FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Halaman 3 dari 5 Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 7:11 pm

First topic message reminder :

100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen


Sumber :
A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999.




Pendahuluan

Sepuluh peristiwa terpenting apa yang pernah terjadi dalam kehidupan Anda selama kurun waktu lima tahun terakhir ini? Sekarang tanyakanlah kepada ayah, puteri, suami atau istri, atau dua orang sahabat karib Anda untuk menjawab pertanyaan yang sama tentang diri Anda. Segera Anda menyadari bahwa cara pandang kita terhadap suatu peristiwa bisa berbeda dengan orang lain, termasuk mereka yang sangat dekat dengan kita.

Sekarang marilah kita mengakui bahwa tidak seorang pun dapat dengan pasti menunjuk tanggal-tanggal terpenting dalam sejarah gereja. Tentunya, daftar yang ada pada Tuhan tentang hal itu mungkin akan sangat berbeda dengan daftar yang kita buat.
Kami tidak bermaksud menjadi wasit resmi untuk menentukan peristiwa apa yang terpenting dalam kehidupan gereja pada abad-abad lampau. Namun kami berupaya menampilkan selintas berbagai peristiwa dalam sejarah umat Tuhan yang rumit. Peristiwa tersebut diharapkan akan memberi garis-garis besar serta para pelaku yang telah membentuk kekristenan kepada yang bukan sejarawan dan bukan pengamat.

Banyak orang Kristen dewasa ini ingin mengetahui lebih banyak tentang asal-usul keyakinan mereka serta berapa banyak ajaran dan praktik gereja mereka yang telah terwujud. Namun mereka tidak mempunyai waktu atau kecenderungan membaca karya akademis yang berjilid-jilid banyaknya. Hanya buku semacam inilah yang dapat memberikan kepuasan bagi kehausan mereka. Bagi orang-orang non-Kristen, buku ini merupakan buku acuan andal untuk lebih mengenal para tokoh terkemuka, berbagai gerakan, makna dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah kekristenan yang panjang.

Kami memulai sejarah gereja setelah (atau setidak-tidaknya yang di luar) peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Perjanjian Baru. Jelas bahwa kebangkitan, pertobatan Paulus, Konsili Yerusalem dan sebagainya adalah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah gereja. Namun di mana kita harus berhenti? Oleh karenanya, kami memilih hanya peristiwa-peristiwa yang tidak tercatat dalam Perjanjian Baru.

Kami tidak menyusun beragam peristiwa tersebut menurut urutan pentingnya, tetapi secara kronologis agar dapat menelusuri abad demi abad.

Beberapa pilihan yang bernilai tinggi telah kami lewatkan karena kami merasa bahwa hal itu dapat digabungkan dengan peristiwa lain. Misalnya, karena survei telah membuktikan bahwa Ninety-Five Theses Luther dan Diet of Worms ada kaitan satu sama lain, maka kami hanya menyertakan judul pertama yang meliputi keduanya.

Peristiwa-peristiwa lainnya telah disertakan bukan saja karena pentingnya tetapi bagaimana dampak peristiwa-peristiwa itu, atau betapa keadaan akan berbeda, jika peristiwa-peristiwa tersebut tidak terjadi. Misalnya Sidang Sinode Whitby tidak mungkin tercatat sebagai salah satu persidangan gereja besar, tetapi sangatlah penting bahwa Gereja Inggris memilih untuk bersatu dengan Roma pada waktu itu. Sejarah mungkin akan berbeda jika mereka memilih alternatif lain.

Kami juga rnenyertakan beberapa hal yang mungkin terkesan direkayasa dan mengada-ada. Dunia tidak berubah, begitu gereja, pada saat kelahiran Bach dan Handel. Namun, tidak menyertakan sumbangsih musik mereka bagi kehidupan ibadah sungguh akan merupakan suatu cacat. Oleh karena itu, beberapa peristiwa disertakan di sini khususnya karena nilai simbolisnya.

Meskipun demikian, terdapat beberapa alternatif menarik yang kami tidak sertakan dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir, karena kita masih sangat dekat dengan peristiwa-peristiwa itu untuk perspektif yang dibutuhkan.

Mungkin ada cemoohan atas pilihan-pilihan kami yang lebih banyak berbicara tentang dunia Barat, kaum lelaki, Protestan dan kaum evangelikal. Di satu pihak, memang hal ini tak terelakkan, dan di lain pihak hal ini mencerminkan bias kami.

Tetapi kami tidak bersikukuh bahwa pilihan kami inilah yang final. Sebenarnya dari awal kami mengharaukan tanggapan para pembaca yang ingin menyodorkan kemungkinan adanya peristiwaperistiwa laip yang dapat disertakan atau yang dapat dilewatkan. Untuk itu kami mengundang para pembaca agar menulis pendapatnya kepada kami, disertai dengan alasan-alasan rinci. Jika tanggapan tersebut cukup meyakinkan, maka kami akan menerbitkan jilid kedua dengan judul "Kejadiankejadian Penting Lain dalam Sejarah Gereja" (More Important Events in Church History). Kami mengundang mereka yang ingin memberi komentar mengenai jilid kedua untuk menulis. Kirimkan kepada: Ken Curtis, Christian History Institute, Box 540, Worcester, PA 19490, atau Fax ke 215-584. 4610.

Ketika saya menjabat sebagai editor majalah Christian History, kami menulis kepada para pelanggan dan meminta mereka mengirimkan peristiwa-peristiwa yang mereka anggap layak dibukukan. Kemudian, setelah memilah-milah dan menyusun daftar ini, kami mengirimnya kembali kepada mereka 'dengan catatan agar mereka dapat menandai pilihan-pilihan yang mereka setujui dan yang tidak disetujui; serta menambahkan, bila perlu, hal-hal yang tidak tercantum. Jawaban mereka mewujudkan daftar baru. Sebuah survei juga telah dilayangkan kepada para anggota American Society of Church History, sebuah kelompok sejarawan gereja profesional. Dalam memilih judul-judul peristiwa yang terdapat dalam buku ini, hasil survei tersebut mendapat perhatian cukup, meskipun saya yang bertanggung jawab dalam pemilihan final.

Sejak semula, dengan melakukan pemilihan, kami sepenuhnya sadar bahwa beberapa hal terpenting sungguh sukar dikenali dan diukur. Kami seperti bendaharawan di Bait Allah yang mungkin tidak menghiraukan pentingnya "uang keping yang dipersembahkan seorang janda". Yesus telah menjelaskan bahwa cinta kasih merupakan tanda istimewa para pengikut-Nya. Ia juga berbicara tegas akan hal-hal sederhana seperti memberikan secangkir air atas nama-Nya. Banyak isi buku ini yang merefleksikan kualitas dasar kekristenan. Namun, apa saja sesungguhnya yang terpenting tidak akan kita ketahui hingga hari penghakiman umat manusia, yang memperlihatkan mana gandum dan mana debu jerami.

Ken Curtis

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down


Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:11 pm

50) Tahun 1534 Undang-undang Supremasi Henry VIII

Tidak seperti Reformasi Jerman, Reformasi Inggris tidak terpicu karena satu orang tertentu yang ingin mengetahui lebih dalam akan Allah. Reformasi Inggris muncul dari perpaduan keinginan pribadi, keuntungan politik dan dorongan spiritual secara nasional.

Suasana di Inggris mulai berpaling dari Gereja Katolik. John Colet, dekan St. Paul, menuntut reformasi kaum rohaniwan dan kembali ke pemahaman Alkitab. Di Universitas Cambridge, sekelompok sarjana yang terpengaruh ajaran Luther dikenal sebagai "Little Germany" (Jerman Kecil). Peringatan kaum rohaniwan tidak dapat membendung meluasnya reformasi.

Namun Raja Inggris, Henry VIII, tidak tertarik pada perubahan spiritual. Pada tahun 1521 ia pernah menyerang pandangan Luther tentang sakramen dan meraih gelar Defender of the Faith (Pembela lman) dari paus. Perhatiannya pada hal-hal spiritual sangat minim.

Setelah kematian saudaranya, Henry menikahi saudara iparnya, Catherine dari Aragon. Mereka tidak dikaruniai putra untuk mewarisi takhta Henry. Tertarik dengan Anne Boleyn, raja ini mencari jalan untuk melepaskan istrinya yang mandul dan menggantikannya dengan seseorang yang lebih menarik dan yang mungkin akan memberi dia keturunan. Dengan menyerukan bahwa tidak seharusnya ia menikahi janda kakaknya dan menunjuk pada Imamat 20:21 sebagai sanksi Alkitabnya, ia minta perceraian kepada paus.

Paus, yang takut akan amarah Kaisar Roma, Charles V, yang adalah keponakan Catherine, mencegah raja Inggris tersebut.

Henry yang tidak sabar, menunjuk Thomas Cranmer sebagai uskup agung Canterbury. Uskup agung baru tersebut memberi izin perceraian bagi sang raja. Segera Henry menikahi Anne, dan pada tahun yang sama – 1533 – ia melahirkan seorang putri, Elizabeth.

Pada tahun 1534, parlemen Inggris mengesahkan Undang-undang Supremasi yang menyatakan bahwa "raja adalah Kepala Gereja Inggris". Hal itu tidak berarti bahwa raja berminat membawa perubahan-perubahan teologis radikal dalam Gereja. Ia hanya menginginkan Gereja negara, di mana paus tidak mempunyai otoritas. Ketetapan Enam Pasal, undang-undang yang membawa keseragaman dalam Gereja baru, melanjutkan tradisi selibat para rohaniwan, pengakuan dosa di depan imam, dan misa-misa pribadi.

Akan tetapi, Henry benar-benar menekan biara-biara yang telah menjadi simbol hedonisme dan amoral. Raja tersebut tidak begitu merasakan kepedulian serius orang-orang Kristen tentang hal ini — malah ia mengambil tanah-tanah gereja. Ia menyita harta biara yang ia tutup dan uangnya ia masukkan ke dalam kas negara. Tanahnya ia bagikan kepada para bangsawan untuk mendapatkan kesetiaan mereka.

Oleh karena ketertarikannya dalam membangkitkan rasa nasionalisme Inggris, Henry memerintahkan agar Alkitab berbahasa Inggris ditempatkan di setiap gereja.

Meskipun Henry tidak berbuat demikian untuk maksud-maksud tertentu, namun ia telah mewujudkan gereja yang tidak lagi Katolik Roma. Pada tahun-tahun berikutnya, putri sulung Henry, Mary, berupaya agar Inggris kembali pada Katolisisme, namun tidak berlanjut lama. Sekali terpisah dari paus, Gereja Inggris tetap terpisah adanya. Gelombang Reformasi di Inggris yang menyusul kemudian bergerak cepat dan gempar. Seperti akan terlihat pada bab-bab berikut, mereka membawa ekspresi Kristen yang beraneka ragam dan kaya, yang tentunya akan membingungkan Henry.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:11 pm

51) Tahun 1536 Yohanes Calvin Menerbitkan Institutio: Pengajaran Agama Kristen




Yohanes Calvin, reformator Jenewa dan Pengarang Institutio



"Tiada sebatang rumput, tiada warna apa pun di dunia ini yang tidak dimaksudkan untuk membuat kita gembira", demikian tulis seorang yang dituduh telah membangkitkan kekristenan yang suram. Mereka yang telah mengenalnya dengan baik, menghormati kesalehannya, namun tidak mengejutkan sama sekali bahwa kegembiraan itu datang dari penanya sendiri.

Jelasnya, Yohanes Calvin orangnya sangat disiplin, dan sekali ia mengambil keputusan, ia bersikukuh dalam pilihannya itu. Studi hukumnya telah mempertajam karunia berpikir secara logis, dan ia pun menerapkan pendidikan awalnya tersebut pada studi teologinya.

Dalam satu "pertobatan yang mendadak" sekitar tahun 1533, Calvin berkata, "Allah telah menaklukkan dan menjinakkan hati saya." Agaknya ia pernah mengenal tulisan-tulisan Luther. Ia pun memisahkan diri dari Katolisisme, meninggalkan negaranya, Perancis, dan bermukim di Swiss sebagai orang dalam pengasingan.

Pada tahun 1536, Calvin yang berusia dua puluh tujuh tahun menerbitkan edisi pertama
Institutio: Pengajaran Againa Kristen, teologi sistematis yang dengan jelas membela ajaran-ajaran Reformasi. Terkesan oleh tulisan-tulisan Calvin, reformator Jenewa, Guillaume Farel, membujuknya untuk membantu reformasi. Di sana Calvin memangku pekerjaan berat. Ia menjadi pastor gereja St. Pierre, berkhotbah tiga kali sehari dan membuat ulasan bagi hampir semua kitab yang ada di Alkitab, serta menulis lembaran-lembaran pengabdian doktrinal. Sementara itu, ia juga harus bergumul dengan beberapa jenis penyakit, termasuk migrain.

Untuk mencapai tujuannya membuat Jenewa sebagai kerajaan Allah di atas bumi, banyak yang harus dilakukannya. Terkenal dengan moral mereka yang bejat, warga kota tersebut menentangnya ketika ia mencoba mengubah gaya hidup mereka. Namun, pengaruh Calvin menyebar di seluruh Jenewa. la mempunyai pengaruh yang ampuh di sekolah-sekolah. Tak seorang pun dapat mengelakkan reformasinya karena Calvin mengucilkan mereka yang hidupnya tidak mencapai standar kitab suci — dan setiap warga Jenewa harus merasa terikat pada pengakuan iman Calvin.

Sementara beberapa menentang, yang lain menyambut perubahan-perubahan tersebut. Kota tersebut menjadi daya tarik bagi orang-orang Eropa yang hidup dalam pengasingan. John Knox menyebut kota di bawah Calvin itu sebagai "sekolah Kristus paling sempurna sejak zaman para rasul". Wibawa moral Calvin telah memperbarui Jenewa. Karya-karya tulisnya — baik dalam bahasa Latin maupun bahasa Perancis — telah memberi kekuatan unik bagi Protestanisme.

Dalam karyanya, Institutio, Calvin dengan jelas menyatakan kepercayaan Protestan. Dalam satu jilid, sang reformator ini berbicara tentang kepercayaan-kepercayaan utama, dan di sepanjang hidupnya ia memperbanyak bukunya ini.

Bukunya diawali dengan Pengakuan Iman Rasuli, dengan mengambil empat poin: "Aku percaya akan Allah, Bapa ... Yesus Kristus ... Roh Kudus ... gereja katolik yang kudus." Semuanya itu menjadi empat bagian bukunya. Dalam setiap bagian, Calvin bukan saja berusaha menyatakan teologinya, tetapi juga penerapannya dalam kehidupan Kristen.

Buku III dari Institutio yang berisikan doktrin predestinasi telah menarik perhatian banyak orang. Anehnya, meskipun Calvin yang menyatakannya, namun konsepnya bukanlah miliknya sendiri. Luther dan banyak lagi reformator mempercayainya. Giatnya Calvin menyatakan ide tersebut yang menghubungkan ajaran itu dengan namanya.

Calvin memberi perhatian besar pada kedaulatan Allah. Ia membenci cara Gereja Katolik yang telah terjerumus dalam teologi keselamatan oleh perbuatan. Sang reformator ini senantiasa mengulangi: Anda tidak dapat memanipulasi Allah atau memaksa-Nya. Ia yang menyelamatkan Anda; Anda tidak dapat melakukannya sendiri.

Allah memilih orang-orang yang akan diselamatkan, dan hanya Ia sendiri yang tahu siapa yang harus diselamatkan, demikian reformator itu menjelaskan. Hidup bermoral dapat menunjukkan bahwa seseorang mungkin adalah orang pilihan Allah. Namun Calvin, orang yang energik dan bermoral tinggi, mengingatkan para pengikutnya bahwa mereka harus menunjukkan keselamatan mereka dengan berjuang untuk itu. Ia mewariskan pada Calvinisme tentang pentingnya orang-orang Kristen mengubah dunia yang berdosa.

Dalam Buku IV dari Institutio, Calvin menciptakan tata tertib gereja berdasarkan apa yang dilihatnya di dalam Kitab Suci. Jemaat harus memilih orang-orang bermoral – para penatua – yang akan menuntun mereka. Dia juga mengadakan peraturan bagi para pastor, doktor (guru-guru) dan para syamas.

Doktrin dan kebijakan Reformasi yang diwujudkannya tersebar di Skotlandia, Polandia, Belanda dan Amerika.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:12 pm

52) Tahun 1540 Paus Mengakui Kaum Yesuit

Sepanjang sejarah gereja, masa-masa kekurangan diikuti dengan usaha-usaha reformasi dan kembali ke spiritualitas. Dengan bangkitnya Protestan, Gereja Katolik yang dihadapkan pada kesalahannya sendiri dan hilangnya kekuasaan, mulai mengadakan perombakan.

Kontra reformasi bukan berarti bahwa Gereja Katolik telah berpaling pada pemikiran Protestan. Tetapi ia berupaya mengubah beberapa penyimpangan yang merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima sekalipun oleh mereka yang ada di Gereja Katolik dan merespons efektifitas Protestan dalam memenangkan jiwa-jiwa baru.

Seperti pada masa lampau, sebuah ordo baru muncul dengan menekankan pengabdian dan penyangkalan diri. Pendirinya, Ignatius dari Loyola, adalah seorang serdadu Spanyol, yang kakinya terluka oleh sebuah peluru meriam. Dalam masa penyembuhannya, ia membaca sebuah buku tentang para santo dan memulai proses penelitian diri yang panjang. Dari sini ia muncul sebagai perpaduan tentara, mistik dan biarawan.

Spiritual Excercises, buku petunjuk devosi yang ia tulis ketika ia sakit, bukan saja mendorong para pembacanya beriman, tetapi juga menegaskan kepatuhan pada gereja. Kesemuanya itulah yang menjadi kunci bagi Serikat Yesus – atau Yesuit. Para pemuda Loyola yang berkumpul di sekelilingnya berikrar akan berada di bawah perintah paus dan akan berbuat segala sesuatu untuk memperluas serta memelihara Gereja Katolik. Dalam prinsipnya tercakup (sifat) kemiliteran, tidak mempertanyakan (apa pun), baik kepatuhan total kepada paus maupun ikrar tradisional akan kemiskinan, kesucian dan kepatuhan.

Para Yesuit mendukung pendidikan dengan mendirikan universitas-universitas terbaik di Eropa. Para lulusannya menjadi pemikir – dengan cara berpikir Katolik.

Paus Paulus III melihat potensi para Yesuit dalam membendung gelombang pasang Protestan. Atas instruksinya, mereka bekerja untuk mengembalikan setiap penguasa Eropa pada Katolikisme. Kepemimpinan politik menentukan agama suatu daerah, dan warga mengikuti para raja dan ke gereja pilihan mereka.

Selain itu, untuk mengembalikan mereka yang tersesat ke pangkuan Katolik, para Yesuit menjalankan program misi yang luas. Sementara orang Protestan memfokuskan kedudukan mereka di Eropa dan bekerja dengan teologi mereka, para Yesuit pergi keluar. Spanyol dan Portugis, yang adalah Katolik, meluaskan daerah (jajahannya), dan para Yesuit pergi bersama-sama untuk mengabarkan Injil. Menjelang kematian Loyola pada tahun 1556, mereka bukan saja telah menyentuh setiap negara di Eropa tetapi meluas ke Jepang, Brasil, Etiopia dan Afrika Tengah. Fransiskus Xaverius mengembangkannya lebih jauh ke Jepang dan ke India, Malaysia dan Vietnam; ia meninggal dalam upayanya membawa Injil ke China.

Para Yesuit adalah orang-orang muda terbaik di zaman mereka. Meskipun komunitas Yesuit ini harus disiplin dan bekerja keras, mereka bergabung dengan ordo ini dalam jumlah yang besar. Sukar untuk tidak mengagumi kesediaan mereka berkorban pada masa-masa sulit.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:13 pm

53) Tahun 1545 Pembukaan Konsili Trente




Konsili Trente, diukir oleh A. Schiavonetti


Dihadapkan dengan penyelewengan dalam Gereja Katolik, ada yang menyalurkannya dalam protes. Namun, banyak yang tidak setuju dengan apa pun tetap bertahan dalam gereja, dengan harapan memenangkan (posisi) dalam hierarki.

Di bawah Leo X yang gemar berfoya-foya, yang telah membangkitkan Luther, perubahan tidak dapat berlangsung, tetapi Paus Paulus III tertarik dengan perubahan. Ia menunjuk para kardinal yang berpikiran reformis dan membentuk sebuah komisi untuk merekomendasikan perubahan, merintis jalan bagi konsili gerejawi.

Komisi tersebut memberinya laporan yang menyakitkan: Biara telah menjadi terlampau duniawi; banyak yang mendapat kedudukan dengan menyuap, dan ordo-ordo kebiaraan telah menjadi skandal amoral; khususnya tentang penyelewengan dalam penjualan indulgensi dan pelacuran besar-besaran di Roma, kota yang dianggap suci.

Meskipun Konsili yang diundang Paulus dimulai pada tahun 1545, konsili itu bertemu secara berkala hingga tahun 1563 dalam tiga sesi utama dengan kehadiran yang memprihatinkan. Persaingan politik telah menjadi penyebabnya. Namun Konsili tersebut telah membawa beberapa perubahan.

Dalam pembahasan tentang moralitas, Gereja Katolik mengikuti petunjuk komisi. Indulgensi dihapuskan, dan rohaniwan didesak untuk "menghindari kesalahan-kesalahan sekecil apa pun".

Konsili menandaskan ulang posisi Katolik secara doktrinal. Mereka menegaskan kembali bahwa ada tujuh sakramen, bukannya dua, seperti yang dikatakan orang-orang Protestan, dan bahwa sakramen itu sangat dibutuhkan untuk keselamatan. Sambil menolak ajaran-ajaran reformasi, Gereja tidak mengakui bahwa orang-orang dapat mengetahui bahwa mereka telah dibenarkan. Roti dan anggur telah menjadi tubuh dan darah Kristus, mereka menegaskan kembali, sambil mengutuk ajaran Protestan tentang komuni. Demikian juga halnya dengan pandangan Protestan tentang pentingnya kebaktian diselenggarakan dalam bahasa-bahasa umum dan memberi jalan pada misa Latin.

Takut akan apa yang terjadi jika setiap orang dapat membaca sendiri Kitab Suci, Konsili mengatakan gerejalah yang mampu menafsirkan Kitab Suci dan menolak penggunaan Alkitab dalam bahasa-bahasa umum. Vulgata berbahasa Latin itulah yang diharuskan bagi pembacaan di muka umum dan untuk tulisantulisan doktrinal.

Reformasi dalam Konsili Trente telah memisahkan lebih jauh lagi pandangan-pandangan Katolik dan Protestan. Meskipun Gereja Katolik mengubah apa yang dianggap golongan Protestan sebagai isu-isu sepele, tidak ada perubahan apa pun yang terjadi, dalam arti bahwa tradisi dan Kitab Suci masih berlaku dalam menentukan kegiatan-kegiatan gereja. Berbagai perbedaan doktrinal tetap belum berubah.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:14 pm

54) Tahun 1549 Cranmer Menciptakan Buku Doa Umum

Terdapat gereja Reformasi yang tidak banyak mengalami pembaruan.
Di bawah Henry VIII, Inggris telah berpaling dari Gereja Katolik, namun, perubahan yang tidak berarti yang dibawa sang raja untuk membangun Gereja Anglikan tentu tidak menghasilkan Gereja Protestan murni. Orang yang membawa Reformasi ke Inggris itu ialah Thomas Cranmer, uskup agung Canterbury yang telah menyatakan bahwa pernikahan pertama Henry tidak sah. Orang terpelajar dan pendiam yang telah terpengaruh Lutheranisme ini adalah orang saleh tulen dan memiliki wawasan luas tentang para Bapa Gereja awal. Ia menarik perhatian Henry ketika ia mengemukakan pandangannya tentang perceraian sang raja.

Selama Henry menjadi raja, Cranmer tidak dapat mengadakan banyak perubahan di dalam gereja Inggris. Dengan kematian Henry, putranya yang berucnur sembilan tahun, Edward VI, menjadi raja. Cranmer merupakan salah seorang wali kuasanya.

Dengan dukungan Nicholas Ridley yang terpelajar dan pengkhotbah Hugh Latimer, Cranmer bergerak maju dengan Reformasi Inggris. Patung-patung disingkirkan dari gereja dan pengakuan dosa pribadi kepada imam dihentikan. Para rohaniwan diizinkan menikah dan dapat menggunakan anggur serta roti pada komuni. Para sarjana berhaluan Calvinis dari Eropa, di antaranya Martin Bucer, John a Lasco dan Peter Martyr, menjadi guru-guru besar pada Universitas Oxford dan Cambridge.

Namun bentuk kebaktian masih harus mengalami perubahan. Misa masih dijalankan dalam bahasa Latin, dan orang-orang mulai mengadakan huru-hara tentang hal itu.

Cranmer sangat menguasai bahasa Inggris, di samping wawasannya yang luas dan nalar yang mantap tentang apa yang baik bagi kebaktian. Dalam keadaan politik dan agama yang tidak menentu di Inggris, uskup agung ini harus mengetuai panitia yang dapat menciptakan liturgi yang dapat diterima keduanya, Protestan dan Katolik. Kompromi yang ditampilkan dalam Buku Doa Umum itu menggunakan ritual-ritual yang sungguh mengesankan namun telah menghilangkan unsur-unsur Katolik yang menyinggung banyak orang Protestan. Akta Penyeragaman, yang menjadi undang-undang pada tahun 1549, tahun buku tersebut diterbitkan, mengharuskan gereja-gereja menggunakan liturgi tersebut.

Buku Doa Umum telah memberi gereja sastra klasik dan bentuk kebaktian yang mengambil jalan tengah, tetapi banyak yang mengeluh bahwa buku tersebut kurang mencerminkan paham Protestan. Pada tahun 1529, versi yang telah direvisi dan dengan lebih banyak kandungan Protestan, diterbitkan.

Selain itu, Cranmer mengeluarkan Empat Puluh Dua Artikel, pengakuan iman yang ditandatangani sang raja muda. Seperti Buku Doa Umum, Empat Puluh Dua Artikel ini pun mengikat seluruh kaum rohaniwan.

Ketika raja muda tersebut mangkat, puteri sulung Henry, Mary, menjadi ratu. la berupaya membawa Inggris kembali ke Katolisisme, dalam kekuasaannya yang pendek dan keras, yang membuatnya dijuluki Bloody Mary. Di bawah tekanan, Cranmer tunduk pada tuntutan Mary agar ia kembali pada iman Katolik dan menandatangani pernyataan-pernyataan yang menarik kembali kepercayaan-kepercayaan Protestan. Tetapi pada persidangan (pengadilan) terakhir, ia menegaskan kepercayaannya di muka umum dan membatalkan pernyataan yang ditandatanganinya. Seperti para pemimpin Protestan lainnya – termasuk Ridley dan Latimer, yang telah dibakar pada tahun sebelumnya – ia pun dihukum. Di dalam api, Cranmer mengulurkan tangannya yang telah menandatangani pernyataan itu, agar tangan tersebut menjadi bagian badannya yang pertama menjadi abu.

Buku yang ditulis oleh martir Cranmer akan kembali berperan di bawah adik perempuan Mary, Elizabeth, putri kedua Henry, yang membawa Inggris kembali pada Reformasi.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:15 pm

55) Tahun 1559 John Knox Kembali ke Skotlandia untuk Memimpin Reformasi

Abad keenam belas adalah masa bergejolak bagi Skotlandia yang kecil, miskin dan tercabik karena perang. Para bangsawan yang berkuasa mendukung Inggris atau Perancis. Pergolakan di dalam dan ancaman luar telah menciptakan kerancuan politik yang mengharapkan perubahan.

Dari sudut agama, reformasi telah ditindas habis-habisan. Pendeta Lutheran, Patrick Hamilton, mati dibakar pada tahun 1528. Disusul George Wishart pada tahun 1548. Salah seorang pendukung Wishart, Pendeta John Knox yang dulu tidak pernah begitu dikenal mengambil alih reformasi tersebut, tetapi tidak lama.

Knox ditangkap pasukan Perancis yang dikirim untuk mengatasi para pemberontak yang telah membalas kematian Wishart dengan membunuh Kardinal Beaton, yang telah memerintahkan menghukum Wishart. Knox menjadi budak pada sebuah perahu selama sembilan belas bulan. Ketika ia dibebaskan, ia pergi ke Inggris yang Protestan, tempat ia berdiam hingga Mary naik takhta. Kemudian ia lari ke Eropa, bersama-sama dengan orang-orang Protestan lainnya. Di Jenewa, ia menjadi salah seorang pengikut Calvin yang mengagumkan dan terbenam dalam teologi Reformasi.

Ketika Knox berada di luar negeri, Skotlandia menjadi mitra Perancis melalui perkawinan Mary Stuart, ratu Skotlandia, dengan pewaris takhta Perancis. Banyak di antara orang-orang Skotlandia takut akan pemerintahan Perancis yang Katolik. Perpaduan antara rasa nasionalisme dan ketidakpuasan agama bangkit untuk menciptakan iklim reformasi.

Knox kembali ke negaranya pada tahun 1559 untuk memberi dukungan. Pertempuran antara pasukan sang ratu dan orang-orang Protestan pun usai, dengan kemenangan bagi pihak Protestan. Pada tahun 1560, parlemen menganut iman Calvinisme, yang disusun oleh Knox dan yang lainnya. Parlemen juga menyatakan bahwa paus tidak mempunyai hak di Skotlandia dan melarang misa.

Untuk menggantikan tata tertib Katolik, Knox dan para pengikutnya menulis Buku Disiplin yang menjelaskan pemerintahan Gereja Presbiterian yang sudah dimodifikasi. Buku itu juga memberikan pendidikan yang komprehensif, termasuk universitas. Karya itu juga menjadi tanda batas negeri itu, yang membantu perkembangan kebebasan yang mandiri dan semangat demokrasi.

Untuk menuntun kebaktian Gereja Presbiterian, Knox menulis Buku Tata Ibadah Umum, yang mengacu pada Calvin dan reformator Swiss lainnya. John Knox dan sang ratu sering bertengkar. Keadaan di istana ratu yang Katolik itu secara moral memang longgar. Dari mimbarnya di St. Giles, Edinburgh, Knox mencela ratu tersebut. Meskipun sang ratu tidak berupaya mempertohatkan kembali orang-orang Skotlandia, ia menjalankan kepercayaannya di kapel pribadinya — sesuatu yang tidak disetujui Knox.

Meskipun Mary orangnya cantik, dia tidak bijak dalam urusan politik dan pribadi. Setelah kematian suami Perancisnya itu, ia menikah dengan saudara sepupunya, Lord Darnley. Setelah kematian suaminya yang cukup mencurigakan, ia buru-buru menikahi Pangeran Bothwell. Pada tahap itu orang-orang Katolik pun membencinya. Para bangsawan Skotlandia mendesaknya turun takhta, sehingga terbukalah jalan bagi sebuah negeri Skotlandia yang Protestan. Putranya, James, yang akan mewarisi takhta Inggris, bukanlah Katolik, dan Knox memperlihatkan persetujuannya dengan berkhotbah pada penobatan bocah itu pada tahun 1567.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:15 pm

56) Tahun 1572 Pembantaian pada Hari Santo Bartolomeus

Ada secercah harapan damai di Paris pada tanggal 18 Agustus 1572. Sebuah pernikahan yang megah menjalin dua faksi yang bertikai di Perancis. Henry dari Nawarre berasal dari keluarga Protestan sejati. Ia menikahi Marguerite dari Valois, saudara perempuan Raja Charles IX yang muda dan putri Catherine de Medici, seorang Katolik. Para bangsawan Protestan dan Katolik yang bertempur satu dengan lainnya selama sepuluh tahun menghadiri peristiwa agung ini.

Calvinisme telah sampai ke Perancis pada tahun 1555. Gereja Protestan Perancis dengan resmi didirikan pada tahun 1559, dengan tujuh puluh dua jemaat dalam Sinode Paris. Para misionaris berdatangan dari Strasbourg dan kota-kota Calvinis lainnya. Tidak lama kemudian terdapat 2.000 gereja dan 400.000 pengunjung. Kaum Protestan Perancis dikenal sebagai Huguenot.

Perang meletus pada tahun 1562, dengan pembantaian para Huguenot di Vassy. Orang-orang Protestan telah mengembangkan komando militernya sendiri dan mengadakan perlawanan dalam tiga "perang agama" yang terpisah. Manuvernya sama rumitnya dengan permainan catur. Ratu Catherine de Medici berupaya mengonsolidasikan kekuasaannya atas takhta putranya yang muda dengan mengadu domba para pesaingnya.

Perpaduan persaingan nasionalisme, dinasti, agama dan politik telah menyulut api tersebut. Bagaimana Perancis menjalin hubungan dengan negara-negara Spanyol, Belanda dan Inggris? Menurut dinastinya, sang ratu telah bersekutu dengan Guises untuk melawan Bourbon. Politik dan agama agaknya menyatu, karena para bangsawan Huguenot lebih cenderung menjadi republikan, anti kerajaan dan anti kepausan.

Sementara ia merencanakan perkawinan ini, Catherine merencanakan juga pembunuhan Gaspard de Coligny, pemimpin Huguenot. Coligny adalah pahlawan Perancis populer yang telah menjadi Protestan. Akhir-akhir ini ia banyak didengar oleh sang raja remaja itu, khususnya, ia telah menyarankan agar Perancis mendukung Belanda melawan Spanyol, strategi yang ditentang Catherine. Pada tanggal 22 Agustus usaha pembunuhan gagal total. Sesudah pesta perkawinan, rencana terselubung seperti itu memalukan keluarga kerajaan. Menurut laporan, sang raja mengatakan, "Jika Anda ingin membunuh Coligny, mengapa Anda tidak membunuh semua Huguenot di Perancis agar tidak ada seorang pun tertinggal dan membenci saya?"

Hal itu hampir saja terjadi. Dalam kepanikannya, Catherine memerintahkan agar semua pemimpin Protestan di Paris dibantai. Perintah itu dilaksanakan pada pukul 4 pagi tanggal 24 Agustus 1572 – Hari St. Bartolomeus. Coligny terbunuh di kamarnya. Claudy Marcel, seorang pejabat kota, membentuk kelompok-kelompok perusuh (termasuk sejumlah tukang pukul asing) untuk memburu para pemimpin Huguenot lainnya. Tidak sukar mencari mereka. Umumnya para Huguenot adalah pedagang-pedagang makmur di kota. Mereka memiliki toko-toko sendiri. Dengan tiba-tiba saja kebencian kalangan bawah meluap pada warga kelas menengah ini. Atas nama kemurnian agama, pembantaian keji dimulai.

Ratusan jasad telah ditumpuk. Banyak yang dibuang di sungai Seine. Kekejaman itu sungguh mengejutkan: Seorang penjilid buku dipanggang dengan api dari pembakaran buku-bukunya sendiri – berikut ketujuh orang anaknya. Para bayi pun tidak luput dari pertumpahan darah itu.

Kegilaan ini menyebar ke propinsi-propinsi lain pada hari-hari bahkan minggu-minggu berikutnya. Catherine berusaha mengakhiri kekerasan di Paris itu dengan meminta Charles menandatangani pernyataan bahwa pembunuhan Coligny dan para Huguenot lainnya bukan untuk mematikan iman Protestan, melainkan hanya untuk membatalkan sebuah konspirasi. Hal itu mungkin mengobati luka warga Paris, tetapi di daerah-daerah lainnya di Perancis, teror itu baru mulai. Meskipun ada perintah kerajaan kepada para gubernur di propinsi untuk memberi "perlindungan" kepada para Huguenot, para perusuh bertambah ganas.

Di Lyons, contohnya, para Huguenot digiring untuk "berlindung" ke sebuah biara. Ketika di sana sudah penuh, mereka dipindahkan ke sebuah penjara. Namun, para perusuh Katolik berupaya menyerang penjara tersebut dan membunuh mereka. Di mana-mana para Huguenot dipaksa membayar uang tebusan berat bagi keselamatan mereka sendiri, namun mereka dibunuh juga.

Angka perkiraan kematian mereka mencapai 100.000, walaupun mungkin sesungguhnya hanya berkisar 30.000 atau 40.000 orang. Namun, pembantaian tersebut tidak memadamkan api Huguenot di Perancis. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi lima kali perang saudara antara Protestan dan Katolik di Perancis.

Tidak lama setelah perang terakhir, pada tahun 1589, Henry dari Nawarre – mempelai laki-laki yang Protestan, pada perkawinan itu – menjadi raja. Sebelumnya, untuk keperluan politik, ia pernah menanggalkan ikatan Protestannya – perbuatan ini diulanginya lagi ketika ia menjadi raja. Pada tahun 1598 ia mencoba mendamaikan para Huguenot dengan Edik Nantes yang memberi kebebasan agama terbatas – sekurang-kurangnya di kubu Huguenot. Namun, ia membatasi serangan orang-orang Protestan ke daerah-daerah Katolik.

Masa kejayaan para Huguenot sangat singkat. Kardinal Richelieu menghentikan kesempatan berpolitik mereka pada tahun 1629, dan Louis XIV dengan resmi membatalkan Edik Nantes pada tahun 1685. Hal itu menjadi era lain sebelum kekuasaan Katolik di Perancis ditantang lagi.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:16 pm

57) Tahun 1608-1609 John Smyth Membaptis Orang-orang Baptis Pertama

Pada dekade pertama abad ketujuh belas, dua rombongan melarikan diri ke Belanda, karena penyiksaan Anglikan. Salah satu dari rombongan ini menjadi kaum Pilgrim, yang lain menjadi kaum Baptis.

Masa itu adalah masa yang tidak menentu bagi sernua orang Kristen di Inggris. Ratu Elisabeth telah menstabilkan Reformasi Anglikan melalui jalur moderat – yakni melalui Gereja Anglikan yang mirip Katolik. Ia telah menghindari perang saudara berdarah yang telah menghancurkan Eropa. Tetapi keputusannya mengganggu pikiran banyak orang Protestan yang radikal. Beberapa di antaranya ingin "menyucikan" Gereja dari dalam (kaum Puritan), tetapi yang lain memutuskan berpisah dari Gereja yang sudah ada (kaum Separatis). Namun, masih berbahaya mengadakan pertemuan-pertemuan keagamaan secara sendiri-sendiri.

Ketika James I naik takhta pada tahun 1603, tak seorang pun tahu apa yang harus diharapkan. Para Puritan dan Separatis merasa gembira dengan fakta bahwa ia dibesarkan di Skotlandia yang Presbiterian. Fakta itu mungkin akan membelokkannya ke kepentingan mereka. Orang-orang Katolik senang dengan fakta bahwa ibu James, Mary, ratu orang Skotlandia, adalah Katolik sejati. Tetapi kenyataannya, James seorang Anglikan sejati dan menyulitkan orang-orang yang tidak sepaham dengan gereja resmi.

John Smyth, lulusan Universitas Cambridge, adalah seorang pengkhotbah dan dosen di lingkungan Gereja Anglikan pada pergantian abad ketujuh betas. Pada usia tiga puluhan, tampaknya ia sudah mulai merenungkan kebenaran agama. Sekitar tahun 1606, ia memberanikan diri menclirikan Gereja Separatis di Gainsborough, Lincolnshire. Keberanian Smyth mungkin telah memberi inspirasi bagi yang lainnya. Banyak kelompok Separatis lainnya yang bermunculan di daerah itu, termasuk satu di Scrooby, di rumah William Brewster.

Ketika oposisi para penguasa marak, jemaat Smyth lari ke Amsterdam. Hal ini terjadi sekitar tahun 1608. (Kelompok Scrooby ini lari ke Leiden dan di kemudian hari mengirim sebagian keanggotaannya ke Amerika.) Di Amsterdam, gereja Smyth menyewa tempat dari seorang Mennonite. Melalui jalinan hubungan Smyth dengan kelompok Mennonite Amsterdam, Smyth mulai berubah pikiran.

Para Mennonite mengambil nama itu dari Menno Simon, mantan imam yang telah mengembangkan komunitas Anabaptis yang kokoh di Belanda. Para Anabaptis adalah orang-orang radikal dalam reformasi, yang menentang gereja-negara jenis apa pun dan menegaskan bahwa hanya orang-orang percaya yang boleh dibaptis.

Smyth yakin bahwa baptis anak tidak sesuai dengan Alkitab dan tidak logis, serta meyakinkan sekitar empat puluh anggota jemaatnya. Ia mulai membaptis ulang dirinya sendiri dan anggota-anggotanya.

Boleh dikatakan bahwa inilah awal mula Gereja Baptis. Namun, hal ini tidak terjadi begitu Baja. Kelahiran Gereja Baptis didasari oleh sebuah tradisi Baptis lain – perpecahan gereja. Pada tahun 1610, Smyth meragukan keabsahan pembaptisan independen yang ia pimpin, dan mengupayakan jemaatnya bergabung dengan Gereja Mennonite. Sepuluh orang anggota gereja menentang keras penggabungan tersebut. Mereka menentang Smyth dan meminta para Mennonite tidak menerima kelompok ini. (Para Mennonite sesungguhnya mengulur-ulur waktu dan menunggu hingga tahun 1615 untuk menerima para anggota baru tersebut – tiga tahun setelah Smyth meninggal akibat penyakit TBC.)

Sementara itu, kelompok pecahan, yang dipimpin Thomas Helwys, kembali ke negaranya. Di sana, dekat London, mereka mendirikan Gereja Baptis Inggris. Helwys, orang desa yang terhormat, yang telah belajar hukum, menjadi orang yang vokal menyarankan kebebasan beragama dengan inenerbitkan buku A Short Declaration of the Mystery of Iniquity (Deklarasi Pendek tentang Misteri Ketidakadilan). Dengan lancang ia mengirim salinan yang ditandatanganinya kepada Raja James dengan catatan: "Sang Raja adalah manusia yang bisa mati (mortal) dan ia bukan Allah, karenanya tidak berkuasa atas jiwa abadi rakyatnya, untuk membuat undang-undang bagi mereka dan untuk menentukan para pemimpin spiritual bagi mereka."

Helwys ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara Newgate – dan tidak terdengar lagi berita tentang dia.

Namun gerakan Baptis bertumbuh. Gereja-gereja ini dikenal sebagai Baptis Umum karena pandangan mereka tentang penebusan dosa. Smyth telah meniru teologi Arminian dari para Mennonite, bahwa Kristus mati bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi yang terpilih saja. Kelompok yang dikenal sebagai Baptis Khusus bangkit pada tahun 1638-1640. Mereka adalah para Puritan yang menganut ajaran baptis orang percaya, namun tidak melepas teologi Calvin. Mereka juga mempraktikkan baptis selam, yang segera diikuti Baptis Umum. Sampai saat itu, para pengikut Smyth membaptis dengan menuang (air). Menjelang 1644, terdapat empat puluh tujuh jemaat Baptis Umum di Inggris dan tujuh Baptis Khusus.

Dari awal, titik tolak kedua aliran Baptis terbesar itu telah nyata – baptis orang percaya dan kebebasan dari negara (ikrar yang mereka pegang bersama dengan Anabaptis). Hal ini berlanjut berabad-abad lamanya. Kebebasan itu telah mengakibatkan penganiayaan, perpecahan, namun telah membawa juga pencapaian individu yang besar.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:16 pm

58) Tahun 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James






"Kepada yang mahatinggi dan berkuasa Pangeran James dengan Anugerah Allah ..." Pangeran tersebut adalah putra Mary, ratu Skotlandia, dan sumber ungkapan di atas adalah persembahan dalam Alkitab yang diterjemahkan atas petunjuknya.

Ketika Ratu Elisabeth, penguasa Inggris wafat tanpa meninggalkan keturunan, James VI dari Skotlandia juga menjadi James I dari Inggris. Pada peristiwa itu, para Calvinis mengharapkan bahwa latar belakang Presbiterian pada dirinya akan menguntungkan, sedangkan gereja Inggris masih harus dikompromikan. Meskipun gereja (Inggris) telah membuang banyak ajaran Katolik yang tidak disukai gereja-gereja reformasi; ia tidak seprotestan gereja-gereja Lutheran dan Calvinis di Eropa. Sebagian orang Anglikan, dengan sandaran reformasi yang kuat, belum meninggalkan gereja negara, tetapi mereka ingin "menyucikan" Gereja – karenanya mereka disebut kaum Puritan.

Bagi James, kekuasaan mutlak ada di tangan seorang raja – ia percaya bahwa ia mempunyai "hak ilahi" untuk memerintah, sementara hierarki Anglikan dan gelar penguasa, yaitu Pembela Iman, sangat menarik baginya. la meremehkan ajaran Presbiterian, yang mengajarkan kebebasan yang tidak sepaham dengan hak ilahi seorang raja.

Bahkan sebelum James tiba di London, para Puritan sudah mengemukakan Petisi Millenary, yang diduga didukung oleh seribu orang. Mereka meminta perubahan moderat dalam Gereja Inggris. James tidak berniat menyerah pada tekanan para Puritan, namun karena jumlah mereka begitu besar, ia tidak bisa memandang sebelah mata. Maka pada Januari 1604, melalui sebuah konferensi, para uskup dan kaum Puritan bertemu di Hampton Court. Secara keseluruhan, pada pertemuan tersebut, di mana James telah mengancam akan "mengusir mereka ke luar negeri", merupakan kekalahan bagi kaum Puritan. Kemenangan tunggal mereka adalah bahwa James setuju dengan terjemahan baru Alkitab.

Sang raja membayangkan dirinya sebagai seorang terpelajar dan mungkin berpikir bahwa karya tersebut merupakan sesuatu yang berharga. Tetapi ia pun ingin melepaskan Alkitab Jenewa – versi populer, yang diterbitkan pada tahun 1560, yang cenderung Calvinis. Alkitab Para Uskup versi 1568 yang dimaksudkan untuk menggantikan Alkitab Jenewa telah diterima untuk dipakai di gereja, namun orang awam tidak pernah memilikinya. Jelaslah, terjemahan yang mendukung hak seorang raja dan diterima sebagai Alkitab yang dibaca umum, akan menguntungkan James.

Ia menunjuk lima puluh empat orang terpelajar, dibagi atas kelompok yang terdiri atas tujuh atau delapan orang, yang dapat bekerja sendiri-sendiri atau bersama-sama. Untuk mewujudkan Alkitab baru, mereka mengacu pada teks asli dan terjemahan-terjemahan sebelumnya. Alkitab Tyndale, misalnya, berdampak besar atas karya mereka.

Terjemahan tersebut berlangsung dari tahun 1607 sampai tahun 1611. Meskipun "versi yang berwibawa" atau Alkitab Versi Raja James tidak mendapat pengakuan resmi dari James, namun lambat-laun Alkitab tersebut menggantikan Alkitab Jenewa. Terjemahannya yang terpelajar dan akurat bertahan berabad-abad lamanya.
Bagi sekelompok orang, inilah Alkitabnya.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:17 pm

59) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower

"Jika tidak ada uskup, tidak ada raja," demikian seru James I, memberitahukan kepada kaum Puritan bahwa mereka memiliki seorang raja, dengan sendirinya mereka juga mempunyai uskup gereja. Namun ia masih belum berhadapan dengan iman fanatik yang melekat pada para "pemurni" (purifiers) gereja tersebut. Di antara mereka ada yang masih ingin bertahan dalam gereja, tetapi mereka tidak merasakan bahwa reformasi akan berhasil di bawah raja yang bersikap bermusuhan ini. Karena keadaan ini, para Separatis mengundurkan diri dari jemaat Anglikan – dan akhirnya dari sang raja juga.

Sebagai respons atas penolakan mereka terhadap Gereja Anglikan, pemerintah telah memenjarakan dan mengusik sejumlah kaum Separatis. Meskipun pemerintah tidak menekan mereka, gerombolan pengusik mengganggu pertemuan-pertemuan para Separatis.

Robert Browne telah memimpin sejumlah kaum Separatis ke Negeri Belanda, yang menunjukkan toleransi kepada para pembangkang. Namun, mereka tetap merupakan orang asing di negeri itu. Bagaimanapun pluralisme Belanda ini tidak membantu dalam membangun komunitas mereka sendiri, dan banyak yang takut jika anak-anak mereka juga akan menjadi orang-orang yang tidak beragama.

Keresahan ini membuat mereka beralih ke Dunia Baru (Amerika). Mungkin di sana mereka dapat membangun gereja murni yang bersih dari kerusakan Gereja Inggris. Di daerah yang tidak mempunyai pemerintahan yang kokoh, mereka dapat menciptakan pemerintahan yang akan mencerminkan idealisme Calvin. Bahkan daerah baru yang liar sekalipun tidak dapat membendung semangat mereka akan harapan kebebasan.

Pemimpin Separatis, John Robinson, berkata, "Mereka tahu bahwa mereka adalah peziarah." Negeri Belanda tidak merupakan tanah perjanjian, jadi mungkin Amerikalah tanah itu. Dengan sebuah kapal bernama Mayflower, 102 Separatis Inggris, yang kembali sejenak ke Inggris, berlayar dari pelabuhan Plymouth.

Meskipun tujuan mereka ialah Virginia, namun badai mengubah arah mereka dan mendaratkan mereka di Massachusetts. Salah seorang Peziarah itu melukiskan daerah baru itu sebagai "rimba yang sunyi dan mengerikan".

Tidak kurang liarnya dengan tempat mereka mendarat, para peziarah takut pada anarki dan liarnya sifat manusia. Izin yang diberikan untuk mendarat di Virginia tidak mempunyai kekuatan hukum di sini. Mereka harus menciptakan pemerintahan yang tertata agar mereka dapat mendirikan kerajaan Allah.

Berdesak-desakan dalam kapal yang mereka tumpangi, empat puluh satu orang menandatangani Perjanjian Mayflower. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa mereka akan mengolah koloni baru ini demi kemuliaan Allah dan demi kemajuan kekristenan. Mereka setuju memberlakukan undang-undang bagi kebaikan masyarakat umum dan berikrar untuk berpegang pada solidaritas kelompok serta menjauhkan kepentingan diri sendiri.

Perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa mereka memerintah diri mereka sendiri. Tentunya William Bradford dan Bapa Peziarah lainnya, yang menandatangani perjanjian tersebut, percaya bahwa mereka memerintah tanpa berpisah dari Allah – penguasa segalanya – namun mereka tidak mengadakan persiapan bagi pemerintahan yang dipimpin oleh raja manusia.

James I terkejut mendengar mereka menolak pemerintahan para uskup dan ia juga tidak bersimpati kepada mereka yang menolak pemerintahannya. Tetapi, tanpa harus berurusan dengan kelompok kecil tanpa izin dan liar yang bermukim di seberang lautan ini pun, dia sudah punya cukup masalah.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:18 pm

60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya



Orang-orang Katolik secara agresif sedang memaksakan otoritasnya di Bohemia. Kaum Pratestan telah dibuang, meskipun untuk beberapa tahun lamanya mereka berupaya bersembunyi. Ketika bahaya membesar pada tahun 1628, satu rombongan melintasi pegunungan dan masuk ke Polandia.

Yang memimpin mereka dalam pembuangan itu ialah pastor, penulis sekaligus guru, Jan Amos Comenius. Ia berhenti menoleh ke belakang melihat negeri tercintanya, dan memimpin warganya dalam doa, meminta agar Allah memelihara "benih terpendam" dalam diri warganya, suatu kelompok yang akan tumbuh dan menghasilkan buah. Comenius tidak akan pernah melihat negerinya lagi.

Perang tiga puluh tahun telah menyita pusat kehidupan Comenius. Ketika perang dimulai pada tahun 1618, ia adalah seorang pastor baru dan kepala sekolah pada golongan Unity of Brethren (Unitas Fratrum), pewaris ajaran Protestan dari Yohanes Hus.

Ketika itu Eropa terdiri dari kawasan-kawasan Katolik, Lutheran dan Calvinis. Bohemia, kawasan Protestan, tidak senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang suci, maka mereka selalu memberontak. Pada tanggal 23 Mel 1618, sejumlah pemberontak Protestan menyerang istana kerajaan di Praha dan melemparkan para gubernurnya ke luar jendela. Menurut laporan, orang-orang yang terlempar itu mendarat di atas tumpukan kotoran hewan dan tidak terbunuh; namun dengan Defenestration of Prague, revolusi sedang berlangsung.

Dengan bantuan pasukan Spanyol, Kaisar Ferdinand II menghadang para pemberontak pada pertempuran White Mountain tahun 1620, dan daerah tersebut dengan resmi dinyatakan Katolik. Kaum Protestan terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Comenius memulai persembunyian tujuh tahunnya. Dengan berpindah-pindah dari ladang ke ladang secara diam-diam, ia mencoba melayani kaum Brethren yang tersisa. Lima tahun sebelum kelahiran John Bunyan, Comenius menulis The Labyrinth of the World (Labirin Dunia), sebuah alegori berliku-liku mirip Pilgrim's Progress.

Comenius dan kumpulan Brethrennya bermukim di Leszno, Polandia. Di sana ia diangkat sebagai uskup bagi Unitas Fratrum dan menerbitkan buku tentang pendidikan anak-anak serta pelajaran bahasa. Teorinya sangat revolusioner. Semua anak laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin harus dididik dengan kurikulum luas yang akan memberikan mereka akses di pelbagai bidang. Pendidikan harus dimulai dari kepedulian ibu, bahkan sejak sebelum lahir, katanya, meskipun hal itu harus melibatkan aspek-aspek bermain dan bukan hanya hafalan. Ia mendukung sederetan periode enam tahun yang dapat dibandingkan dengan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan pendidikan universitas. Sementara itu, para pengajar harus belajar metode mengajar dari alam. Belajar adalah masalah perkembangan, bukan hanya masalah memperoleh informasi.

Perang tiga puluh tahun merebak terus. Kaum Protestan Denmark menyerang kawasan Katolik, tetapi terpukul balik. Raja Swedia, Gustavus Adolphus, memasuki pergolakan ini dengan berpihak pada Protestan. Ia memperoleh beberapa kemenangan, namun ia meninggal pada tahun 1632.

Sementara itu, Comenius tetap meraih reputasi sebagai seorang terpelajar dan pendidik.
Ia menulis The Way of Light (Jalan Terang) dengan harapan bahwa pendidikan yang benar akan meningkatkan perdamaian. Pada tahun 1641, Parlemen Inggris mengundangnya untuk mempraktikkan teorinya dengan mendirikan perguruan "pansophic" (aneka pengetahuan) di Inggris. Sekali lagi perang saudara merebak, yang memaksa Comenius lari. Untuk sementara waktu ia bermukim di Prusia. Dari sana ia pergi ke Swedia sebagai konsultan pendidikan bagi Perdana Menteri, Axel Oxenstierna. Ia juga meminta perdana menteri agar tidak melupakan perihal Brethren ketika perang hampir usai.

Anehnya, Perancis mengubah arah dalam perang itu. Meskipun merupakan negara Katolik, Perancis melihat kesempatan melumpuhkan kekuatan dinasti Hapsburg dan memenangkan beberapa kawasan baginya sendiri. Pasukan Perancis memasuki kancah perang pada tahun 1635, dan perang terus berlanjut. Pada tahun 1648, Perdamaian Westphalia membagi-bagi rampasan perang yang telah menguras Eropa. Kekaisaran Roma porak-poranda dan ada yang menafsirkan bahwa Jerman telah kehilangan setengah penduduknya dalam peperangan itu. Perancis 'memenangkan kawasan-kawasan baru. Kaum Calvinis dan Lutheran meraih keuntungan dengan pencapaian toleransi kaum Calvinis.

Namun, kaum Brethren tidak menerima baik hak kembali ke Bohemia maupun daerah permukiman baru. Comenius melanjutkan pengembaraannya sepanjang sisa hidupnya. Selama dua puluh dua tahun ia berkelana, melayani kaum Brethren yang terbuang jauh. Ketika rumahnya di Polandia dihakar, ia kehilangan sebagian besar ensiklopedi yang disusunnya. Namun, berkat perlindungan seorang Belanda, ia menerbitkan banyak buku tentang pendidikan – termasuk buku bergambar pertama untuk anak-anak, The World in Pictures (Dunia dalam Gambar).

Comenius dihargai dan dihormati, namun ia jarang didengar. Pada usia tujuh puluh lima tahun ia muncul di sebuah persidangan untuk memohon perdamaian antara Inggris dan Negeri Belanda – tetapi mereka meremehkan sarannya. la mempunyai visi pendidikan yang akan membawa kesempurnaan spiritual dan perdamaian dunia. Meski tujuan pertama menarik beberapa negara, tak satu pun ingin mencoba tujuan kedua.

Walaupun ia dengan tepat dapat dikatakan sebagai salah seorang Bapa Oikumene, Comenius sering tidak dihiraukan. Ia lehih dihargai dunia sekular daripada oleh Gereja, dan ia sering dielukan sebagai Bapa Pendidikan Modern.

"Benih terpendam" yang didoakan Comenius muncul di kemudian hari. Serombongan Brethren bermigrasi ke Herrnhut, di Jerman, pada awal-awal abad kedelapan belas. Di sana terjadilah kebangkitan spiritual yang menyulut upaya misi besar yang merambat ke seluruh dunia.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:22 pm

61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster

Tidak semua orang di Inggris menerima gereja negara. Dari awal, banyak yang telah melihat Anglikanisme sebagai sistem yang tidak menjangkau doktrin-doktrin Reformasi. Ratu Elisabeth I telah menyetujui Tiga Puluh Sembilan Pasal pada tahun 1563, yang mendirikan Gereja Inggris episkopal. Dari awal, kaum Puritan telah mendesak terbentuknya pemerintahan Presbiterian dan kebaktian-kebaktian yang kurang ritual, namun permintaan mereka tidak diacuhkan.

Para raja Stuart – James I dan putranya, Charles I – telah berupaya meningkatkan kekuatan sistem episkopal. Charles yang menginginkan keselarasan di Skotlandia dan Inggris, berupaya memaksakan Anglikanisme kepada orang-orang Presbiterian Skotlandia. Situasi yang mudah berubah ini ditangani dengan ceroboh sehingga mengakibatkan Perang Saudara di Inggris.

Charles I mempunyai sejarah pertikaian panjang dengan parlemen. Pada musim semi tahun 1640, ia membentuk parlemen yang menentangnya dengan keras. Serta-merta ia membubarkannya dan membentuk parlemen lain pada musim gugur tahun yang sama. Parlemen berunsurkan Puritan yang bertahan lama inilah yang menjadi penyebab kejatuhannya.

Dua tahun kemudian, pada parlemen yang sama, raja mencoba menangkap sejumlah anggota dewan yang menentangnya. Tuduhannya bahwa orang-orang tersebut telah berkhianat, memicu perang yang membawa Inggris menganut Puritanisme untuk beberapa waktu lamanya.

Pada awal tahun 1643, parlemen telah menghilangkan sistem episkopal. Untuk mendirikan sebuah Gereja Presbiterian sebagai gantinya, mereka mengadakan pertemuan di Westminster Abbey. Seratus dua puluh satu pendeta dan tiga puluh orang awam — beberapa dari mereka adalah orang-orang Skotlandia — berhimpun untuk membangun kembali gereja Inggris.

Selama enam tahun Pertemuan Westminster tersebut, Oliver Cromwell, pemimpin pasukan parlemen itu, membawa para Puritan berkuasa. Sang raja dipenggal kepalanya pada tahun 1649.

Pertemuan Westminster tersebut mewujudkan Pengakuan Iman Westminster (1646), suatu karya yang akan menjadi klasik dalam pemikiran presbterian, dan Katekismus Kecil Westminster (1647) serta Katekismus Besar (1648). Kepercayaan yang mereka gariskan sepenuhnya Calvanistik.

Pengakuan Iman tersebut mengajarkan inspirasi kitab suci dengan menyatakan Alkitab sebagai otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen.

Dalam bahasa aslinya, kitab suci "diinspirasikan (diilhami) Tuhan, dan ... dipelihara kesuciannya sepanjang masa". Namun, jaminan akan otoritas ilahi berasal "dari karya Roh Kudus dari dalam".

Pengakuan Iman Westminster menyertakan juga doktrin takdir – sebuah topik yang tidak
digubris Tiga Puluh Sembilan Pasal. Pengakuan Iman itu menyatakan, "Sebagian manusia dan malaikat ditakdirkan untuk hidup abadi, dan yang lain ditetapkan untuk kematian abadi." Namun, "Allah bukan pencipta dosa, dan bukan juga kekerasan yang ditawarkan bagi kehendak makhluk".

Lebih lanjut, Pengakuan Iman itu menekankan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya melalui perjanjian. Penebusan umat manusia merupakan perimbangan antara kedaulatan Allah dan pertanggungjawaban manusia.

Pengakuan Iman ditetapkan oleh para penatua, bukan oleh pastor dan uskup, serta tidak memberi tempat (seperti yang dilakukan oleh Tiga Puluh Sembilan Pasal) bagi transsubstansiasi. Pengakuan Iman itu juga mengikat orang percaya pada hari Sabat, hari yang dikhususkan untuk berdoa secara pribadi dan ibadah umum.

Namun Puritanisme di Inggris tidak bertahan lama. Pada tahun 1658, dengan kematian Oliver Cromwell, tidak ada pemimpin kuat yang muncul dari pihak Puritan. Meskipun putra Cromwell, Richard, telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pelindung Inggris, ia tidak memiliki kemampuan memimpin seperti ayahnya. Richard mengundurkan diri secara terhormat, dan Inggris kembali menjadi kerajaan di bawah Charles II, putra Charles I.

Di Inggris, raja baru ini dengan sukses memulihkan sistem episkopal. Namun orang-orang Skotlandia berpegang erat pada Pengakuan Iman Westminster, dengan mengikatnya pada gereja Skotlandia. Melalui Skotlandia, Pengakuan Iman Westminster telah menjadi julukan bagi "Calvinisme yang bersejarah".

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:24 pm

62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends

Abad ketujuh belas adalah masa perubahan agama dan kebebasan yang sedikit demi sedikit meningkat. Dalam satu gereja "universal", bertumbuh banyak aliran. Reformasi telah mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang mendasari iman. Namun pertanyaannya, interpretasi apa yang harus diterima orang Kristen? Perbedaan pun merebak – semuanya atas nama Kitab Suci.

Kaum Puritan menentang Gereja Inggris yang tidak sepaham dengan mereka tentang Kitab Suci. Tetapi, meskipun mereka tidak menyukai sistem imamat Anglikan, mereka tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum rohaniwan.

George Fox, yang mendirikan Society of Friends – atau Quakers – melakukan hal itu.

Seperti yang lainnya, George Fox tidak me-rasa nyaman dengan agama-agama formal pada zamannya. Juga kelompok-kelompok pembangkang seperti Presbiterian dan Independen, bagi Fox, mempunyai amat banyak formalitas. Ia percaya bahwa mereka menyerah pada berbagai tekanan pemerintah. Gereja telah menjadi pelayan umum dan telah menjauhkan diri dari Allah.

Dalam usahanya mencari kedamaian spiritual, Fox mengunjungi banyak penasihat, tetapi tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada suatu hari, tahun 1647, ada suara yang mengatakan, "Ada satu, yaitu Yesus Kristus, yang dapat berbicara tentang kondisimu." Hal itu membawa perubahan pada Fox, yang sejak itu mendedikasikan dirinya untuk mengikuti terang yang ada pada dirinya (Inner Light) yang telah diberikan Allah – dan pada setiap orang yang menerima-Nya. Semua orang Kristen – semua sahabat Yesus – mempunyai akses langsung kepada Allah. Fox mengajarkan bahwa dengan mengikuti terang yang telah dianugerahkan Allah, siapa pun dapat melumpuhkan kekuatan setan dan cengkeraman dosa.

Ajaran-ajaran Fox yang sederhana tetapi juga keras menarik banyak peminat. Para sahabat (Friends), sebutan bagi mereka, meninggalkan tradisi bersumpah, berpakaian sederhana, makan hati-hati dan bicara dengan jujur. Mereka menentang keterlibatan dalam peperangan. Meskipun ditentang pemerintah, mereka memprotes segala formalitas kebaktian, mereka menolak mengangkat topi bagi siapa pun, mereka tidak membayar persepuluhan (merupakan pajak penghasilan, di Inggris) pada gereja negara.

Banyak Society of Friends bermunculan di Inggris, selama George Fox yang berani itu berkhotbah. Di rumah-rumah tempat mereka mengadakan berbagai pertemuan, para aristokrat dan orang biasa bersama-sama mengikuti kebaktian. Tidak ada rohaniwan yang istimewa. Pria dan wanita dapat berbicara karena mereka merasa bahwa mereka dituntun Rob.

Dalam sebuah kelompok yang bergantung pada dorongan Roh secara pribadi, terdapat juga penyimpangan – dan ini membuat banyak orang yang sebenarnya toleran berhalik menentang Friends. Penekanan Friends pada kebebasan juga mengundang oposisi pemerintah.

Fox dipenjarakan karena ajarannya. Ketika ia berhadapan dengan seorang hakim yang mencela kepercayaan kelompoknya, Fox memperingatkannya untuk "gentar pada firman Allah".

"Kalianlah para pembuat gentar, quakers," jawab hakim tersebut. Nama itu menjadi abadi.
Di bawah pemerintahan Oliver Cromwell, toleransi menjadi peraturan umum bagi berbagai aliran yang berbeda, yang menyusun bala tentara dan kesatuan politiknya. Meskipun Cromwell kagum pada kejujuran dan integritas para Quaker, ia tidak memperluas toleransi terhadap mereka. Meskipun penganiayaan sudah berkurang dibanding pada masa pemerintahan raja-raja, iman yang mencari kebebasan individual seperti itu tidak dapat diterima oleh seorang pemimpin sekaliber Cromwell.

Meskipun menghadapi penganiayaan, Quaker bertumbuh, karena banyak yang merasakan sentuhan iman yang menekankan bahwa setiap individu harus mengalami Kristus di dalam dirinya.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:25 pm

63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang

Karya seni yang sempurna, Kembalinya Anak Hilang diciptakan oleh seorang yang paham tentang apa artinya menjadi seorang pemboros. Melalui karya seninya, ia menunjukkan betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan. Rembrandt Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar – seorang yang dalam dirinya, iman dan seni terpadu dengan selaras.

Ia dilahirkan dalam keluarga gereja Reformasi yang amat saleh. Meskipun orangtuanya menginginkan ia menjadi orang terpelajar, jelaslah bahwa ia dianugerahi bakat seni lukis. Mengikuti kebiasaan pada waktu itu, Rembrandt magang pada pelukis yang mapan dan belajar melukis cerita-cerita Alkitab, peristiwa-peristiwa dalam sejarah, serta mitologi Romawi dan Yunani. Namun, seni lukis yang ia kembangkan adalah gayanya sendiri yang agak berbeda. Para pelukis Protestan lain membatasi lukisan religiusnya pada gambar-gambar yang ada di Alkitab, dan para pelukis Katolik menggambarkan para santo; tetapi Rembrandt membuat setiap lukisannya sebagai suatu pernyataan iman. Ketika orang-orang Protestan menyatakan bahwa Alkitab sajalah norma agama bagi manusia, Rembrandt memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat juga menjadi norma bagi seni lukis agamawi.

Pada zaman Rembrandt, orang-orang dalam lukisan-lukisan Alkitab tampak seperti pahlawan luar biasa, hanya sedikit berbeda dari para dewa dan manusia setengah dewa seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan mitologis. Tidak demikian halnya pada gambaran-gambaran Rembrandt. Ia menunjukkan kemanusiaan sebagaimana adanya: cacat, berdosa dan membutuhkan keselamatan. Lelaki dan perempuan "sesungguhnya" mengisi karyanya, termasuk istri dan anaknya – dan juga orang-orang jalanan. Dengan berpakaian seorang pengemis lesu yang mengenakan sorban, Rembrandt menjadikan dirinya potret raja Israel yang menakjubkan. Seorang Yahudi tua digambarkan sebagai Rasul Paulus.

Rembrandt juga menjadikan dirinya sebagai model. Dalam The Raising of the Cross, yang menggambarkan dosa manusia, ia membantu menyalib kristus. Meskipun ia menciptakan gambar tersebut, pelukis tersebut tak luput dari kebutuhan keselamatan pribadi.

Kepiawaiannya menggunakan chiaroscuro – suatu teknik yang mengkontraskan latar belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar – adalah ciri khas karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap seringkali dengan jelas memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam modelnya.

Namun, tujuan utama Rembrandt bukanlah untuk menginjili. Ia mencari nafkah dengan melukis dan karyanya terdiri dari baik yang "spiritual" maupun "duniawi". Ada karyanya yang meskipun tidak dimaksudkan menggambarkan suasana keagamaan, namun mengandung perspektif sang pelukis tentang dunia dan kemanusiaan. Ia melihat keindahan pada alam ciptaan Allah – dan ia melihat dengan baik keindahan dan dosa pada wajah-wajah manusia di hadapannya.

Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristen, kehidupan pribadi Rembrandt tidaklah tanpa cacat. Ia menikahi Saskia, seorang wanita muda dan kaya, yang meninggal pada tahun 1642. Surat wasiatnya mengatakan bahwa: jika Rembrandt menikah lagi, seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus. Terhimpit kesukaran keuangan, sang pelukis tentunya merasa bahwa is tidak dapat mengorbankan uang warisan. Karenanya, ia menjadikan wanita pengurus rumah tangganya Hendrickje sebagai istrinya di luar nikah.

Rembrandt menurunkan pada generasi-generasi berikutnya gambaran unik Protestan ten-tang dunia ciptaan Allah. Calvin pernah menyerukan, "Hanya benda-benda yang sanggup dilihat mats yang harus dilukis." Mata Rembrandt menciptakan gambar yang memberitakan kebenaran. Kembalinya Anak Hilang menunjukkan kemanusiaan Rembrandt, cinta akan uraian mendalam dan persepsi yang tajam akan hati manusia. Ayah pemaaf, anak yang menyesal dan anak sulung, dalam pakaian abad ketujuh belas, semuanya sangat cocok dengan perumpamaan Yesus. Hal ini mengingatkan kita akan keabadian dan ketepatan waktu Kitab Suci.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:27 pm

64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria

Menjelang akhir abad ketujuh belas, Gereja Lutheran telah menjauh dari pandangannya sendiri akan iman pribadi dan dalam keinginan mencari doktrin yang benar. Seorang pastor menentang keadaan demikian dengan sebuah buku kecil yang mengubah Protestanisme.

Ketika belajar di Universitas Strasbourg, Philip Jacob Spener telah mempelajari bahasa-bahasa, doktrin dan sejarah Alkitab yang umumnya adalah bagian dari pelajaran pelayanan. Tetapi para profesornya juga mengingatkan dia tentang perlunya kelahiran kembali secara spiritual dan etika Kristen. Spener menemukan kebutuhan penerapan kesarjanaannya pada pengalaman pribadinya. Jika seseorang tidak lahir baru maka semua agama formal tidak akan berpengaruh.

Ketika pendeta baru ini berkhotbah menentang kemalasan dan perilaku amoral, dan berupaya agar jemaatnya mempraktikkan iman Kristen secara pribadi, ia berhadapan dengan kontroversi. Kaum rohaniwan Gereja Lutheran yang menganggap diri mereka sebagai pusat gereja merasa terancam dengan pembalikan yang bersifat individualistis seperti yang dikhotbahkannya.

Spener mengadakan berbagai persekutuan doa, yang dikenal sebagai collegia pietatis, yang kemudian menjadi dasar gerakan Pietisme.

Tidak puas dengan berkhotbah dari mimbarnya sendiri di Frankfurt dan pembentukan kelompok-kelompok lokal, pastor Lutheran tersebut menuliskan ide-idenya untuk suatu pembaruan. Pada tahun 1675 ia menerbitkan Pia Desideria, "Hasrat Kesalehan", yang menampilkan enam butir rencana.

Pertama, ia ingin melihat orang-orang Kristen mempunyai pemahaman tentang Kitab Suci yang lebih mendalam dan lebih berpengaruh pada kehidupan. Untuk mencapai tujuan ini, ia menyarankan pertemuan-pertemuan kecil di rumah-rumah. Kalangan Gereja abad ketujuh belas melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru dan mungkin merupakan ide yang mengancam.

Spener menghendaki Gereja memandang imamat am semua orang percaya dengan serius, maka ia menyarankan memberi tanggung jawab kepada orang-orang awam yang ada di lingkungan collegia pietatis. Meskipun pastor itu penting adanya, ia tidak harus memikul seluruh beban untuk memberikan santapan rohani.

Untuk menentang ketakutan pada masanya, bahwa individualisme menjurus pada keonaran, Spener menyarankan agar Gereja menekankan pengalaman pribadi. Ia melihat bahwa doktrin yang benar saja akan menjurus ke iman yang mati.

Memetik pelajaran dari Perang Tiga Puluh Tabun yang telah membuktikan bahaya kontroversi agama, Spener berupaya mengelakkan konflik teologis. Jika tidak terelakkan, maka perdebatan harus dilakukan dengan semangat cinta kasih. Namun, ia mendesak orang-orang agar berpegang pada butir-butir iman yang penting saja dan tidak bertele-tele dengan hal-hal remeh. Lebih baik, ia katakan pada mereka, berdoa bagi orang yang melakukan kesalahan daripada memarahi dia.

Para pastor bukan saja harus mempelajari Alkitab dan teologi, mereka juga harus tabu menangani kaum awam, ujar Spener. Imam yang tidak dapat menunjukkan hidup devosi tidak dapat menuntun jemaatnya ke arah itu.

Ia juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan. Mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat dimengerti dan membangkitkan. Daripada hanya berceramah, para pastor diharuskan memberi inspirasi kepada umat Tuhan.

Rangsangan yang dibangkitkan oleh ide-ide Spener menyebabkan ia berpindah dari Frankfurt ke Dresden dan kemudian ke Berlin. Di Berlin, pada tahun 1694, ia dan August Francke membentuk Universitas Halle. Di bawah Francke, universitas itu menjadi pusat penginjilan dan misi. Bertahun-tahun setelah Gereja Katolik membawa misinya ke Asia dan Amerika, misi Protestan bermula di Halle, sebagai pusat untuk studi bahasa-bahasa Timur dan penerjemahan Alkitab.

Meskipun kaum rohaniwan melihat ancaman besar pada program reformasi Spener, pro-gram itu membawa kegembiraan bagi kaum awam. Di gereja-gereja yang telah menganut ajarannya, kehidupan keluarga meningkat, standar-standar moral dibangkitkan, dan orangorang memahami bahwa kekristenan lebih daripada sekadar menyetujui suatu katekimus saja. Berbagai pertemuan kelompok-kelompok kecil mewujudkan semangat kekeluargaan dalam jemaat, dan Alkitab menjadi hidup bagi orangorang percaya.

Luther pernah menekankan pentingnya jemaat menyanyikan puji-pujian, namun kebiasaan itu telah melemah. Pietisme memberi dorongan besar bagi puji-pujian, dan penulis seperti Paul Gerhardt, Joachim Neander dan Gerhardt Tersteegen, menciptakan puji-pujian yang di kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai buku-buku kidung Methodis.

Banyak gereja yang terpengaruh Pietisme mengembangkan pemahaman Alkitab, doa kelompok, dan mencapai lebih daripada yang diidealkan pendirinya. Aspek pragmatis Pietisme – yang menekankan perasaan dan penyebaran Kekristenan – akan berdampak jauh dan khususnya berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di Amerika.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:28 pm

65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress Diterbitkan

Salah satu karya klasik Kristen terbesar muncul bukan dari aula-aula universitas, tetapi dari sebuah sel penjara. Orang yang menulis itu bukanlah orang terpelajar, tetapi seorang guru agama berpendidikan rendah.

John Bunyan dilahirkan di Elston, Bedfordshire, pada tahun 1628. Rumahnya adalah gubuk kecil, dan ayahnya seorang tukang solder, yang setiap hari mendorong keretanya di sepanjang jalan, berhenti di rumah-rumah untuk menambal panci-panci.

John mendapat pendidikan di sebuah sekolah grammar (yang mengutamakan bahasa Latin). Tetapi seperti anak-anak lain pada zamannya, ia melanjutkan pekerjaan ayahnya. Pada Perang Saudara Inggris, ia menjadi tentara – besar kemungkinan di pihak Puritan. Pada umur sembilan belas tahun ia menikah, dan istrinya yang Kristen membimbingnya untuk mencoha mengubah hidupnya. Namun, ia seringkali tergelincir pada kebiasaan lamanya. Meskipun hidupnya cukup memberi kesan yang baik pada tetangga-tetangganya, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang berpura-pura secara berlebihan".

Pada tahun 1651, Bunyan mulai menghadiri pertemuan Independen di Bedford, dan telah tergerak oleh khotbah alkitabiah yang dibawakan seorang pastor. la mulai merenungkan Kitab Suci, hingga konflik dalam dirinya berakhir dengan jaminan anugerah. Keselamatan telah datang kepadanya. la bergabung dengan jemaat Bedford dan mulai berkhotbah. Di sana ia membuat orang kagum akan kebolehan seorang tukang solder itu.

Meskipun Raja Charles II pada mulanya menjanjikan kebebasan beragama, karena pertumbuhannya (jumlahnya), Gereja Anglikanlah satu-satunya Gereja yang diakui. Pertentangan atau perbedaan pendapat tidak diperbolehkan, dan pada tahun 1661 John dipenjarakan di penjara Bedford karena ajarannya. Ia mendekam di sana hingga tahun 1672, ketika Charles mengeluarkan Declaration of Indulgence, yang memberi kelonggaran bagi kaum non-Anglikan.

Setelah ia dibebaskan, rumah pertemuan kaum Independen memanggilnya untuk menjadi pastor mereka. la menerima surat izin berkhotbah dan dikenal sebagai Uskup Bunyan – mungkin karena merupakan tokoh jenius penyatu kaum Independen di kawasannya. Namun, toleransi tersebut tidak bertahan lama.

Pada tahun 1675 Bunyan sekali lagi dipenjarakan, dan ia memulai karya agungnya: The Pilgrim's Progress (Perjalanan Seorang Safir). Alegori tentang keselamatan dan perjalanan Kristen ini telah menghasilkan ungkapan-ungkapan indah seperti "Vanity Fair", "The Slough of Despond", "House Beautiful", "Muckraking" dan "Hanging is too good for him". Menyimpulkan hanya dari pengalamannya sendiri dan Alkitab, pengajar agama yang tidak terpelajar ini menciptakan sastra yang mempesona bagi mereka yang mengadakan perjalanan atau yang akan mengadakan perjalanan – ziarah dari Kota Kehancuran ke Kota Surgawi.

Mungkin, karena begitu banyak pembaca yang mengalami perjalanan ziarah yang sama dalam hidup mereka, The Pilgrim's Progress menjadi buku devosional Kristen terlaris di dunia. Bunyan menggambarkan keadaan paling intim jiwa-jiwa Kristen. Kesadarannya akan anugerah Allah yang mendalam kepada dirinya sendiri memberikan Bunyan kesanggupan berbicara kepada banyak orang, bahkan berbagai generasi, tentang keadaan spiritual mereka sendiri.

Karya-karya Bunyan lain seperti Grace Abounding to the Chief of Sinners, The Life and Death of Mr. Badman dan The Holy War tidak mencapai popularitas seperti The Pilgrim's Progress. Namun, buku yang ditulis secara sederhana ini telah menyentuh ribuan orang dan telah menjadi buku yang klasik.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:29 pm

66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George Frederic Handel



J. S. Bach




Pada tahun yang sama, telah lahir dua komposer Jerman di dua tempat yang berjarak kurang dari dua ratus mil. Meskipun mereka berdua tidak pernah bertemu, tetapi keduanya menciptakan karya terbaik musik abadi yang merupakan karya teragung yang dikenal gereja.

Dengan kelahiran seorang lagi anggota keluarga Bach di Eisenach, tidak seorang pun me-rasa kaget jika pada satu hari ia akan menjadi seorang komposer, karena keluarga Bach sendiri terdiri dari banyak musisi.

Setelah mendapatkan pelajaran musik dari ayah dan kakaknya pada tahun 1703, Johann Sebastian Bach yang berumur delapan belas tahun itu menjadi seorang violis pada orkestra kapel kerajaan di Weimar. Tetapi ia segera meninggalkan posisi ini dan berganti posisi menjadi organis gereja. Lalu ia menikahi sepupunya, Maria Barbara Bach, seorang penyanyi yang sudah matang. Mereka dianugerahi tujuh orang anak. Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan Anna Magdalena Wiilken. Empat orang putranya juga menjadi komposer terkenal.

Bach menciptakan komposisi dalam jumlah yang menakjubkan. Sementara menghidupi dua puluh orang anaknya, ia juga menggubah, memainkan dan mengajar musik. Bagi Bach, menggubah kantata dan musik kebaktian lainnya "adalah pekerjaan satu hari penuh", karena posisi yang diemban menuntutnya menyediakan musik. Ia telah menciptakan 198 kantata, di samping musik-musik umum. Karyanya yang terkenal antara lain St. Matthew Passion, Brandenburg Concerto Christmas Oratorio dan Well-Tempered Clavier.

Bach adalah Lutheran sejati dan pada setiap karyanya – sekular dan rohani – ia mencantumkan "In Praise of the Almighty's Will" ("Dengan Pujian Kehendak Yang Mahakuasa") dan "To God Alone Be the Glory" ("Kemuliaan Hanyalah Bagi Allah"). Sang musikus ini juga temperamental orangnya. Ini yang selalu membawanya dalam kesulitan ketika berhubungan dengan atasannya. Ia juga sangat membanggakan kebolehannya sendiri.

Bach pernah tinggal di pelbagai tempat di Jerman. Bach tidak pernah mencapai kemajuan di belahan dunia lainnya, hingga Felix Mendelssohn menemukan dan mempopulerkan kembali karya-karyanya.

Handel dalam beberapa hal mirip dengan orang sezamannya – dan dalam beberapa hal sangat beda. Ia berasal dari kota Halle, tempat ayahnya menjadi dokter. Ketika ayahnya melarang George belajar musik, legenda mengatakan, pada malam hari ia diam-diam pergi ke kamar di bawah atap untuk berlatih dengan organ kecil. Meskipun ayahnya menginginkan George menjadi seorang pengacara, pada akhirnya ia membiarkan putranya belajar dengan seorang organis lokal. Istana Berlin memberi kesempatan kepada George untuk meneruskan pendidikan musiknya, namun ditolak ayahnya. Tetapi pada akhirnya ia tidak dapat menghentikan putranya. Setelah setahun belajar hukum, George meninggalkan studinya dan menjadi seorang violis pada orkestra istana. la juga mulai menulis opera dalam bahasa Italia.



GF HANDEL



Seperti Bach, Handel pun merupakan seorang komposer yang kreatif, namun karya musiknya paling awal bersifat sekular. Oratorium suci bukanlah minat utamanya – seperti opera dan karya instrumentalnya. Untuk membuat perusahaan-perusahaan opera selalu gembira, ia harus senantiasa menyuguhkan bahan-bahan baru. Para pengunjung menginginkan hiburan baru setiap musim, dan komposer yang sukses harus senantiasa mengadakan pertunjukan.

Bagaimana instrumentalis pencinta opera ini sampai menulis Messiah? Ketika diundang ke London untuk menulis sebuah opera, komposer Jerman ini memutuskan untuk berdiam di sana. Opera Itali mulai menurun. Perusahaanperusahaan opera membangkitkan amarahnya, dan tidak lama kemudian Handel mulai menulis oratorium: Messiah, yang pertama dinyanyikan pada tahun 1742 di Dublin, Israel in Egypt, Deborah, Saul, Judas Maccabaeus, Solomon, Samson dan yang lainnya.

Ketika penguasa Hanover, negara bagian Jerman menjadi raja Inggris, keadaannya agak merisaukan Handel. Penjelasan apa yang dapat diberikan kepada majikan lamanya tentang mengapa ia pindah ke negeri orang? Menurut legenda, ia menulis Water Music untuk menenangkan raja tersebut. Hal itu merupakan manuver yang sukses.

Handel berasal dari keluarga Pietis Jerman yang mengingatkan dia tentang pentingnya
kehidupan Kristen yang praktis, seperti halnya perasaan iman. Banyak orang yang telah mendengar Messiah mengalami iman serupa.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:30 pm

67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac Watts

Kidung tidak mempunyai sejarah panjang dalam gereja-gereja berbahasa Inggris.
Meskipun Martin Luther, orang yang senang dengan musik dan nyanyian, mendesak agar kidung menjadi bagian dari ibadah para Lutheran, dan ia sendiri menulis beberapa kidung, namun orang-orang Inggris agak lamban menggunakannya.

Para Anglikan memiliki Buku Doa Umum, tetapi liturginya tidak menyertakan musik. Pada tahun 1562, jemaat-jemaat dapat menggunakan koleksi Mazmur berirama, yang lambatlaun disebut Versi Lama dan pada tahun 1696, Nahum Tate dan Nicholas Brady menampilkan Versi Baru yang dapat dinyanyikan. Namun, apa pun yang ada di luar Mazmur dicurigai. Seorang uskup mungkin menulis sebuah kidung yang kadang-kadang dipakai di kapel perguruan tinggi. Para pujangga seperti John Milton dan George Herbert menulis karangan-karangan suci, namun tidaklah untuk dinyanyikan. George Wither mericoba menciptakan buku kidung yang luas pada tahun 1623, namun karyanya tidak begitu sukses.

Sementara kaum Anglikan menentang kidung, kaum Baptis menerimanya – dan pastor dari aliran Independen, Isaac Watts, mengambil keputusan bahwa orang-orangnya membutuhkan nyanyian Baru. Meskipun Mazmur mengekspresikan iman, namun tidak dengan jelas menunjukkan unsur-unsur Kristen seperti kelahiran, ajaran-ajaran, penyaliban dan kenaikan Kristus. Para jemaat tidak dapat bernyanyi tentang Tritunggal, Roh Kudus ataupun gereja.

Pada tahun 1709 Watts menerbitkan Hymns and Spiritual Songs. Koleksi-koleksi lainnya menyusul kemudian, termasuk Psalms of David Imitated in the Language of the New Testament (Mazmur Daud Ditirukan dalam Bahasa Perjanjian Baru). Dalam karya ini Watts mengatakan bahwa ia membuat Daud "berbicara seperti seorang Kristen". Semuanya ia kutip hanya dari Mazmur – "Jesus Shall Reign Where'er the Sun" berdasarkan Mazmur 72, dan "Joy to the World" dari Mazmur 98.

I.ebih dari 600 kidung ciptaan Watts – di antaranya "When I Survey the Wondrous Cross", "O God Our Help in Ages Past", "I Sing the Mighty Power of God" dan "There Is a Land of Pure Delight" – telah membuatnya mendapatkan gelar Bapa Kidung di Inggris. Rohaniwan ini dengan cermat merefleksikan pujian, keheranan dan penyembahan orang-orang Kris-ten terhadap Tuhan. Meskipun ia mungkin telah menyinggung perasaan gerejawan konservatif pada masanya, kidung agungnya meninggalkan kesadaran akan akhirat.

Kidung Watts berpengaruh besar terhadap gereja-gereja non-Anglikan. Tidak ada yang dapat menandinginya hingga Charles Wesley mulai menulis kidung. Tetapi, untuk waktu lama, karya-karya Watts tidak meluas ke Gereja Inggris. Meskipun gereja-gereja lain di Inggris, Amerika dan di tempat-tempat lain menggunakan kidung Watts, tidak ada buku kidung Anglikan yang muncul hingga tahun 1861, yaitu ketika Hymns Ancient and Modern, yang memuat beberapa kidung Watts diterbitkan.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:31 pm

68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali Moravian Brethren



Ini hanyalah kebaktian pengukuhan bagi dua orang gadis. Para Moravian Brethren yang tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk, pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.

Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua gadis tersebut, gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan sebuah "badan" di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka adalah satu dalam roh.

Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain karena penganiayaan. Mereka adalah keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang terkenal karena keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat bagi mereka. Maka mereka pun bubar.

Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, ketika Christian David muncul di depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf adalah Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di pertanahan Zinzendorf. Pangeran tersebut mengizinkannya.

Ketika Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya, "penjagaan Tuhan". Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai Tuhan? Kedua-duanya.

Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun berikutnya, ada 300. Tetapi bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah. Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan karena para penghuni baru itu mulai melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang bermukim di sana adalah orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran karena ajaran sesatnya, dan karenanya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada Lutheran terkemuka di komunitas tersebut, Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi kota dengan berteriak bahwa pangeran tersebut adalah "binatang" yang ada dalam Wahyu. Akhirnya orang tersebut menjadi gila.

Khawatir bahwa komunitas tersebut akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas tersebut memilih para penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.

Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas tersebut telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang membuktikannya.

Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.

Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi tersebut mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.

Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum, asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian mempunyai pendahulu historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. Tetapi, musuh-musuh Zinzendorf menyebabkan dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian lainnya. Perjalanan tersebut membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem, Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di kemudian hari, ia menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.

Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. Ketika ia sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, "Sungguh suatu khafilah hebat dari gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!" Hal itu memang benar sampai hari ini.

Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti jejak para misionaris Moravian. "Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini," tuturnya pada suatu kesempatan. "Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?"

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:33 pm

69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan Edwards




Jonathan Edwards


Pada tahun 1630, sepuluh tahun setelah serombongan kecil kaum Peziarah mendirikan permukiman di Plymouth, sebuah migrasi kaum Puritan yang besar mulai mendirikan persemakmuran Kristen di Massachusetts. Lebih makmur dalam harta duniawi daripada Pilgrim Fathers (kaum Puritan pertama di Amerika), kaum Puritan ini juga berbeda dalam tujuannya mendatangi rimba Amerika. Mereka berharap mendirikan masyarakat berdasarkan Alkitab, yang akan menjadi contoh bagi Inggris untuk mengikuti reformasi dan pembaruan. Seperti yang ditulis gubernur mereka, John Winthrop, "Kita harus beranggapan bahwa kita merupakan sebuah kota di atas bukit, dan semua mata menatap kita." Ketika koloni Puritan tersebut bertumbuh dan menjadi makmur, niat keagarnaan mula-mula pemukim tersebut menurun; generasi kedua dan ketiga lebih mempedulikan benda-benda duniawi ketimbang mendirikan kerajaan Allah di Amerika.

Mereka yang setia hanya memperhatikan, dan ada yang meratapi perkembangan-perkembangan tersebut. Ide kaum Puritan bahwa negeri baru akan merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan persemakmuran suci lambat-laun memudar. Mereka yang setia tidak meragukan bahwa meskipun Inggris secara spiritual sakit — ataupun coati — koloni-koloni dapat atau harus memperlihatkan spiritualitas yang mendalam.

Jonathan Edwards — jiwa yang sejati dan berharga, yang masuk ke Perguruan Yale pada usia tiga belas tahun — yakin akan hal ini. Untuk sementara waktu, di bawah kakeknya, orang yang berkuasa dan berpengaruh, Solomon Stoddard, Edwards menjadi pastor pendamping di sebuah gereja di Northampton, Massachusetts. Ketika Stoddard meninggal pada tahun 1729, Edwards bertugas sebagai pastor tunggal.

Tidak lama setelah ia datang ke Northampton, Jonathan menikahi Sarah Pierpont yang bijaksana, cantik dan Lulus. Sementara Edwards mempunyai banyak anak dan juga melayani gereja sebagai pastor, ia juga mengambil waktu untuk menciptakan tulisan-tulisan teologis yang termasyhur di dunia. Bacaan yang luas dan berbagai perubahan dramatis yang terjadi di gereja-gereja tempat ia berkhotbah mempengaruhi teologinya.

Dengan menggali dari kedala man Calvinisme, Edwards percaya pada doktrin pemilihan. Meskipun ia mengakui bahwa Allah memilih siapa yang akan diselamatkan-Nya dan siapa yang tidak, Edwards menginginkan setiap orang menjadi yang terpilih. Ia tahu hal ini tidak mungkin, namun ia mendesak bahwa para pastor harus mengajar tentang beratnya dosa dan perlunya hati untuk berpaling kepada Tuhan. Jika tidak, katanya, para pastor gagal dalam tugasnya, dan ia cukup melihat kaum rohaniwan di New England yang tidak mempunyai semangat hidup sebagai contohnya. Ketika ia mengkhotbahkan "God Glorified in Man's Dependence" (Allah Dimuliakan dalam Ketergantungan Manusia) pada tahun 1731, kepada pengunjung di Boston, ia tahu bahwa banyak pendengarnya tertawa sinis karena tekanannya akan dosa yang berakar dan pentingnya perubahan dari dalam.

Selama enam puluh tahun pelayanannya, Solomon Stoddard telah melihat lima "panen", masa-masa peningkatan tekad spiritual, yang menghasilkan kehidupan yang berubah dan peningkatan ketakwaan. Pada tahun 1730-an, Jonathan Edwards berdoa untuk panen. Ia melihat moral yang bejat dan merasakan bahwa penerimaan Arminianisme yang semakin meningkat akan menyebabkan suatu masa ketergantungan spiritual. Ia mulai mengkhotbahkan hal itu.

Pada musim dingin tahun 1734 dan sepanjang tahun berikutnya, perubahan dialami Northampton. Edwards berkata, "Roh Allah dengan luar biasa mulai bekerja." Gerejanya penuh dengan pendengar, banyak di antaranya mencari kepastian keselamatan. "Kota ini tampaknya penuh dengan kehadiran Allah. Tidak pernah ia begitu penuh dengan kasih ataupun kegembiraan, namun ia penuh dengan kecemasan seperti dulu." Pertengkaran dan gosip lenyap karena hampir seluruh kota mengunjungi gereja.

Namun, orang yang telah mendoakan dan berkhotbah untuk kehidupan kotanya tidak memiliki teknik berkhotbah yang penuh dengan kata-kata indah. Khotbahnya berfokus pada pembenaran oleh iman saja dan menunjukkan kegemaran intelektualnya. Meskipun ia tidak menggunakan metode-metode yang akan membangkitkan emosi, namun ia menerima responsrespons beremosi. Para kritikus mengolok-olok saat-saat ratapan pembungkukan badan yang kadang-kadang mengikuti khotbah kebangunan rohani. Di kemudian hari, ketika ia menulis tentang Kebangunan Rohani Besar, Edwards mengakui bahwa tulisan itu membawa ekses-ekses emosional. Tetapi secara keseluruhan, hal itu adalah bukti bahwa Roh Allah bekerja dalam hati manusia.

Edwards tidak seorang diri dalam berkhotbah yang membawa ke kebangunan rohani. Seorang pastor Jerman di New Jersey, Theodore Freylinghuysen, telah bekerja dengan Jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720. Berita Injilnya yang berkobar-kobar telah membawa basil — dan juga perselisihan. Ia juga membantu Gilbert Tennant, seorang pastor Presbiterian, yang datang ke New Jersey dari gereja dan sekolah ayahnya di Pennsylvania. Gilbert dan saudara-saudaranya — William, Jr., John dan Charles — semuanya telah menjadi pastor-pastor pekabar Injil yang ampuh di New Jersey.

Orang yang mengikat kedua masa kebangkitan ialah George Whitefield seorang pendeta Anglikan — dan temannya John Wesley — yang mulai mengajar di Amerika pada tahun 1738. Dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi, dan karena semuanya untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah ia melintasi berbagai negara bagian, mengajarkan berita pertobatan. Di bawah pengaruhnya, seluruh bangsa itu mengalami kebangunan rohani.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:34 pm

70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley

Sebagai anak berumur lima tahun, John Wesley hampir saja menemui ajalnya dalam kebakaran yang telah menyapu pastoran ayahnya. Sungguh ia adalah "api yang dipetik dari kebakaran itu", seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan orang.

Akan tetapi ketika John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan kemudian membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum menyenangkan hatinya.

Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai "Holy Club" (Klub Suci), yang tidak lama kemudian dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh orangorang yang ingin mencemarkan mereka, karena mereka menggunakan metode-metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian kepada John. Seperti Luther, Wesley berupaya mendapatkan anugerah Allah dan menemukan kekosongan.

Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner. Ketika melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian. Ketika kapal mereka dihantam badai, John gemetar karena takut, sementara para Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.

Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang karena kesehatannya. Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya dengan "setengah hati". Pada pertemuan tersebut, ketika seorang membacakan tafsiran Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, "Kira-kira pukul sembilan kurang lima belas, ketika ia sedang menggambarkan perubahan yang diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan maut."

Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.

Ketika Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka. Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar mereka adalah kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang mengelilingi mereka ketika mereka berkhotbah.

Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang berasal dari kelas rendah.

Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan ketika gerakan tersebut bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu distrik. Perkumpulan-perkumpulan tersebut, lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini membantu gerakan itu bertahan.

Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung pelan. Ketika pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.

Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk "O for a Thousand Tongues", "And Can It Be?" dan "Hark the Herald Angels Sing". Tidak seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar karena Charles yang berbakat dalam menyusun kata-kata.

Methodisme telah mengubah masyarakat Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis karena tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir abad kedelapan betas.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:36 pm

71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu

Ny. Meredith tidak sanggup menanganinya. Atas permintaan seorang editor Surat kabar yang baik, Robert Raikes, ia menerima segerombolan anak jalanan ke dapur rumahnya di Sooty Alley. Raikes bahkan membayar Ny. Meredith satu shilling setiap hari Minggu untuk mengajar anak-anak berpakaian compang-camping ini membaca Alkitab dan mengulanginya di luar kepala. Tetapi anak-anak ini luar biasa bandel. Terkungkung di sebuah pabrik yang basah dan gelap di Gloucester, Inggris, selama enam hari dalam satu minggu, mereka hanya dapat kesempatan bergembira ria pada hari Minggu, dan pada hari-hari Minggu itulah mereka menjadi liar. Setiap Minggu para petani dan pemilik toko merasa takut pada kenakalan anak-anak ini. Robert Raikes berharap bahwa "Sekolah Minggu" ini akan mengubah hidup mereka, namun mereka membawa kebiasaan mereka yang menjijikkan dan mengerikan itu ke dapur Ny. Meredith.

Raikes tidak membiarkan niatnya pupus. Ia memindahkan sekolah Minggunya ke dapur Ny. King tempat May Critchley mengajar mereka dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas siang dan dari pukul satu sampai dengan pukul lima pada petang hari. Ia menghendaki anak-anak hadir setelah tangan dicuci dan rambut disisir. Dalam waktu yang singkat anak-anak itu mau belajar. Tidak lama kemudian terkumpul Sembilan puluh anak menghadiri sekolah Minggu pada setiap hari Minggu. Perlahan-lahan mereka belajar membaca.

Hal ini bukanlah upaya pertama Raikes bagi pembaruan masyarakat. Sebagai seorang editor Gloucester -Journal yang berpikiran liberal, ia sangat sadar akan roda kemiskinan dan kriminalitas. Orang-orang yang tidak dapat membayar utang dipenjarakan, dan bila mereka keluar, tidak ada kehidupan bagi mereka. Maka mereka terdorong berbuat kejahatan. Selama bertahun-tahun Raikes berupaya bekerja bersama mantan napi, untuk membantu mereka agar tidak berbuat kejahatan, namun sia-sia.

"Dunia bergerak maju di atas kaki anak-anak kecil." Kalimat yang berasal dari Raikes itu mengungkapkan pemikiran sekolah Minggu ini. Para orang dewasa telah berjalan terlalu jauh, tetapi anak-anak baru memulainya.

Masalah yang dihadapinya ialah ketidaktahuan. Anak-anak (dari keluarga) kurang mampu tidak pernah mendapat kesempatan pergi ke sekolah — mereka harus bekerja untuk membantu keluarga mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat beranjak dari kemiskinan. Namun, jika mereka dapat belajar pelajaran dasarnya — membaca, menulis, berhitung dan moralitas alkitabiah — pada hari libur satu harinya, suatu saat mereka mungkin mengubah semuanya itu.

Jadi, eksperimen itu berawal dari Sooty Alley. Lambat-laun ide ini bertumbuh. Pada tahun 1783, dengan kepercayaan diri bahwa eksperimennya telah berhasil, Raikes mulai mengumumkannya dalam hariannya. Dengan hati-hati ia melaporkan alasan dan hasilnya. ide tersebut menjadi populer.

Orang-orang Kristen yang terpandang mendukung ide tersebut. John Wesley menyukainya, dan kelompok Wesley pun mulai melakukannya. Penulis populer, Hannah More, mengajar agama dan memintal pada gadis-gadis di Cheddar. Seorang pedagang dari London, William Fox, pernah menyumbangkan ide serupa, namun memutuskan menunjang proyek Raikes. Pada tahun 1785, Fox mendirikan perkumpulan untuk menunjang dan mendukung banyak sekolah Minggu di berbagai kawasan di Inggris.

Ratu Charlotte pun membenarkan sekolah Minggu tersebut. Ia memanggil Raikes untuk mendengarkan hal itu dan kemudian ia mengizinkan namanya dipakai untuk upaya pengumpulan dana yang dilaksanakan Fox.

Kemasyhuran membawa pertentangan juga dari para konservatif yang takut akan terganggunya hari Sabat oleh para pedagang, yang khawatir akan kehilangan bisnis pada hari Minggu. Ada beberapa teman Raikes yang mengejeknya "Bobby Wild Goose (pengajar sesuatu yang tidak mungkin tercapai) dan Resimen Gembelnya".

Namun, hingga tahun 1787, ada seperempat juta anak-anak menghadiri sekolah Minggu di Inggris. Lima puluh tahun kemudian, ada 1,5 juta anak di seluruh dunia yang dididik oleh 160.000 tenaga pengajar. Yang menggembirakan ialah perkembangan Manchester pada tahun 1835. Sekolah Minggu tersebut terdiri dari 120 tenaga pengajar, yang 117 di antara mereka adalah mantan murid-murid sekolah-sekolah Minggu itu sendiri.

Dua perubahan besar telah terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada awalnya, guru-guru di sana dibayar, tetapi lambat-laun hal itu telah menjadi aktivitas sukarela. Pada awalnya, kurikulum terdiri dari membaca, menulis dan berhitung — dengan Alkitab dipakai sebagai teks yang tersedia. Ketika sekolah Minggu mendapat dana yang lumayan, mereka dapat mengadakan buku-buku teks lain. Tetapi, ketika pendidikan umum berkembang, sekolah-sekolah Minggu memusatkan perhatiannya pada pelajaran Alkitab saja.

Gerakan sekolah Minggu merupakan fenomena besar di Inggris dan Amerika, dengan implikasi religius maupun sekular. Hal ini terjadi di tengah-tengah kebangkitan rohani yang membalikkan Gereja dari kelesuan dan mungkin juga dapat menyelamatkan Inggris dari bencana revolusi yang dahsyat. Perlahan-lahan, orang-orang Kristen yang kaya mulai sadar akan tanggung jawab mereka terhadap kaum miskin. Gerakan sekolah Minggu telah menanamkan benih pendidikan umum dan merevolusi pendidikan agama, khususnya ketika menghidupkan pencetakan materi-materi agama. Pada akhir tahun 1800-an, gerakan sekolah Minggu memberikan Gereja puluhan kidung baru.

Hasil paling besar adalah anak-anak muda yang tak terhitung jumlahnya, yang telah tergerak oleh interaksi sederhana dan pendidikan sekolah Minggu.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:37 pm

72)Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India

Sebuah kapal menaikkan layarnya melawan angin bulan April dan bergerak di sungai Thames menuju Terusan Inggris. Kapal ini herlayar menuju India membawa William Carey (1761 - 1834), seorang tukang sepatu yang menjadi pengkhotbah gigih dan rekan misionarisnya dr. John Thomas.

Kedua orang tersebut telah mengumpulkan dana, telah mengepak barang-barang mereka, dan pamit. Sekarang kapal tersebut menyusuri pantai Inggris sebelum menuju laut luas. Impian, doa dan persiapan bertahun-tahun tampaknya akan terkabul dalam kehidupan Carey.

Namun, laut yang ganas dan peperangan yang berbahaya antara Inggris dan Perancis mengakhiri persiapan Carey – perjalanan dibatalkan. Tanpa dapat dihalangi, Carey – yang menyebut dirinya "orang yang lamban" tetapi sesungguhnya adalah visioner yang tak kenal lelah maju dengan susah payah menembus segala kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Renungkanlah caranya dibesarkan. Ayahnya seorang penenun yang mengajar di sekolah untuk menghidupi kelima orang anaknya. William adalah anak sulung, dan ia gigih belajar membaca dan menulis, membaca cerita-cerita petualangan seperti Robinson Crusoe dan Gulliver's Travels. Kesehatannya tidak pernah baik, tetapi ia berhasil magang pada seorang pengrajin sepatu.

Pada usia tujuh belas tahun, ia memasuki sebuah gereja pembangkang dengan seorang teman dan berjanji kepada Kristus. Ia tinggalkan Gereja Anglikan yang membesarkannya, dengan mengabaikan nasihat ayahnya, dan kian hari kian aktif dengan para pembangkang itu. Ia menikah dan mulai berkhotbah di gereja. Ia berjalan kaki sejauh delapan mil setiap hari Minggu untuk berkhotbah di gereja yang miskin di sebuah kota tetangga. Ia mempelajari Perjanjian Baru dan Bahasa Yunani dengan tekun, serta menyulap sekaligus tiga pekerjaan – tukang sepatu, guru sekolah dan pendeta.

Kesehatannya semakin memburuk karena kesukaran keluarganya. Seorang bayi meninggal. Istrinya mengalami tekanan mental. Mereka sering kekurangan uang untuk makan yang layak. Di atas semua kesulitan ini, obsesi Carey membawa Injil keluar negeri, sebagai kewajiban orang Kristen, meningkat.

Pada rapat-rapat para pendeta di kawasan itu, ia menguraikan secara khusus bahwa orang-orang Kristen harus menyebarkan Injil ke negeri-negeri yang jauh. Ia senantiasa ditolak. "Jika Allah hendak menyelamatkan orang-orang kafir itu, Ia akan berbuat demikian tanpa kau dan saya," jawab mereka kepadanya. Ia meneruskan, dengan menerbitkan sebuah uraian, "An Enquiry into the Obligation of Chistians to Use Means for the Conversion of the Heathen" ("Sebuah Penyelidikan akan Kewajiban Orang-orang Kristen untuk Memberdayakan Segala Upaya Pertobatan Orang-orang Kafir"), yang menyebabkan panggilan bagi misi-misi luar negeri. Suatu karya yang amat baik, tetapi tidak ditanggapi dengan baik.

Tiga Minggu setelah uraian itu diterbitkan, perkumpulan para pendeta mengundangnya untuk menjelaskan kepada mereka. Teks Carey: Yesaya 54:2, 3: "Lapangkanlah tempat kemahmu ...." Temanya: "Nantikanlah perkara-perkara yang agung dari Allah; upayakanlah hal-hal besar bagi Allah." Namun para pendeta tersebut tidak memberi tanggapan. Menjelang berakhirnya pertemuan tersebut, dalam frustrasinya Carey berseru, "Apakah tidak ada lagi yang dapat dilakukan?" Mengapa ia tidak mencari orang lain saja yang mau mengambil bagian dan melakukan visinya?

Sesuatu telah terjadi. Pada pertemuan berikutnya sebuah perkumpulan misi telah terbentuk. Seorang dokter Kristen, John Thomas, rela melayani di India dan ia membutuhkan seorang rekan. Carey merelakan diri untuk pergi bersamanya.

Situasinya tampak agak janggal. Carey mempunyai tiga orang anak kecil dan istrinya sedang hamil. Dapatkah ia sendiri menanggung beban-beban tersebut? Tetapi ini adalah puncak impiannya. Carey terus maju melalui tur pengumpulan dana secara cepat, berita bahwa dr. Thomas dicari-cari para kreditor yang belum dibayar, penolakan istrinya untuk bergabung dengannya, dan terlambatnya pelayaran kapal. Penundaan itu memberi dia kesempatan pulang dan meyakinkan istrinya, Dorothy, untuk bergabung dengan dia.

Tidak lama kemudian mereka berangkat lagi dan mendarat di Calcutta pada bulan November 1793. Namun kesulitan berlanjut. Keadaan sangat memprihatinkan, kesehatan mereka sangat buruk, Thomas berutang lagi, dan tak seorang pun bertobat. Anak mereka yang paling kecil meninggal, dan dua lainnya menjadi liar.

Pada tahun 1800, keluarga Carey pindah ke Serampore, bergabung dengan sekelompok misionaris dari Denmark. Di sana mereka menyaksikan pertobatan yang pertama, sebagian karena hasil usaha anak tertua Carey, Felix, yang sekarang menjadi seorang Kristen. Kemudian sebuah gereja terbentuk dan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali pun telah diselesaikan.

Kesuksesan misi selama tiga dekade baru berawal. Menjelang kematiannya pada tahun 1834, Carey menerjemahkan Alkitab dalam empat puluh empat bahasa atau dialek dan membuka beberapa sekolah. Berbagai pusat misi dengan aktif menginjili India dan sekitarnya, Burma dan Bhutan. Tetapi jauh di atas statistik itu, Carey telah mengembangkan filsafat misi yang hidup dan mempraktikkannya.

Ia mendahului waktunya. Carey sangat menghormati kebudayaan India dan melihat kebutuhan akan sebuah gereja (dengan adat istiadat setempat) India. Daripada mencela agama Hindu, ia menegaskan kematian dan kebangkitan Kristus.

Di samping semua pencapaiannya, ia juga adalah pemain tim yang hebat. Dari pengalaman, ia telah belajar bahwa tim misi lebih kuat daripada keterlibatan secara perorangan. Carey juga cepat mengakui peranan para wanita sebagai bagian dari tim ini.
Seringkali kita mendapatkan ide yang keliru bahwa ia seorang diri membawa gereja ke era misi, namun ia sebenarnya salah seorang dari sejumlah orang Kristen di Barat yang meminta dukungan bagi misi luar negeri. Suaranya merupakan salah satu dari yang paling nyaring, dan ia menunjang kata-katanya dengan hidupnya sendiri.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:42 pm

73) 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara untuk Menghapuskan Perdagangan Budak



Dalam Film "Amazing Grace", William Wilberforce menyajikan daftar Panjang Petisi Anti Perbudakan di Parlemen Inggris.



Eropa menjelang akhir abad kedelapan belas adalah sebuah masyarakat yang tidak normal, yang kaya menjadi lebih kaya, sedangkan yang miskin kelaparan. Orang-orang yang berutang membusuk di penjara yang basah. Anak-anak yatim piatu menjadi budak di pabrik-pabrik. Kristen menjadi agama tata krama kalangan atas.

Di Perancis, orang-orang miskin meluapkan frustrasi mereka dalam Revolusi Perancis tahun 1789.

Namun, pada awal 1800-an, perasaan lega menandai Gereja Inggris karena Britania telah mengelakkan revolusi. Methodisme telah merangkul kelas bawah, namun masyarakat kelas atas masih belum tersentuh – kecuali segelintir pembaru sosial utama. Orang-orang Kristen ini – William Wilberforce, Elizabeth Fry, George Mueller, Thomas Buxton, John Venn, dan lain-lainnya – percaya bahwa dedikasi mereka pada Kristus berarti melayani masyarakat, bagi yang miskin dan yang membutuhkan.

Suara lantang yang melawan perbudakan di Kerajaan Inggris adalah suara William Wilberforce, seorang Anglikan Evangelikal dan anggota parlemen. Ia bukanlah orang yang digemari dalam segala hal, namun pikirannya yang tajam dan bicaranya yang efektif membuat baik teman maupun musuhnya hormat kepadanya.

Wilberforce lahir pada tahun 1759 dan bertumbuh sebagai seorang muda yang bebas, yang mengabdi pada. politik dan kesenangan. Pada usia dua puluh lima tahun, ia bertobat kembali, mengabdi kembali kepada Kristus yang ia kenal selagi ia masih kanak-kanak. Namun, waktunya kurang memadai. Ia baru saja dipilih untuk menduduki sebuah kursi yang berpengaruh di parlemen. Apakah devosi baru kepada Kristus ini akan mengakhiri ambisi politiknya?

Ia meminta saran seorang pendeta, John Newton. Guru yang terkenal ini, yang pada waktu lalu adalah pedagang budak, dan pencipta kidung klasik "Amazing Grace", menyarankan Wilberforce berpegang pada politik. Allah menghendaki orang-orang seperti Anda di Parlemen, kata Newton – mungkin kita dapat juga menghapus perbudakan.

Hal itu menjadi pergolakan dalam diri Wilberforce. Ia mengemukakan usul ini kepada parlemen pada tahun 1787, tetapi perlawanan ternyata lebih kuat daripada yang diduganya. Para pedagang budak itu tahu cara memainkan politik. Mereka menantang para pendukung penghapusan perbudakan dari segala sudut. Wilberforce mengharapkan dukungan kuat dari teman lama seperguruannya, William Pitt, yang sekarang menjadi perdana menteri. Tetapi Pitt adalah seorang moderat. Ia menginginkan perubahan secara perlahan-lahan, bukan penghapusan perbudakan secara total dan segera.

Bagaimanapun, Wilberforce telah mendapatkan sekutu dari kalangan aktivis Kristen, yang dikenal sebagai Clapham Sect. Nama itu dikutip dari sebuah desa di selatan London, tempat Welberforce tinggal.

Orang-orang tersebut menjadi pemimpin-pemimpin gerakan Evangelikal di Gereja Inggris. Beberapa di antara mereka, termasuk Welberforce, terlibat dalam mendirikan Church Missionary Society (Perkumpulan Misioner Gereja) dan Britisth and Foreign Bible Society (Perkumpulan Alkitab Inggris dan Luar Negeri).

Pada tahun 1806, Pitt meninggal. Para pendukung penghapusan perbudakan berhasil menyertakan tambahan pada RW yang berkenaan dengan perang melawan Perancis. Hal ini yang merintis jalan bagi RUU tahun 1807 yang menghentikan perdagangan budak di Inggris. (Amerika Serikat memberlakukan peraturan serupa pada tahun itu juga.)

Wilberforce menjadi pahlawan dan memanfaatkan kesohoran yang baru diraihnya untuk mendorong pembaruan sosial lainnya. Ia melanjutkan pekerjaan pemberantasan perbudakan secara internasional dan membantu mendirikan Sierra Leone sebagai tempat permukiman para budak yang dibebaskan.

Pembaru tersebut berharap agar lembaga-lembaga perbudakan menghilang, segera setelah jual-beli budak menjadi ilegal. Ternyata ia salah. Pada tahun 1823, Wilberforce berusaha untuk terakhir kalinya menghapus tuntas perbudakan. Ia berhenti dari parlemen pada tahun 1825, namun melanjutkan perjuangannya memberantas perbudakan. Thomas Buxton mengambil alih pimpinan pendukung penghapusan perbudakan di parlemen. Akhirnya pada bulan Agustus tahun 1833, sebulan setelah kematian Wilberforce, parlemen menetapkan untuk membebaskan para budak dan memberantas semua perbudakan.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Rindu on Tue Aug 25, 2015 8:42 pm

74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of Christ

Thomas Campbell benar-benar menyambut orang-orang yang datang dan beribadah di gerejanya. la menggembalakan sebuah jemaat di barat Pennsylvania, yang merupakan milik Seceder Presbyterian Church, denominasi pecahan yang berakar pada orang Skotlandia. Namun, karena terganggu oleh perpecahan se-pale yang disebabkan oleh doktrin-doktrin buatan manusia, Campbell membiarkan warga Presbiterian mana pun untuk datang ke gerejanya dan mengambil komuni, apakah mereka Seceder ataupun tidak.

Namun, klasis tersebut tidak menyukainya. Peraturan-peraturan mereka melarangnya. Mereka secara resmi menyelidiki hal itu dan mengutuk Campbell.

Sebagai tanggapan, Campbell menulis surat kepada sinode. Ia menjelaskan prinsipnya — ideide yang tidak lama kemudian menjurus ke pembentukan denominasi baru. Gereja membutuhkan persatuan dan harus menghentikan formulasi-formulasi teologis manusiawi serta mengikuti ajaran Kitab Suci yang jelas. Ia memenangkan masalah ini. Sinode membatalkan kutukan klasis tersebut, namun terdapat perasaan kurang senang dari pendeta rekan Campbell. la memutuskan membuat cabang tersendiri dan memulai gerejanya sendiri.

Bertahun-tahun Campbell menjadi pendeta di Irlandia Utara, tetapi pindah ke Amerika karena alasan kesehatannya. Ia meninggalkan gereja dan sekolah yang dikelolanya di Irlandia kepada anaknya yang andal, Alexander.

Amerika masih merupakan Dunia Baru. Perbatasannya bermula di Appalachian dan meluas ke arah barat. Secara religius, Amerika masih berada pada lereng rendah Kebangunan Rohani Besar. "Kebangkitan itu diawali Whitefield dan Edwards di pantai timur dan bergerak ke barat. Kebangkitan "pertemuan-pertemuan di tenda" berawal di Kentucky sekitar tahun 1800 dan masih berlangsung sepanjang perbatasan.

Ironisnya, kebangkitan itu berakibat juga pada perpecahan, dan kebangunan di barat sama sekali berbeda dengan yang di timur. Di timur umpamanya, ada Jonathan Edwards yang terpelajar, yang dengan saksama mengulas amarah Allah dan perlunya berdamai. Di barat, hanya ada sekelompok pengkhotbah dengan sedikit pendidikan seminari, yang berdiri di atas kereta dan membujuk orang-orang berdosa berbaikan dengan Tuhan. Ini adalah suatu perbedaan gaya, tetapi sebenarnya juga perbedaan teologi. Kebangkitan di timur lebih Presbiterian, di barat lebih Methodis. Timur lebih condong ke Calvinis, barat lebih condong ke Arminian. Timur berpaling pada gereja, barat lebih individual.

Maka, pada tahun-tahun 1800-an terjadi banyak perpecahan: Cumberland Presbytery,
Shakers, New Light Movement dari Barton Stone, dan sekarang kelompok Thomas Campbell.

Campbell mengadakan pertemuan-pertemuan di mana pun yang memungkinkan – di lumbung-lumbung, di perumahan dan di ladang-ladang. la juga menarik para pengikut dalam jumlah yang cukup lumayan. Ia menyebut kelompok itu sebagai Chrien Association of Washington (Asosiasi Orang-orang Kristen di Washington) untuk daerah Washington dan Pennsylvania. Ia juga menulis "Declaration and Address" yang menjadi dokumen dasar gerakan itu. Seperti halnya para pendiri gereja lainnya, ia tidak berkeinginan memisahkan diri dari gereja yang sudah mapan, namun ia terpaksa bergerak ke arah tertentu. Dan tidak satu pun gereja yang tampaknya bergerak ke arah itu. Bagi Campbell, arah itu bersifat alkitabiah dan sederhana. Mottonya ialah "Di mana Kitab Suci berbicara, kita berbicara, di mana Kitab Suci bungkam, kita pun bungkam".

Putra Thomas, Alexander Campbell, yang tiba dari Irlandia pada tahun 1809, segera bergabung dengan ayahnya dalam proyek baru ini. la baru berumur dua puluh tiga tahun, tetapi dianugerahi bakat berbicara yang bail( dan merupakan pendebat yang tangkas. Mereka berdua rnendirikan Gereja Brush Run pada tahun 1811 (setelah dilarang masuk oleh kaum Presbiterian). Setelah mempelajari Kitab Suci, kedua Campbell tersebut menentukan bahwa membaptis orang percaya dengan cara selamlah yang benar, bukan membaptis anak seperti yang selama ini mereka lakukan. Jadi, mereka mulai membaptis ulang anggota gerejanya.

Dalam hal ini, mereka pada dasarnya termasuk kaum Baptis, maka mereka berafiliasi dengan Redstone Baptist Association pada tahun 1812. Alexander Campbell menjadi frgur terkemuka di Gereja Baptis itu dengan mengadakan pernbicaraan secara luas dan menerbitkan majalah berkala, The Christian Baptist. Ia juga mendirikan sebuah seminari di Bethany, di barat Virginia. Campbell menulis serentetan artikel bagi majalahnya: "A Restoration of the Ancient Order of Things" ("Suatu Pemulihan Hal-hal Tatanan Kuno").

Tidak semua anggota Baptis menyukai hal Campbell berpikir bahwa banyak ajaran
Baptis masih terlampau Calvinistik, dan ia selalu menyerang mereka. la juga tidak setuju
dengan pengertian kaum Baptis tentang pembaptisan. Kaum Baptis melihatnya sebagai peraturan yang menggambarkan keselamatan yang pernah terjadi sebelumnya. Tetapi, Campbell mengambil dari berbagai kutipan mengenai "bertobat dan dibaptislah" di Perjanjian Baru untuk menegaskan bahwa hal itu adalah syarat mutlak bagi pengampunan. Campbell juga menolak upaya-upaya penjelasan tentang Tritunggal di luar Kitab Suci.

Menjelang akhir tahun 1820-an, ketegangan mulai marak. Para pengikut Campbell menarik diri dari asosiasi Baptis dan bergabung pada tahun 1832 dengan Christian Church of Barton Stone. (Campbell dan Stone menginginkan nama alkitabiah sederhana bagi kelompok mereka, untuk menghindari aliran denominasional. Sejak itu, istilah-istilah Christian dan Disciples of Christ dipakai secara bergantian bagi gerakan yang telah bergabung itu.) Sampai di situ, telah ada 25.000 anggota.

Gerakan tersebut bertumbuh terus, sebagian karena kemasyhuran Campbell. Ia bertindak sebagai utusan pada konvensi konstitusional Virginia pada tahun 1829. Seorang rekan utusan, James Madison, berkata, "Saya menganggap dia seorang pengulas Kitab Suci yang paling orisinil dan paling mampu, sejauh yang pernah saya dengar."

Pertumbuhan gerakan itu juga disebabkan oleh perluasan perbatasan bagian barat. Para Disciples mempunyai Injil yang sederhana, untuk waktu yang sederhana. Alexander Campbell juga dari semula anti-perbudakan, namun bukanlah pendukung penghapusan perbudakan yang keras. Jadi, gereja tidak terpecah oleh perang saudara. Menjelang pergantian abad kedua puluhan, terdapat lebih dari satu juta Disciples of Christ.

Pentingnya Campbell bukan raja terletak pada didirikannya denominasi yang kuat, tetapi juga pada dukungan mereka akan iman alkitabiah yang sederhana.

Sejarah Gereja dipenuhi dengan ketegangan antara agama formal dan iman yang sederhana. Para Campbell membawa banyak orang dari tekanan formalitas ke dalam iman yang lebih pribadi. Menetas dan dipupuk di perbatasan suatu negeri yang sedang bertumbuh, para Disciples telah menjadi contoh utama kekristenan Amerika pada zaman itu. Mereka membantu menyediakan medan bagi gerakan-gerakan kebangunan rohani dan fundamentalis.

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 3 dari 5 Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik