah tentunya memiliki makna yang sama dengan yang digunakan oleh orang-orang Arab secara tradisi pada orang-orang suci mereka. Jika, kata "Khaatamul Aulia dan Khaatamul Mufassirin" secara tradisi orang-orang Arab diartikan sebagai "Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para wali dan para ahli tafsir", maka kata "Khaataman Nabiyyin" juga seharusnya memiliki arti yang sama, yakni "yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi". Namun, jika pemahaman anda terhalang oleh sabda Nabi Muhammad saw "tidak ada lagi nabi setelahku", maka Siti Aisyah ra pun pernah menyatakan "Katakanlah bahwa Muhammad adalah Khaataman-Nabiyyin, tetapi jangan mengatakan tidak ada lagi nabi setelah beliau". Dengan demikian, maka yang dimaksud sabda Nabi saw "tidak ada lagi nabi setelahku" adalah "tidak ada lagi nabi yang membawa syariat baru, setelahku", karena Nabi Muhammad saw adalah Nabi Pembawa Syari'at Terakhir, yakni syari'at yang telah Allah sempurnakan, Dia ridhoi dan Dia berinama ISLAM sebagai agama bagi sekalian manusia di seluruh penjuru dunia (Al Maidah 5:3/4). Dengan kata lain agama Islam adalah agama yang terakhir dan Sempurna yang telah dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia.


@ngayarana wrote:
Mengenai kata Khatamu Dzahabin, benar itu adalah kalimat idhofah yang menyimpan Min, yang artinya Cincin itu terbuat dari Emas, mengenai kata Khatam yang sebagian di artikan sebagai cincinpun memang tidak salah, sesuai kebiasaan orang arab yang mengikuti peristiwa ketika Rosulullah SAW membuat cincin dari perak yang di bumbuhi tulisan "Muhammad rosulullah" sebagai alat mematerai atau mencap surat, dan sejak itu cincin di sebut Khotam, bukan karena arti sebenarnya, tetapi untuk tujuannya.

Akan tetapi bila kalimat Khatamun Nabiyyina anda anggap sebagai Idhofah, lalu kita artikan apa....?, apakah akan kita artikan Cincin yang berbahan Nabi...?

Kata "Khaatamu Dzahabin" dan "Khaataman Nabiyyin" sudah jelas merupakan dua kata yang disandingkan atau IDHOFAH, sehingga dalam memahaminya secara nahwu-sharaf, kita harus menggunakan Hukum Idhofah. "Khaatamu Dzahabin" hanya memiliki satu arti, yakni Cincin Emas, sedangkan "Khaataman-Nabiyyin" memiliki beberapa arti, yakni:
1. Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi.
2. Meterai yang mengesahkan para nabi.
3. Cincin/perhiasan para nabi.
4. Penutup para nabi atau Nabi Terakhir dalam arti Nabi Pembawa Syari'at Baru, yakni Syari'at Islam.

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Mon Nov 10, 2014 7:45 am

@putramentari wrote:di rumah ane ada panci yang pake penutup

kemudian tutup panci tersebut hilang dan ditemukan  anak saya, dan dia berkata :

pa', saya udah nemuin PENUTUP PANCI YANG HILANG

apa arti penutup panci tersebut ????


cubit

Di dalam Al Qur'an, Allah berfirman:
Dan, dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi, syaitan-syaitan di antara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui. Dan, jika Tuhan engkau menghendaki, mereka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan. (Al An'aam 6:112/113).

Kata-kata manusia dan jin  yang terdapat pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al Qur'an bukan berarti ada dua jenis makhluk Allah yang berlainan, melainkan dua golongan makhluk manusia; kata “manusia“ mengisyaratkan kepada orang-orang awam atau rakyat jelata, dan kata “jin“ diisyaratkan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi (gaib) dari penglihatan umum.


Terakhir diubah oleh Kedunghalang tanggal Thu Dec 04, 2014 8:14 pm, total 1 kali diubah

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by ngayarana on Fri Nov 21, 2014 6:54 pm

@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Pak kedung......
Kata Khatamul Aulia ataupun Khatamul Mufassirin yang anda contohkan di atas bersifat gelar yang di berikan oleh Manusia ke pada manusia yang lain yang di anggap Mumpuni ataupun mempunyai ilmu agama yang sudah tuntas, sama seperti kita menyelesaikan bacaan atau mengkhatamkan alqur'an, yang artinya menuntaskan hingga selesai dari surat pertama hingga surat terahir, tapi itu semua hanya berlaku pada Zamannya saja, hingga datang kembali seorang yang mempunyai kemampuan yang hampir sama atau sebanding.

Akan tetapi kata Khatamun Nabiyyina adalah gelar yang di sematkan oleh Allah SWT melalui Al qur'an kepada Rosulullah SAW, dan hanya Beliau SAW lah yang menerima gelar tersebut, disamping ucapan beliau yang mengatakan tak akan ada lagi Nabi setelahnya, lalu apa kita hendak menyangkal dari semua itu, hanya untuk ke egoan kita.

Bahasa Arab yang digunakan Al Qur'an khususnya yang memiliki kaidah Idhofah tentunya memiliki makna yang sama dengan yang digunakan oleh orang-orang Arab secara tradisi pada orang-orang suci mereka.  Jika, kata "Khaatamul Aulia dan Khaatamul Mufassirin" secara tradisi orang-orang Arab diartikan sebagai "Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para wali dan para ahli tafsir", maka kata "Khaataman Nabiyyin" juga seharusnya memiliki arti yang sama, yakni "yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi".

Justru anda harus fahami, kalo itu hanya bahasa manusia biasa yang mungkin hanya untuk menunjukkan ketakjubannya saja terhadap manusia lain, dan belum tentu juga di artikan " Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para wali dan para ahli tafsir", kecuali anda bisa membuktikan bahwa ucapan "Khatam" yang drangkai dengan kata lain di ucapkan Rosulullah SAW, mengenai setatus seseorang yang mengisyaratkan arti seperti pengertian anda di atas.
Namun, jika pemahaman anda terhalang oleh sabda Nabi Muhammad saw "tidak ada lagi nabi setelahku", maka Siti Aisyah ra pun pernah menyatakan "Katakanlah bahwa Muhammad adalah Khaataman-Nabiyyin, tetapi jangan mengatakan tidak ada lagi nabi setelah beliau". Dengan demikian, maka yang dimaksud sabda Nabi saw "tidak ada lagi nabi setelahku" adalah "tidak ada lagi nabi yang membawa syariat baru, setelahku", karena Nabi Muhammad saw adalah Nabi Pembawa Syari'at Terakhir, yakni syari'at yang telah Allah sempurnakan, Dia ridhoi dan Dia berinama ISLAM sebagai agama bagi sekalian manusia di seluruh penjuru dunia (Al Maidah 5:3/4). Dengan kata lain agama Islam adalah agama yang terakhir dan Sempurna yang telah dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia.
Anda harus faham, bahwa perkataan sayyidati Aisah RA, hanya untuk memisahkan antara hadist dan alquran, jangan di balik atau di salah artikan, apa lagi menambah nambah dengan syariat atau non syariat, apakah Hadist diatas menyebut syariat atau non syariat, dan apakah ada Hadist mengisyaratkan tentang adanya nabi dengan embel embel Syariat atau non syariat..?, silahkan cari di situ, atau hanya Klaim golongan anda semata.
 

@ngayarana wrote:
Mengenai kata Khatamu Dzahabin, benar itu adalah kalimat idhofah yang menyimpan Min, yang artinya Cincin itu terbuat dari Emas, mengenai kata Khatam yang sebagian di artikan sebagai cincinpun memang tidak salah, sesuai kebiasaan orang arab yang mengikuti peristiwa ketika Rosulullah SAW membuat cincin dari perak yang di bumbuhi tulisan "Muhammad rosulullah" sebagai alat mematerai atau mencap surat, dan sejak itu cincin di sebut Khotam, bukan karena arti sebenarnya, tetapi untuk tujuannya.

Akan tetapi bila kalimat Khatamun Nabiyyina anda anggap sebagai Idhofah, lalu kita artikan apa....?, apakah akan kita artikan Cincin yang berbahan Nabi...?

Kata "Khaatamu Dzahabin" dan "Khaataman Nabiyyin" sudah jelas merupakan dua kata yang disandingkan atau IDHOFAH, sehingga dalam memahaminya secara nahwu-sharaf, kita harus menggunakan Hukum Idhofah. "Khaatamu Dzahabin" hanya memiliki satu arti, yakni Cincin Emas, .
 
Itu yang menjadi masalah anda, hanya karena kedua kalimat itu mempunyai kata yang sama, lalu anda dengan gampang menyamakan pengertiannya.
Apakah anda tidak tau bahwa "Idhofah" adalah perbaduan dua kata yang berbeda arti dan jika di sambungkan menjadi satu arti, contoh kalimat di atas.
"Khatam' berarti Cincin yang sudah saya terangkan di atas kenapa disebut cincin, itu karena kebiasaan orang arab dulu yang membuat Cap atau materai dengan cincinnya, yang berarti cincin seseorang itu adalah materainya.
"Dzahab" berarti Emas
Dan bila di gabung menjadi cincin yang terbuat dari Emas.

Lalu bila anda artikan "Khatamannabiyyin" sama seperti kalimat di atas yaitu "Idhofah" yang menyimpan Huruf Min, apakah anda akan mengartikan sama juga, yaitu Cincin yang terbuat dari Nabi....?
sedangkan "Khaataman-Nabiyyin" memiliki beberapa arti, yakni:
1. Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi.
2. Meterai yang mengesahkan para nabi.
3. Cincin/perhiasan para nabi.
4. Penutup para nabi atau Nabi Terakhir dalam arti Nabi Pembawa Syari'at Baru, yakni Syari'at Islam
Berati sudah menyimpang dari kaidah idhofah bila pengertian di atas :
1. ini berarti masuk kaidah Na'at Man'ut, karena mengenai sifat, tapi apakah kaidaah Na'at Man'ut, seperti tulisan diatas?, tentu tidak, Na'at Man'ut berbeda dengan idhofah dalam tulisannya, silahkan pelajari lagi.
2. Apakah anda mau menganggap bahwa nabi nabi sebelumnya tidak sah tanpa Rosulullah SAW, lalu status Rosulullah sebagai apa..?, Nabi atau Tuhan...?
3. secara otomatis Rosulullah bukan Nabi, karena Baliau hanya sekedar perhiasan para Nabi, jika anda paksa perhiasan kenapa menggunakan kata Khatam?
4. silahkan sebutkan dalil yang mengatakan adanya Nabi pembawa Syariat Baru dan tidak membawa syariat Baru...?
avatar
ngayarana
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 1147
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 30.01.14
Reputation : 27

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Kedunghalang on Fri Dec 05, 2014 11:17 pm

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:Pak kedung......
Kata Khatamul Aulia ataupun Khatamul Mufassirin yang anda contohkan di atas bersifat gelar yang di berikan oleh Manusia ke pada manusia yang lain yang di anggap Mumpuni ataupun mempunyai ilmu agama yang sudah tuntas, sama seperti kita menyelesaikan bacaan atau mengkhatamkan alqur'an, yang artinya menuntaskan hingga selesai dari surat pertama hingga surat terahir, tapi itu semua hanya berlaku pada Zamannya saja, hingga datang kembali seorang yang mempunyai kemampuan yang hampir sama atau sebanding.

Akan tetapi kata Khatamun Nabiyyina adalah gelar yang di sematkan oleh Allah SWT melalui Al qur'an kepada Rosulullah SAW, dan hanya Beliau SAW lah yang menerima gelar tersebut, disamping ucapan beliau yang mengatakan tak akan ada lagi Nabi setelahnya, lalu apa kita hendak menyangkal dari semua itu, hanya untuk ke egoan kita.

Bahasa Arab yang digunakan Al Qur'an khususnya yang memiliki kaidah Idhofah tentunya memiliki makna yang sama dengan yang digunakan oleh orang-orang Arab secara tradisi pada orang-orang suci mereka.  Jika, kata "Khaatamul Aulia dan Khaatamul Mufassirin" secara tradisi orang-orang Arab diartikan sebagai "Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para wali dan para ahli tafsir", maka kata "Khaataman Nabiyyin" juga seharusnya memiliki arti yang sama, yakni "yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi".

Justru anda harus fahami, kalo itu hanya bahasa manusia biasa yang mungkin hanya untuk menunjukkan ketakjubannya saja terhadap manusia lain, dan belum tentu juga di artikan "Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para wali dan para ahli tafsir", kecuali anda bisa membuktikan bahwa ucapan "Khatam" yang drangkai dengan kata lain di ucapkan Rosulullah SAW, mengenai setatus seseorang yang mengisyaratkan arti seperti pengertian anda di atas.

Yang jelas, kata "Khaataman-Nabiyyin" jika memiliki banyak arti tidak usah dipersempit menjadi satu arti. Boleh saja diartikan "Penutup Nabi-Nabi", tetapi jika ditafsirkan dengan metode Qur'an bil Qur'an dan Qur'an bil Hadits, maka maknanya adalah "Penutup Nabi-Nabi Pembawa Syari'at Baru", karena kenabian masih terbuka bagi Umat Islam (An-Nisa 4:69/70) yang tidak membawa syariat baru.  Di antara umat Islam yang dinubuatkan di dalam Al Qur'an dan Hadits, akan datang sebagai Nabi Bukan Pembawa Syari'at Baru itu adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi & Isa Ibnu Maryam.
@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:Namun, jika pemahaman anda terhalang oleh sabda Nabi Muhammad saw "tidak ada lagi nabi setelahku", maka Siti Aisyah ra pun pernah menyatakan "Katakanlah bahwa Muhammad adalah Khaataman-Nabiyyin, tetapi jangan mengatakan tidak ada lagi nabi setelah beliau". Dengan demikian, maka yang dimaksud sabda Nabi saw "tidak ada lagi nabi setelahku" adalah "tidak ada lagi nabi yang membawa syariat baru, setelahku", karena Nabi Muhammad saw adalah Nabi Pembawa Syari'at Terakhir, yakni syari'at yang telah Allah sempurnakan, Dia ridhoi dan Dia berinama ISLAM sebagai agama bagi sekalian manusia di seluruh penjuru dunia (Al Maidah 5:3/4). Dengan kata lain agama Islam adalah agama yang terakhir dan Sempurna yang telah dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia.

Anda harus faham, bahwa perkataan sayyidati Aisah RA, hanya untuk memisahkan antara hadist dan alquran, jangan di balik atau di salah artikan, apa lagi menambah nambah dengan syariat atau non syariat, apakah Hadist diatas menyebut syariat atau non syariat, dan apakah ada Hadist mengisyaratkan tentang adanya nabi dengan embel embel Syariat atau non syariat..?, silahkan cari di situ, atau hanya Klaim golongan anda semata.

Contoh Nabi Pembawa Syari'at Baru ada di dalam Al Qur'an, yakni Nabi Muhammad saw dan Nabi Musa as, sedangkan contoh Nabi Bukan Pembawa Syari'at Baru juga ada di dalam Al Qur'an, yakni Nabi Harun as dan HMG Ahmad as.
 

@ngayarana wrote:
@Kedunghalang wrote:
@ngayarana wrote:
Mengenai kata Khatamu Dzahabin, benar itu adalah kalimat idhofah yang menyimpan Min, yang artinya Cincin itu terbuat dari Emas, mengenai kata Khatam yang sebagian di artikan sebagai cincinpun memang tidak salah, sesuai kebiasaan orang arab yang mengikuti peristiwa ketika Rosulullah SAW membuat cincin dari perak yang di bumbuhi tulisan "Muhammad rosulullah" sebagai alat mematerai atau mencap surat, dan sejak itu cincin di sebut Khotam, bukan karena arti sebenarnya, tetapi untuk tujuannya.

Akan tetapi bila kalimat Khatamun Nabiyyina anda anggap sebagai Idhofah, lalu kita artikan apa....?, apakah akan kita artikan Cincin yang berbahan Nabi...?

Kata "Khaatamu Dzahabin" dan "Khaataman Nabiyyin" sudah jelas merupakan dua kata yang disandingkan atau IDHOFAH, sehingga dalam memahaminya secara nahwu-sharaf, kita harus menggunakan Hukum Idhofah. "Khaatamu Dzahabin" hanya memiliki satu arti saja, yakni Cincin Emas, sedangkan "Khaataman-Nabiyyin" memiliki beberapa arti, yakni:
1. Yang paling baik/istimewa/afdhal dari antara para nabi.
2. Meterai yang mengesahkan para nabi.
3. Cincin/perhiasan para nabi.
4. Penutup para nabi atau Nabi Terakhir dalam arti Nabi Pembawa Syari'at Baru, yakni Syari'at Islam

Berati sudah menyimpang dari kaidah idhofah bila pengertian di atas :
1. ini berarti masuk kaidah Na'at Man'ut, karena mengenai sifat, tapi apakah kaidaah Na'at Man'ut, seperti tulisan diatas?, tentu tidak, Na'at Man'ut berbeda dengan idhofah dalam tulisannya, silahkan pelajari lagi.
2. Apakah anda mau menganggap bahwa nabi nabi sebelumnya tidak sah tanpa Rosulullah SAW, lalu status Rosulullah sebagai apa..?, Nabi atau Tuhan...?
3. secara otomatis Rosulullah bukan Nabi, karena Baliau hanya sekedar perhiasan para Nabi, jika anda paksa perhiasan kenapa menggunakan kata Khatam?
4. silahkan sebutkan dalil yang mengatakan adanya Nabi pembawa Syariat Baru dan tidak membawa syariat Baru...?


Keempat arti kata Khaataman-Nabiyyin di atas diambil dari empat Kamus yang cukup terkenal di kalangan mufassirin, yakni Arabic-English Lexicon oleh EW Lane, Mufradat Ar-Raqhib, Fath-ul-Bari, dan Zurqani. Jadi tidak menyimpang dari Kaidah Nahwu Sharaf & Hukum Idhofah.

Sesungguhnya,telah Kami turunkan Taurat (kepada Musa) yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengan itulah para nabi yang patuh kepada Kami  berhakim bagi orang-orang Yahudi, sebagaimana dilakukan pula oleh  para arif-akan-Tuhan dan para ulama; karena mereka diharapkan menjaga Kitab Allah dan disebabkan mereka menjadi pengawas atasnya. Maka janganlah takut kepada manusia, melainkan takutlah kepada-Ku; dan janganlah kamu memperjual-belikan Ayat-ayat-Ku dengan harga rendah. Dan, barangsiapa tidak berhakim dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. (Al Maidah 5:45/46)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa Musa as adalah Nabi Pembawa Syari'at Baru, yakni Syariat Taurat bagi Bani Israil, dan para nabi Bani Israil setelah Nabi Musa as harus berhakim dengan Taurat bagi orang-orang Yahudi (Bani Israil).

Dan, Kami menyebabkan Isa ibnu Maryam mengikuti jejak mereka, para nabi pendahulu, menggenapi apa yang telah ada sebelumnya di dalam Taurat; dan Kami berikan kepadanya Injil yang di dalamnya terdapat  petunjuk dan cahaya, dan menggenapi apa yang telah diwahyukan sebelumnya di dalam Taurat dan sebagai petunjuk dan nasihat bagi orang-orang bertakwa. Dan hendaklah para pengikut Injil berhakim menurut apa-apa yang telah diturunkan Allah di dalamnya, dan barang siapa tidak berhakim dengan apa-apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang durhaka. (Al Maidah 5:46/47-47/48)

Ayat ini tidak mengisyaratkan bahwa Nabi Isa / Yesus as itu seorang Nabi Pembawa Syari'at Baru, melainkan hanya menegaskan bahwa Nabi Isa / Yesus as yang diberi Kitab Injil itu membenarkan KETAUHIDAN dan menggenapi NUBUATAN yang terdapat dalam kitab sebelumnya, yakni Kitab Taurat, begitu pula dengan SYARI'AT Injil, juga menggenapi Syari'at Taurat, yang merupakan satu paket (Taurat, Zabur & Injil) yang berlaku hanya untuk Bani Israil saja.

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Paradise OK on Wed Feb 18, 2015 6:50 pm

terbukti nabi abal-abal pendiri ahmadiyah otaknya plin-plan

- pada tahun 1891 melalui bukunya yang berjudul, Izala Auham bahwa letak kuburan Isa ada di Galilea.
- pada tahun 1894 dia menulis buku berjudul Ittemam-ul-Hujjat bahwa kuburan Isa ada di Syria,
- dan pada tahun 1902, membuat pernyataan baru bahwa kuburan Isa ada di Srinagar

yg orang otaknya plin-plan diimani/dijunjungi sebagai nabi


Paradise OK
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2422
Kepercayaan : Protestan
Location : child thousand island
Join date : 26.02.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: AHMADIYAH QADIAN

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 17 dari 17 Previous  1 ... 10 ... 15, 16, 17

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik