FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Membongkar Kebohongan Steven Indra, Mualaf Mantan Frater?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Membongkar Kebohongan Steven Indra, Mualaf Mantan Frater?

Post by Rindu on Wed Feb 10, 2016 6:14 pm


Kisah tentang mualaf bernama lengkap Steven Indra Wibowo ini sudah pernah ditampilkan panjang lebar di harian Republika pada tahun 2009 yang lalu. Harian yang sama memuat liputan baru tentang sosok yang sama juga pada tahun 2014 ini. Di beberapa media online Islami lainnya belakangan ini juga muncul versi supersingkat tentang mualafnya Steven Indra Wibowo ini, dengan judul sensasional sebagai orang yang pernah memurtadkan 126 orang Muslim di Jakarta. Tidak dijelaskan kapan itu terjadi, namun disini nanti kita akan lihat bahwa “prestasi” memurtadkan 126 orang Muslim itu omong kosong belaka.

Siapakah Steven Indra Wibowo?

Kita lihat apa kata Republika tentang mualaf kelahiran Jakarta, 14 Juli 1981 ini:
“Sebelum memutuskan memeluk Islam, Indra adalah seorang penganut Katolik yang taat. Ayahnya adalah salah seorang aktivis di GKI (Gereja Kristen Indonesia) dan Gereja Bethel. Di kalangan para aktivis GKI dan Gereja Bethel, ayahnya bertugas sebagai pencari dana di luar negeri bagi pembangunan gereja-gereja di Indonesia.”

Ada yang agak aneh dalam deskripsi di atas: Steven Indra Wibowo disebut sebagai seorang penganut Katolik yang taat, tapi ayahnya seorang aktivis Protestan, bahkan dari sumber media online lainnya disebutkan bahwa Steven Indra Wibowo adalah anak seorang petinggi PGI, organisasi para pendeta Protestan (kalau Katolik, organisasinya adalah KWI, yang kepengurusannya beranggotakan para Pastor maupun umat awam). Jadi, kalau deskripsi itu memang yang sebenarnya maka artinya si anak sejak kecil agamanya berbeda dengan agama ayahnya. Karena akan aneh seandainya ayahnya adalah seorang Katolik tapi menjadi petinggi PGI.

Sang ayah inipun ingin Steven “mengikuti jejaknya”, bukan dengan menjadi pendeta, melainkan menjadi Bruder Katolik. Namun dari kekeliruan dalam kisah Steven Indra Wibowo ini tentang tahapan & syarat menjadi Bruder, sebagaimana akan dibeberkan disini, itu mengindikasikan bahwa ia bukan hanya tak paham tapi juga tak pernah melalui tahapan menjadi Bruder ataupun Frater (keduanya berbeda secara definisi).

Maka, sebagaimana dikisahkan di Republika:
“Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sejak usia dini ia sudah digembleng untuk menjadi seorang bruder. Oleh sang ayah, Indra kemudian dimasukkan ke sekolah khusus para calon bruder Pangudi Luhur di Ambarawa, Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan di sekolah berasrama itu. Pendidikan kebruderan tersebut ia jalani hingga jenjang SMP.”

Dari deskripsi tersebut, seolah-olah ingin dikatakan bahwa “pendidikan kebruderan” sudah dimulai sejak SD (atau malahan TK/Playgroup). Ini adalah sebuah deskripsi yang ngawur. Perlu dipahami bahwa seorang Katolik yang ingin menjadi calon Bruder, bukan dengan mengikuti proses akademis formal sejak SD, melainkan baru boleh mendaftar jika minimal sudah SMU/sederajat. Karena pendidikan/”formasio” calon Bruder dilakukan dengan mengikuti kegiatan rutin tertentu di Biara komunitas masing-masing atau di tempat-tempat khusus lainnya, bukan di sekolah formal walaupun sekolah tersebut dikelola oleh para Bruder. [Note: bedakan antara istilah “pendeta” dan “pastor”. Di Indonesia, kalau berbicara tentang pemuka agama Kristen (Katolik maupun Protestan), maka yang namanya “pendeta” itu selalu hanya pemuka agama Protestan, sementara pemuka agama Katolik sebutannya selalu “pastor” (walaupun di banyak daerah dikenal juga dengan sebutan “Romo” maupun “Pater”). Walaupun ada sebagian pemuka agama Protestan yang menggunakan juga sebutan “pastor” tapi sebaliknya tak ada pemuka agama Katolik yang disebut dengan “pendeta”.]

Kita lanjutkan ke narasi berikutnya:
“Setamat dari Pangudi Luhur saya harus melanjutkan ke sebuah sekolah teologi SMA dibawah yayasan Pangudi Luhur.”

Entah apa yang dimaksudkan Steven dengan menyebut “sebuah sekolah teologi SMA”, apalagi mengatakannya sebagai suatu keharusan. Terminologi “sebuah sekolah teologi SMA” ini tidak dikenal di lingkungan Katolik. Pelajaran teologi di tingkat SMA tidak diberikan di sekolah Katolik umum, tapi di Seminari Menengah. Ini adalah sekolah khusus calon Pastor (tapi bukan sekolah calon Bruder), tingkatan paling awal, yang ditempuh selama 4 tahun. Setelah itu melanjutkan ke Seminari Tinggi yang secara akademis setingkat Universitas, selama 7 tahun. Di tingkat inilah para Mahasiswa Seminari Tinggi disebut “Frater”, yaitu calon Pastor, yang bukanlah setingkat Pastor sebagaimana disebut dalam kisah versi supersingkat di beberapa media online dalam beberapa hari terakhir ini. Sehingga kalau maksud “sebuah sekolah teologi SMA” adalah Seminari, justru tidak ada Konggregasi/Tarekat/Ordo Bruder yang mensyaratkan demikian. Jadi sampai di sini Steven Indra Wibowo ini sebenarnya tampak sekali bukan menceritakan sesuai apa yang memang ditempuh seorang calon Bruder, ia justru sedang “mengarang indah”.

Silakan dilihat syarat-syaratnya untuk beberapa contoh Konggregasi/Tarekat/Ordo Bruder berikut:



Sekolah Bruder, Frater, atau… ??

Selanjutnya lagi menurut kisah di Republika:
“Karena untuk menjadi seorang bruder, minimal harus memiliki ijazah diploma tiga (D3), selepas menamatkan pendidikan teologia di SMA tahun 1999, Indra didaftarkan ke Saint Michael’s College di Worcestershire, Inggris, yaitu sebuah sekolah tinggi khusus Katolik. Di negeri Ratu Elisabeth itu, pria yang kini menjabat sekretaris I Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini mengambil jurusan Islamologi.”

Faktanya, yang disebut “St. Michael’s College” di (Tenbury,) Worcestershire, Inggris itu adalah sebuah “sekolah independen” (= swasta) khusus musik liturgi Anglikan. Jadi sekolah tersebut selain bukanlah sebuah “Sekolah Tinggi calon Bruder” Katolik, bahkan bukan sekolah Katolik, melainkan milik komunitas Gereja Anglikan! Bahkan tak hanya itu, St. Michael’s College yang berdiri pada tahun 1856 ini sudah tidak beroperasi sejak 1985 atau 14 tahun sebelum Steven Indra Wibowo pergi ke Inggris pada 1999 itu, andai ia memang pergi.

Jadi, berhubung sekolah yang bernama “St. Michael’s College” sejak belasan tahun sebelumnya sudah tidak ada lagi, maka pernahkah seorang Steven Indra Wibowo berangkat ke sana pada tahun 1999 dan mengambil jurusan Islamologi di sekolah musik liturgi Anglikan tersebut? Bahkan, apakah logis jika dalam sebuah sekolah musik liturgi yang siswanya berusia 14-19 tahun diajarkan Islamologi?

Dengan telah melihat bahwa syarat keanggotaan 2 contoh Konggregasi/Tarekat/Ordo Bruder di atas adalah minimal SMA/sederajat, dan mesti mendaftarkan diri ke komunitas Konggregasi/Tarekat/Ordo Bruder yang diminati, bukan dengan bersekolah formal di sekolah-sekolah yang dikelola para Bruder, maka jelas tidak ada yang namanya “pendidikan kebruderan” di “sekolah khusus para calon bruder” di tingkat TK s.d Universitas. Apalagi soal adanya syarat minimal harus D3, di sekolah milik Gereja Anglikan pula. Steven Indra Wibowo jelas bohong soal semua itu.

Hal yang menarik disini, tahun perginya Steven ke Inggris adalah tahun 1999, sementara disebutkan juga bahwa ia menjadi mualaf pada tahun 2000. Artinya, andai ia memang pergi ke Inggris, itu tak lebih dari 1 tahun, lalu tiba-tiba sudah memilih menjadi mualaf? Lalu kalau dia disebut pernah memurtadkan 126 Muslim di Jakarta, kapan itu peristiwanya? Bahkan dia sendiri hanya setahun setelah SMU sudah jadi mualaf begitu?! Dengan melihat timeframe yang tak lebih dari 1 tahun, dari sejak lulus SMA hingga menjadi mualaf, maka klaim pemurtadan 126 Muslim di Jakarta itu bisa dipastikan sebagai klaim fiktif demi sebuah sensasi belaka.

Kejanggalan dalam kisah Steven Indra Wibowo ini klimaksnya terletak pada klaimnya bahwa ia pernah memimpin Misa. Perlu diketahui oleh saudara-saudaraku umat Islam bahwa terminologi “Misa” hanya ada di lingkungan Katolik, sementara di lingkungan Protestan adalah “kebaktian”. Kedua istilah ini tak bisa saling dipertukarkan penggunaannya. Orang yang berhak memimpin Misa hanyalah mereka yang sudah ditahbiskan menjadi Pastor (yang mencakup juga para Uskup), sementara seorang Frater, yang notabene masih calon Pastor, tidak akan pernah diperbolehkan memimpin sebuah upacara Misa. Berhubung mualaf kelahiran tahun 1981 ini pada saat menjadi mualaf di tahun 2000 baru berusia 19 tahun, tanpa pernah menjalani pendidikan untuk menjadi seorang Pastor (yang sekaligus berarti ia tak pernah menjadi seorang Frater), maka lagi-lagi klaim tersebut merupakan sebuah kebohongan.

Menanggapi Artikel PKS Piyungan
Berita PKS Piyungan
Bagi yang memahami bagaimana struktur di dalam agama Kristen, banyak hal yang harus dipertanyakan dari artikel yang dirilis oleh PKS Piyungan, yang berjudul, ”Murtadkan 126 Muslim di Jakarta, Pastur Steven Akhirnya Bersyahadat.
Steven Indra Wibowo disebut sebagai seorang Frather atau setingkat Pastur di kalangan gereja Katolik di Paroki Jakarta Utara. Ia mengaku telah membawa 126 orang Muslim berpindah agama ke Katolik

“Tugas saya ketika itu memberikan konseling, memimpin misa, dan mengajar filsafat,” ujar pria kelahiran 1981 ini.

Hidayah Allah Subhanahu Wata’ala menghampiri Steven pada tahun 2000. Dua kalimat syahadat diikrarkannya di sebuah pesantren di Serang, Banten.

Dan berikut ini adalah klarifikasi dan pertanyaan, yang harus dijelaskan oleh PKS Piyungan, sebagaimana dikutip dari Nong Paul.
[list="text-align: justify;"]
[*]Paroki itu hanya berlaku dalam struktur Gereja Katolik.
[*]Frater itu bukan setingkat Pastor karena Frater masih dalam tahap pendidikan.
[*]Frater tidak mengajar filsafat. Sehingga jika Steven mengajar filsafat, di sekolah filsafat mana? Mengingat pendidikan filsafat Katolik hanya ada di Driyakara, sehingga jika memang benar, tentu namanya terdaftar.
[*]Frater adalah sebutan orang yang masih belajar, dia tidak mengajar dan ada tahapan lain yang untuk menjadi Pastor.
[*]Setiap orang Katolik yang ada di dunia, tercatat rapi nama dan alamatnya. Ada file khusus di lingkungan, paroki keuskupan serta KWI. Jadi Steven berasal dari paroki mana dan dipermandikan di gereja mana, karena pasti akan dapat di telusuri.
[*]Frater tidak memimpin misa, karena memimpin misa itu hanya hak Pastor/Romo/Pater.
[*]Steven disebut mengajar konseling, konseling apa yang dia ajarkan, dan dimana? Seorang Frater hanya bisa mengajar di SMP sebagai guru agama.
[*]Yang paling aneh, ia disebutkan lahir pada tahun 1981, dan pada tahun 2000 ia telah masuk Islam. Artinya, ia beragama Islam sejak usia 19 tahun. Namun dia menyatakan bahwa ia telah pernah memimpin misa.

[/list]

Alur yang benar seharusnya:

  • 1981 lahir, umur 6 tahun masuk SD (1987-1992),
  • umur 13 masuk SMP (1992-1995),
  • umur 16 tahun masuk seminari/ setingkat SMU (1995-1999),
  • umur 19 masuk 1 tahun persiapan (2000),
  • umur 20 masuk 1 tahun rohani/novis (2001),
  • umur 21 masuk kuliah filsafat (4 tahun), 2 tahun lanjut teologi.



Seharusnya, sekitar usia 27 tahun baru ditahbiskan menjadi imam dan boleh memimpin misa. Jadi bagaimana bisa ia memimpin misa di usia 19 tahun?
Di dalam kolom komentar sendiri, banyak yang menghujat lantaran informasi yang disampaikan oleh PKS Piyungan ini dinilai hoax.
Bruno Bond, menulis, “Tukang bohong, Frater itu masih calon Pastur untuk agama Katolik, tidak boleh dan tidak diperkenankan memimpin misa! Lalu, mengapa  PGI dibawa-bawa kalau Katolik (PGI itu Majelis Gerejanya orang Kristen Protestan). Anda ini mantan Katolik Frater gadungan, atau yang nulis artikel cuma mau buat sensasi? Saya mualaf tulen ngga jelekin agama orang lain. Bohong besar kalau memurtadkan orang Islam sebanyak 126, memang semudah itukah Muslim dimurtadkan?”
Sigit Azzam, menulis, “Ada yang sedikit janggal dengan tahun kelahiran dan tahun menjadi mualafnya. Saya sendiri kelahiran 1981, kalau tahun 2000 menjadi mualaf berarti sekitar umur 19. Dan ia memurtadkan 126 orang sebelum umur 19 dong? Apa mungkin umur di bawah 19 tahun sudah menjadi Frater? Apa ngga sekolah si Steven ini? Terimakasih.”

Akhir kata, serupa dengan kejanggalan dalam kisah mualafnya Hj. Irena Handono, serta Ust. Felix Siauw yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu, kisah-kisah seperti itu jelas hanya untuk meningkatkan “nilai jual” masing-masing pengarangnya di mata komunitas barunya yang mungkin terlalu “gullible” terhadap hal-hal yang asing bagi mereka terutama soal hal-hal yang berkaitan dengan agama selain agamanya sendiri. Sungguh, saya tidak pernah bisa memahami jalan pikiran kaum pencari sensasi seperti mereka, yang nekat merekayasa kisah masa lalu mereka sendiri, entah demi apa, tapi seolah-olah yakin bahwa kebohongannya takkan pernah terbongkar. Disini saya hanya menjalankan rasa tanggungjawab saya untuk meluruskan sebuah kebohongan yang terlalu mencolok. Terserah kepada semua pembaca, bagaimana masing-masing menyikapi sepenggal kisah di atas, sosok di dalam kisah itu sendiri, ataupun terhadap analisis yang saya berikan.
Sumber:
https://komunikatolik.wordpress.com/2014/11/26/steven-indra-mualaf-mantan-frater/
http://liputanislam.com/tabayun/ini-pertanyaan-yang-harus-dijawab-oleh-pks-piyungan/

http://bersatulahdalamgerejakatolik.blogspot.co.id/2014/12/membongkar-kebohongan-steven-indra.html

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik