FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

poligami bukan dominasi muslim, umat hindu juga poligami

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

poligami bukan dominasi muslim, umat hindu juga poligami

Post by keroncong on Wed Mar 16, 2016 9:50 pm


Sukla brahmacari
Orang yang tidak kawin semasa hidupnya, bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka sudah berkeinginan untuk nyukla brahmacari sampai akhir hayatnya.

Sewala brahmacari
Orang yang menikah sekali dalam masa hidupnya

Kresna brahmacari
Pemberian ijin untuk menikah maksimal 4 kali karena suatu alasan yang tidak memungkinkan diberikan oleh sang istri, seperti sang istri tidak dapat menghasilkan keturunan, sang istri sakit-sakitan, dan bila istri sebelumnya memberikan ijin.

Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mempelajari dan membahas lebih lanjut terkait brahmacari khususnya Kresna/ Tresna brahmacari. Bagi orang Bali jaman dahulu terutama raja-raja, menikah lebih dari satu kali merupakan suatu kebanggaan dalam sebuah kekuasaan. Tak hanya dalam cerita, dalam lontar Hindu jelas disebutkan bahwa menikah lebih dari satu kali adalah hal yang wajar, yang berbeda hanya istilahnya. Jika dalam Islam disebut Poligami dalam Hindu disebut Tresna atau Kresna brahmacari. Penulis tertarik untuk mengkaji secara mendalam dan membagi hal ini menjadi beberapa poin sebagai berikut :

I. Kitab Suci Veda dan Manawa Dharmasastra (Kitab Hukum Hindu)

Kemuliaan wanita dan seorang istri dalam ayat - ayat suci kemuliaan wanita dan seorang istri dalam ayat - ayat suci hindu. Sifat sifatnya wanita yang patut ditumbuh kembangkan adalah yang menjalankan dharma sebagai ibu pertiwi yang sopan, cerdas, mandiri, percaya diri dan sebagai pengayom keluarga dan lingkungannya.

Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit, yaitu Svanittha


Kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya “suci”. Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri”. Kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”. Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh manusia, dalam hal ini, peranan perempuan. Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus “sarana” terwujudnya Punarbhava atau reinkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu.


Wanita mulia adalah yang menarik perhatian, unggul, baik hati, bercahaya, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan bahwa wanita mulia terlihat dan berbagai warna, mulia, berseri, jernih, indah, sedap, sebagai gambar, rupa, sosok. Mengacu pada pemikiran diatas, menurut analisis penulis, bahwa yang dimaksud dengan wanita mulia adalah penggambaran sosok wanita yang unggul secara pribadi, cantik, menarik secara phisik, wanita ideal yang didambakan oleh semua manusia.

Dalam masyarakat Bali yang mayoritas Hindu, nilai-nilai luhur ajaran Hindu menata sikap hidup masyarakat, wanita Hindu khususnya di Bali. Dalam masyarakat Bali yang mayoritas Hindu, nilai-nilai luhur ajaran Hindu menata sikap hidup masyarakat, wanita Hindu khususnya di Bali. Dalam ajaran Hindu yang diteraplikasi ajaran weda tersirat dalam kakawin Ramayana, tipe wanita juga tersirat dalam kitab Suci Bhagawadgita. Kecenderungan wanita yang ideal tersebut termasuk kelompok manusia Daivi Sampat/kecendrungan mempunyai sifat kedewataan.

Salah situ petikan yang relevan dengan ciri-ciri wanita tersebut tertera pada salah satu Sloka pada kitab suci Bhagwadgita, yaitu:


Abhyam Sattva Samsuddhir

Jnayoga Vyavasthitih

Dhanam Damasca Yajnca
Scadhyasyas Tapa Arjavam

(Bhagawadgita XVI-1.3)


Artinya :

Tak gentar, suci hati, bijaksana, mendalami yoga, dan ilmu pengetahuan, dermawan menguasai indriya, berupacara, kebhatinan, mempelajari kitab-kitab sastra, hidup sederhana, dan berbuat dengan jujur.


Mengacu pada sloka Bhagawadgita diatas mengandung makna bahwa beberapa ciri-ciri manusia Sattwika (Daivi sampat) termasuk wanita ideal sebagai wanita Hindu Bali khususnya sewajarnya mempunyai unsur seperti itu.

Manawa Dharmasastra yang digunakan sebagai pegangan hukum Hindu atau compendium hukum Hindu pada Buku ke-3 (Tritiyo ‘dhayayah) pasal 5 berbunyi sebagai berikut:
ASAPINDA CA YA MATURA, SAGOTRA CA YA PITUH, SA PRASASTA DWIJATINAM, DARA KARMANI MAITHUNE
Terjemahannya :
Seorang gadis yang bukan sapinda dari garis-garis ibu, juga tidak dari keluarga yang sama dari garis bapak dianjurkan untuk dapat dikawini oleh seorang lelaki dwijati.
Artinya :
perkawinan yang dianjurkan adalah antara satu orang gadis dan satu orang lelaki di mana keduanya tidak mempunyai hubungan darah yang dekat.
Istilah dwijati dapat ditafsirkan sebagai seorang lelaki yang telah menyelesaikan pelajaran (kuliah) dan mendapat pekerjaan atau mandiri.
Rgveda X.27.12:
KIYATI YOSA MARYATO VADHUYOH, PARIPRITA PANYASA VARYENA, BHADRA VADHUR BHAVATI YAT SUPESAH, SVAYAM SA MITRAM VANUTE JANE CIT
Terjemahannya:
gadis-gadis tertarik oleh kebaikan yang unggul dari lelaki-lelaki yang hendak mengawininya, seorang gadis beruntung menjadi pemenang dari pilihan seorang lelaki dari kumpulannya.
Manawa Dharmasastra IX.102 :
Pasangan suami istri hendaknya tidak jemu-jemunya mengusahakan agar mereka tidak bercerai dengan cara masing-masing, tidak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lainnya. Secara umum mencintai orang lain selain istri atau suami sendiri dianggap umum sudah mengurangi kadar kesetiaan dalam perkawinan.
Karena itu Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk sejauh mungkin menghindari poligami dan poliandri. Jadi jelas Hindu melarang poligami ataupun poliandri.
Ucapan “sorga ada ditangan wanita” bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam Manawa Dharmasastra III. 56:

Yatra Naryastu Pujyante,

Ramante Tatra Devatah,

Yatraitastu Na Pujyante,
Sarvastatraphalah Kriyah


artinya :


Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.


Lebih tegas lagi dalam Manawa Dharmasastra III 57:

Socanti Jamayo Yatra,

Vinasyatyacu Tatkulam,

Na Socanti Tu Yatraita,
Vardhate Taddhi Sarvada


artinya :

Di mana wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.


Dan Manawa Dharmasastra III 58 mangatakan bahwa:

Jamayo Yani Gehani,

Capantya Patri Pujitah,

Tani Krtyahataneva,
Vinasyanti Samantarah


artinya :


Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib.


Dalam adat Bali pun yang menganut patriarki perbedaan perlakuan terhadap perempuan sungguh sangat kentara. Adat Bali menempatkan perempuan sebagai subordinasi karena ada pengertian yang keliru terhadap konsep purusa dan pradana. Sejatinya purusa dan pradana ada pada setiap laki-laki termasuk pula pada diri perempuan.

Purusa adalah jiwa dan pradana adalah raga. Akan tetapi dalam realisasi purusa memang tetap dimaknai sebagai jiwa, hanya pradana diartikan sebagai benda. Kalau jiwa tidak pernah mati alias akan hidup terus sedangkan benda itu adalah barang mati sehingga tidak perlu diperlakukan secara manusiawi. Pendapat keliru inilah yang terus berlangsung dalam kehidupan keseharian perempuan Hindu di Bali. Adanya laki-laki dan perempuan adalah bukan untuk dipertentangkan, tetapi adalah saling melengkapi demi terlaksananya dampati dalam kehidupan.

Oleh karena laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan melalui yadnya, maka sudah sewajarnyalah manusia saling beryadnya dalam menggerakkan cakra yadnya Kalau hal tersebut dapat terlaksana, itu menandakan bahwa Hindu sangat berpihak pada gender bahkan kesetaraan karena perempuan tidak dilahirkan dari tulang rusuk kanan adam. Dalam Padma Purana disebutkan bahwa Dewa Brahma membagi setengah dirinya dalam menciptakan Dewi Saraswati. Bukan hanya setengah badan tetapi juga adalah setengah jiwanya. Hal inilah yang dimaksud dengan konsep Ardanariswari dalam Hindu.

Wanita dalam theologi Hindu bukanlah merupakan serbitan kecil dari personifikasi lelaki, tetapi merupakan suatu bagian yang sama besar, sama kuat, sama menentukan dalam perwujudan kehidupan yang utuh. Istilah theologisnya ialah “Ardhanareswari”. Ardha artinya setengah, belahan yang sama. Nara artinya (manusia) laki-laki. Iswari artinya (manusia) wanita. Tanpa unsur kewanitaan, suatu penjelmaan tidak akan terjadi secara utuh dan dalam agama Hindu unsur ini mendapatkan porsi yang sama sebagaiman belahan kanan dan kiri pada manusia. Sebagaimana belahan bumi atas yaitu langit dengan belahan bumi bawah yaitu bumi yang kedua-duanya mempunyai tugas, kekuatan yang seimbang guna tercapainya keharmonisan dalam alam dan kehidupan manusia di alam ini.

Dalam Siwatattwa dikenal konsep Ardhanareswari yaitu simbol Tuhan dalam manifestasi sebagai setengah purusa dan pradana. Kedudukan dan peranan purusa disimbolkan dengan Siwa sedangkan Pradana disimbolkan dengan Dewi Uma. Di dalam proses penciptaan, Siwa memerankan fungsi maskulin sedangkan Dewi Uma memerankan fungsi feminim. Tiada suatu apa pun akan tercipta jika kekuatan purusa dan pradana tidak menyatu. Penyatuan kedua unsur itu diyakini tetap memberikan bayu bagi terciptanya berbagai mahluk dan tumbuhan yang ada.

Makna simbolis dari konsep Ardhanareswari, kedudukan dan peranan perempuan setara dan saling melengkapi dengan laki-laki bahkan sangat dimuliakan. Tidak ada alasan serta dan argumentasi teologis yang menyatakan bahwa kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Itulah sebabnya di dalam berbagai sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan di antara laki-laki.

Dalam Manawa Dharmasastra I.32 disebutkan

Dwidha kartwatmanodeham

Ardhena purusa bhawat

Ardhena nari tasyam sa
Wirayama smrjat prabhuh


Terjemahannya:

Tuhan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian menjadi perempuan (ardha nari). Darinya terciptalah viraja.


Sloka di atas menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Laki-laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan karena keduanya tercipta dari Tuhan. Dengan demikian, maka perempuan dalam Hindu bukan merupakan subordinasi dari laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini memang tidak sama. Perbedaan tersebut adalah untuk saling melengkapi.


Mengapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan?


Manawa Dharmasastra IX.96 menyebutkan sebagai berikut.


Prajanartha striyah srtah

Samtanartam ca manawah

Tasmat saharano dharmah
Srutao patnya sahaditah


Terjemahannya:

Tujuan Tuhan menciptakan wanita, untuk menjadi ibu. Laki-laki diciptakan untuk menjadi ayah. Tujuan diciptakan suami istri sebagai keluarga untuk melangsungkan upacara keagamaan sebagaimana ditetapkan menurut Veda.


Dari konsep Ardhanariswari tersebut mengisyaratkan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Perempuan dalam teologi Hindu bukanlah tanpa arti. Malahan dia dianggap sangat berarti dan mulia sebagai dasar kebahagiaan rumah tangga. Di dalam Yayurveda XIV.21 dijelaskan bahwa perempuan adalah perintis, orang yang senantiasa menganjurkan tentang pentingnya aturan dan dia sendiri melaksanakan aturan itu. Perempuan adalah pembawa kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan, sebagaimana tertera pada Yajurveda, XIV. 21 berikut.

Murdha asi rad dhuva asi

Daruna dhartri asi dharani

Ayusa twa varcase tva krsyai tva ksemaya twa


Terjemahannya

Oh perempuan engkau adalah perintis, cemerlang, pendukung yang memberi makan dan menjalankan aturan-aturan seperti bumi. Kami memiliki engkau di dalam keluarga untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran, kesuburan pertanian, dan kesejahteraan.


Perempuan adalah ciptaan Tuhan dalam fungsinya sebagai pradana. Ia juga disimbolkan dengan yoni, sumber kesuburan dan kearifan. Laki-laki ciptaan Tuhan dalam fungsi sebagai purusa yang disimbolkan dengan lingga. Oleh karena perempuan juga, maka berbagai bentuk persembahan akan terlaksana, karena perempuan pula ketenangan dan ketentraman akan terwujud. Oleh karena itu orang yang ingin sejahtera seyogyanya menghormati perempuan, terlebih dalam hari raya dengan memberinya hadiah berupa perhiasan, pakaian, dan makanan sebagaimana tersurat dalam kutipan

Manawa Dharmasastra III.59 berikut.

Tasmadetah sada pujya

Busanaccha dana sanaih

Buthi kamair narair mityam
Satkaresutsa vesu ca


Terjemahan :

Hal yang dapat dimaknai dari uraian di atas adalah perempuan adalah mahluk Tuhan yang memiliki kompleksitas peran dan kemuliaannya sendiri ( religius, estetis, ekonomi, maupun sosial). Sebagai makhluk religius, dia menjadi sempurna di hadapan Tuhan, dia juga sekaligus pengatur detail aspek-aspek kerumahtanggaan, sekaligus sebagai kasir yang jujur untuk keluarga mereka.


Dalam konsep purusa-pradana ini, maka pertemuan unsur Purusa dengan Pradhana menimbulkan terciptanya kesuburan. Memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Purusa untuk memohon kekuatan untuk dapat mengembangkan hidup yang bahagia secara rohaniah, sedangkan memuja Tuhan sebagai Pradhana adalah untuk mendapatkan kekuatan rokhani dalam membangun kehidupan jasmani yang sehat dan makmur.

Padahal kesetaraan wanita dan laki itu terdapat juga dalam ceritra Lontar Medang Kamulan. Dalam lontar tersebut ada mitology tentang terciptanya laki dan perempuan. Dalam mitology itu diceritrakan Dewa Brahma menciptakan secara langsung laki dan perempuan. Pada awalnya Dewa Brahma atas kerjasama dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa membuat manusia dari tanah, air, udara, api dan akasa. Selanjutnya Dewa Bayu memberikan napas dan tenaga, Dewa Iswara memberikan suara dan kemampuan berbahasa. Sang Hyang Acintya memberikan idep sehingga manusia bisa berpikir.

Setelah tugas membuat manusia itu selesai ternyata manusia yang diciptakan oleh Dewa Brahma atas penugasan Hyang Widhi itu tidak memiliki kelamin. Jadinya tidak laki dan tidak perempuan. Karena itu Dewa Brahma masuk dalam diri manusia ciptaanNya itu. Kemudian menghadap dan mencipta ke timur laut. Dari ciptaan itu munculah manusia laki dari timur laut. Kemudian menghadap ke tenggara untuk mencipta terus munculah manusia perempuan dari arah tenggara.

Dari konsepsi terciptanya manusia ini sudah tergambar bahwa laki dan perempuan secara azasi harkat dan martabat serta gendernya adalah sejajar. Perbedaan laki dan perempuan itu adalah perbedaan yang komplementatif artinya perbedaan yang saling lengkap melengkapi. Artinya tanpa perempuan laki-laki itu tidak lengkap. Demikian juga sebaliknya tanpa laki-laki perempuan itu disebut tidak lengkap.

Karena itu dalam Rgveda laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri disebut dengan satu istilah yaitu Dampati artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam bahasa Bali disebut ''dempet''. Karena itu dalam Manawa Dharmasastra IX.45 dinyatakan bahwa suami istri itu adalah tunggal. Demikian juga adanya istilah suami dan istri. Kalau orang disebut istri sudah termasuk didalamnya pengertian suami. Kalau ada perempuan yang sudah disebut sebagai istri sudah dapat dipastikan ada suaminya. Karena kalau ada perempuan yang belum bersuami tidak mungkin dia disebut istri.

Demikian juga kalau ada laki-laki disebut sebagai suami sudah dapat dipastikan ada istrinya. Tidak ada laki-laki yang bujangan disebut suami. Mereka disebut suami dan istri karena mereka sejajar tetapi beda fungsi dalam rumah tangga. Kata suami dalam bahasa sansekerta artinya master, lord, dominion atau pemimpin. Sedangkan kata istri berasal dari bahasa sanskerta dari akar kata ''str'' artinya pengikat kasih. Istri berasal dari wanita. Kata wanita juga berasal dari bahasa sansekerta dari asal kata ''van'' artinya to be love (yang dikasihi).

Hal itulah yang menyebabkan wanita setelah menjadi istri kewajibannya menjadi tali pengikat kasih seluruh keluarga. Dalam Mahabharata Resi Bisma menyatakan bahwa dimana wanita dihormati disanalah bertahta kebahagiaan. Karena itu Rahvana yang menghina Dewi Sita dan Duryudana yang menghina Dewi Drupadi, kedua-duanya menjadi raja yang terhina. Dalam Manawa Dharmasastra III.56 seperti yang dikutif di atas dinyatakan bahwa dimana wanita itu dihormati disanalah para Dewa akan melimpahkan karunia kebahagiaan dengan senang hati. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada Upacara Yadnya apapun yang memberi pahala kemuliaan.

Manawa Dharmasastra IX.132 menyatakan bahwa anak wanita boleh diangkat sebagai akhli waris orang tuanya. Dalam sloka 133 berikutnya dinyatakan tidak ada perbedaan antara putra laki dan perempuan yang diangkat statusnya sebagai akhli waris. Dalam hal pembagian harta waris menurut Manawa Dharmasastra IX.118 menyatakan bahwa wanita mendapatkan minimal seperempat bagian dari masing-masing pembagian saudara lakinya. Kalau saudara lakinya banyak bisa saudara wanitanya lebih banyak mendapat dari saudara lakinya. Meskipun setelah ia bersuami wanita itu tidak memiliki beban kewajiban formal pada keluarga asalnya, namun ia memiliki hak waris. Itu menurut pandangan kitab suci.

Tetapi dalam adat istiadat Hindu di Bali wanita itu tidak dapat waris apa lagi ia kawin keluar lingkungan keluarganya. Di samping wanita mendapatkan artha warisan juga mendapatkan pemberian artha jiwa dana dari ayahnya. Jumlahnya tergantung kerelaan orang tuanya. Sebagai ibu atau pitri matta menurut istilah dalam Manawa Dharma III.145 seribu kali lebih terhormat dari pada ayah. Sedangkan sebagai istri ia setara dengan suaminya.

Dalam hal karier menurut Manawa Dharmasastra IX.29 wanita dapat memilih sebagai sadwi atau sebagai brahmawadini. Kalau sebagai sadwi artinya wanita itu memilih berkarier dalam rumah tangga sebagai pendidik putra-putrinya dan pendamping suami. Karena dalam Vana Parwa 27.214 ibu dan ayah (Mata ca Pita) tergolong guru yang setara. Dalam Manawa Dharmasastra IX.27 dan 28 ada dinyatakan bahwa: melahirkan anak, memelihara dan telah lahir, lanjutnya peredaran dunia wanitalah sumbernya. Demikian juga pendidikan anak-anak, melangsungkan upacara Yadnya, kebahagiaan rumah tangga, sorga untuk leluhur dan dirinya semuanya itu atas dukungan istri bersama suaminya.

Wanita yang berkarier di luar rumah tangga disebut brahma vadini. Ia bisa sebagai ilmuwan, politisi, birokrasi, kemiliteran maupun berkarier dalam bidang bisnis. Semuanya itu mulia dan tidak terlarang bagi wanita. Itu semua konsep normatifnya kedudukan perempuan menurut pandangan Hindu. Tetapi sayangnya dalam tradisi empirisnya konsepsi normatif itu belum terlaksana betapa mestinya.

Dalam weda Kitab Suci Agama Hindu disebutkan beberapa sloka yang menyebutkan keutamaan seorang wanita


Sifat sifat wanita tersirat pada Yayur weda XIV.21


Murdha-asi rad dhruva-asi

Dharuna dhatri-asi dharani

Ayuse tva varcase tva
Krsyai tva ksemaya tva


Artinya:

Wahai wanita, engkaulah perintis, cemerlang, mantap, pendukung, yang member makan dan menjalankan aturan-aturan seperti bumi. Kami memiliki engkau di dalam keluarga untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran / kesuburan pertanian dan kesejahtraan.


Dalam Rgveda 33.19 disebutkan sifat wanita yang menunjukan kesopanan:
Adhah pasyasva ma-upari

Samtaram padakau hara

(Rgveda 33.19)


Artinya:
Wahai wanita, lihatlah ke arah bawah dan jangan kea rah atas (waktu berjalan). Atur kaki-kakimu menutup (sewaktu duduk).


Dalam Rgveda 33.19 dan Rgveda X.159.2 terdapat pula penggalan sloka yang menyebutkan bahwa wanita harusnya menjadi sarjana yang berpengetahuan tinggi (pintar dan berpendidikan)

Stri hi brahma babhuvitha
(Rgveda 33.19)


Artinya:

Wanita sesungguhnya adalah seorang sarjana dan seorang pengajar


Aham ketur aham murdha

Aham ugra vivacani

(Rgveda X.159.2)


Artinya:

Kami adalah seorang raja, seorang sarjana terkemuka dan seorang wanita orator (ahli berbicara) yang ulung.


Selain itu dalam Atharwa Veda XX.126.10, Atharwa Veda I.27.4, Atharwa Veda I.27.2, yayur veda XIII.26 dan Yayur Veda V.10 disebutkan bahwa wanita harusnya pergi ke medan pertempuran seperti sloka dibawah ini:

Samhotram sma pura nari

Samanam vava gacchati

(Atharwa Veda XX.126.10)


Artinya:

Dulu para wanita pergi ke tempat dilangsungkannya upacara agnihotra dank e medan pertempuran.


Pretam padau prasphuratam Vahatam prnato grhan

Indrani-etu prathama-ajita amusita purah.

(Atharwa Veda I.27.4)


Artinya:

Ya, kaki-kakiku, berbarislah maju dan bergegas. Bimbinglah kami ke rumah orang-oang yang tidak picik. Semoga dewi Indrani, wanita yang tak terkalahkan, yang tak terampas dan yang memberikan perintah membimbing kami.


Visuci-etu krntati, pinakam iva bibhrati
(Atharwa Veda I.27.2)


Artinya:

Dewi Indrani yang memegang busur seperti Busur Dewa Siwa yang menghancurkan angkatan perang lawan, semoga maju terus ke arah yang berbeda-beda.


Asadha-asi sahamana, sahasva-aratih, sahasva prtanayatah.

Sahasvavirya-asi sa ma jinva

(yayur veda XIII.26)


Artinya:

Wahai panglima wanita, engkau tak dapat dikalahkan, engkau Berjaya, engkau menaklukan para lawan, mengatasi angkatan perang para musuh, diaku memiliki seribu kekuata heroic. Semoga engkau menanamkan semangat yang besar kepada kami.


Simhi-asi sapatnasahi
(Yayur Veda V.10)


Artinya:

Wahai wanita, engkau berani seperti seekor singa betina dan engkau menaklukan para musuh.


Wanita harus gagah berani dan harus percaya diriseperti yang tersirat dalam sloka RgVeda X.86.9 dan Atharwa weda XIV.2.14, berbunyi:

Aviram iva mam ayam

Sararur abhi manyate

Utaham asmi virini
Indra-patni marut-sakha

(RgVeda X.86.9)


Artinya:

Orang yang jahat ini memperlakukan kami sebagai wanita yang tidak berdaya, tetapi kami berani dan ibu dari putra-putra yang gagah berani seperti istri dewi indra dan sahabat para dewa marut.


Atmanvati-urvara nari-iyam agat,

Tasyam naro vapata bijam asyam

(Atharwa weda XIV.2.14)


Artinya:

Wahai para pria, mempelai wanita yang percaya diri dan subur ini telah datang kerumahmu, hendak kau hamili dia.


Disamping sloka –sloka tentang keutamaan wanita diatas, terdapat juga beberapa sloga di dalam weda yang menguraikan tugas wanita sebagai seorang istri yang selalu damping suaminya. Adapun slokanya:

Istri yang mempercayai suaminya tersirat dalam Atharwa Veda XIV.1.42 yang berbunyi:
As asana saumanasam

Prajam saubhagyam rayim

Patyur anuvrata bhutva
Sam nahyasva-amrtaya kam

(Atharwa Veda XIV.1.42)


Artinya:

Wahai wanita yang merindukan kebajikan, anak cucu, keberuntungan dan kemakmuran, percayalah kepada suamimu dan bersiaplah untuk menerima kebahagiaan kedewaan.


Svayamvara merupakan hak seorang wanita, yang memilih calon suaminya sendiri tersirat pada Rgveda X.27.12 yang berbunyi:

Kiyati yosa maryato vadhuyoh

Pariprita panyasa varyena

Bhadra vadhur bhavati yat supesah
Svayam sa mitram vanute jane cit

(Rgveda X.27.12)


Artinya:

Terdapat banyak gadis yang tertarik oleh kebaikan unggul, dari beberapa orang hendaknya mengawini mereka. Seorang gadis menjadi kekasih yang beruntung yang memilih seorang teman bagi dirinya di antara pawai peminang.


Dalam Rgveda X.85.33 tersirat bahwa semarakkan mempelai wanita dengan doa-doa, berikut bunyi slokanya:

Sumangalir iyam vadhur Imam sameta pasyata

Saubhagyam asyai dattvaya-athastam vi paretana

(Rgveda X.85.33)


Artinya:

Mempelai wanita ini amat beruntung. Ya penganten pria yang lembut, datanglah dan pandanglah dia. Berkahilah dia dengan keberuntungan dan berangkatlah kerumahmu.


Dalam Rgveda X.85.43 dijelaskan tugas – tugas mempelai wanita diantaranya:
Virasup, devakama syona

Sam no bha va dvipade

Sam catuspade
(Rgveda X.85.43)

Artinya:
Mempelai wanita seharusnya melahirkan anak-anak yang gagah berani, menyembah para dewa, ramah dan menyenangkan kepada semua orang dan menjadi bintang-bintang keluarganya.


Seorang istri harus menjadi teman diskusi yang bijak seperti dijelaskan dalam Rgveda X85.26 dan Atharvaveda III.30.2, yang bunyinya:

Vasini tvam vidatham a vadasi
(Rgveda X85.26)


artinya:

Wahai mempelai wanita, mejadi ibu rumah tangga, berbicaralah dengan baik di dalam perbincangan (diskusi) akademis.


Jaya patye madhumatim

Vacam vadatu santivam

(Atharvaveda III.30.2)



Artinya:

Seorang istri seharusnya berbicara kepada suamnya dengan lembut dan budi pekertinya mulia.


Dalam Yayur Weda XIV.22 dijelaskan bahwa istri sebagai pengawas keluarga, bunyinya:

Yantri rad yantri-asi yamani

Dhruva-asi dharitri

(Yayur Weda XIV.22)


Artinya:

Seorang istri adalah pengawas keluarga, yang pintar, dia mengatur yang lain-lain dan dia sendiri menjalankan aturan-aturan. Dia adlah asset keluarga yang menopang keluarga.

Dalam Rgveda III.53.4 dijelaskan bahwa istri sebenarnya adlah perwujudan rumah itu sendiri, bunyinya:

Jayed astam maghavan sed u yonih
(Rgveda III.53.4)


Artinya:

Oh Hyang indra, isri sebenarnya adalah wujud dari rumah itu yang merupakan dasar kemakmuran keluarganya.


Dalam Atharwa Weda XIV.2.20 desebutkan bahwa seorang istri harus menghormati orang tua, bunyinya:

Adha sarasvatyai nari

Pitrbhyas ca namas-kuru

(Atharwa Weda XIV.2.20)


Wahai wanita, engkau harusnya melaksanakan kebaktian, memuja saraswati dewi pengetahuan dan hormat kepada orang tua keluargamu.


Tugas itri menurut Yayur Veda XIX.94, Atharwa veda XIV.2.24 adalah melaksanakan tugas agama, berikut slokanya:

Patni sukrtam bibharti
(Yayur Veda XIX.94)


Artinya:

Isti melakukan dan melaksanakan upacara –upacara keagamaan.


A roha carma-upa sida-agnim

Esa devo hanta raksamsi sarva

(Atharva veda XIV.2.24)


Artinya:

Wahai istri yang mulia, duduklah diatas kulit rusa dan laksanakanlah persembahan kepada dewa agni yang menghapus semua jenis kekotoran/polusi lingkungan.


Dalam Reg weda 85.46, Atharwa weda XIV.2.27 , Atharwa weda XIV.2.26 disebutkan bahwa istri sebagai kekasih keluarga. Bunyinya:

Samrajni svarure bhavam

Samrajni svasrvam bhava

Nanandari samrajni bhava
Samrajni adhi devrsu

(Rgveda 85.46)


Artinya:

Wahai wanita, jadilah nyonya rumah dan bimbinglah mertua, saudari ipar dan saudara ipar.


Syona bhava svarurebhyah

Syona patye grhebhyah

Syona-asyai sarvasyai vise
Syona pustaya-esam bhava

(Atharva veda XIV.2.27)


Artinya:

Wahai istri mulia, ramahlah dengan mertua, anggota keluarga suamimu dan para pelayan (pembantu). Semoga engkau bermanfaat kepada semuanya.


Sumangali pratarani grhanam

Suseva patye svasuraya sambhuh

Syona svasvai pra grhan viseman
(Atharva veda XIV.2.26)


Artinya:

Wahai istri mulia, masukilah rumah ini, hias dengan perhiasan, singkirkan penderitaan keluarga suamimu, layani suamimu dengan baik, bertindaklah penuh kebaikan kepada mertuamu.


Dalam veda desebutkan pula bahwa ibu mulia itu selalu waspada dan mampu melahirkan putra putrid yang gagah berani seperti tersirat dalam Rgveda X.159.3, Rgveda X 85.27 dan Atharvaveda XIV.2.75 yang bunyinya sebagai berikut:

Mama putrah satruhano

Atho me duhita virat

Utaham asmi sam jaya
Patyau me sloka uttamah

(Rgveda X.159.3)


Artinya:

Putra –putraku adalah penghancur para musuh bahkan putri-putriku adalah symbol kecemerlangan. Aku senantiasa Berjaya, aku punya pengaruh yang besar pada suamiku.


Iha priyam prajaya te samrdhyatam

Asmin grhe garhapatyaya jagrhi

(Rgveda X 85.27)


Artinya:

Wahai wanita mulia, beruntunglah didalam keluarga suamimu dengan melahirkan putra. Engkau harusnya selalu tetap waspada untuk pelayanan dan keamanan keluarga itu.


Pra budhyasva subudha budhyamana

Dirghayutvaya satasaradaya

(Atharvaveda XIV.2.75)


Artinya:

Wahai istri mulia, semoga engkau tetap selalu waspada dan berhati-hati untuk kehidupan seratus tahun.

II. Lontar Wrettisasana, Buku Silakrama

Belum ada yang tertulis gamblang bahwa boleh menikah lebih dari satu kali. Tapi kalau memang ada ajaran yang memuat bahwa diijinkan menikah lebih dari satu kali dan itupun bukan berarti bebas. Sebagian umat Hindu khususnya yang mendalami dan meyakini ajaran dalam Lontar Wrettisasana, Buku Silakrama. Dimana didalamnya disebutkan salah satu bagian dari Catur Asrama yaitu Brahmacari. Konsep poligami menurut ajaran Hindu terdapat pada salah satu bagiannya yaitu, Tresna atau Kresna brahmacari. Ajaran itu mengandung arti, boleh menikah lebih dari satu kali maksimal empat kali. Tapi dengan alasan tertentu. Misalnya karena tak punya keturunan dari istri pertamanya atau seterusnya, karena sakit, dan yang lainnya. Selama alasannya untuk dharma tak masalah. Ingat, menikah itu bukan sekedar pemenuhan nafsu. Hubungan seks menurut Hindu itu adalah hal yang sakral, jadi tak sembarang orang bisa menikah seenaknya. Dari gambaran itu terlihat bahwa dalam pandangan Hindu, konsep suatu perkawinan sejalan dengan undang-undang perkawinan yaitu UU No 1 tahun 1974, yaitu boleh melakukan pernikahan lagi atas seijin istri pertama dan karena beberapa alasan tertentu.

III. Sarasamuccaya

Hakekat perkawinan yaitu suami dapat membahagiakan istri. Namun yang menjadi pertanyaan, Apakah wanita yang dimadu itu bahagia? Jawaban sangat jelas yaitu dari beberapa orang ibu - ibu yang dimadu mengaku tak bahagia. Rata-rata alasannya terpaksa mengijinkan suami menikah lagi. Ingat, purusa dalam masyarakat Hindu sering menjadi topik pembicaraan. “Jangan sampai anak laki-laki digunakan kedok laki-laki untuk menikah berkali-kali. Istri tak mampu melahirkan anak laki-laki lantas mau mencari istri lagi. Itu salah, apalagi alasannya tak punya anak”. Sebenarnya, orang tak perlu takut tak mempunyai keturunan. Dalam kitab Sarasamuccaya, dilihat dari tugas hidup, seseorang yang lahir ke dunia diibaratkan karena pada masa kehidupannya yang dulu tugasnya belum dianggap tuntas. Untuk itu ia harus reinkarnasi ke dunia menyelesaikan tugas yang masih tersisa. “Jangan sampai orang Bali masih terikat urusan purusa sehingga orang Bali berlomba-lomba menikah lagi dengan alasan diperbolehkan menikah lagi oleh ajaran agama”.

IV. Sumber - Sumber Lainnya
Ada 3 (hal) juga yang bisa penulis sampaikan terkait Poligami ataupun Poliandri :
1. Poligami Karena Tujuan Politis
Poligami yang “terpaksa” dilakukan mempunyai berbagai alasan, misalnya karena tidak mempunyai keturunan, atau di jaman dahulu ada yang bertujuan politik, misalnya yang dilakukan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa maupun di Bali.
Namun dari kacamata Agama Hindu, tetap saja poligami menyimpang dari hukum Hindu.
2. Poliandri yang dilakukan Drupadi
Didalam Itihasa Mahabharata hendaknya tidak dipandang sebagai perkawinan yang didasari pada kebutuhan sex, tetapi lebih ditekankan pada ajaran etika, yakni: Mentaati perintah Dewi Kunti agar panca Pandawa selalu bersatu dan selalu berbagi dengan saudara-saudara yang lain.
Selain itu Drupadi pada kehidupannya yang lampau sebagai seorang gadis tua yang tidak kawin telah memuja Dewa Siwa untuk diberikan suami yang pantas.
Permohonannya itu diucapkan lima kali, maka pada penjelmaannya sebagai Drupadi, Dewa Siwa memenuhi permintaan itu dengan memberikannya lima orang suami dari kesatria utama.
3. Sebuah Komentar dari seorang Umat Hindu
Dalam sebuah komentar terkait poligami dari sumber ini, penulis merasa perlu memasukannya dalam blog ini sebagai berikut (sesuai aslinya) :
i’m sorry
setelah saya baca artikel diatas saya menarik kesimpulan bahwa tadi dikatakan bahwa poligami dilarang dalam hindu
lalu poliandri seperti yang dilakukan drupadi tadi dikatakan agar tidak dipandang sebagai kebutuhan sex,melainkan agar panca pandawa bersatu
berarti dalam hindu poligami gag boleh sedangkan poliandri boleh
hmm ini yang ingin ya protes(maaf)
Brahmacari
1.sukla brahmacari yang artinya gag menikah seumur hidup
2.Swala Brahmacari berarti monogami
3.Tresna Brahmacari yang berarti poligami dan poliandri
dari ketiganya itu sah2 saja namun yang paling disarankan adalah monogami
jadi jika ingin tidak menikah ya boleh,ingin menikah sekali saja ya boleh,dan jika ingin poligami atau poliandri juga boleh
namund dari ketiganya itu yang paling disarankan adalah monogami
namun apakah tidak menikah,poligami dan poliandri itu dilarang/diharamkan?
tentu tidak karena semua sudah punya jalan hidupnya masing2 dan ada kunsekuensinya yang mesti ditanggung
saya rasa hindu adalah agama yang paling toleran sehingga masih memberikan ruang dalam segala hal
seperti dalam brahmacari,mengapa yang paling disarankan dari ketiganya itu adalah monogami?
sebab jika banyak orang memilih tidak menikah,maka jumlah penduduk akan makin berkurang bahkan punah,dan jika banyak orang memilih poligami dan poliandri maka banyak pria dan wanita single gag kebagian,karena sudah diborong banyak2 satu suami punya istri 2 atau istri punya suami 5,dsb
namun apakah agami/tidak menikah dan poligami dan poliandri itu salah?
tentu tidak karena pasti ada maksud tertentu sehingga poligami dan poliandri diizinkan namun yang paling disarankan adalah monogami
agama boleh saja mau melarang monogami,poligami dan poliandri,dsb namun jangan salahkan jika situasi di lapangan yang berbeda
misal,sang suami setia,namun sang istri memitra sampai ketahuan suami dan akhirnya suami marah2 dan minta cerai,namun istri menolak diceraikan
lalu akankan sang suami hidup menanggung beban sakit hati dengan istri yang telah menghianatinya sedangkan suami sudah merasa gag mood berhubungan intim dengan istrinya yang telah berzinah yang menolak diceraikan
nah disinilah poligami diizinkan
selain itu ada kasus,sang istri sudah tidak bisa memberi keturunan,mau nyari anak untuk adopsi tapi gag dapet2 sedangkan pasangan itu pengen sekali punya anak namun selalu gagal.lalu sang suami dengan sangat pasrah memohon izin kepada istrinya untuk menikah lagi demi keturunan entah dikasu ya syukur klo gag dikasi ya juga syukur dan syukur benar2 syukur istrinya mengizinkan dan menikahlah lagi suaminya itu dan punya anak
lalu ada lagi kasus sang suami hindu menikah dengan non-hindu,awalnya sang istri mau diajak pindah agama dan setia masuk hindu,namun entah mengapasetelah beberapa tahun sang istri dan anaknya pindah agama semua dan hanya sang suami yang hindu dan di satu sisi sang suami ingin agar ada penerus hindunya dan entah bagaimana sang suami pun ingin cerai,namun istri dan anak2nya tidak mau dan tidak mau juga kembali pada hindu dan di suatu sisi sang suami ingin agar ada penerus hindunya,nah di situasi seperti inilah poligami bisa menolong keadaan suami
ada lagi kasus pasangan yang baru 5 tahun menikah dan punya anak satu dimana setelah itu sang istri sakit2an sehingga tidak bisa melayani suaminya dan di satu sisi mereka masih muda sehingga suami juga membutuhkan sex namun tidak bisa.memang sih dalam keadaan seperti ini suami merasa kasihan dengan istrinya namun suaminya juga membutuhkan kebutuhan biologis,sedangkan klo nyewa psk resikonya tinggi
lalu bagaimana?
dengan demikian sang suami minta izin kepada istrinya dan syukur istrinya mengizinkan dan jadilah poligami namun istri pertama tetap disayang
intinya wacana banyak yang sesuai dengan fakta. poligami sudah banyak membantu berbagai permasalahan dalam hidup ini dan begitu juga dengan poliandri
coba bayangkan jika poligami dilarang keras?
mungkin tidak ada penerus hindu dalam kasus seperti yang saya jelaskan diatas,mungkin sang suami yg masih mudah akan menderita menahan nafsu biologi karena sang istri sudah tidak bisa melayani,dan mungkin saja sang suami yang istrinya selingkuh namun tidak mau diceraikan hanya hidup menanggung sakit hati karena kelakuan istrinya yang nakal itu suka main lelaki
jadi poligami itu sah2 saja asal seuai syarat dan konsekuensinya
misal karena tidak punya keturunan,anak istri non-hindu semua,dan yang penting sudah diizinkan istri pertama
ingat!meski poligami diizinkan,tidak semua lelaki mau poligami dan tidak semua wanita mau berpoligami
dan ingat juga bahwa poligami yang benar sesuai syarat dan ketentuan tidaklah sama dengan mempermaikan wanita
sebab banyak juga lelaki yang poligami atau perempuan yang poliandri tidak suka main cinta diluar sana
sedangkan banyak yang monogami namun punya simpanan dimana2 dan suka berzinah dengan banyak wanita lalu ditinggalkan begitu saja seperti kasus aceng fikri bupati garut yang memang punya satu istri namun diluar itu beliau suka berzinkah dengan banyak wanita dan setelah hamil wanita2 wanita yang diajaknya berzinah ditinggalkan begitu saja
lebih parah mana?
menurut saya pernikahan itu atas dasar suka sama suka dan setuju sama setuju,asal mereka sudah suka dan setuju apalagi hidup bahagia meskipun poligami atau monogami saya rasa itu sah2 saja
wong orang lain yang menikah ngapain kita yang sewot
oleh karena itu,saya bersikap netral akan poligami dan poliandri
sebab itu merupakan hal mereka masing2 dan tidak semua orang ingin poligami dan poliandri meskipun hal tsb boleh
dan saya tidak setuju jika poligami dilarang sebab banyak kasus2 seperti yang saya sebutkan diatas dimana salah satunya jalan adalah dengan poligami asal sudah disetujui
kalau saya ini orang yang simple ajha dan saya tidak pernah memaksakan wanita untuk mencintai saya dan saya juga tidak terlalu memaksakan entah punya istri satu,lebih atau tidak menikah sama sekali karena itu semua adalah jalan hidup saya atau karma saya yang terdahulu,dst karena saya selalu mensyukuri hidup ini apa adanya dan saya tidak tahu apa yang terjadi nanti dan saya jga bersyukur siapapun jodoh saya nanti entah itu nanti saya punya istri satu,lebih atau tidak punay ya saya juga akan selalu bersyukur bahwa apa yang saya alami saat ini adalah buah dari karma saya yang terdahulu
demikian pendapat saya,atas kurang lebihnya saya mohon maaf
jia ada yang ingin memprotes tanggapan saya,saya siap berdebat dengan siapapun yang ingin menentang saya berdebat
saya orang hindu,namun saya berpandangan tidak ada agama yang 100% benar di duna ini dan hanya yang kuasalah sumber kebenaran sejati

V. Kesimpulan

1. Agama Hindu dengan jelas dan tegas melarang Poligami ataupun Poliandri bagi seluruh umatnya. Sloka - sloka yang bersumber dari Kitab Suci Veda sangat memuliakan wanita, dan melalui Manawa Dharmasastra juga jelas ditekankan pentingnya bagi pasangan suami-istri untuk saling setia. Kesempurnaan seorang pria yaitu "swaradhani" yang berarti memiliki "satu orang istri" juga merupakan penegasan dalam hal tersebut.

2. Poligami terjadi bukan karena alasan pasangan memiliki disabilitas (tidak bisa memberikan anak, sakit dll). Disabilitas ini tercipta dalam berbagai versi dan bias tergantung selera dan tingkat toleransi suami/ pasangannya akan ketidakpuasan bathin keduniawian yang di inginkannya.

3. Umat Hindu cukup berpegangan kepada Kitab Veda sebagai inti dalam melaksanakan ajaran-ajaran dharma. Pergeseran-pergeseran terjadi sebagai imbas dari kelahiran kitab-kitab kesusasteraan Hindu yang tidak sepenuhnya menjadikan Kitab Veda sebagai dasarnya. Kelahirnya kitab kesusasteraan Hindu dalam lontar-lontar kuno di latar belakangi oleh situasi politik/ keadaan pada zaman tersebut (misalnya zaman kerajaan, dimana raja memiliki istri lebih dari satu untuk kepentingan politis/ kekuasaan).

4. Tidak semua sloka - sloka dalam kesusasteraan Hindu berdasarkan atau bersumber dari Kitab Veda. Hal ini yang menyebabkan Kerajaan Majapahit tidak menggunakan Manawa Dharmasastra (Kitab Hukum Hindu) secara penuh sebagai aturan hukum kerajaannya.

5. Agama Hindu tidak memaksakan ajaran yang bersifat dogmatis kepada umatnya. Meski begitu, Umat Hindu harus tetap mengedepankan dan menjadikan Kitab Suci Veda sebagai dasar yang utama, meski di sisi lain juga diberikan ruang yang amat luas untuk terus mengembangkan pengetahuan keagamaannya secara cerdas dan cermat melalui Kesusasteraan Hindu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh Elicia Dwipratama
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 64
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik