FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

mengenal imlek

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

mengenal imlek

Post by keroncong on Sat Dec 24, 2011 9:05 pm

IN Nian Kuaile (Bahagia di Tahun Baru), Guo Nian Hao (Selamat Menjalani Tahun
Baru), Chunjie Kuaile (Bahagia di Musim Semi), Sincun Kionghi (Selamat Menyambut
Musim Semi yang Baru), Sincia Cuyi (Selamat Tahun Baru), Kiunghi Sinnyen
(Selamat Tahun Baru) adalah serangkaian ucapan selamat menyambut Imlek dalam
bahasa Mandarin, Hokkian, Tiociu, dan Hakka.

MENGAPA di Indonesia hari
raya ini disebut Tahun Baru Imlek? Tidak ada satu pun ucapan itu mengandung kata
Imlek. Apa arti kata Imlek? Dari bahasa Mandarin-kah? Tidak! Kata Imlek berasal
dari bahasa Hokkian Selatan, berarti "penanggalan bulan". Jadi, kata Imlek
sebenarnya mengacu nama penanggalan yang didasarkan perhitungan bulan (lunar),
yang dalam bahasa Mandarin disebut yinli. Dengan demikian, istilah Tahun Baru
Imlek berarti "Tahun Baru Menurut Penanggalan Bulan".

PENDUDUK keturunan
Cina di Jakarta menggunakan kata sincia "bulan 1 yang baru" dengan ucapan Sincun
Kionghi "Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru" atau Kionghi berarti "Selamat".
Juga ada kata konyan yang berasal dari guo nian (bahasa Mandarin), berarti
"melewati tahun yang baru".

Di negara asalnya, RRC, perayaan Imlek
dinamakan Chunjie, berarti "Perayaan Musim Semi". Kata Chunjie digunakan sejak
RRC merdeka. Sebelumnya digunakan istilah Yuandan, berarti pada pertama di tahun
yang baru dimasuki. Tahun 1949 Pemerintah RRC menetapkan nama Yuandan untuk
Tahun Baru Internasional, 1 Januari, sedangkan Tahun Baru Imlek dinamakan
Chunjie.

Upacara menyambut Tahun Baru Imlek adalah Toapekong Naik,
dilakukan pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian)/bulan La (bahasa
Mandarin) tanggal 23 atau 24.

Kata toapekong bermakna "paman buyut"
(saudara laki-laki buyut) dengan makna kiasan "dewa". Biasanya dewa dianggap
orang berusia tua. Toapekong digambarkan sebagai orang yang seusia buyut atau
generasi di atasnya.

Pada tanggal 23/24 itu, Toapekong yang naik bukan
sembarang dewa, tetapi dewa tertentu, yaitu Dewa Dapur bernama Zao Shen.
Aliasnya, Kakek Dapur, Raja Dapur, Komandan Dapur Timur, Komandan Kepala
Keluarga, Dewa Pelindung Rumah, Dewa Penguasa Penentu Kebahagiaan. Mengingat
nama-nama alias itu tidak jauh dari hal seputar rumah tangga, maka dewa ini
dianggap sebagai dewa keluarga yang menentukan baik-buruknya nasib suatu
keluarga. Di Indonesia Dewa Dapur juga disebut Cao Kun Kong.

Siapa
sebetulnya Dewa Dapur ini, mengapa ia begitu dihormati sehingga diadakan upacara
khusus, misi apa yang dijalankan? Ada yang mengatakan, ia Kaisar Shen Nong yang
mengajari manusia bercocok tanam. Ia pula yang menciptakan api. Dikarenakan
jasanya yang besar, setelah wafat ia menjadi dewa yang bernama Zao Shen atau
Dewa Dapur.

Misinya, memberi laporan kepada Mahadewa tentang hal baik dan
buruk dari keluarga bersangkutan. Karena bersemayam di dapur-di salah satu sudut
atau tempat di dapur-ia tahu semua perkara dalam keluarga itu. Di situlah
seorang ibu mengomel, ngerumpi bersama ibu-ibu lain, tertawa, dan bercanda
bersama anggota keluarga lain sambil mengerjakan urusan rumah tangga. Dewa Dapur
yang ada di sana pasti mendengar semua perkataan dan mencatatnya. Tanggal 23 dan
24 Cap Ji Gwee atau bulan 12 adalah saatnya Dewa Dapur naik ke langit,
melaporkan seluruh kejadian selama satu tahun kepada keluarga itu.

Agar
Dewa Dapur tidak melaporkan hal yang jelek, manusia mencari akal untuk
menyenangkan hatinya. Bahkan, manusia sampai memikirkan agar dalam perjalanan
menuju langit, kuda tunggangan sang dewa tidak kelaparan, dan hewan
peliharaannya di dunia tidak mati kelaparan. Pada tanggal 23 dan 24 itu, rumah
Dewa Dapur dibersihkan lalu diberi sesajen. Sesajen ini ada yang wajib; ada yang
tidak wajib.

Sesajen wajib berupa permen yang manis, liat, dan lengket,
manisan buah kundur yang dikenal sebagai tangkua atau tangkwe. Sesajen tidak
wajib berupa roti goreng dan teh, yang merupakan bekal bila sang dewa merasa
lapar dan haus. Rumput untuk bekal makanan kuda tunggangan sang dewa, sedangkan
kulit tahu untuk ayam peliharaannya yang ditinggalkan di bumi.

Sesajen
wajib harus manis supaya sang dewa hanya melaporkan hal-hal yang "manis". Selain
manis, juga harus liat dan lengket. Begitu mengulum permen, mulut sang dewa
menjadi sulit dibuka sehingga tidak banyak bicara dan hanya tersenyum
saja.

Dengan demikian, lengkaplah "perhatian" manusia dalam menghantar
dewanya naik ke langit dengan menyimpan maksud tertentu di balik semua itu.
Selain itu, pada rumah dewa dipasang bait berpasangan atau duilian berbunyi
"naik ke langit mengatakan hal yang baik, pulang ke rumah membawa
keberuntungan", atau "naik ke langit mengatakan hal yang baik, turun ke dunia
menjaga perdamaian".

DI Desa Tai Xing, Provinsi Jiangsu, RRC, penduduk
desa percaya sebelum berangkat naik ke langit, Dewa Dapur menghitung jumlah
sumpit di rumah tempat tinggalnya. Ketika turun ke bumi, rezeki yang dibawanya
sesuai jumlah sumpit yang ada. Sebelum upacara sembahyang, kepala keluarga
menambah jumlah sumpit dengan harapan pada saat turun ke bumi nanti, Dewa Dapur
akan menambah rezeki mereka.

Bulan 12 berakhir pada tanggal 30. Bulan
berikutnya adalah bulan 1 yang disebut Cia Gwee (bahasa Hokkian)/bulan Zheng
(bahasa Mandarin). Malam terakhir di bulan 12 ini disebut chuxi, yang berarti
"malam yang ditinggalkan", maksudnya malam terakhir di tahun itu yang akan
ditinggalkan dalam memasuki tahun baru. Malam itu merupakan malam paling baik,
ramai, dan menyenangkan karena merupakan malam menyambut kedatangan hari pertama
di tahun yang baru.

Ada tiga kegiatan penting pada malam itu. Sebelum
acara makan malam bersama, kepala keluarga memasang petasan. Kemudian, pintu
utama rumah ditutup dan disegel dengan kertas merah. Tujuannya, agar hawa
dingin-karena saat itu musim dingin-tidak masuk ke rumah.

Kertas merah
sebagai lambang uang, merupakan alat untuk menjaga kesejahteraan keluarga.
Sesudah pintu ditutup, lalu dipasang perapian dengan tujuan mendapat hawa hangat
selain mengusir hawa dingin.

Acara berikutnya, makan malam bersama dengan
hidangan wajib berupa ikan. Di Jakarta, umum disajikan ikan bandeng. Kebiasaan
ini mendapat pengaruh dari daerah Tiongkok selatan. Di Tiongkok utara ada
kebiasaan makan jiaozi (penganan berbentuk pempek kapal selam mini, terbuat dari
tepung khusus berisi daging dan sayur). Mengapa makan ikan, bukan binatang
lainnya? Alasannya, ada pepatah berbunyi nian nian you yu "setiap tahun ada
sisa". Kata yu yang berarti "sisa" berbunyi sama dengan kata yu yang berarti
"ikan". Kesamaan bunyi itulah yang menyebabkan mengapa ikan menjadi hidangan
wajib di malam tahun baru. Dengan makan ikan, berarti dalam segala hal ada sisa.
Tentu saja yang dimaksud adalah kelebihan rezeki. Makanan wajib lainnya, kue
keranjang yang disebut nian gao. Kata gao "kue" berbunyi sama dengan gao yang
bermakna "tinggi". Dengan makan kue keranjang, diharapkan rezeki seseorang
setiap tahun bertambah tinggi. Buah jeruk menjadi lambang keberuntungan karena
lafal kata jeruk dalam bahasa Mandarin-juzi-mirip ji yang berarti
"keberuntungan".

Saat makan malam itu, di Tiongkok ada kebiasaan memberi
angpao kepada anak kecil. Kata angpao berasal dari bahasa Hokkian. Angpao atau
hongbao dalam bahasa mandarin bermakna "bungkusan merah", tidak mengacu uang
yang khusus diberikan pada tahun baru. Nama uang pemberian khusus di tahun baru
disebut yasui qian, bermakna "uang penutup tahun".

Selesai makan malam,
seluruh anggota keluarga bercengkerama, main catur semalam suntuk sambil bermain
petasan. Menjelang tengah malam petasan yang dibunyikan semakin banyak dan
besar. Pada zaman dulu digunakan juga meriam buluh untuk memperoleh suara
dentuman lebih keras lagi. Tujuannya, untuk mengusir setan dan hantu. Malam itu
malam terakhir musim dingin yang berasosiasi dengan Yin yang menimbulkan hawa
dingin, gelap tanpa sinar bulan sehingga banyak setan
berkeliaran.

Keesokan harinya merupakan hari pertama tahun baru,
sekaligus menandai dimulainya musim semi. Musim semi berasosiasi dengan Yang
yang menimbulkan hawa hangat, tanda-tanda kehidupan dimulai lagi, seperti bunga
mulai bermekaran. Malam itu merupakan malam untuk mengucapkan selamat tinggal
pada tahun yang sudah dilalui dan menyambut tahun baru yang akan dijalani dengan
penuh harapan.
Hermina Sutami Pengajar Program Studi Cina Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia




MUI Izinkan Imlek di Masjid



YOGYAKARTA, (PR).- Warga Tionghoa yang menganut agama Islam atau Muslim
di Yogyakarta, mungkin tidak akan mengira akan dapat melaksanakan perayaan Imlek
di masjid. Keinginan tersebut tampaknya bakal terwujud setelah pihak Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta memberikan izin kepada Parsatuan Islam Tionghoa
Indonesia (PITI) setempat untuk melakukan kegiatan tersebut di Masjid Suhada,
Kota Baru.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/06/0505.htm



Boleh, Imlekan di Masjid



JOGJAKARTA– Barangkali, ini merupakan fatwa pertama, Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) memperbolehkan perayaan tahun
baru China 2554 (Imlek) di dalam masjid. Rekomendasi itu dikeluarkan setelah MUI
mempelajari dan mencari sejumlah masukan dari berbagai buku mengenai Imlek.
Ternyata, perayaan Imlek tidak berkaiatan dengan ritual keagamaan.
http://ldnu.org/berita/arsip/000933.shtml

Warga
Tionghoa di Yogya Rayakan Imlek di Masjid dan Gereja
detikcom - Jakarta,
Warga Yogyakarta keturunan Cina yang beragama Islam dan Nasrani di akan turun
merayakan Tahun Baru Tionghoa Imlek 2554 di masjid dan gereja. Jadi, perayaan
tidak cuma ada di klenteng.
http://www.indonesiamedia.com/2003/03/berta-0303-imlekmesjid.htm



Hikayat Imlek, Dulu dan Sekarang



detikHot - Jakarta,Tiga atau empat tahun yang lalu, pemandangan seperti
ini tidak mungkin ada: Mal-mal di Jakarta berhias lampion-lampion, pita-pita dan
berbagai hiasan dengan nuansa serba merah. Tulisan China di sana-sini.
Orang-orang saling mengucap selamat dalam bahasa yang aneh, Gong Xi Fat Cai.
Semoga sejahtera. Inilah yang pada Hari Raya Imlek atau tahun baru Cina sejak
rezim Soeharto berlalu.

Tahun ini, Imlek jatuh pada Sabtu (1/2/2003)
besok. Untuk pertama kalinya, Imlek akan dirayakan dalam suasana hari libur
nasional, setelah tahun lalu pemerintah menetapkannya sebagai hari libur
fakultatif. Artinya, hanya yang merayakannya saja yang mendapatkan libur.
Perayaan Imlek secara besar-besaran di bawah “pengakuan resmi” dari pemerintah
semacam ini terjadi sejak Pemerintahan Presiden Gus Dur.

Sejak itu,
kemeriahan perayaan Imlek sejajar dengan Lebaran dan Natal. Yang paling
mencolok, tentu, perayaan secara fisik yang tercermin dalam kesibukan
pusat-pusat perbelanjaan dan institusi-institusi hiburan seperti televisi dan
industri pertunjukan. Seperti halnya Lebaran dan Natal, Imlek sekarang sudah
punya “daya jual” untuk menjadi tema diskon di mal-mal dan supermarket. Stasiun
televisi pun berlomba-lomba menyajikan acara khusus menyambut Imlek. RCTI
misalnya, terlihat paling bersemangat.

Semangat yang sama juga terpancar
pada masyarakat keturunan Tionghoa sendiri, yang merayakan “kemenangan politik”
ini dengan penuh suka cita. Ada laporan menarik dari Yogyakarta. Warga kota
pelajar itu, khususnya kalangan keturunan Tionghoa yang beragama Islam dan
Nasrani, merayakan Imlek atau Tahun Baru Cina 2554 di masjid dan gereja.


Kalau melacak sejarahnya, Imlek memang bukan perayaan keagamaan
tertentu, melainkan upacara tradisional masyarakat Tiongkok. Di Cina sendiri,
Imlek diperingati bersama oleh warga yang beragama Konghucu, Budha, Hindu,
Islam, Katolik dan Kristen. Awalnya dahulu, Imlek atau Sin Tjia merupakan sebuah
perayaan yang dilakukan oleh para petani yang biasanya jatuh pada tanggal satu
di bulan pertama awal tahun baru.

Perayaan itu juga berkaitan dengan
pesta menyambut musim semi, yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan
berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek,
sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuannya, tak lain
sebagai syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak,
di samping untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat
dan tetangga.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka
segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada
setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam
kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang
wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, dipilih hidangan
yang berasosiasi pada makna “kemakmuran”, “panjang umur”, “keselamatan”, atau
“kebahagiaan” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang
dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya, sebagai simbol harapan akan
kehidupan yang lebih manis di tahun baru. Dihidangkan pula kue lapis sebagai
perlambang rejeki yang berlapis-lapis, kue mangkok dan kue keranjang. Bubur
sangat dihindari sebagai hidangan di hari ini karena dianggap melambangkan
kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang
yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga
berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk
menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya
bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka
bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa
masuk ke rumah dengan leluasa.

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan
persembahyangan kepada Sang Pencipta. Dan, lima belas hari sesudah Imlek
dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan
Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri
dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal
docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur
pindang, dan bubuk kedelai. Gong Xi Fat Cai.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: mengenal imlek

Post by Pakturut on Mon Jan 30, 2012 11:39 pm

Nice info gan...

:lkj:
avatar
Pakturut
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Posts : 60
Kepercayaan : Islam
Join date : 29.01.12
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: mengenal imlek

Post by Gravelord on Sat May 12, 2012 2:38 pm

nice info, itu merupakan tradisi Tiong Hoa, bukan ajaran Buddha. makasih

semoga semua makhluk berbahagia
avatar
Gravelord
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Age : 33
Posts : 95
Location : Sungai Guntung
Join date : 24.12.11
Reputation : 6

Kembali Ke Atas Go down

Re: mengenal imlek

Post by BiasaSaja on Sun Dec 09, 2012 2:12 pm

bukan 7 hari setelah imlek kali tu CAP GO MEH, 15 hari setelah IMLEK.

avatar
BiasaSaja
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 660
Kepercayaan : Protestan
Location : warnet langganan
Join date : 08.12.12
Reputation : 11

Kembali Ke Atas Go down

Re: mengenal imlek

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik