FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

isim nakirah dan isim ma'rifah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

isim nakirah dan isim ma'rifah

Post by keroncong on Fri Dec 23, 2011 5:48 pm

Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi
dua:


1) ISIM NAKIRAH
atau kata benda bentuk umum atau tak dikenal (tak tentu).


2) ISIM MA'RIFAH
atau kata benda bentuk khusus atau dikenal (tertentu).


Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari
setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya
yang bertanwin (
ً ٍ ٌ ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya
ditandai dengan huruf Alif-Lam (
ال ) di awalnya.

Contoh Isim Nakirah:
بَيْتٌ (= sebuah rumah), وَلَدٌ (= seorang anak)

Contoh Isim Ma'rifah:
اَلْبَيْتُ
(= rumah itu), اَلْوَلَدُ
(= anak
itu)


Coba bandingkan dan
perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma'rifah
dalam dua buah kalimat di bawah ini:


ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ
كَبِيْرٌ.

= Itu
sebuah rumah. Rumah itu baru.
جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ
مُؤَدِّبٌ.

= Datang
seorang anak. Anak itu sopan.
Berkaitan dengan Nakirah dan
Ma'rifah, khususnya penggunaan awalan Alif-Lam dan baris Tanwin di akhir kata,
ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya
dengan baik.


1. SHIFAT (
صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )

Bila rangkaian dua buah Isim
atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau Ma'rifah (alif-lam)
maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang kata yang di
belakangnya dinamakan Shifat. Contoh:


بَلَدٌ أَمِيْنٌ= (sebuah) negeri yang
aman

صِرَاطٌ
مُسْتَقِيْمٌ

= (sebuah) jalan yang
lurus

اَلْبَلَدُ اْلأَمِيْنُ= negeri yang
aman
الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ= jalan yang
lurus
2. MUDHAF (
مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH (
مُضَاف إِلَيْه )

Bila dua buah Isim atau
lebih digabung menjadi satu kesatuan yang utuh dengan pengertian yang baru (Kata
Majemuk) maka kata yang di depan (tanpa Alif-Lam) dinamakan Mudhaf Ilaih sedang
kata yang di belakang (dengan Alif-Lam) dinamakan Mudhaf. Kata Majemuk termasuk
dalam kelompok Isim Ma'rifah.


رَسُوْلُ
اللهِ

= Rasul
Allah
أَهْلُ
الْكِتَابِ

= Ahlul Kitab
(Yahudi dan Nasrani)
سَيَّارَةُ
اْلأُسْتَاذِ

= mobil
Ustadz

مِفْتَاحُ
السَّيَّارَةِ

= kunci
mobil

3. MUBTADA' (
مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )

Bila dua buah Isim atau lebih
terangkai dalam satu kalimat yang sempurna, maka Isim yang pertama umumnya
adalah Ma'rifah dinamakan Mubtada' (Subjek), sedang Isim yang berikutnya adalah
Nakirah dinamakan Khabar (Predikat).


الرَّسُوْلُ كَرِيْمٌ= Rasul itu
mulia

السَّيَّارَةُ جَدِيْدٌ= Mobil itu
baru
رَسُوْلُ اللهِ كَرِيْمٌ= Rasul Allah itu
mulia
سَيَّارَةُ اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ= Mobil Ustadz itu
baru
Kalimat sempurna yang terdiri
dari Isim yang tersusun dari Mubtada' dan Khabar seperti ini dinamakan JUMLAH
ISMIYYAH (
جُمْلَة
اِسْمِيَّة ) atau Kalimat Nominal (kalimat
sempurna yang hanya terdiri dari Isim atau Kata Benda).


Perhatikan perbedaan antara
kalimat-kalimat di bawah ini:


Jumlah
Ismiyyah

Bukan Jumlah Ismiyyah
رَسُوْلُ
اللهِ كَرِيْمٌ
رَسُوْلُ اللهِ
الْكَرِيْمِ

(Rasul Allah itu
mulia)

(Rasul Allah Yang Mulia)
سَيَّارَةُ
اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ
سَيَّارَةُ أُسْتَاذِ
الْجَدِيْدِ

(Mobil
Ustadz itu baru)
(Mobil Ustadz yang baru itu)
Kalimat sebelah kiri adalah
Jumlah Ismiyyah yang Mubtada' nya adalah Kata Majemuk ("Rasul Allah" dan "Mobil
Ustadz"); sedang kalimat sebelah kanan bukanlah kalimat sempurna melainkan
rangkaian kata yang merupakan kombinasi antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih dengan
Shifat dan Maushuf.


Pada kalimat pertama sebelah
kiri, yang mendapat Isim "mulia" adalah "Rasul", sedang pada kalimat sebelah
kanan, yang mendapat Isim "mulia" adalah "Allah". Pada kalimat kedua sebelah
kiri, yang mendapat Isim "baru" adalah "mobil", sedang pada kalimat sebelah
kanan, yang mendapat Isim "baru" adalah "Ustadz".


Sebanyak apapun Isim
yang terdapat dalam sebuah kalimat, tetap saja tidak bisa menghasilkan sebuah
kalimat nominal sempurna (Jumlah Ismiyyah) bila tidak mengandung Mubtada' dan
Khabar. Bandingkan dua buah kalimat berikut ini:


1) Kalimat di bawah ini
bukan Jumlah Ismiyyah:


مِفْتَاحُ بَابِ
سَيَّارَةِ أُسْتَاذِ الْجَدِيْدِ

= Kunci
pintu mobil guru baru.

2) Kalimat di bawah ini adalah
Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal Sempurna):


مِفْتَاحُ بَابِ
سَيَّارَةِ اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ

= Kunci pintu mobil guru itu
baru.
Kalimat pertama, tidak memiliki
Khabar. Kata
جَدِيْد (=baru) pada kalimat pertama adalah sifat dari
أُسْتَاذ (=guru). Adapun pada kalimat kedua,
kata
جَدِيْد adalah Khabar dari مِفْتَاحُ بَابِ سَيَّارَةِ اْلأُسْتَاذ (=kunci pintu mobil guru) yang merupakan
Mubtada'.


Selain Isim yang berawalan
Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma'rifah adalah:


1. ISIM 'ALAM (Nama). Semua Isim 'Alam
termasuk Isim Ma'rifah, meskipun diantara Isim 'Alam tersebut ada yang huruf
akhirnya bertanwin.


Contoh: أَحْمَدُ (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)

2. ISIM DHAMIR (Kata Ganti). Yaitu kata yang
mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok
benda/orang.


Contoh:
أَنَا (= aku, saya), نَحْنُ
(= kami, kita),
هُوَ (= ia, dia)
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 64
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik