FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by Ichwanzein on Fri Oct 21, 2011 11:14 am

Mengenal aliran sesat Jaringan Islam Liberal
“Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya.
Mereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.”

KUTIPAN bernada provokatif di atas terpampang sebagai moto sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: Bahaya Islam Liberal. Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”.

Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadis Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadis hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah.

Buku itu terbit Januari 2002, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang komunitas anak muda yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal (JIL). Penempatan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib tersebut sebagai moto buku mengundang pertanyaan: apakah Islam liberal yang dikupas buku itu, dengan demikian, sudah masuk kriteria kelompok yang dimaksud isi hadis, sehingga wajib dibunuh?

Sang penulis tak menjawab ya atau tidak. “Itu harus diputuskan lewat mekanisme hukum,” ujar Hartono. Hadis tersebut, kata alumnus IAIN Yogyakarta ini, bersifat umum. Karena itu, Hartono menyadari, penerapannya bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Maka perlu pelibatan aparat hukum untuk meredam sengketa. Sesuai dengan kaidah fikih: hukm al-hakim yarfa’u al-khilaf (putusan pihak berwenang berfungsi menyudahi polemik).

Pada akhir buku, Hartono menyerukan pengadilan atas Islam Liberal yang ia nilai “jauh dari kebenaran”. Namun, secara tersirat, ia tetap menyarankan sanksi bunuh, ketika menutup buku dengan menampilkan kisah Umar bin Khattab yang membunuh orang yang menolak berhukum dengan syariat Islam. Di antara dosa JIL, di mata Hartono, juga menolak syariat Islam.

Ibn Hajar al-Asqalani, dalam bukunya, Fathul Bari –sebuah elaborasi (syarah) atas Shahih Bukhari– menjelaskan, hadis tersebut diwartakan Ali ketika hendak menumpas pembangkangan kaum Khawarij (Haruriyah). Yakni kelompok yang sangat literal memahami Al-Quran dan menilai Ali telah kafir.

Khawarij dikenal mudah mengafirkan sesama muslim, dan tak segan membunuh muslim yang mereka vonis kafir. Komunitas jenis inilah yang dimaksud hadis tersebut saat itu. Pada awal 2002, Hartono memakai hadis itu untuk buku tentang komunitas liberal, bukan kelompok literal sejenis Khawarij.

Dengan demikian, berita gempar fatwa mati yang pernah menimpa JIL pada akhir 2002 telah mendapat pengantar “akademik” dari buku Hartono, 11 bulan sebelumnya. Bila di awal 2002 Hartono mewacanakan eksekusi bunuh terhadap Islam liberal, menjelang akhir tahun, lontaran itu mengkristal dalam bentuk “fatwa mati”.

Sejumlah agamawan yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), pada 30 November 2002, berkumpul di Masjid Al-Fajar, Bandung, dan mengeluarkan pernyataan berisi fatwa itu. Pernyataan FUUI berbunyi, “Menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam, dan para ulama.”

Mereka terpicu tulisan provokatif Ulil Abshar Abdalla, Koordinator JIL, di Kompas, 18 November 2002, berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” , yang dirujuk sebagai contoh penghinaan agama. FUUI menyatakan, “Menurut syariat Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan kebenaran agama dapat diancam dengan hukuman mati.”

Menurut Ketua FUUI, KH Athian Ali, fatwanya tak hanya untuk Ulil. “Terlalu kecil jika kami hanya menyorot Ulil. Kami ingin membongkar motif di balik Jaringan Islam Liberal yang dia pimpin,” kata Athian. Sepanjang 2002, karena itu, menjadi tahun seruan kematian atas JIL.

Fatwa itu menyulut kontroversi luas. Sikap FUUI menuai banyak kecaman. Inti kecaman itu: berbeda pendapat boleh, tapi jangan menebar maut. Cukuplah sejarah memberi pelajaran pahit: dari Al-Hallaj (Baghdad), Siti Jenar (Demak), Hamzah Fansuri (Aceh), Farag Faudah (Mesir), sampai Mahmoud Taha (Sudan) yang kehilangan nyawa karena pikiran berbeda.

Akhirnya FUUI mengklarifikasi: mereka tak mengeluarkan “fatwa mati”. “Kami hanya menuntut proses hukum,” kata Athian. Ia membuktikan ucapannya dengan mengadukan Ulil ke Mabes Polri, sepekan kemudian. FUUI memang tak menyebut kata “fatwa mati”, tapi Athian menyatakan, dasar hukum sikapnya terhadap JIL sama dengan sikap kepada Pendeta Suradi. Pada Februari 2001, FUUI terang-terangan memakai kata “fatwa mati” untuk Suradi.

Komunitas macam apa sebenarnya JIL ini? Mengapa sampai ada kelompok lain yang menyerukan kematiannya? Setarakah “bahaya Islam Liberal” dengan jargon “bahaya narkoba” atau “bahaya laten komunis” yang pelakunya juga kerap diganjar hukuman mati? GATRA pernah dua kali menggali tuntas komunitas ini: Laporan Khusus Islam “Liberal Hadang Fundamentalisme” (8 Desember 2001) dan Laporan Utama “Fatwa Mati Islam Liberal” (21 Desember 2002). Anggapan dan ancaman terhadap JIL itu agaknya berlebihan.

Kemunculan JIL berawal dari kongko-kongko antara Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Tempat ini kemudian menjadi markas JIL. Para pemikir muda lain, seperti Lutfi Asyyaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung. Dalam perkembangannya, Ulil disepakati sebagai koordinator.

Gelora JIL banyak diprakarsai anak muda, usia 20-35-an tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis. Tujuan utamanya: menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik,” tulis situs islamlib.com. Lebih jauh tentang gagasan JIL lihat: Manifesto Jaringan Islam Liberal.

JIL mendaftar 28 kontributor domestik dan luar negeri sebagai “juru kampanye” Islam liberal. Mulai Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Said Agiel Siradj, Azyumardi Azra, Masdar F. Mas’udi, sampai Komaruddin Hidayat. Di antara kontributor mancanegaranya: Asghar Ali Engineer (India), Abdullahi Ahmed an-Na’im (Sudan), Mohammed Arkoun (Prancis), dan Abdallah Laroui (Maroko).

Jaringan ini menyediakan pentas –berupa koran, radio, buku, booklet, dan website– bagi kontributor untuk mengungkapkan pandangannya pada publik. Kegiatan pertamanya: diskusi maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran segrup. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal.

Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan gender, jilbab, atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi.

Dalam situs islamlib.com dinyatakan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia. Seperti munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi “Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil kekerasan.

JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya, juga lugas mengungkapkan ide-ide “gila”-nya. Gaya kampanyenya menggebrak, menyalak-nyalak, dan provokatif. Akumulasi gaya ini memuncak pada artikel kontroversial Ulil di Kompas yang dituding FUUI telah menghina lima pihak sekaligus: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.

Dengan gaya demikian, reaksi bermunculan. Tahun 2002 bisa dicatat sebagai tahun paling polemis dalam perjalanan JIL. Spektrumnya beragam: mulai reaksi ancaman mati, somasi, teguran, sampai kritik berbentuk buku. Teguran, misalnya, datang dari rekomendasi (taushiyah) Konferensi Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, 11-13 Oktober 2002.

Bunyinya: “Kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU mewaspadai dan mencegah pemikiran Islam Liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam Liberal dimunculkan oleh Pengurus NU (di semua tingkatan) diharap ada sanksi, baik berupa teguran keras maupun sanksi organisasi (sekalipun dianulir dari kepengurusan).”

Somasi dilancarkan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al-Anshari, kepada RCTI dan SCTV, pada 4 Agustus 2002, karena menayangkan iklan “Islam Warna-warni” dari JIL. Iklan itu pun dibatalkan. Kubu Utan Kayu membalas dengan mengadukan Fauzan ke polisi.

Sementara kritik metodologi datang, salah satunya, dari Haidar Bagir, Direktur Mizan, Bandung. Ia menulis kolom di Republika, 20 Maret 2002: “Islam Liberal Butuh Metodologi”. JIL dikatakan tak punya metodologi. Istilah ”liberal”, Haidar menulis, cenderung menjadi ”keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa masuk”. Tanpa metodologi yang jelas akan menguatkan kesan, Islam liberal adalah ”konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri”.

Reaksi berbentuk buku, selain karya Hartono tadi, ada pula buku Adian Husaini, Islam Liberal: Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta, Juni 2002). Ada tiga agenda JIL yang disorot: pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah; isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global; upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel.

Buku lain, karya Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Jakarta, Agustus 2003). Isinya, kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam liberal. Energi personel JIL akhirnya memang tersedot untuk meladeni berbagai reaksi sepanjang 2002 itu. Mulai berbentuk adu pernyataan, debat ilmiah, sampai balasan mengadukan Fauzan ke polisi. Tapi, semuanya justru melejitkan popularitas kelompok baru ini.

Menjelang akhir 2003 ini, hiruk-pikuk kontroversi JIL cenderung mereda. Nasib aduan FUUI dan aduan JIL terhadap Fauzan ke Mabes Polri menguap begitu saja. Dalam suasana lebih tenang, JIL mulai menempuh fase baru yang lebih konstruktif, tak lagi meledak-ledak.

“Tahap awal yang menggebrak, kami kira sudah cukup. Kini kami konsentrasi mengembangkan jaringan antarkampus,” kata Nong Darol Mahmada, Wakil Koordinator JIL. Misinya, membendung laju skripturalisme Islam sejenis Hizbut Tahrir yang merasuki kampus-kampus umum. Ada 10 kampus di Jawa yang dimasuki jaringan. Agustus lalu, JIL mengelar SWOT untuk mengevaluasi kinerja dan merumuskan agenda ke depan.

Ramadan ini, JIL mengisi waktu dengan mengkaji kitab-kitab ushul fiqh klasik ala pesantren. Seperti Ar-Risalah karya Imam Syafi’i, Al-Muwafaqat karya Al-Syatibi, tulisan lepas Najmuddin Al-Thufi dan Jam’ul Jawami’ karya Al-Subkhi. Acara bertajuk “Gelar Tadarus Ramadan: Kembali ke Islam Klasik” ini berlangsung di Gedung Teater Utan Kayu. Usai diskusi, acara dilanjutkan dengan tarawih bersama.

Di atas segalanya, aksi-reaksi yang mengiringi perjalanan JIL telah menguakkan kenyataan bahwa JIL mempunyai “konstituen” tersendiri yang justru mendapat pencerahan spiritual dari Islam ala JIL ini.

Misalnya, saat berlangsung talk show radio bersama Prof. Hasanuddin A.F. tentang pidana mati dalam Islam, Desember 2002. Seorang penanya bernama Henri Tan mengeluh akan keluar lagi dari Islam, bila Ulil diancam-ancam fatwa mati. “Islam model Ulil ini yang membuat saya tertarik masuk Islam. Kalau model ini mau dimatikan, lebih baik saya keluar lagi dari Islam,” katanya.

Fakta serupa muncul dalam bedah buku Syariat Islam Pandangan Muslim Liberal di Universitas Negeri Jakarta, Juni 2003. Seorang peserta, sebut saja Djohan, menyesalkan fatwa mati atas Ulil. “Saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam justru karena keislaman model Mas Ulil. Dia bukan pendangkal akidah, malah menguatkan akidah saya,” kata Djohan. Tuduhan bahwa JIL mendangkalkan akidah, dengan fakta ini, perlu diuji kembali.

Ketika digelar jumpa pers JIL menanggapi fatwa FUUI, di Utan Kayu, Jakarta, Desember 2002, ada seorang penanggap yang mengaku berislam secara “minimal”, alias abangan. Tadinya ia merasa terasingkan dari wadah mayoritas umat Islam, tapi kehadiran JIL seolah merangkulnya, dan mengakuinya sebagai muslim. Ia pun terdorong meningkatkan kualitas keislamannya.

Lepas dari beragam kontroversinya, bagaimanapun, ada segmen masyarakat tertentu yang membutuhkan Islam model JIL dalam merawat spiritualitas mereka. Tentu mereka bukan hanya kalangan mualaf dan abangan, juga para akademisi, peneliti, aktivis, dan mahasiswa yang berpikir kritis, pluralis, dan menjunjung kebebasan. Maka, biarkan JIL melayani konstituennya. (GTR)

Akar Islam Liberal
“Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur. Tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu ‘Islam liberal’.” ( Asaf ‘Ali Asghar Fyzee [India, 1899-1981] ).

PERKENALAN istilah “Islam liberal” di Tanah Air terbantu oleh peredaran buku Islamic Liberalism (Chicago, 1988) karya Leonard Binder dan Liberal Islam: A Source Book (Oxford, 1998) hasil editan Charles Kurzman. Terjemahan buku Kurzman diterbitkan Paramadina Jakarta, Juni 2001. Versi Indonesia buku Binder dicetak Pustaka Pelajar Yogyakarta, November 2001.

Sebelum itu, Paramadina menerjemahkan disertasi Greg Barton di Universitas Monash, berjudul Gagasan Islam Liberal di Indonesia, April 1999. Namun, dari ketiga buku ini, tampaknya buku Kurzman yang paling serius melacak akar, membuat peta, dan menyusun alat ukur Islam liberal. Para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) juga lebih sering merujuk karya Kurzman ketimbang yang lain.

Kurzman sendiri meminjam istilah itu dari Asaf ‘Ali Asghar Fyzee, intelektual muslim India. Fyzee orang pertama yang menggunakan istilah “Islam liberal” dan “Islam Protestan” untuk merujuk kecenderungan tertentu dalam Islam. Yakni Islam yang nonortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi masa depan, bukan masa silam.

“Liberal” dalam istilah itu, menurut Luthfi Assyaukanie, ideolog JIL, harus dibedakan dengan liberalisme Barat. Istilah tersebut hanya nomenklatur (tata kata) untuk memudahkan merujuk kecenderungan pemikiran Islam modern yang kritis, progresif, dan dinamis. Dalam pengertian ini, “Islam liberal” bukan hal baru. “Fondasinya telah ada sejak awal abad ke-19, ketika gerakan kebangkitan dan pembaruan Islam dimulai,” tulis Luthfi.

Periode liberasi itu oleh Albert Hourani (1983) disebut dengan “liberal age” (1798-1939). “Liberal” di sana bermakna ganda. Satu sisi berarti liberasi (pembebasan) kaum muslim dari kolonialisme yang saat itu menguasai hampir seluruh dunia Islam. Sisi lain berarti liberasi kaum muslim dari cara berpikir dan berperilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan.

Luthfi menunjuk Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai figur penting gerakan libaral pada awal abad ke-19. Hassan Hanafi, pemikir Mesir kontemporer, menyetarakan Abduh dengan Hegel dalam tradisi filsafat Barat. Seperti Hegel, Abduh melahirkan murid-murid yang terbagi dalam dua sayap besar: kanan (konservatif) dan kiri (liberal).

Ada dua kelompok yang dikategorikan “musuh” utama Islam liberal. Pertama, konservatisme yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya.

Bila Luthfi mengembalikan semangat liberal pada abad ke-19, aktivis JIL yang lain, Ahmad Sahal, menariknya pada periode sahabat. Rujukannya Umar bin Khattab. Dialah figur yang kerap melakukan terobosan ijtihad. Umar beberapa kali meninggalkan makna tekstual Al-Quran demi kemaslahatan substansial. Munawir Sjadzali juga kerap merujukkan pikirannya kepada Umar ketika memperjuangkan kesetaraan hak waris anak laki-laki dan perempuan.

Umar menjadi inspirator berkembangnya mazhab rasional dalam bidang fikih yang dkenal sebagai madrasatu ra’yi. Dengan demikian, Sahal menyimpulkan, Islam liberal memiliki genealogi yang kukuh dalam Islam. Akhirnya, Islam liberal adalah juga anak kandung yang sah dari Islam.

Manifesto Jaringan Islam Liberal
NAMA “Islam liberal” menggambarkan prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Kami percaya, Islam selalu dilekati kata sifat, sebab kenyataannya Islam ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir –dengan demikian juga memilih satu kata sifat– yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam liberal, kami membentuk “Jaringan Islam Liberal”. Landasan penafsiran kami adalah:

1. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.
Kami percaya, ijtihad (penalaran rasional atas teks-teks keislaman) adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan. Kami percaya ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), maupun ilahiyyat (teologi).

2. Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks.
Ijtihad yang kami kembangkan berdasarkan semangat religio-etik Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal.

3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.
Kami mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung konteks tertentu; terbuka, sebab setiap penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran adalah cermin kebutuhan penafsir pada masa dan ruang yang terus berubah.

4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.
Kami berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas minoritas berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas dipahami dalam makna luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, dan ekonomi.

5. Meyakini kebebasan beragama.
Kami yakin, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Kami tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar pendapat atau kepercayaan.

6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.
Kami yakin, kekuasaan agama dan politik harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus. (GTR)
[sumber: hasil SWOT JIL di Ancol, Jakarta, Agustus 2003/swaramuslim]

Maaf Kang kalo panjang" nih, abisan saya masih Mangmang dengan islamlib ini, sebenarnya saya tidak mendukung Islamlib, hanya saja beberapa tokohnya ada yang sangat saya kenal sebagai Ahlissunnah waljama'ah. Itu gimana Manteman sekalian..???
avatar
Ichwanzein
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Posts : 77
Location : Cilincingston
Join date : 06.10.11
Reputation : 4

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by BAKUL KOPI on Fri Oct 21, 2011 5:18 pm

ISLAM ANTI SEPILIS...........
(Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme)
jadi jika ada yg mengaku islam Liberal berarti mereka bukan islam dan HALAL untuk dibantai ( lol )

:lkj:

Di dalam hati ku bertanya kegilaan ini
Menusuk sanubari menikam asa dan butakan nurani

Nafas degradasi peradaban zaman
Ketika para Samiri semakin bebas berkeliaran gentayangan

Dalam percaturan Aqidah sempalan Kombinasi majas liberal dan logika sompral
Kaderisasi Abdullah bin Ubay bin Saba bin Dajjal

Cangkok modernitas dari kupasan sinetron berlabel dakwah abal-abal
Kacung dollar yang coba ambil alih kapitalisme Dan pembodohan serial sinetron dalam skenario para pembual

Lalu akhiri setiap chapter Tauhid dengan kuburan meledug

Mayat penuh belatunglah, kecoalah, cacinglah
Penuh lintahlah lalu bau busuk dan sampah

Sama persis seperti aqidah para Kurawa yang caplok sengketa beras bulog
Dari blok konsumerisme rapelan anggota dewan dan prestasi jeblok
Tidak beda dengan bisnis VCD porno grosiran Glodok
Terkombinasi dalam dana illegal kemunafikan pemilu elit-elit bolot mencolok seronok

Mengambil kesempatan dalam kesempitan
Lalu lempar retorika dengan tampang sok menawan

Mengkonsumsi wacana democrazy para legislatif
Dan air lendir kamar hotel sebagai rileksasi alternatif
Kacung zionis yang coba berlaga hanif
Sambil back up prostitusi progresif
Jaringan mafia kemunkaran yang makin atraktif

Hak asasi seperti apa sih yang kalian maksud?
Ketika media jerumuskan propaganda
Mengupas bangkai dan memonopoli sajadah
Menyerang ulama lalu dustakan agama

Persis seperti dusta besar konspirasi yang coba bungkam keteguhan Ba’asyir dan poligami Abdullah Gymnastiar

Hati2 fremansory yang terbungkus demokrasi dan liberalisasi
Terbangun dari rotasi konspirasi
Energy hirarki para tirani
Kamuflase hak asasi

Skenario konspirasi pion konsumerisme klub rotari
Voting tentang prostitusi dan hak asasi
Atas nama kebenaran dari kacamata demokrasi

Undercover !
Agenda tersembunyi ini takkan bisa di barter
Mulai dari isu anti poligami yang di buat santer
Di carter dari kepentingan fenomena anti teroris ala para Crusader

Jual beli saham ibu pertiwi untuk devisa dari percaturan departemen maksiat dalam negeri
“Playboy” takkan mati !
Sejak nurani “Dewan Pembantaian Rakyat”
Membungkam poros indosat
Di atas saham generasi kami
Yang di jual dari riba korupsi BUMN dan MTV

Moralitas ejakulasi dana rapelan bumbu kolesterol pilkada dari kurs busway dan tradisi Banjir Jakarta
Imbas invasi kapitalisme dataran tinggi rasuki daerah
Villa pariwisata dan devisa bisnis ejakulasi merajalela

Retorika bagi hasil dan bunga bank
Topeng pemodal berwatak Hitler yang makin edan

Maka apa arti RIBA ?
Sejak slogan syariah masih terlalu lugu tuk sterilkan Bank Indonesia dari intervensi IMF
Bercampur bersama asset keuntungan jaringan film BF

Bensin fatwa haram departemen agama
Yang menjilat ulang ludah bisnis minuman keras
Atas nama bea dan cukai departemen perdagangan dan kemajuan pariwisata
Persis seperti para munsyid yang mengumpulkan dana untuk Palestina

Atas nama Jihad dan Dakwah
Sambil menunda waktu Sholat tepat waktu ketika Adzan tiba
Atas nama fiqud dakwah atau takut kehilangan massa
Mengaku aktivis dakwah sambil memelihara Taghut yang tak ada habisnya

Bicara soal zionis dan dakwah atas nama gerakan reformis
Perhatikan kelakar para aktivis mulai prejudis, ironis, opportunis

Pakai bendera Palestina dimana-mana
Bicara Jihad Fi Sabilillah
Tapi disuruh nikah malah nawar ukhti dibatas waktu kuliah

Akhwat kok di order ( emangnya mikrolet )
Nggak usah ngomong jihadlah, jihad yang aduhai aja nggak berani
Gimana mau bicara jihad kaya di Palestina
Ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah
Tapi ya gitu lah ngaji pulang ngaji pulang habis walimah hilang

Realita mulai samakan Tuhan dengan uang
Kalau tidak dia bakal hengkang
Ngambek kaya Gamal Abdul Naseer sama Hasan Al Banna ketika membangkang
Bacot shiffin merajela lalu angkat bendera perang

Democrazy kegilaan merasio dilema Habiburahman El Shirazy
Sejak VJ Rianti mendominasi sinema ayat ayat cinta
Berharap sajadah cinta mesra bertasbih
Dengan lusinan konsumerisme ibu kota

Yang tak kunjung beri harapan pada lusinan pemerkosaan akhwat di Abu Ghraib
Terlalu ghaib untuk mampu terjemahkan aib
Begitulah democrazy mendominasi hegemoni dengan budaya salib

Menyalib rongsokan retorika yang makin kehilangan bait jadi diri
Dari lawakan penghisap rokok kapitalis yang coba bicara revolusi
Pelacur marx dan nietzhie dari prostitusi stadium zionis tingkat tinggi

Beginilah waktu telah mengajarkan kami dengan baik
Untuk tidak pernah percaya pada barisan kafir dan munafik
Di atas taruhan demokrasi dan belenggu konfrontasi casuistic
Ancaman demokrasi parasit dan monopoli politik


avatar
BAKUL KOPI
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Age : 29
Posts : 757
Location : warkop
Join date : 07.10.11
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by hamba tuhan on Fri Oct 21, 2011 7:36 pm


http://www.laskarislam.com/t86-unek-unek-hamba-tuhan-yg-faqir-ilmu?highlight=unek


Syekh Abdul Qodir Al Jaelany berkata :

“Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama dari kamu, dan engkau mengatakan, Mungkin dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku, dan lebih tinggi derajatnya.

Apabila dia lebih kecil, hendaklah engkau mengatakan,Orang ini tidak berbuat dosa kepada Allah sedangkan aku telah berbuat dosa, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada diriku.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau lihat itu lebih tua, hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah banyak beribadah kepada Allah sebelum aku.

Apabila keadaan orang yang engkau pandang adalah seorang alim (kiai), hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah diberi sesuatu (anugrah) yang belum aku dapatkan dan ia telah mengetahui apa yang belum kuketahui serta telah mengamalkan ilmunya.

Dan Apabila orang yang engkau jumpai itu orang bodoh, hendaklah engkau mengatakan,
‘ Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berbuat dosa padahal aku berilmu. Aku tidak tahu dengan apa aku diakhiri atau dengan apa dia diakhiri kehidupannya (Husnul Khotimah atau Su’ul Khotimah)’.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau jumpai adalah orang kafir, hendakalah engkau mengatakan, Aku tidak tahu, mungkin aku menjadi kafir sehingga aku berakhir dengan amal yang jelek.

Sumber : Kitab Nashaihul Ibad
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by BAKUL KOPI on Fri Oct 21, 2011 8:19 pm

@hamba tuhan wrote:

http://www.laskarislam.com/t86-unek-unek-hamba-tuhan-yg-faqir-ilmu?highlight=unek


Syekh Abdul Qodir Al Jaelany berkata :

“Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama dari kamu, dan engkau mengatakan, Mungkin dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku, dan lebih tinggi derajatnya.

Apabila dia lebih kecil, hendaklah engkau mengatakan,Orang ini tidak berbuat dosa kepada Allah sedangkan aku telah berbuat dosa, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada diriku.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau lihat itu lebih tua, hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah banyak beribadah kepada Allah sebelum aku.

Apabila keadaan orang yang engkau pandang adalah seorang alim (kiai), hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah diberi sesuatu (anugrah) yang belum aku dapatkan dan ia telah mengetahui apa yang belum kuketahui serta telah mengamalkan ilmunya.

Dan Apabila orang yang engkau jumpai itu orang bodoh, hendaklah engkau mengatakan,
‘ Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berbuat dosa padahal aku berilmu. Aku tidak tahu dengan apa aku diakhiri atau dengan apa dia diakhiri kehidupannya (Husnul Khotimah atau Su’ul Khotimah)’.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau jumpai adalah orang kafir, hendakalah engkau mengatakan, Aku tidak tahu, mungkin aku menjadi kafir sehingga aku berakhir dengan amal yang jelek.

Sumber : Kitab Nashaihul Ibad

:lkj: :lkj: :lkj: seep bro ht

sekedar tambahan yg saya kutip dr link diatas :

FATWA MUI No. 7 Tahun 2005
Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agamaadalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan hukumnya HARAM.

CATATAN RENTING

PLURALISME tidak sama dengan PLURALITAS
Islam menolak PLURALISME karena merupakan IDEOLOGI PENCAMPUR-ADUKKAN AQIDAH. Tapi Islam menerima PLURALITAS karena merupakan SUNNATULLAH sebagai Dinamika Kehidupan yang menghargai keragaman kemajemukan dan kebhinekaan.
Karenanya, umat Islam bisa hidup berdampingan dengan umat beragama lain secara damai penuh toleran, saling menghargai dan menghormati. Tiap umat beragama bebas meyakini kebenaran agamanya masing-masing. dan bebas untuk tidak menerima kebenaran agama lain, namun tidak boleh menistakannya. Mereka tidak boleh dipaksa untuk membenarkan agama lain sebagaimana yang dilakukan KAUM SEPILIS.

Intinya, Islam sangat menghargai KEBEBASAN BERAGAMA, tapi menolak PENCAMPUR-ADUKAN AGAMA dan PENODAAN AGAMA.
avatar
BAKUL KOPI
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Age : 29
Posts : 757
Location : warkop
Join date : 07.10.11
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by mang odoy on Fri Oct 21, 2011 8:38 pm

JIL (Jaringan Iblis Laknatullah)....yang dikomandani oleh Cep Ulil Absar Abdalla....LEBIH BERBAHAYA dari sekedar sekte Ahmadiah Qodian...yang punya NABI DARI BOLLYWOOD..... :3:

Sialnya...ini jarang jadi perhatian....tanya kennnafffa....???

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 83

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by BAKUL KOPI on Fri Oct 21, 2011 8:41 pm

@mang odoy wrote:JIL (Jaringan Iblis Laknatullah)....yang dikomandani oleh Cep Ulil Absar Abdalla....LEBIH BERBAHAYA dari sekedar sekte Ahmadiah Qodian...yang punya NABI DARI BOLLYWOOD..... :3:

Sialnya...ini jarang jadi perhatian....tanya kennnafffa....???
kenafa tanya....?
ketawa guling ketawa guling ketawa guling
avatar
BAKUL KOPI
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Age : 29
Posts : 757
Location : warkop
Join date : 07.10.11
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by hamba tuhan on Sat Oct 22, 2011 12:05 am

@BAKUL KOPI wrote:ISLAM ANTI SEPILIS...........
(Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme)
jadi jika ada yg mengaku islam Liberal berarti mereka bukan islam dan HALAL untuk dibantai ( lol )

:lkj:

Di dalam hati ku bertanya kegilaan ini
Menusuk sanubari menikam asa dan butakan nurani

Nafas degradasi peradaban zaman
Ketika para Samiri semakin bebas berkeliaran gentayangan

Dalam percaturan Aqidah sempalan Kombinasi majas liberal dan logika sompral
Kaderisasi Abdullah bin Ubay bin Saba bin Dajjal

Cangkok modernitas dari kupasan sinetron berlabel dakwah abal-abal
Kacung dollar yang coba ambil alih kapitalisme Dan pembodohan serial sinetron dalam skenario para pembual

Lalu akhiri setiap chapter Tauhid dengan kuburan meledug

Mayat penuh belatunglah, kecoalah, cacinglah
Penuh lintahlah lalu bau busuk dan sampah

Sama persis seperti aqidah para Kurawa yang caplok sengketa beras bulog
Dari blok konsumerisme rapelan anggota dewan dan prestasi jeblok
Tidak beda dengan bisnis VCD porno grosiran Glodok
Terkombinasi dalam dana illegal kemunafikan pemilu elit-elit bolot mencolok seronok

Mengambil kesempatan dalam kesempitan
Lalu lempar retorika dengan tampang sok menawan

Mengkonsumsi wacana democrazy para legislatif
Dan air lendir kamar hotel sebagai rileksasi alternatif
Kacung zionis yang coba berlaga hanif
Sambil back up prostitusi progresif
Jaringan mafia kemunkaran yang makin atraktif

Hak asasi seperti apa sih yang kalian maksud?
Ketika media jerumuskan propaganda
Mengupas bangkai dan memonopoli sajadah
Menyerang ulama lalu dustakan agama

Persis seperti dusta besar konspirasi yang coba bungkam keteguhan Ba’asyir dan poligami Abdullah Gymnastiar

Hati2 fremansory yang terbungkus demokrasi dan liberalisasi
Terbangun dari rotasi konspirasi
Energy hirarki para tirani
Kamuflase hak asasi

Skenario konspirasi pion konsumerisme klub rotari
Voting tentang prostitusi dan hak asasi
Atas nama kebenaran dari kacamata demokrasi

Undercover !
Agenda tersembunyi ini takkan bisa di barter
Mulai dari isu anti poligami yang di buat santer
Di carter dari kepentingan fenomena anti teroris ala para Crusader

Jual beli saham ibu pertiwi untuk devisa dari percaturan departemen maksiat dalam negeri
“Playboy” takkan mati !
Sejak nurani “Dewan Pembantaian Rakyat”
Membungkam poros indosat
Di atas saham generasi kami
Yang di jual dari riba korupsi BUMN dan MTV

Moralitas ejakulasi dana rapelan bumbu kolesterol pilkada dari kurs busway dan tradisi Banjir Jakarta
Imbas invasi kapitalisme dataran tinggi rasuki daerah
Villa pariwisata dan devisa bisnis ejakulasi merajalela

Retorika bagi hasil dan bunga bank
Topeng pemodal berwatak Hitler yang makin edan

Maka apa arti RIBA ?
Sejak slogan syariah masih terlalu lugu tuk sterilkan Bank Indonesia dari intervensi IMF
Bercampur bersama asset keuntungan jaringan film BF

Bensin fatwa haram departemen agama
Yang menjilat ulang ludah bisnis minuman keras
Atas nama bea dan cukai departemen perdagangan dan kemajuan pariwisata
Persis seperti para munsyid yang mengumpulkan dana untuk Palestina

Atas nama Jihad dan Dakwah
Sambil menunda waktu Sholat tepat waktu ketika Adzan tiba
Atas nama fiqud dakwah atau takut kehilangan massa
Mengaku aktivis dakwah sambil memelihara Taghut yang tak ada habisnya

Bicara soal zionis dan dakwah atas nama gerakan reformis
Perhatikan kelakar para aktivis mulai prejudis, ironis, opportunis

Pakai bendera Palestina dimana-mana
Bicara Jihad Fi Sabilillah
Tapi disuruh nikah malah nawar ukhti dibatas waktu kuliah

Akhwat kok di order ( emangnya mikrolet )
Nggak usah ngomong jihadlah, jihad yang aduhai aja nggak berani
Gimana mau bicara jihad kaya di Palestina
Ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah
Tapi ya gitu lah ngaji pulang ngaji pulang habis walimah hilang

Realita mulai samakan Tuhan dengan uang
Kalau tidak dia bakal hengkang
Ngambek kaya Gamal Abdul Naseer sama Hasan Al Banna ketika membangkang
Bacot shiffin merajela lalu angkat bendera perang

Democrazy kegilaan merasio dilema Habiburahman El Shirazy
Sejak VJ Rianti mendominasi sinema ayat ayat cinta
Berharap sajadah cinta mesra bertasbih
Dengan lusinan konsumerisme ibu kota

Yang tak kunjung beri harapan pada lusinan pemerkosaan akhwat di Abu Ghraib
Terlalu ghaib untuk mampu terjemahkan aib
Begitulah democrazy mendominasi hegemoni dengan budaya salib

Menyalib rongsokan retorika yang makin kehilangan bait jadi diri
Dari lawakan penghisap rokok kapitalis yang coba bicara revolusi
Pelacur marx dan nietzhie dari prostitusi stadium zionis tingkat tinggi

Beginilah waktu telah mengajarkan kami dengan baik
Untuk tidak pernah percaya pada barisan kafir dan munafik
Di atas taruhan demokrasi dan belenggu konfrontasi casuistic
Ancaman demokrasi parasit dan monopoli politik




Saudaraku yg kumuliakan, untuk saat sekarang ini tentunya tak bisa kita lakukan hukum membunuh sebagai hadd (hukuman) untuk orang yang sudah menyimpang akidahnya, karena menurut pengetahuan hamba tuhan yg bodoh ini... dimasa Nabi saw pun hal itu tak diberlakukan, tapi mulai diberlakukan setelah mulai byk orang2 yg menyimpang akidahnya, maka diberlakukan hukum keras, maksudnya adalah agar yg lain tak mengikutinya, dan itu diberlakukan dikhilafah islamiyah, dimasa islam telah berjaya……..

namun masa kini saudaraku, banyak muslimin didunia menyimpang akidahnya, maka tentunya kita harus membunuh sebagian besar muslimin di dunia ini?,tentunya tidak demikian, namun kita orang2 yg mengerti akan hal ini terbeban untuk mengenalkan kembali akidah yg benar, membenahi hal2 yg sirna pada muslimin.....

muslimin melacur dengan putrinya, pemuda melacur dengan ibunya, kakek menzinahi cucunya, ibu memakan bayinya, demikian rusaknya keadaan ummat........ dan hal seperti ini perlu pembenahan dengan serius, tentunya bukan dengan kekerasan, jika dengan kekerasan maka habislah seluruh muslimin ini........ karena hukum bunuh bukan hanya pada yg menyimpang akidahnya saja, tapi pada yg berselingkuh, pada perampok, pada yg meninggalkan shalat, pada pemfitnah dan pemecah belah ummat, pada yg tak membayar zakat, dan banyak lagi……….

duh..tentunya bukan membenahi tapi menghancurkan, demikian jika dengan kekerasan.. maka kita kembali pada masa nubuwwah, membenahi ummat dengan lemah lembut…

jangan pesimis saudaraku, kita bersatu untuk membenahi ummat..

Wallahu a'lam bish-shawab
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by Ichwanzein on Sat Oct 22, 2011 11:40 am

@BAKUL KOPI wrote:
@mang odoy wrote:JIL (Jaringan Iblis Laknatullah)....yang dikomandani oleh Cep Ulil Absar Abdalla....LEBIH BERBAHAYA dari sekedar sekte Ahmadiah Qodian...yang punya NABI DARI BOLLYWOOD..... :3:

Sialnya...ini jarang jadi perhatian....tanya kennnafffa....???
kenafa tanya....?
ketawa guling ketawa guling ketawa guling
LIBERAL = BEBAS+TERBUKA
KALO MIKIR 'BEGO/SEDERHANA' AJA DEH...
YG NAMANYA AGAMA = AGEMAN = GENGGAMAN = PEGANGAN
AGAMA = PERCAYA TUHAN = KITAB SUCI = UTUSAN
MASA KAUM YG MEMPUNYAI TUHAN, PEDOMAN, DAN UTUSAN BERTINDAK 'BEBAS DAN TERBUKA'. BUAT APA ADA TUHAN/PEDOMAN/UTUSAN???
LIBERAL, PALING COCOK BUAT ATHEIS.
avatar
Ichwanzein
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Posts : 77
Location : Cilincingston
Join date : 06.10.11
Reputation : 4

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by mang odoy on Sun Oct 23, 2011 8:51 pm

Syahadattein wrote:
@BAKUL KOPI wrote:
@mang odoy wrote:JIL (Jaringan Iblis Laknatullah)....yang dikomandani oleh Cep Ulil Absar Abdalla....LEBIH BERBAHAYA dari sekedar sekte Ahmadiah Qodian...yang punya NABI DARI BOLLYWOOD..... :3:

Sialnya...ini jarang jadi perhatian....tanya kennnafffa....???
kenafa tanya....?
ketawa guling ketawa guling ketawa guling
LIBERAL = BEBAS+TERBUKA
KALO MIKIR 'BEGO/SEDERHANA' AJA DEH...
YG NAMANYA AGAMA = AGEMAN = GENGGAMAN = PEGANGAN
AGAMA = PERCAYA TUHAN = KITAB SUCI = UTUSAN
MASA KAUM YG MEMPUNYAI TUHAN, PEDOMAN, DAN UTUSAN BERTINDAK 'BEBAS DAN TERBUKA'. BUAT APA ADA TUHAN/PEDOMAN/UTUSAN???
LIBERAL, PALING COCOK BUAT ATHEIS.

tapi jangan salah lho...orang orang JIL yang bermarkas di UTAN KAYU-RAWAMANGUN-JAKARTA ini....gelarnya SYEREM SYEREM.....saya dengar...DEPAG pun turut DIKUASAINYA..


mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 83

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by mang odoy on Mon May 07, 2012 2:56 am

tariiikkkk jabbbriiiigggg......pada kemana negh..??? mana

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 83

Kembali Ke Atas Go down

Re: Jaringan Islam Liberal, SESAT? Gus Dur juga LIBERAL? dan Apa pandangan teman sekalian tentang islamlib???

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik